Berjalan-jalan di hutan Aekuni-jinja, ichinomiya Provinsi Iga
Pelindung utama yang dipuja di tanah Ichinomiya
Aekuni-jinja terletak di Ichinomiya, Kota Iga, Prefektur Mie. Sejak dahulu, masyarakat setempat memujanya sebagai ichinomiya Provinsi Iga, pelindung utama, dan dewa penjaga agung.
Ichinomiya adalah sebutan bagi sebuah kuil Shinto yang sangat dihormati dalam suatu wilayah. Dengan menelusuri perjalanan Aekuni-jinja, Anda dapat memahami bagaimana politik, kegiatan produksi, dan perayaan di Iga bertemu di satu tempat pemujaan.
Pepohonan di jalan masuk, torii, dan ruang yang mengarah ke aula pemujaan menghadirkan ketenangan, sehingga Anda dapat menikmati waktu yang damai, berbeda dari wisata di bekas kota kastel Iga Ueno.
Tenangkan hati dari torii hingga aula pemujaan
Membungkuklah di depan torii, berjalanlah tanpa melewati bagian tengah jalan masuk, dan jika tempat penyucian dapat digunakan, bersihkan diri sebelum menuju aula pemujaan.
Di area kuil juga terdapat orang-orang yang datang untuk mengikuti perayaan dan berdoa. Karena itu, periksa papan informasi sebelum memotret dan jangan terlalu lama menghalangi ruang di depan dewa maupun jalur yang dilalui orang.
Kunjungi aula pemujaan terlebih dahulu, lalu arahkan perhatian pada sejarah, pusaka, dan kuil-kuil pendamping di dalam area. Dengan demikian, Anda dapat mengikuti rute yang tenang tanpa mendahulukan pengamatan daripada pemujaan.
| Tempat dalam rute | Hal yang perlu diperhatikan | Hal yang perlu dihormati |
|---|---|---|
| Torii dan jalan masuk | Peralihan dari hutan ke area kuil | Hindari bagian tengah dan berjalan dengan tenang |
| Di depan aula pemujaan | Doa sebagai ichinomiya Iga | Jangan menghalangi jalan pengunjung |
| Berbagai tempat di area kuil | Papan informasi dan jejak perayaan | Patuhi batas masuk dan petunjuk tentang fotografi |

Mengenal Ōhiko no Mikoto, Sukunahikona no Mikoto, dan Kanayamahime no Mikoto
Ōhiko no Mikoto, dewa utama
Ōhiko no Mikoto, dewa utama, adalah putra Kaisar Kōgen. Menurut tradisi, pada masa Kaisar Sujin, ia berangkat menuju wilayah Hokuriku sebagai salah satu dari empat jenderal Shidō Shōgun, lalu menetap di Iga dan membangun dasar wilayah tersebut.
Karena jasanya dalam ekspedisi, ia dipuja sebagai dewa keselamatan lalu lintas, kesehatan, dan umur panjang. Ia juga dianggap sebagai leluhur ilahi klan-klan yang berkembang di Iga.
Doa masa kini untuk keselamatan dalam perjalanan dan kepercayaan lama yang menghormati leluhur daerah bertemu pada dewa yang sama. Hal ini menjadi salah satu ciri utama Aekuni-jinja.
2 dewa pendamping melambangkan kehidupan dan kegiatan produksi
Sukunahikona no Mikoto, salah satu dewa pendamping, berkaitan dengan pengobatan dan pembuatan sake, serta dipuja sebagai pelindung kemakmuran usaha dan hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Dewa lainnya, Kanayamahime no Mikoto, dianggap sebagai pelindung pertambangan, pengerjaan logam, dan industri mesin, serta menerima doa yang berkaitan dengan produksi dan industri.
Jika memandang ketiga dewa secara bersama-sama, Anda dapat memahami bahwa berbagai bidang yang menopang kehidupan daerah—perjalanan dan kesehatan, pengobatan dan perdagangan, serta logam dan industri—dipersatukan dalam satu kuil utama.
| Dewa | Keutamaan ilahi utama | Kaitan yang dapat direnungkan |
|---|---|---|
| Ōhiko no Mikoto | Keselamatan lalu lintas, kesehatan, dan umur panjang | Ekspedisi dan dewa leluhur Iga |
| Sukunahikona no Mikoto | Pengobatan, pembuatan sake, dan kemakmuran usaha | Kebijaksanaan yang menopang kehidupan dan pekerjaan |
| Kanayamahime no Mikoto | Pertambangan, pengerjaan logam, dan industri mesin | Logam dan industri daerah |

Menelusuri tradisi pendirian pada abad ke-7 dan sejarah Iga
Kuil kuno yang konon didirikan pada tahun 658
Menurut tradisi, Aekuni-jinja didirikan pada tahun 658, pertengahan abad ke-7, dan pada awalnya memuja 2 dewa, yaitu Ōhiko no Mikoto dan Sukunahikona no Mikoto.
Kemudian, Kanayamahime no Mikoto turut dipuja di kuil utama, hingga terbentuk susunan saat ini dengan 3 dewa. Kisah singkat ini menunjukkan bagaimana kepercayaan setempat bertumpuk dari masa ke masa.
Jangan memandang tahun pendirian hanya sebagai bukti usia kuil. Perhatikan proses ketika kuil menerima beberapa dewa, mempertahankan ritual, dan berkembang menjadi pelindung utama wilayah tersebut.
Penghormatan dari istana dan keluarga Tōdō
Pada zaman Heian, kuil ini digolongkan sebagai kuil besar dalam sistem Engi. Menurut tradisi, pada zaman Istana Utara dan Selatan, Kaisar Go-Murakami mengasingkan diri di sini untuk berdoa selama beberapa hari.
Pada zaman Edo, keluarga Tōdō yang memerintah Iga memperbaiki bangunan dan perlengkapan, menyumbangkan benda suci serta tanah kuil, dan mendukung pemulihan ritual serta upacara Shinto.
Status sebagai ichinomiya Provinsi Iga bukan sekadar gelar, melainkan dapat dipahami sebagai hasil perlindungan yang diberikan oleh istana, para penguasa, dan masyarakat setempat kepada kuil ini pada masa yang berbeda.

Memahami budaya melalui panel Tiga Puluh Enam Penyair Abadi dan kuali air panas
Tiga Puluh Enam Penyair Abadi yang digambarkan pada 12 panel
Panel Tiga Puluh Enam Penyair Abadi, yang menggambarkan para penyair dalam 12 panel dengan 3 tokoh pada setiap panel, dianggap sebagai karya akhir zaman Momoyama dan ditetapkan sebagai benda budaya berwujud tingkat prefektur.
Kaligrafi pada kertas puisi waka tersebut dikaitkan dengan Konoe Nobumoto. Perpaduan lukisan, kaligrafi, dan puisi waka dalam satu persembahan membuat Anda dapat merasakan luasnya kebudayaan pada awal zaman modern.
Pameran tetap dan cara melihatnya dapat berubah sesuai keadaan. Jangan berasumsi bahwa Anda pasti dapat melihatnya; tanyakan kepada pihak kuil sebelum berkunjung.
Kuali yang mengisahkan pembangunan kembali setelah Perang Tenshō Iga
Kuali air panas yang disimpan di kuil menggambarkan keadaan masa ketika masyarakat berusaha membangun kembali kuil Shinto dan kuil Buddha terlebih dahulu saat memulihkan wilayah yang hancur akibat Perang Tenshō Iga.
Konon Kotengu Seizō membuat dan mempersembahkan kuali tersebut pada tahun ke-3 Keichō (1598). Benda ini merupakan dokumen sejarah yang menyampaikan harapan akan kebangkitan daerah.
Dengan mengenal karya seni yang indah dan perlengkapan ritual yang memiliki fungsi praktis secara bersamaan, Anda dapat memahami bahwa pusaka kuil menyampaikan ingatan tentang kepercayaan, seni, dan pembangunan kembali dari berbagai sisi.

Mengenal doa masyarakat Iga melalui kagura singa dan perayaan tahunan
Kagura singa dipersembahkan 3 kali setahun
Kagura singa Aekuni-jinja dipersembahkan pada Maizome-sai tanggal 3 Januari, Maiage-sai tanggal 17 April, dan Onmatsuri tanggal 5 Desember.
Kagura ini ditetapkan sebagai warisan budaya rakyat takbenda Prefektur Mie. Singa menari di hadapan dewa untuk mengusir kejahatan dan menjauhkan kemalangan, serta dianggap sebagai bentuk asal kagura singa di berbagai tempat di Iga.
Pada hari perayaan, pengunjung lebih banyak daripada biasanya, dan area yang dapat dimasuki maupun pengoperasian tempat parkir dapat berubah. Jika tujuan Anda adalah menyaksikan upacara, periksa informasi pada hari tersebut.
Jangan memperlakukan perayaan sekadar sebagai pertunjukan
Kagura singa bukan pertunjukan panggung, melainkan upacara Shinto yang diwariskan sebagai persembahan kepada dewa untuk memohon panen melimpah dan keselamatan keluarga.
Jangan memasuki jalur pendeta maupun orang-orang yang membantu upacara demi mencari tempat dengan pandangan lebih baik. Ikuti petunjuk setempat mengenai izin memotret, pembatasan tripod dan lampu kilat, serta tempat untuk berdiri dan menyaksikan.
Ritual bulanan dan perayaan musiman juga diselenggarakan. Dengan membaca pengumuman pada bulan kunjungan Anda, Anda dapat memahami apa yang sedang dilaksanakan di area kuil pada hari itu sebelum memberi penghormatan.
| Perayaan | Tanggal biasa | Hal yang perlu diperiksa sebelum berkunjung |
|---|---|---|
| Maizome-sai | 3 Januari | Lalu lintas dan petunjuk area kuil pada Tahun Baru |
| Maiage-sai | 17 April | Waktu persembahan dan tempat pengamatan |
| Onmatsuri | 5 Desember | Jadwal perayaan dan pengoperasian tempat parkir |
Merencanakan akses dan kunjungan
Cara tiba dengan kereta dan berjalan kaki
Alamatnya adalah 877 Ichinomiya, Kota Iga. Dari Stasiun Sanagu di Jalur Utama JR Kansai, perjalanan berjalan kaki memerlukan sekitar 30 menit.
Jika berjalan dari stasiun, periksa ketersediaan trotoar, cuaca, dan waktu matahari terbenam. Pada musim panas, lakukan langkah pencegahan sengatan panas, dan saat hujan, kenakan alas kaki antiselip.
Frekuensi kereta dan layanan sambungan berbeda-beda menurut hari. Periksa bukan hanya perjalanan pergi, tetapi juga jadwal kereta pulang, dan sediakan waktu yang cukup agar Anda tidak perlu terburu-buru di area kuil.
Cara tiba dengan mobil dan hal yang perlu diperiksa
Dengan mobil, perjalanan memerlukan sekitar 5 menit dari Persimpangan Iga-Ichinomiya di Jalan Raya Nasional Meihan, dan tersedia tempat parkir di area kuil.
Pada masa perayaan dan Tahun Baru, jalan di sekitar kuil serta tempat parkir dapat menjadi padat. Utamakan petunjuk setempat dan hindari parkir di jalan atau menunggu di kawasan permukiman.
Doa, benda pemujaan, pameran pusaka, dan jadwal perayaan dapat berubah. Periksa informasi pada hari kunjungan sebelum berangkat dan, jika perlu, hubungi kantor kuil.
Ringkasan kunjungan ke Aekuni-jinja
Aekuni-jinja memuja 3 dewa, yaitu Ōhiko no Mikoto, Sukunahikona no Mikoto, dan Kanayamahime no Mikoto. Seiring berjalannya waktu, kuil ini menerima beragam doa yang berkaitan dengan kehidupan di Iga, mulai dari transportasi, kesehatan, pengobatan, dan perdagangan hingga industri logam.
Dengan mengetahui tradisi pendirian pada abad ke-7 dan statusnya sebagai ichinomiya Provinsi Iga, serta memperhatikan panel Tiga Puluh Enam Penyair Abadi, kuali, dan kagura singa, Anda akan menemukan bahwa kuil ini merupakan tempat yang menjaga sejarah dan budaya daerah.
Periksa tanggal perayaan dan informasi transportasi sebelum berangkat, bersikaplah penuh perhatian terhadap pengunjung serta orang-orang yang bertugas, dan saksikan dengan tenang doa-doa yang diwariskan di hutan Iga.





Ulasan (0)