Shishijima, pulau kecil di Setouchi yang dijelajahi dengan berjalan kaki
Shishijima di Kota Mitoyo, Prefektur Kagawa adalah pulau yang dapat dijelajahi dengan berjalan kaki dari pelabuhan menuju permukiman, ladang bunga, hingga lereng gunung.
Ini bukan tempat untuk mengunjungi berbagai fasilitas wisata besar satu demi satu. Daya tariknya justru ada pada menikmati laut yang muncul di ujung gang sempit, ladang bunga yang dirawat warga pulau, serta pohon kamper raksasa yang telah melewati waktu panjang, semuanya sesuai kecepatan langkah kaki.
Menyeberang dengan kapal dari Pelabuhan Miyanoshita
Dari Pelabuhan Miyanoshita ke Pelabuhan Shishijima memerlukan sekitar 20 menit dengan kapal reguler.
Ada pula layanan dari Pelabuhan Suda melalui Awashima, tetapi jumlah keberangkatan, sambungan, dan kondisi operasional dapat berubah.
Sebelum berangkat, periksa bukan hanya jadwal pergi tetapi juga kapal pulang, lalu pikirkan alternatif jika layanan dibatalkan atau kapasitas penuh.
Perjalanan di dalam pulau pada dasarnya dilakukan dengan berjalan kaki
Di pulau terdapat banyak tanjakan dan tangga yang curam serta sempit, sehingga bukan tempat untuk berwisata dengan mobil atau sepeda.
Setelah meninggalkan pelabuhan, jalan menjadi lebih sempit, sementara kondisi permukaan dan kemiringannya juga berubah.
Pilih sepatu yang sudah nyaman dipakai, ringankan barang bawaan, dan bergeraklah dengan cukup waktu agar tidak terlambat untuk kapal pulang.
Pahami tempat wisata berdasarkan posisi
| Lokasi | Perkiraan dari pelabuhan | Daya tarik |
|---|---|---|
| Tempat istirahat Kusukusu | Dekat pelabuhan | Tempat istirahat yang memanfaatkan rumah tradisional |
| Ladang Bunga di Langit | Sekitar 15 menit berjalan kaki | Ladang bunga yang dihidupkan kembali oleh warga pulau |
| Pohon kamper raksasa Shishijima | Sekitar 20 menit berjalan kaki | Pohon raksasa, Monumen Alam Prefektur |
| Dek Observasi Kusunokura | Dekat pohon kamper raksasa | Dek buatan tangan dengan pemandangan Laut Pedalaman Seto |
Waktu yang diperlukan berubah menurut kecepatan berjalan, istirahat, kegiatan memotret, dan cuaca.
Jangan mengejar angka pada peta sebagai waktu tersingkat; hitung mundur dari jadwal keberangkatan kapal untuk menentukan titik berbalik.

Menuju pohon kamper raksasa, Monumen Alam Prefektur
Pohon kamper raksasa yang dikenal sebagai simbol Shishijima berdiri di lereng gunung.
Perjalanan menanjak dari pelabuhan itu sendiri menjadi kesempatan merasakan perubahan topografi pulau dari permukiman tepi laut menuju hutan.
Berjalan sekitar 20 menit melalui tanjakan dari pelabuhan
Dari Pelabuhan Shishijima ke pohon kamper raksasa memerlukan sekitar 20 menit berjalan kaki.
Di tengah jalan terdapat percabangan dan tanjakan curam, jadi jangan lewatkan papan petunjuk. Di jalan sempit, utamakan warga dan orang yang sedang bekerja.
Pada hari panas, jarak pendek pun menguras tenaga, sehingga Anda perlu minum air lebih awal.
Pohon raksasa yang dipercaya berusia 1.200 tahun
Pohon kamper raksasa ini dikatakan berusia sekitar 1.200 tahun dan ditetapkan sebagai Monumen Alam Prefektur Kagawa pada April 1970.
Anggap usia pohon sebagai perkiraan dan jangan menilai nilainya hanya dari angka. Amati dengan tenang cabang tebal yang menjulur ke segala arah, rongga batang, kulit pohon, serta tumbuhan di sekitarnya untuk merasakan lamanya waktu pohon ini dijaga warga pulau.
Jaga jarak untuk melindungi akar dan cabang
Di sekitar pohon raksasa, hindari menginjak area dekat akar, bergelantungan pada cabang, atau mengukir tulisan di kulit pohon.
Jangan menguasai satu tempat terlalu lama demi memotret; saling berbagi ruanglah dengan pengunjung yang datang lebih dahulu.
Sekitar pertengahan Juli, bunga ubayuri dapat terlihat di sekitarnya, tetapi masa mekarnya dipengaruhi cuaca sehingga tidak selalu dapat disaksikan.

Menelusuri Ladang Bunga di Langit dan kenangan “pulau bunga”
Shishijima dahulu berkembang berkat budidaya bunga dan memiliki sejarah sebagai “pulau bunga”.
Ladang Bunga di Langit saat ini bukan padang liar yang tumbuh alami, melainkan tempat yang terus dirawat warga pulau untuk menghadirkan kembali pemandangan tersebut.
Ladang yang mewarisi kenangan industri bunga
Dari pelabuhan, lanjutkan melalui gang dan jalan menanjak hingga ladang bunga berlatar laut muncul di hadapan Anda.
Selain pemandangan Laut Pedalaman Seto yang membentang di balik bunga, perhatikan pula kegiatan untuk meneruskan wajah lama pulau kepada generasi berikutnya di tengah penurunan dan penuaan penduduk.
Puncak musim bunga hanyalah perkiraan musiman
Shibazakura, calendula, anyelir, dan hortensia umumnya mencapai masa terbaik dari musim semi hingga awal musim panas.
Namun, waktu mekar dan jumlah bunga berubah menurut suhu, curah hujan, dan kondisi perawatan.
Jangan menentukan tanggal kunjungan hanya berdasarkan bunga. Periksa kondisi mekarnya dan susun rencana agar tetap dapat menikmati lanskap pulau ketika bunga belum mekar.
Ladang adalah tempat hidup dan bekerja
Jangan keluar dari jalur ladang untuk masuk di antara tanaman, memetik bunga, atau meletakkan barang pribadi demi memotret.
Jangan memotret warga pulau atau pekerja tanpa izin. Jika datang berkelompok, bagi jumlah orang agar tidak menutup jalur.
Hal penting bukan hanya membawa pulang foto, tetapi juga menunjukkan rasa hormat kepada orang yang menjaga ladang bunga melalui tindakan.

Melihat topografi Setouchi dari dek observasi dan Yokoo-no-tsuji
Jika melanjutkan dari sekitar pohon kamper raksasa ke tempat yang lebih tinggi, ada titik untuk memandang Laut Pedalaman Seto dan pulau-pulau di sela pepohonan.
Walaupun lautnya sama, lanskap mendatar dari pelabuhan dan panorama kepulauan dari sisi gunung memberikan kesan yang sangat berbeda.
Beristirahat di Dek Observasi Kusunokura
Dek Observasi Kusunokura adalah dek kayu buatan tangan yang berada di ujung tanjakan mengikuti petunjuk dari pohon kamper raksasa.
Anda dapat beristirahat di kursi sambil memandang laut, tetapi fasilitas ini kecil. Jangan dikuasai kelompok besar dan bawalah pulang sampah setelah makan atau minum.
Saat angin kencang atau pijakan basah, jangan memaksakan diri mendekati tepi.
Yokoo-no-tsuji adalah titik tertinggi pulau
Yokoo-no-tsuji, pada ketinggian 109 m, merupakan puncak tertinggi Shishijima.
Jalurnya bercabang dari jalan menuju pohon kamper raksasa dan cocok untuk orang yang memiliki cukup waktu serta stamina.
Pada hari berkabut, hujan, atau berangin kencang ketika pemandangan sulit diharapkan, jangan bersikeras mencapai puncak dan putuskan kembali ke arah pelabuhan.
Pilih perlengkapan yang cocok untuk jalan gunung
Walau berniat hanya berjalan di jalan beraspal, Anda akan menjumpai daun gugur, tanah, dan anak tangga batu yang basah.
Siapkan sepatu antiselip, tas kecil yang membuat kedua tangan bebas, topi, serta penolak serangga sesuai musim.
Nyamuk banyak pada musim panas, sehingga pakaian lengan panjang dan celana panjang juga berguna.

Melihat kehidupan pulau melalui gang permukiman dan tradisi dua makam
Daya tarik Shishijima tidak hanya berupa pemandangan alam.
Saat berjalan melewati deretan rumah di sekitar pelabuhan, gang di sepanjang lereng, ladang, dan tempat berdoa, Anda dapat melihat sejarah bagaimana kehidupan dibangun di lahan terbatas.
Gang sempit adalah jalur sehari-hari warga pulau
Gang tersebut bukan set pemotretan yang disiapkan untuk wisata, melainkan jalan kehidupan yang digunakan untuk keluar-masuk rumah dan membawa barang.
Jangan mengintip pintu masuk atau taman, jangan masuk ke tanah pribadi, dan hindari berbicara dengan suara keras.
Jangan pula memberi makan hewan seperti kucing dan kambing tanpa izin pemiliknya.
Tradisi pemakaman yang disebut sistem dua makam
Di Shishijima masih tersisa lanskap sistem dua makam yang memisahkan “makam penguburan” untuk menguburkan jenazah dan “makam ziarah” dengan menara batu untuk didatangi dan didoakan.
Makam penguburan berbentuk gubuk yang terlihat dekat pelabuhan merupakan pemandangan langka, tetapi hingga kini tetap menjadi tempat yang berkaitan dengan kematian dan ingatan manusia.
Jangan memperlakukannya sebagai benda berbentuk menarik; lihatlah dengan tenang dan jangan memasuki area makam tanpa izin.
Berjalan sambil membayangkan perubahan pulau
Industri bunga pada masa lalu, kegiatan menghidupkan kembali ladang bunga saat ini, dan tempat istirahat yang memanfaatkan rumah tradisional menunjukkan bagaimana peran pulau berubah mengikuti zaman.
Sekalipun melihat rumah kosong atau ladang yang tidak lagi digunakan, prinsip dasarnya adalah jangan masuk atau memindahkan benda tanpa izin pemilik.
Sadari bahwa wisatawan hanyalah tamu yang untuk sementara memasuki ruang kehidupan pulau.
Susun akses kapal dan pelabuhan dengan aman
Untuk wisata sehari ke Shishijima, Anda perlu memastikan jadwal kapal serta transportasi menuju pelabuhan sebelum menentukan tempat wisata di dalam pulau.
Karena jumlah perjalanan terbatas dan dipengaruhi cuaca serta kepadatan, jangan menganggap Anda dapat dengan mudah beralih ke keberangkatan berikutnya seperti kereta di kota.
Rute dasar menggunakan Pelabuhan Miyanoshita
Rute yang disarankan adalah naik bus komunitas Kota Mitoyo dari Stasiun JR Takuma menuju Kantor Takuma, lalu naik kapal reguler dari Pelabuhan Miyanoshita di dekatnya.
Jika menggunakan mobil, pakailah tempat parkir yang ditentukan dan jangan parkir di jalan sekitar atau tanah pribadi.
Tempat parkir nomor 2 tidak dapat digunakan pada hari kerja, jadi periksa peta parkir sebelum berangkat.
Cara pergi dari Pelabuhan Suda melalui Awashima
Dari Pelabuhan Suda terdapat kapal menuju Shishijima melalui Awashima.
Layanan yang berangkat dan tiba di Pelabuhan Suda memerlukan pindah kapal di Awashima, jadi ikuti petunjuk awak kapal.
Waktu tempuh dan alur perjalanannya berbeda dari kapal yang berangkat dari Pelabuhan Miyanoshita. Jika menggunakan pelabuhan berbeda untuk pergi dan pulang, transportasi darat juga perlu diperiksa.
Bersiaplah menghadapi kepadatan dan pembatalan
Ketika banyak orang ingin naik kapal, Anda mungkin tidak dapat naik karena batas kapasitas, dan warga pulau mendapat prioritas.
Khususnya pada musim bunga, tibalah lebih awal di pelabuhan dan periksa informasi operasional hari itu.
Untuk alternatif seperti taksi laut, tanyakan ketersediaan dan tarif sebelumnya; jangan merencanakannya seolah pasti dapat digunakan saat tiba di lokasi.
Menyiapkan wisata jalan kaki sehari dan rute contoh
Karena toko dan toilet di pulau tidak banyak, persiapan sebelum berangkat menentukan ketenangan selama tinggal di Shishijima.
Jangan memasukkan terlalu banyak tempat wisata. Susun rencana yang longgar, termasuk waktu menunggu kapal, beristirahat di tanjakan, dan menghadapi perubahan cuaca.
Siapkan barang bawaan dasar
| Barang | Alasan | Perhatian |
|---|---|---|
| Minuman dan makanan ringan | Tempat membeli di pulau terbatas | Bawa pulang sampah |
| Sepatu yang nyaman untuk berjalan | Ada tanjakan curam, tangga, dan jalan gunung | Waspadai permukaan licin setelah hujan |
| Topi dan perlengkapan hujan | Bersiap menghadapi sinar matahari dan perubahan cuaca | Pilih bentuk yang tidak mudah diterbangkan angin |
| Penolak serangga dan lengan panjang | Bersiap menghadapi nyamuk musim panas dan semak | Orang berkulit sensitif perlu memeriksa kandungan |
| Uang tunai dan perangkat terisi daya | Untuk kapal dan komunikasi darurat | Perhitungkan kemungkinan tidak ada sinyal |
Rute populer memerlukan sekitar 2 jam 30 menit
Rute standar yang mengelilingi Pelabuhan Shishijima, tempat istirahat Kusukusu, pohon kamper raksasa, Dek Observasi Kusunokura, dan sekitar pelabuhan memerlukan sekitar 2 jam 30 menit sebagai acuan.
Ini adalah perkiraan berdasarkan kecepatan berjalan tertentu; menambahkan ladang bunga atau Yokoo-no-tsuji akan memperpanjang waktu.
Persingkat rute sesuai kecepatan Anda agar dapat kembali ke pelabuhan setidaknya 30 menit sebelum kapal pulang.
Jangan terlalu bergantung pada tempat istirahat
Tempat istirahat Kusukusu yang direnovasi dari rumah tradisional dapat disinggahi di tengah perjalanan.
Namun, hari buka dan layanan yang tersedia dapat berubah.
Bawalah cukup makanan dan minuman agar tidak kesulitan walau tempatnya tutup. Jika buka, gunakan dengan tenang sebagai fasilitas kecil milik masyarakat setempat.
Ringkasan | Menikmati alam dan kehidupan Shishijima dengan tenang
Di Shishijima, Anda dapat berjalan kaki menghubungkan pohon kamper raksasa yang menjadi Monumen Alam Prefektur, Ladang Bunga di Langit yang dirawat warga, dek observasi dengan pemandangan Laut Pedalaman Seto, serta lanskap gang sempit dan sistem dua makam.
Di sisi lain, kapasitas dan jumlah kapal, tanjakan curam, serta toko dan toilet yang terbatas adalah kondisi khas pulau kecil.
Periksa jadwal dan cuaca sesaat sebelum berangkat, siapkan minuman serta perlengkapan berjalan, lalu tempuh jarak yang tidak berlebihan.
Ladang bunga, pohon raksasa, pemakaman, dan permukiman semuanya merupakan bagian dari kehidupan serta ingatan yang dijaga warga pulau.
Patuhi etika memotret dan berkunjung, lalu nikmati perjalanan dengan kesadaran untuk meninggalkan waktu tenang di pulau bagi pengunjung berikutnya.





Ulasan (0)