Memahami sejarah Jōchi-ji melalui penghormatan bagi Hōjō Munemasa
Jōchi-ji adalah kuil Zen dari cabang Engaku-ji aliran Rinzai, menempati peringkat keempat dalam Kamakura Gozan, dan memiliki kompleks yang membentang di lembah tenang Kita-Kamakura.
Selain menikmati pesona tangga batu berlumut dan gerbang menara lonceng, dengan memahami sejarah penghormatan keluarga Hōjō serta keterlibatan biksu yang datang dari Dinasti Song, Anda dapat melihat makna yang tersimpan dalam bentuk bangunan dan arca Buddha.
Mendoakan Hōjō Munemasa sekitar tahun 1281
Kuil ini didirikan sekitar tahun 1281 untuk mendoakan arwah Hōjō Munemasa, putra ketiga Hōjō Tokiyori yang merupakan shikken kelima, setelah ia meninggal.
Penting untuk tidak hanya menjelaskan awal kuil melalui kedudukannya, tetapi juga menuju aula utama dengan memahami bahwa tempat ini lahir dari penghormatan untuk meratapi wafatnya seseorang.
Biksu dari Dinasti Song dan perkembangan biara Zen
Pada masa awal pendirian, banyak biksu datang dari Dinasti Song di Tiongkok. Pada puncak kejayaannya, kuil ini memiliki tujuh bangunan utama dan jumlah subkuilnya mencapai 11.
Meskipun kompleks sekarang lebih kecil daripada dahulu, rancangan bergaya Song yang tersisa pada gerbang menara lonceng dan aula utama membantu Anda membayangkan masa ketika Kamakura menerima budaya Zen dari luar negeri.
Peringkat keempat Gozan dan Situs Bersejarah Nasional
Jōchi-ji memiliki kedudukan peringkat keempat dalam Kamakura Gozan, sedangkan kompleksnya yang diselimuti pepohonan ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Nasional.
Jangan melihat bangunan sebagai titik-titik terpisah. Sadari bahwa seluruh wilayah kuil, termasuk lembah, gunung, makam, dan ceruk makam yagura, merupakan tempat yang menyampaikan sejarah.
| Petunjuk sejarah | Isi | Tempat untuk melihatnya di kompleks |
|---|---|---|
| Sekitar tahun 1281 | Penghormatan bagi Hōjō Munemasa | Aula utama dan Buddha Tiga Masa |
| Biksu dari Dinasti Song | Pertukaran budaya Zen | Gerbang menara lonceng dan arca Buddha |
| Kamakura Gozan | Kedudukan peringkat keempat | Seluruh kompleks |
| Situs Bersejarah Nasional | Lembah dan peninggalan | Hutan, yagura, dan makam |

Dari sumur Kanro no I menuju tangga berlumut dan gerbang Sōmon
Kunjungan ke Jōchi-ji dimulai dari sumur Kanro no I dan jembatan batu di depan gerbang Sōmon, lalu tangga batu yang dikelilingi pepohonan.
Karena air, batu, lumut, dan gerbang bertumpuk dalam jarak dekat, jangan terburu-buru tiba. Nikmati proses ketika pemandangan beralih dari jalan kota ke lembah kuil Zen.
Kanro no I, salah satu dari Sepuluh Sumur Kamakura
Kanro no I adalah salah satu dari Sepuluh Sumur Kamakura dan dipercaya sebagai air suci yang manis seperti madu serta memiliki berkah keabadian.
Saat ini air tersebut tidak digunakan sebagai air minum, jadi jangan menyamakan air suci dalam legenda dengan air yang aman diminum.
Jangan minum langsung dari sumur
Sumur di bagian dalam kompleks juga mengeluarkan air yang sama dengan Kanro no I, tetapi airnya tidak boleh diminum langsung.
Jangan memasukkan tangan atau benda ke dalam air. Amati dengan tenang dari jalur bentuk sumur, susunan batu, dan lingkungan air lembah.
Menengadah ke papan “Hōsho Zaikin”
Pada gerbang Sōmon tergantung tulisan “Hōsho Zaikin” yang diyakini merupakan kaligrafi Mugaku Sogen. Tulisan ini menyampaikan ajaran bahwa percaya kepada Buddha dan tekun berlatih akan membawa ketenangan batin.
Jangan hanya melihat gerbang sebagai bingkai foto. Jika Anda menaiki tangga sambil mengingat makna bahwa harta tidak jauh, melainkan berada dekat, langkah kunjungan Anda akan menjadi lebih tertata.
| Elemen pintu masuk | Makna yang disampaikan | Hal yang harus dijaga |
|---|---|---|
| Kanro no I | Legenda air Kamakura | Jangan diminum |
| Jembatan batu | Batas kota dan wilayah kuil | Jangan menghalangi jalur |
| Tangga berlumut | Lingkungan lembap di lembah | Perhatikan pijakan |
| Papan gerbang Sōmon | Ajaran “Hōsho Zaikin” | Membungkuk di depan gerbang |

Menengadah ke jendela katōmado dan lonceng pada gerbang menara lonceng
Gerbang menara lonceng Jōchi-ji menumpuk gerbang gunung dan menara lonceng secara vertikal, sebuah gerbang berarsitektur Tiongkok yang jarang ditemukan di Kamakura.
Jangan hanya melihat bentuknya dari depan. Ikuti susunan vertikal berupa lorong lantai 1, jendela katōmado lantai 2, dan lonceng untuk memahami bahwa gerbang ini memiliki beberapa fungsi.
Struktur yang menyatukan gerbang gunung dan menara lonceng
Lantai 1 adalah gerbang gunung untuk dilalui orang, sedangkan lantai 2 merupakan menara tempat lonceng digantung. Tempat untuk lewat dan tempat penanda waktu berpadu menjadi satu.
Jangan mengambil foto terlalu lama di tengah gerbang. Berikan jalan kepada pengunjung yang datang dari depan maupun belakang, lalu periksa proporsi keseluruhan dari posisi yang sedikit lebih jauh.
Melihat gaya Song pada jendela katōmado
Di bagian atas terdapat jendela katōmado dengan garis luar berbentuk bunga, sedangkan gerbang menara lonceng dibangun dalam gaya arsitektur Tiongkok.
Dengan membandingkan lengkung jendela, atap, dan garis lurus pilar, Anda dapat memahami secara visual bagaimana gaya yang datang dari Dinasti Song dimasukkan ke dalam lanskap kompleks.
Membedakan tahun pembangunan kembali dan usia lonceng
Gerbang menara lonceng yang sekarang dibangun kembali pada 2007, sementara lonceng dari tahun 1649 tergantung di lantai atas.
Jangan menganggap gerbang dan lonceng berasal dari masa yang sama. Pahami sebagai lapisan sejarah ketika bangunan baru melindungi benda ritual lama, dan jangan menyentuh lonceng tanpa izin.

Melihat masa lalu, kini, dan masa depan pada Buddha Tiga Masa di Donge-den
Di Donge-den, aula utama, tersimpan arca kayu Buddha Tiga Masa dalam posisi duduk sebagai arca utama, yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Prefektur Kanagawa.
Jangan melihat ketiga arca sebagai sosok Buddha yang sama. Bandingkan dengan saksama perbedaan para Nyorai yang mewakili masa lalu, kini, dan masa depan, serta bentuk jubah dan tangan mereka.
Susunan Amida, Shaka, dan Miroku
Dari kiri bagi orang yang menghadap arca, berjejer Amida Nyorai, Shaka Nyorai, dan Miroku Nyorai, masing-masing melambangkan masa lalu, kini, dan masa depan.
Dengan waktu orang yang berdoa di sini dan saat ini sebagai pusat, penghormatan bagi masa lalu serta harapan untuk masa depan terhubung dalam satu aula utama.
Membandingkan bentuk tangan dan jubah panjang
Amida Nyorai membentuk mudra meditasi, Shaka Nyorai menurunkan tangan kanan, dan Miroku Nyorai menurunkan tangan kiri; bentuk tangan ketiganya memiliki sedikit perbedaan.
Jubah panjang yang menjuntai di kedua sisi dan ubin lantai hitam memperlihatkan ciri gaya Song. Karena itu, jangan hanya memandang wajah, tetapi arahkan juga perhatian ke alas arca dan lantai.
Ajaran dalam nama Donge-den
Nama Donge-den berasal dari bunga udonge yang dipercaya hanya mekar sekali setiap 3.000 tahun.
Setelah memahami bahwa nama ini melambangkan betapa berharganya kesempatan berdoa kepada Buddha Tiga Masa, jangan mendahulukan foto di dalam aula. Rapatkan dahulu telapak tangan dan hormati keheningan di hadapan Buddha.
| Buddha Tiga Masa | Masa yang dilambangkan | Petunjuk untuk diamati |
|---|---|---|
| Amida Nyorai | Masa lalu | Mudra meditasi |
| Shaka Nyorai | Kini | Tangan kanan di bawah |
| Miroku Nyorai | Masa depan | Tangan kiri di bawah |

Merasakan lapisan waktu kompleks melalui shoin dan yagura
Di balik aula utama, shoin beratap jerami, yagura yang dipahat pada batu Kamakura, serta makam yang dikelilingi pepohonan memperlihatkan lapisan waktu yang berbeda dari bangunan aula.
Jangan keluar dari rute kunjungan. Berjalanlah sambil membedakan fungsi kehidupan, latihan, dan penghormatan.
Shoin beratap jerami dan taman empat musim
Shoin adalah bangunan beratap jerami yang didirikan pada 1924 dan menampilkan suasana berbeda jika dilihat dari depan dan dari sisi taman.
Jangan menganggap Anda bebas memasuki bangunan. Pastikan area yang dibuka, lalu lihat dari luar atap, taman, dan pepohonan latar sebagai satu pemandangan berkesinambungan.
Yagura yang dipahat pada batu Kamakura
Yagura adalah ceruk suci yang digali pada bukit berbatu Kamakura yang lunak. Tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi latihan biksu dan makam orang berkedudukan tinggi, di antara fungsi lainnya.
Peninggalan ini memanfaatkan topografi Kamakura yang memiliki sedikit dataran. Jangan sekadar menganggapnya gua yang menarik; jaga jarak sebagai tempat penghormatan dan latihan.
Periksa status pameran properti budaya
Arca kayu Jizō Bosatsu duduk yang merupakan Properti Budaya Penting nasional dan arca kayu Idaten berdiri yang merupakan Properti Budaya Penting kota disimpan di Museum Harta Nasional Kamakura.
Properti budaya yang diwariskan kuil tidak selalu dapat dilihat di dalam kompleks. Karena itu, periksa lebih dahulu lokasi kunjungan dan status pamerannya.
Berjalan ke bagian dalam kompleks tempat Hotei-son dipuja dan jalur berlanjut ke Tenchūhō
Di bagian dalam kompleks dipuja Hotei-son, salah satu dari Tujuh Dewa Keberuntungan Kamakura Enoshima, sedangkan wilayah kuil berlanjut ke Tenchūhō melalui jalur pendakian Genjiyama.
Rute berubah dari kunjungan bangunan di tanah datar menjadi bebatuan dan jalan pegunungan. Pilihlah batas yang tidak memaksakan diri sesuai stamina dan waktu Anda.
Hotei-son dari Tujuh Dewa Keberuntungan Kamakura Enoshima
Di dalam gua terdapat arca batu Hotei-son, yang dianggap sebagai penjelmaan Miroku Bosatsu dan dihormati dengan keyakinan akan kesempurnaan berkah serta kebajikan.
Jangan jadikan sosoknya yang tersenyum sebagai properti foto kenang-kenangan. Tunggulah orang di depan selesai berdoa sebelum mendekat, lalu berdoalah sesuai petunjuk setempat.
Nama dan arti Tenchūhō
Tenchūhō adalah bukit yang dinamai oleh biksu agung Jikusen Bonsen, yang datang ke Jepang dari Dinasti Yuan. “Tenchū” berarti moralitas yang menopang dunia.
Daripada terburu-buru menuju prasasti di puncak, pahami dahulu makna tempat yang menyatukan ajaran kuil dengan topografi gunung ini sebelum berjalan. Perjalanan Anda pun akan terasa lebih mendalam.
Siapkan pendakian secara terpisah dari kunjungan kuil
Untuk menuju Tenchūhō, Anda harus mendaki jalur Kuzuharaoka–Daibutsu dari sisi kompleks. Periksa sepatu yang sudah nyaman dipakai, cuaca, waktu matahari terbenam, dan kondisi jalur.
Informasi pembukaan gerbang kuil dan keselamatan jalan gunung dapat berubah karena kondisi yang berbeda. Jika jalur ditutup atau berlumpur, jangan memaksa maju dan kembalilah.
Rangkuman perjalanan melihat Buddha Tiga Masa dan lembah Jōchi-ji
Jōchi-ji adalah kuil Zen yang didirikan sekitar 1281 untuk mendoakan Hōjō Munemasa. Dalam satu lembah, kuil ini menyatukan berbagai unsur: kedudukan peringkat keempat dalam Kamakura Gozan, sumur Kanro no I, gerbang menara lonceng bergaya Tiongkok, Buddha Tiga Masa yang melambangkan masa lalu, kini, dan masa depan, shoin beratap jerami, yagura, Hotei-son, serta hutan yang menuju Tenchūhō.
Jangan minum air dari Kanro no I maupun sumur di bagian dalam kompleks. Di dalam aula, rapatkan dahulu telapak tangan, dan di area makam serta yagura patuhi batas yang boleh dimasuki. Itulah dasar untuk menghormati situs bersejarah dan keyakinan.
Jika Anda berjalan dengan memperhatikan bukan hanya bangunan dan arca Buddha, tetapi juga air, batu, lumut, dan jalan pegunungan, Anda dapat merasakan bagaimana budaya Zen bergaya Song menyatu dengan topografi Kita-Kamakura dan diwariskan sebagai kompleks yang tenang.





Ulasan (0)