Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Apa itu Ohakamairi? Makna, Tata Cara & Etiket Ziarah Jepang

Apa itu Ohakamairi? Makna, Tata Cara & Etiket Ziarah Jepang

Ohakamairi adalah tradisi ziarah ke makam leluhur di Jepang. Artikel ini merangkum makna, tata cara, etiket, barang bawaan, dan hal yang sebaiknya dihindari.

Ringkasan Cepat

Pesona Singkat

Ziarah ke makam adalah kebiasaan tradisional Jepang untuk mendoakan almarhum dan leluhur dengan tenang. Dengan memahami alur membersihkan, mempersembahkan, dan berdoa, siapa pun dapat melakukannya dengan baik.

Waktu Kunjungan

Waktu ziarah umumnya saat Obon (13–16 Juli atau Agustus), Higan musim semi dan gugur, hari peringatan kematian, atau akhir/awal tahun. Tidak ada aturan ketat, dapat disesuaikan kondisi.

Alur Ziarah Kubur

Bersihkan daun jatuh dan rumput liar di sekitar → bersihkan batu nisan → persembahkan bunga, dupa, dan persembahan, lalu berdoa, adalah urutan dasarnya.

Perkiraan Barang Bawaan

Bunga (krisan atau bunga musiman), dupa, lilin, korek api, alat bersih (lap, spons, sarung tangan, kantong sampah), juzu (tasbih Buddhis), persembahan; di musim panas air minum dan handuk.

Poin Pakaian

Pakaian formal hitam tidak wajib; pakaian sehari-hari sederhana berwarna teduh juga dapat. Hindari pakaian terbuka atau motif mencolok, sepatu yang nyaman seperti sneaker lebih aman.

Durasi dan Waktu yang Direkomendasikan

Termasuk membersihkan, kadang memerlukan 30 menit–1 jam. Umumnya disarankan berkunjung pagi hari hingga awal sore.

Etika dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Hindari suara keras dan foto tanpa izin, berdoa dengan tenang. Persembahan makanan dibawa pulang sebagai pencegahan hewan, dan pastikan api dupa serta lilin dimatikan.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Semua area

Apa Itu Hakamairi? Mengenal Makna dan Dasar Tradisi Ziarah Kubur ala Jepang

Hakamairi (ziarah kubur / ohakamairi) adalah tradisi Jepang yang dilakukan untuk mengenang anggota keluarga yang telah meninggal maupun para leluhur, dengan menyatukan kedua tangan di depan makam dalam suasana hening.

Ada orang yang menekankan makna religius di balik tradisi ini, ada pula yang memandangnya sebagai momen untuk mengingat keluarga dan menyampaikan rasa terima kasih.

Bentuk hakamairi tidak tunggal; cara pelaksanaannya sedikit berbeda tergantung keluarga, daerah, maupun aliran Buddha (shūha).

Bagi wisatawan, yang terpenting bukanlah menghafal tata cara secara sempurna, melainkan menghormati tempat tersebut dengan hati yang tenang.

Artikel ini merangkum secara mudah dipahami tentang waktu pelaksanaan hakamairi, alur umumnya, pakaian, barang bawaan, serta etika dasar yang perlu diperhatikan di area pemakaman dan kuil.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Hakamairi? Obon, Ohigan, dan Hari Peringatan Kematian

Hakamairi umumnya dilakukan pada hari peringatan kematian (meinichi), hari berkumpulnya keluarga, saat Obon (festival arwah leluhur), serta Ohigan pada musim semi dan musim gugur.

Namun, tidak ada aturan ketat mengenai kapan harus dilakukan.

Bagi yang tinggal jauh atau memiliki kesibukan padat, ziarah kubur bisa disesuaikan dengan waktu yang memungkinkan.

Obon (sekitar tanggal 13-16 Juli atau 13-16 Agustus)

Obon adalah periode ketika arwah leluhur dipercaya kembali ke dunia, dan diselenggarakan pada 13-16 Juli (shin-bon / Obon baru) atau 13-16 Agustus (tsukiokure-bon / Obon yang bergeser satu bulan) tergantung daerah.

Meskipun waktunya berbeda-beda di setiap daerah, Obon dikenal luas sebagai kesempatan berkumpulnya keluarga untuk melakukan hakamairi bersama.

Ohigan (masing-masing 7 hari dengan shunbun no hi dan shūbun no hi sebagai hari tengah)

Ohigan diperingati dua kali setahun, yaitu selama 7 hari (3 hari sebelum dan 3 hari sesudah) dengan shunbun no hi / hari ekuinoks musim semi (sekitar 20 atau 21 Maret) dan shūbun no hi / hari ekuinoks musim gugur (sekitar 22 atau 23 September) sebagai hari tengahnya.

Ada pepatah "atsusa samusa mo higan made" (panas dan dingin berakhir sampai higan), dan periode ini dikenal sebagai waktu dengan iklim sejuk yang nyaman untuk berziarah.

Hari Peringatan Kematian dan Akhir Tahun / Tahun Baru

Banyak keluarga yang juga melakukan hakamairi pada shōtsuki-meinichi (peringatan bulan dan tanggal kematian almarhum) serta pada periode akhir tahun dan tahun baru.

Jika Anda berkunjung ke pemakaman atau kuil saat berwisata, akan lebih baik untuk selalu mengingat bahwa tempat tersebut juga merupakan ruang kehidupan dan doa bagi orang lain.

Alur Umum Hakamairi | Dari Tiba Hingga Menyatukan Tangan Berdoa

Cara melakukan hakamairi memang beragam, tetapi umumnya mengikuti alur berikut ini.

Durasi kunjungan, termasuk membersihkan makam, bisa memakan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam.

Merapikan Area Sekitar Makam Terlebih Dahulu

Setelah tiba di lokasi, sebelum berdiri di depan batu nisan (boseki), rapikan terlebih dahulu area di sekitar makam.

Bersihkan daun-daun yang berguguran, cabut rumput liar, dan di tempat yang menyediakan teoke (ember kayu) atau hishaku (gayung bambu), gunakan sesuai aturan yang berlaku sambil mempersiapkan segalanya dalam ketenangan.

Cara membersihkan batu nisan berbeda-beda tergantung bahan dan aturan pengelolaan pemakaman, jadi jika ragu, ikuti saja arahan dari keluarga atau pengelola.

Menaruh Bunga dan Dupa, lalu Menyatukan Tangan Berdoa

Setelah area bersih, umumnya dilakukan prosesi menaruh bunga, menyalakan senkō (dupa Jepang), lalu menyatukan kedua tangan untuk berdoa.

Pada momen ini, yang terpenting bukanlah berbicara lama, melainkan menghadapinya dengan hati yang tenang meskipun sebentar.

Pandangan tentang menyiramkan air ke batu nisan berbeda-beda tergantung keluarga maupun aliran Buddha, jadi jika ragu, sebaiknya sesuaikan dengan arahan keluarga atau pengelola.

Jika Ragu, Ikuti Arahan Keluarga atau Panduan Setempat

Jumlah batang senkō, cara menyatukan tangan, serta urutan tindakan bisa berbeda tergantung aliran Buddha maupun kebiasaan keluarga.

Misalnya, jumlah batang dupa dan cara menaruhnya pun bervariasi.

Jika ini pengalaman pertama Anda, jangan terlalu mengandalkan penilaian sendiri, lebih baik mengikuti arahan keluarga atau pengelola.

Barang Bawaan dan Pakaian yang Tepat untuk Hakamairi

Dalam hakamairi, yang penting bukan banyaknya barang yang dibawa, melainkan persiapan yang sesuai dengan tempat tersebut.

Daftar Barang Bawaan Umum

  • Bunga (seperti krisan atau bunga musiman)
  • Senkō (dupa Jepang), lilin, serta korek api atau pemantik
  • Alat kebersihan (lap, spons, sarung tangan kerja, kantong sampah)
  • Juzu (tasbih Buddha) dan barang pribadi keluarga
  • Persembahan (makanan atau minuman favorit almarhum)
  • Air minum dan handuk (untuk mencegah heatstroke di musim panas)

Namun, di beberapa pemakaman atau kuil, ada aturan khusus mengenai penggunaan api atau cara menangani persembahan.

Ada juga pemakaman yang sudah menyediakan peralatan, jadi pastikan cek panduan setempat terlebih dahulu.

Pakaian Cukup Asal Tidak Terlalu Mencolok

Kecuali untuk acara formal seperti hōji (upacara peringatan Buddha), tidak harus memakai pakaian berkabung hitam.

Namun, karena hakamairi adalah tindakan mengunjungi tempat berdoa, hindari pakaian terbuka atau berwarna dan bermotif mencolok agar terlihat lebih sopan.

Pakaian kasual sederhana dengan warna tenang menjadi pilihan paling aman.

Selain itu, penting juga untuk memilih sepatu yang nyaman untuk berjalan.

Area pemakaman kadang memiliki tangga batu atau jalan berkerikil, jadi sepatu seperti sneakers lebih berguna dibanding hak tinggi atau sandal.

Di musim panas, siapkan topi atau payung pelindung matahari, sementara di musim dingin, bawalah pakaian hangat.

Etika Dasar yang Perlu Diperhatikan di Pemakaman dan Kuil

Dalam hakamairi, perhatian terhadap tempat itu sendiri lebih penting daripada tata cara detail.

Meskipun pertama kali berkunjung, mengingat poin-poin berikut akan membantu Anda menghindari kesan tidak sopan.

Jangan Berbicara dengan Suara Keras

Pemakaman bukan tempat wisata, melainkan tempat yang dikunjungi orang-orang untuk mengenang almarhum.

Sebelum mengambil foto, pertimbangkan dulu apakah Anda mengganggu ketenangan suasana.

Berhati-hatilah dalam Mengambil Foto

Beberapa orang merasa keberatan jika batu nisan atau orang di sekitarnya ikut terekam dalam foto.

Jika tidak ada aturan jelas tentang boleh tidaknya foto, lebih baik menghormati suasana tempat daripada mementingkan foto kenangan.

Khususnya untuk unggahan ke media sosial, perhatikan agar informasi pribadi atau nama keluarga tidak ikut terekam.

Jangan Meninggalkan Persembahan atau Sampah

Cara memperlakukan persembahan makanan dan minuman berbeda-beda tergantung keluarga maupun pengelola pemakaman.

Untuk mencegah gangguan dari burung gagak atau hewan liar, ada pula prinsip untuk tidak meninggalkan persembahan begitu saja dan membawanya pulang, jadi ikuti aturan keluarga atau pemakaman tersebut.

Kesadaran untuk membawa pulang sampah dan bunga layu juga sangat penting.

Berhati-hati dengan Penggunaan Api

Saat menggunakan senkō atau lilin, perhatikan arah angin dan keberadaan orang lain di sekitar.

Setelah selesai, pastikan api pada senkō dan lilin benar-benar padam.

Jika ada panduan terkait penggunaan api, selalu ikuti instruksi tersebut.

Jam Buka yang Tepat untuk Berziarah

Secara umum, pagi hari atau sore hari lebih awal dianggap sebagai waktu yang tepat untuk berziarah.

Setelah petang, jalanan akan gelap dan jarak pandang terbatas, ditambah banyak pemakaman yang juga tutup gerbang, jadi sebaiknya berkunjung dengan waktu yang cukup.

Tips Perjalanan untuk Wisatawan yang Menemui Hakamairi

Meskipun Anda tidak melakukan hakamairi, saat berwisata di Jepang, Anda mungkin akan melihat pemakaman, nōkotsudō (bangunan penyimpanan abu jenazah), atau area pemakaman di dalam kuil.

Di kota seperti Kyoto atau Kamakura, sering dijumpai pemakaman yang menyatu dengan kawasan kuil terkenal.

Di tempat-tempat seperti itu, hindari memasukinya dengan sikap yang sama seperti ke spot wisata biasa.

Tidak masuk ke area terlarang, tidak menghalangi jalan setapak, dan tidak berdiri terlalu lama di dekat orang yang sedang berdoa akan membuat kesan Anda sangat berbeda.

Selain itu, hakamairi bukan semata-mata momen kesedihan.

Tradisi ini terus berlanjut sebagai budaya tenang untuk merasakan ikatan keluarga dan menata hati di pergantian musim.

Dengan memahami latar belakangnya, cara pandang Anda saat bertemu pemakaman atau kuil di Jepang pun akan sedikit berubah.

Kesimpulan | Sikap dan Etika Dasar yang Dijaga dalam Hakamairi

Hakamairi adalah tradisi Jepang untuk mengenang orang yang telah meninggal dan para leluhur dengan menyatukan tangan berdoa dalam ketenangan.

Meskipun ada patokan waktu seperti Obon, Ohigan, dan hari peringatan kematian, cara pelaksanaannya secara detail berbeda tergantung daerah, aliran Buddha, maupun keluarga.

Yang menjadi kesamaan adalah sikap menghormati tempat tersebut.

Bagi pemula, daripada menghafal seluruh alur dengan sempurna, bertindak tenang dan menyesuaikan diri dengan panduan lokal atau kebiasaan keluarga justru menjadi dasar yang paling mudah dipahami.

Jika Anda berkesempatan wisata ke Jepang, ingatlah latar belakang dan etika hakamairi yang dijelaskan dalam artikel ini, dan sesekali berhentilah sejenak untuk merasakan budayanya saat melewati pemakaman atau kuil.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Ohaka-mairi adalah tradisi Jepang untuk mengenang keluarga atau leluhur yang telah meninggal dengan berdoa sambil menangkupkan tangan di depan makam. Banyak orang berkunjung saat Obon (13–16 Agustus, atau Juli di sebagian daerah), Ohigan musim semi dan musim gugur, hari peringatan kematian, serta akhir dan awal tahun; tidak ada aturan pasti berapa kali, dan ketulusan hati lebih diutamakan.
A. Ohigan adalah total tujuh hari, yaitu tiga hari sebelum dan sesudah hari ekuinoks musim semi atau musim gugur, dengan hari ekuinoks sebagai pusatnya. Karena hari tengah yang berdekatan dengan hari libur cenderung ramai, memilih hari di sekitar hari tersebut akan membuat pembersihan dan ziarah lebih tenang; suhu pun relatif nyaman sehingga mudah dikunjungi.
A. Secara umum, ziarah makam dilakukan mulai pagi hingga siang awal. Ketika masih terang, membersihkan dan mengambil air lebih mudah, dan Anda juga terhindar dari penutupan gerbang atau jalur yang gelap di sore hari. Di musim panas, siapkan topi dan minuman, dan menyelesaikannya sebelum suhu naik dapat mengurangi beban.
A. Secara umum, setelah tiba Anda merapikan sekeliling makam, menyalakan dupa dan memberi bunga, lalu berdoa sambil menangkupkan tangan. Apakah menyiramkan air ke batu nisan dan berapa jumlah dupa dapat berbeda-beda menurut keluarga atau mazhab, jadi jika ragu, ikuti saja keluarga yang menyertai atau petunjuk setempat agar terasa alami dan tidak terkesan kurang sopan.
A. Dasarnya adalah bunga, dupa, lilin, pemantik, peralatan bersih-bersih, juzu (tasbih), dan persembahan. Di beberapa pemakaman disediakan ember dan gayung, jadi memeriksa petunjuk terlebih dahulu membantu mengurangi barang bawaan. Di musim panas, membawa minuman dan obat serangga membuat pergerakan lebih nyaman.
A. Jumlah dupa dan cara mempersembahkan terlihat jelas berbeda menurut mazhab maupun keluarga. Di Jodo Shinshu dikenal cara menidurkan dupa, tetapi jika ragu, sebaiknya tidak memutuskan sendiri dan ikuti petunjuk keluarga atau kuil agar lebih aman. Saat memadamkan, sopan dengan tidak meniup api, melainkan mengibaskan tangan.
A. Untuk ziarah sehari-hari tanpa upacara, pakaian kasual dengan warna tenang sudah cukup. Hindari warna mencolok seperti merah atau warna primer, pakaian terlalu terbuka, serta sandal atau sepatu hak tinggi; karena Anda akan berjalan di rerumputan atau jalan berkerikil, sepatu kets yang nyaman lebih aman. Musim panas perlu topi pelindung matahari, dan musim dingin perlu pakaian hangat karena banyak pemakaman berada di pegunungan.
A. Untuk persembahan, sebaiknya hindari makanan mentah atau yang mudah rusak. Di luar ruangan makanan cepat rusak dan dapat menarik hewan atau serangga, sehingga yang biasa dipilih adalah kue kemasan individual atau buah yang mudah dibawa pulang. Bunga pun lebih baik dipilih yang beraroma tenang dan serasi dengan suasana.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.