Apa Itu Tatami? Budaya Hunian & Sejarah Jepang
Tatami adalah material lantai yang terbuat dari bahan tanaman seperti igusa (rumput tikar Jepang), dan dikenal sebagai simbol ruangan bergaya Jepang (washitsu).
Awalnya, tatami digunakan oleh kaum bangsawan sebagai alas yang digelar di atas lantai kayu, dan sejak zaman Muromachi (abad ke-14–16), gaya menggelar tatami memenuhi seluruh ruangan mulai menyebar.
Tatami erat kaitannya dengan gaya hidup duduk di lantai yang khas Jepang — duduk, tidur, dan bersantai — sehingga berkembanglah kebiasaan memperlakukan tatami dengan hati-hati dan tenang.
Oleh karena itu, etika dasar di ruangan tatami adalah "bergerak tanpa menimbulkan suara", "menjaga kebersihan", dan "tidak merusak permukaannya".
Aroma khas tatami dari igusa dikenal menyegarkan dan menenangkan.

Etika Dasar Sebelum Memasuki Ruangan Tatami
Cara Melepas Sepatu & Sandal Rumah: Aturan Masuk Washitsu
Tatami tidak boleh diinjak dengan alas kaki dari luar.
Setelah melepas sepatu di pintu masuk, hadapkan ujung sepatu ke arah pintu keluar dan rapikan.
Umumnya, sandal rumah (slippers) juga tidak dipakai saat masuk ke ruangan tatami (ikuti petunjuk penginapan atau fasilitas yang Anda kunjungi).
Lepas sandal rumah tepat di depan tatami, rapikan, lalu masuklah ke ruangan.
Kebersihan Kaus Kaki Lebih Penting dari yang Anda Kira
Tatami adalah lantai yang sering bersentuhan langsung dengan kaki telanjang atau kaus kaki dalam waktu lama.
Jika Anda merasa kaus kaki kotor setelah berjalan di luar, gantilah dengan yang bersih atau seka kaki Anda, sesuai kemampuan.
Saat berwisata, membawa satu pasang kaus kaki cadangan akan sangat berguna saat memasuki ruangan tatami.
Bagaimana Memperlakukan Tatami-beri (Pinggiran Tatami)?
Kain di bagian pinggir tatami disebut tatami-beri.
Di tempat-tempat formal, ada kebiasaan untuk tidak menginjak tatami-beri yang memiliki lambang atau motif khusus.
Kebiasaan ini berasal dari etika masyarakat samurai bahwa "menginjak batas adalah tindakan tidak sopan".
Saat ini, tatami tanpa pinggiran seperti ryūkyū-datami (tatami tanpa pinggiran) semakin umum, tetapi jika ragu, sebaiknya hindari menginjak bagian pinggiran tatami.

Kesalahan Umum: Tindakan yang Merusak Tatami & Cara Menghindarinya
Roda Koper Adalah Musuh Utama Tatami
Roda koper mudah kotor dan dapat merusak permukaan tatami (tatami-omote).
Di atas tatami, usahakan untuk mengangkat koper, meletakkan kain atau handuk di bawahnya, atau menaruhnya di area lantai kayu dekat pintu masuk.
Aturan berbeda di setiap penginapan, jadi ikuti petunjuk yang diberikan.
Saat check-in, menanyakan "Di mana saya bisa meletakkan barang bawaan?" akan membuat Anda lebih tenang.
Jangan Menyeret Furnitur atau Barang Bawaan
Menyeret kursi, meja, atau barang berat dapat meninggalkan bekas atau membuat serat igusa rusak.
Jika perlu memindahkan sesuatu, angkat atau minta bantuan staf.
Tumpahan Minuman: Yang Penting Bukan "Jangan Tumpah" tapi "Apa yang Dilakukan Setelah Tumpah"
Siapa pun bisa tidak sengaja menumpahkan teh atau minuman ke tatami.
Jangan menggosok dengan keras. Pertama, serap cairan dengan kain kering atau tisu.
Setelah itu, segera beritahu staf penginapan agar kerusakan bisa diminimalkan.
Jangan Memaksakan Diri Duduk Seiza Jika Terasa Sakit
Dalam pengalaman seperti upacara teh, ada momen yang mengharuskan seiza (duduk berlutut), tetapi hal ini bisa sulit tergantung kondisi fisik.
Jika terasa sakit, tanyakan dengan suara pelan apakah boleh mengubah posisi duduk, sambil tetap memperhatikan sekitar.
Banyak situasi di mana duduk bersila (agura) atau menyamping juga diperbolehkan — memaksakan diri hingga jatuh sakit justru lebih bermasalah.
Etika yang Berbeda di Ryokan, Kuil & Ruang Upacara Teh
Kamar Ryokan: Ikuti Petunjuk yang Diberikan
Kamar bergaya Jepang di ryokan dirancang agar tamu bisa bersantai di atas tatami.
Tempat meletakkan barang dan cara menangani futon berbeda di setiap ryokan, jadi perhatikan penjelasan awal dan petunjuk yang tersedia.
Jika terdapat tokonoma (ceruk dekoratif), meletakkan barang di sana dianggap tidak sopan.
Tokonoma adalah ruang khusus untuk memajang gulungan lukisan atau rangkaian bunga, jadi letakkan barang di tempat lain.
Ruang Tatami di Kuil Buddha: Perhatikan Keheningan & Gerakan
Ruang tatami di kuil Buddha terkadang digunakan untuk aktivitas seperti shakyō (menyalin sutra) dan zazen (meditasi duduk).
Meminimalkan suara langkah, membuka-menutup pintu (fusuma, pintu geser buram, dan shōji, pintu/layar kertas) dengan pelan, serta mengalah untuk memberi jalan akan sangat dihargai.
Ruang Upacara Teh: Jangan Sentuh Peralatan & Perhatikan Jalur
Di ruang upacara teh (chashitsu), tata letak peralatan dan pergerakan orang memiliki makna khusus.
Jangan menyentuh peralatan teh, dan saat memasuki nijiriguchi (pintu masuk kecil), tundukkan kepala.
Aturan soal boleh tidaknya memotret dan posisi berdiri berbeda di setiap tempat, jadi ikuti petunjuk tertulis dan jika ragu, tanyakan sebelum bertindak.
Barang Bawaan agar Nyaman di Ruangan Tatami
Untuk membuat waktu Anda di ruangan tatami lebih nyaman, berikut beberapa barang yang berguna.
- Kaus kaki cadangan (agar bisa naik ke tatami dalam keadaan bersih)
- Handuk kecil atau tenugui (bisa untuk mengelap kaki atau diletakkan di bawah barang bawaan)
- Tas lipat/eco bag (berguna untuk mengumpulkan barang dan meletakkannya di area lantai kayu)
Kesimpulan: Kenali Sejarahnya & Nikmati Etika Tatami dengan Nyaman
Tatami adalah budaya lantai yang berkembang bersama gaya hidup duduk di lantai khas Jepang.
Di ruangan tatami, jika Anda sadar untuk tidak membawa masuk kotoran dan air, bergerak tanpa menimbulkan suara, dan memperlakukan permukaan tatami dengan hati-hati, etika Anda akan terjaga secara alami.
Ikuti petunjuk yang tersedia di tempat tersebut, dan jika ragu, tanyakan dengan singkat.
Hanya dengan itu, Anda bisa merasa tenang dan nyaman di ryokan, kuil, maupun ruang upacara teh.