Membaca sejarah keluarga Mōri dan ruang kuil Zen di Daishō-in
Daishō-in di Hagi adalah kuil cabang Nanzen-ji dari aliran Rinzai yang ditata sebagai kuil keluarga untuk mengenang Mōri Hidenari, penguasa pertama Domain Hagi.
Jika kompleks bangunan, taman, dan area makam dilihat sebagai satu rangkaian, tampak bahwa penghormatan keluarga penguasa dan sumbangan para pengikut membentuk lanskap kuil.
Mōri Tsunahiro membangun kembali kuil keluarga ayahnya
Kuil yang telah rusak ini dibangun kembali oleh penguasa generasi ke-2, Mōri Tsunahiro, dari Jōō 3 (1654) hingga Meireki 2 (1656) untuk dijadikan kuil keluarga bagi ayahnya, Hidenari.
Daripada sekadar mengingat tahun pendiriannya, memahami pembangunan ini sebagai proyek penguasa generasi ke-2 untuk mengenang ayahnya akan memudahkan Anda memahami alasan Daishō-in menjadi kuil keluarga Mōri.
Karena tempat ini masih menjadi tempat ibadah, kecilkan suara sejak di pintu masuk dan amati bangunan dari jarak yang tidak mengganggu upacara maupun pekerjaan kuil.
Kuil untuk mengenang penguasa pertama dan penguasa generasi genap
Area makam yang berdampingan memuat makam Hidenari, para penguasa generasi genap dari generasi ke-2 hingga ke-12, istri mereka, dan anggota keluarga lainnya.
Jika dibandingkan dengan Tōkō-ji di Hagi, yang mengenang pasangan penguasa generasi ganjil dari generasi ke-3 hingga ke-11, terlihat susunan bahwa 2 kuil keluarga berbagi peran dalam memuliakan para penguasa keluarga Mōri dari masa ke masa.
Di area makam juga terdapat makam 7 samurai domain yang mengikuti Hidenari dalam kematian, sehingga menyampaikan hubungan sang penguasa bukan hanya dengan kedudukannya, tetapi juga dengan orang-orang di sekitarnya.
Mengalihkan makna dari kompleks kuil ke area makam
Di dalam kompleks, amati dahulu arsitektur aula utama dan gerbang menara lonceng, lalu alihkan pandangan ke susunan makam dan lentera batu agar isi kunjungan lebih mudah dipahami.
Namun, akses ke area makam untuk sementara dilarang akibat pohon tumbang, jadi ikuti petunjuk yang terpasang di lokasi.
Mengubah cara mengamati sesuai tempat membantu Anda menyeimbangkan kunjungan warisan budaya dengan tata krama penghormatan.
Tempat utama dan sudut pandangnya dapat dirangkum sebagai berikut.
| Tempat | Peran | Sudut pandang |
|---|---|---|
| Aula utama | Pusat peribadatan | Atap dan sumbu bangunan |
| Gerbang menara lonceng | Gerbang kompleks | Lantai atas dan susunan tiang |
| Ruang penerimaan dan bangunan dapur | Kegiatan kuil | Eksterior dan tata letak |
| Sekitar kolam | Lanskap taman | Permukaan air dan vegetasi |
| Area makam | Mengenang para penguasa | Memastikan larangan masuk |

Melihat 5 bangunan Properti Budaya Penting, termasuk aula utama dan gerbang menara lonceng
Di Daishō-in, aula utama, bangunan dapur, ruang penerimaan, gerbang menara lonceng, dan gudang sutra telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting nasional.
Jangan hanya memotret setiap bangunan secara terpisah. Memikirkan perbedaan fungsi antara peribadatan, administrasi kuil, hunian, gerbang, dan penyimpanan akan membuat susunan kompleks terlihat lebih utuh.
Aula utama setelah kebakaran dan pembangunan kembali
Kuil terbakar habis dalam kebakaran pada Enkyō 4 (1747), lalu dibangun kembali oleh penguasa generasi ke-6, Mōri Munehiro, pada Kan'en 3 (1750).
Saat melihat aula utama sekarang, bedakan pendirian kuil keluarga pada abad ke-17 dengan pembangunan kembali pada abad ke-18 sebagai 2 masa yang berlainan.
Utamakan petunjuk di lokasi mengenai bagian interior yang dibuka dan syarat melihat arca Buddha. Jangan menyentuh pintu atau panel maupun masuk lebih jauh tanpa izin.
Melihat gerbang menara lonceng sebagai batas
Gerbang menara lonceng memadukan jalan lintasan dan menara lonceng, sekaligus memiliki sifat sebagai gerbang yang memisahkan bagian dalam dan luar kompleks.
Bergeserlah ke posisi yang tidak menghalangi lalu lintas, lalu lihat ke atas secara berurutan pada lantai atas, atap, dan tiang agar keseluruhan struktur lebih mudah dipahami.
Jangan lama berdiri di tengah gerbang dan sisakan jalur bagi pengunjung serta kendaraan kuil.
Peran ruang penerimaan, bangunan dapur, dan gudang sutra
Ruang penerimaan dan bangunan dapur menunjang penerimaan tamu, kehidupan sehari-hari, dan administrasi kuil, sedangkan gudang sutra digunakan untuk menyimpan kitab suci.
Alih-alih hanya berfokus pada aula utama, periksa hubungan posisi bangunan yang berbagi fungsi untuk menjaga kegiatan harian kuil.
Untuk bangunan yang tidak dibuka, cukup amati bagian luar dan hindari memasuki pintu, beranda, atau taman tanpa izin.
Perbedaan di antara 5 bangunan lebih mudah diingat dengan memasangkan nama dan fungsinya.
| Bangunan | Sifat utama | Petunjuk pengamatan |
|---|---|---|
| Aula utama | Ruang peribadatan | Bagian depan dan atap |
| Gerbang menara lonceng | Gerbang dan menara lonceng | Susunan atas dan bawah |
| Ruang penerimaan | Ruang menerima tamu | Hubungan dengan taman |
| Bangunan dapur | Administrasi dan kehidupan | Posisi dalam kompleks |
| Gudang sutra | Penyimpanan kitab suci | Eksterior yang berdiri sendiri |

Memahami area makam keluarga Mōri dan lebih dari 600 lentera batu
Area makam keluarga Mōri, yang ditetapkan sebagai Situs Bersejarah nasional, adalah tempat untuk membaca sejarah Daishō-in melalui hubungan antara para penguasa dan pengikut mereka.
Sambil memperhatikan jumlah lentera batu, jangan lupakan bahwa area makam merupakan ruang doa dan penghormatan; hadapilah dengan tenang.
Makam pasangan penguasa dan anggota keluarga
Area makam terutama memuat makam Hidenari sebagai penguasa pertama dan para penguasa generasi genap, serta makam istri dan anggota keluarga mereka.
Meski batu nisan tampak serupa, memeriksa pada papan keterangan siapa yang dikenang oleh masing-masing makam memungkinkan Anda membaca silsilah keluarga Mōri sebagai susunan ruang.
Jangan masuk di antara batu nisan atau bertumpu pada batu untuk membaca tulisan; amati dari jalur yang diizinkan.
Lentera batu sumbangan para samurai domain
Lebih dari 600 lentera batu sumbangan para samurai domain berderet di depan makam dan meneruskan hingga kini tindakan para pengikut dalam mengenang penguasanya.
Jangan hanya menikmati pengulangan yang teratur sebagai lanskap; pikirkan pula bahwa sumbangan itu merupakan ungkapan hubungan tuan dan pengikut serta doa bagi arwah.
Jangan bersandar pada lentera atau meletakkan peralatan fotografi di antara deretan. Jaga jarak agar tidak merusak warisan budaya.
Mengutamakan larangan masuk area makam
Menurut informasi Asosiasi Pariwisata Kota Hagi, akses ke area makam dilarang untuk sementara waktu karena pohon tumbang.
Walaupun foto lama atau catatan perjalanan memperlihatkan jalan yang dapat dilalui, jangan melewati pagar, tali, atau papan larangan dan jangan memasuki area makam.
Karena keadaan pemulihan dapat berubah, jika area makam menjadi tujuan utama, sebaiknya periksa halaman resmi atau hubungi kuil tepat sebelum kunjungan demi keselamatan.

Menikmati kolam taman dan warna musiman Daishō-in dengan tenang
Kolam di belakang aula utama dan vegetasi di sekitarnya membentuk lanskap lembut yang berbeda dari area makam dengan unsur batu.
Waktu bunga mekar dan daun berubah warna bergantung pada cuaca, jadi jangan berasumsi ada masa terbaik yang tetap; amati kompleks sebagaimana adanya pada hari kunjungan.
Memperhatikan kōhone di kolam
Kolam Daishō-in dikenal sebagai tempat kōhone, tumbuhan menahun yang hidup di tepi air, menumbuhkan bunga kuning.
Jangan mencondongkan tubuh ke permukaan air atau menyentuh tanaman. Nikmati dari jarak aman bersama pemandangan ruang penerimaan dan kolam.
Nikmati tumbuhan musiman bukan sebagai tokoh utama yang menggantikan sejarah kuil, melainkan sebagai petunjuk untuk memperlambat langkah saat berziarah.
Memadukan daun musim gugur dengan kompleks kuil
Pada musim gugur, pepohonan di sekitar kolam belakang aula utama dan area makam berubah warna, menampilkan kontras antara genting, kayu, permukaan air, dan lentera batu.
Pada musim daun gugur, batu dan tanah basah mudah licin. Jangan berjalan sambil menengadah ke pemandangan; berhentilah dahulu baru melihat.
Dalam menyusun rencana kunjungan, dahulukan pembatasan akses area makam dan cuaca daripada perkiraan puncak warna daun.
Menghubungkan makna penghormatan dengan api penyambutan Mantō-e di Daishō-in
Mantō-e Daishō-in diselenggarakan sebagai upacara api penyambutan untuk mengenang arwah keluarga Mōri.
Ikutilah bukan hanya sebagai acara memotret pemandangan cahaya, tetapi juga untuk memahami makna area makam dan lentera batu.
Api penyambutan menyala pada tanggal 13 Agustus
Setiap tahun pada tanggal 13 Agustus, sekitar 600 lentera batu dinyalakan dalam Mantō-e Hagi yang berpasangan dengan api pelepasan di Tōkō-ji.
Ikuti pengumuman setiap tahun mengenai waktu pelaksanaan, pintu masuk, dan area kunjungan. Jangan menganggapnya sama dengan jam kunjungan biasa.
Di area makam yang gelap, siapkan alat untuk menerangi langkah, tetapi jangan arahkan cahaya ke lampu upacara atau pengunjung lain.
Urutan berdoa dan memotret
Di depan makam, satukan tangan dengan tenang terlebih dahulu, lalu berpindah ke posisi yang tidak menghalangi jalur sebelum memotret.
Tripod, lampu kilat, dan menempati tempat dalam waktu lama mungkin dikenai pembatasan khusus, jadi utamakan petunjuk petugas dan papan pengumuman pada hari itu.
Jangan menyentuh lilin atau lentera dan kosongkan jalur operasional yang menggunakan api demi keselamatan.
Merencanakan hari biasa dan hari acara secara terpisah
Pisahkan tujuan: pilih kunjungan biasa bila ingin melihat arsitektur dan taman dengan tenang, atau Mantō-e bila ingin mengikuti acara cahaya dan penghormatan.
Hari acara dapat menyebabkan kepadatan lalu lintas dan tempat parkir, jadi sediakan waktu yang cukup dan hindari parkir yang mengganggu di jalan sekitar.
Menyusun perhatian berdasarkan tujuan membantu Anda menghindari perpindahan yang memaksakan diri di lokasi.
| Tujuan kunjungan | Fokus | Hal yang perlu diperiksa |
|---|---|---|
| Kunjungan arsitektur | Peran 5 bangunan | Area yang dibuka |
| Pengamatan taman | Kolam dan vegetasi | Pijakan dan cuaca |
| Sejarah area makam | Silsilah dan lentera | Larangan masuk |
| Mantō-e | Api penyambutan dan penghormatan | Petunjuk hari itu |

Memeriksa jam kunjungan, biaya, dan akses ke Daishō-in
Halaman resmi Daishō-in mencantumkan jam kunjungan, batas penerimaan, dan biaya. Periksalah bersama pembatasan area makam sebelum berangkat.
Pertimbangkan bahwa keadaan dapat berubah karena pemeliharaan warisan budaya atau acara, dan jadikan petunjuk di lokasi sebagai informasi terakhir untuk bertindak.
Penerimaan berakhir pukul 16
Jam kunjungan adalah dari pukul 8 hingga pukul 16 lewat 30 menit, dan penerimaan terakhir pukul 16.
Jika tiba menjelang tutup, Anda harus terburu-buru melihat bangunan, taman, dan area makam, jadi pilih waktu yang cukup longgar.
Kuil disebut buka tanpa hari libur, tetapi hormati keputusan kuil jika ada upacara mendadak atau pekerjaan pemeliharaan.
Biaya kunjungan perorangan
Biaya perorangan adalah 200 yen untuk dewasa, mahasiswa, dan siswa sekolah menengah atas, serta 100 yen untuk siswa sekolah menengah pertama dan sekolah dasar.
Tarif rombongan berlaku untuk 30 orang atau lebih: 160 yen untuk dewasa, mahasiswa, dan siswa sekolah menengah atas, serta 80 yen untuk siswa sekolah menengah pertama dan sekolah dasar.
Karena tarif rombongan ditetapkan bagi 30 orang atau lebih, rombongan perlu memastikan lebih dahulu syarat penerimaan dan cara pembayaran.
Walaupun area yang dapat dikunjungi terbatas pada hari tertentu, dengarkan penjelasan di bagian penerimaan dan ikuti petunjuk kuil.
Sekitar 1 menit berjalan kaki dari halte bus
Baik rute barat maupun timur Hagi Junkan Māru Bus dapat menggunakan halte Daishō-in Iriguchi, yang berjarak sekitar 1 menit berjalan kaki.
Tersedia pula tempat parkir gratis, tetapi saat penuh jangan parkir di jalan masuk kuil atau jalan sekitar dan ikuti arahan petugas.
Periksa lebih dahulu jadwal bus untuk pulang dan susun perjalanan agar tidak perlu berlari di dalam kompleks, sehingga Anda dapat mengamati warisan budaya dengan tenang.
Ringkasan Daishō-in di Hagi
Daishō-in di Hagi adalah kuil Rinzai yang dibangun kembali sebagai kuil keluarga Mōri Hidenari. Sebanyak 5 bangunan Properti Budaya Penting dan area makam keluarga Mōri menyampaikan sejarah keluarga penguasa.
Di aula utama dan gerbang menara lonceng, bacalah peran kompleks; di area makam, pahami penghormatan yang ditunjukkan oleh para penguasa generasi genap dan lebih dari 600 lentera batu, serta perhatikan kolam dan warna musiman.
Periksa informasi resmi mengenai larangan masuk area makam, jam kunjungan, dan batas penerimaan, lalu berziarahlah dengan tenang tanpa memasuki kawasan yang ditutup.





Ulasan (0)