Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Atsuta Jingu, Nagoya – Kuil hutan sakral yang terkait dengan pedang Kusanagi

Kuil Atsuta Jingu, Nagoya – Kuil hutan sakral yang terkait dengan pedang Kusanagi
Kuil Atsuta Jingu di kota Nagoya, Prefektur Aichi, adalah salah satu kuil Shinto paling penting di Jepang, terkenal karena kaitannya dengan pedang suci Kusanagi, salah satu dari Tiga Pusaka Kekaisaran, dan dikelilingi hutan yang tenang. Artikel ini memperkenalkan bangunan utama kuil, ruang pamer harta karun dan paviliun Shimizu dengan mata air jernih, festival tahunan seperti Atsuta Matsuri, serta panduan akses dengan kereta Meitetsu, JR dan subway, waktu kunjungan yang disarankan, etika dan saran pakaian, dan cara menggabungkan kunjungan dengan Taman Shirotori serta kawasan Pelabuhan Nagoya.

Ringkasan Cepat

Kuil Atsuta (Atsuta Jingū) dalam 1 kalimat

Kuil Atsuta (Atsuta Jingū) adalah kuil Shinto bergengsi di Nagoya yang memuliakan salah satu Tiga Regalia Suci, “Pedang Kusanagi”, sebagai go-shintai; Anda bisa berziarah sambil berjalan di hutan yang hijau.

Berdoa di Honden

Honden, pusat Kuil Atsuta, adalah tempat penting tempat Pedang Kusanagi dipersembahkan; arsitekturnya yang tenang dan suasananya yang khidmat menjadi daya tarik.

Museum harta (sekitar 6.000 benda)

Museum harta menyimpan sekitar 6.000 benda budaya, dan Anda dapat melihat berbagai benda terkait Pedang Kusanagi serta karya yang termasuk Important Cultural Property.

Mata air di Shimizusha

Shimizusha di area kuil dikenal dengan mata airnya, dan juga dikenal sebagai spot dengan cerita turun-temurun “membuat mata dan kulit menjadi lebih baik”.

Alam & musim di area kuil

Kuil Atsuta memiliki kawasan hutan luas dan pemandangan empat musim; saat sakura di musim semi dan daun merah di musim gugur, suasananya terutama ramai.

Akses (dekat stasiun)

Meitetsu “Jingu-mae Station” jalan kaki 3 menit / JR “Atsuta Station” jalan kaki 8 menit / Subway Meijo Line “Atsuta Jingu Nishi Station” jalan kaki 7 menit. Dengan mobil: sekitar 10 menit dari Nagoya Expressway “Horita Exit” atau “Yobitsugi Exit”.

Durasi & biaya

Kawasan kuil gratis. Kusanagi-kan: dewasa 500 yen, anak 200 yen; Kusanagi-kan + museum harta: dewasa 800 yen, anak 300 yen (pameran khusus bisa berbiaya terpisah). Jika hanya berjalan-jalan sekitar 1 jam, jika termasuk museum perkiraannya 1,5–2 jam.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Apa itu Atsuta Jingū? Kuil kuno di Nagoya yang memuja salah satu dari Tiga Regalia Suci

Atsuta Jingū (Kuil Atsuta), yang terletak di Distrik Atsuta, Kota Nagoya, Prefektur Aichi, adalah salah satu kuil Shinto dengan status sangat tinggi di Jepang.

Kuil ini dipercaya didirikan sekitar 1.900 tahun lalu dan memuliakan "Kusanagi no Mitsurugi" (Pedang Suci Kusanagi) sebagai goshintai, yaitu objek suci utama, salah satu dari Tiga Regalia Suci Jepang.

Sepanjang tahun, banyak peziarah datang berkunjung, dan di kalangan warga lokal kuil ini akrab disebut "Atsuta-san".

Kawasannya yang luas, sekitar 60.000 tsubo, menghadirkan suasana mistis yang diselimuti hutan tenang meskipun berada di tengah kota.

Tidak hanya warga setempat, tempat ini juga populer di kalangan wisatawan mancanegara sebagai tempat yang dipercaya membawa energi spiritual di Nagoya.


Cara menuju Atsuta Jingū

Atsuta Jingū berada di dalam Kota Nagoya dan sangat mudah diakses karena dapat dicapai dengan berjalan kaki dari beberapa stasiun kereta.

Jika menggunakan transportasi umum

  1. Kereta Meitetsu
  2. Dari Stasiun Jingū-mae di Jalur Utama Meitetsu Nagoya, berjalan kaki sekitar 3 menit.
  3. JR Tōkaidō Main Line
  4. Dari Stasiun Atsuta, berjalan kaki sekitar 8 menit.
  5. Subway Jalur Meijō
  6. Dari Stasiun Atsuta Jingū Nishi, berjalan kaki sekitar 7 menit.
  7. Dari Stasiun Atsuta Jingū Temma-chō, berjalan kaki sekitar 7 menit.

Jika menggunakan mobil

Dari pintu keluar Horita atau Yobitsugi di Nagoya Expressway, waktu tempuhnya sekitar 10 menit.

Tersedia area parkir gratis berkapasitas sekitar 400 mobil di dekat kompleks kuil.

Pada masa Tahun Baru atau saat festival, terkadang ada pembatasan penggunaan, sehingga lebih aman juga mempertimbangkan transportasi umum.


Hal yang wajib dilihat di Atsuta Jingū

1. Hongū (bangunan utama kuil)

Hongū, pusat utama Atsuta Jingū, adalah bangunan kuil terpenting tempat Kusanagi no Mitsurugi dipuja.

Bangunan ini disebut mengadopsi gaya arsitektur "Shinmei-zukuri" (gaya arsitektur kuil tradisional), sama seperti Ise Jingū, dan penampilannya yang sederhana namun agung menghadirkan keindahan tradisional Jepang.

Tata cara berdoa yang resmi adalah "dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, lalu satu kali membungkuk".

2. Tsurugi no Hōko Kusanagi-kan (galeri pedang Kusanagi)

"Tsurugi no Hōko Kusanagi-kan" adalah fasilitas khusus pedang yang menampilkan sekitar 450 bilah pedang milik Atsuta Jingū secara bergantian setiap bulan.

Tersedia juga area pengalaman untuk merasakan berat pedang Jepang asli dan "Magara Ōdachi" (pedang panjang raksasa).

3. Hōmotsukan (Museum Harta)

Di museum harta kuil Atsuta Jingū, dipamerkan berbagai benda berharga seperti harta nasional, properti budaya penting, dan properti budaya yang ditetapkan Prefektur Aichi.

Benda-benda seperti harta persembahan kuno, cermin Jepang, dan topeng bugaku disimpan di sini, dengan pameran yang diganti secara berkala.

4. Shimizu-sha (Kuil Shimizu)

Shimizu-sha di dalam kompleks adalah kuil cabang yang terkenal dengan mata air jernih yang mengalir keluar.

Mata air ini memiliki legenda dapat memperindah mata dan kulit, dan dipercaya bahwa jika memercikkan air tiga kali ke pagoda batu Yang Guifei sambil berdoa, keinginan akan terkabul.

5. Nobunaga-bei (Tembok Nobunaga)

Ini adalah tembok tanah yang konon dipersembahkan oleh Oda Nobunaga sebagai tanda terima kasih atas kemenangan, setelah ia berdoa memohon kemenangan di Atsuta Jingū sebelum Pertempuran Okehazama.

Tembok ini juga disebut sebagai salah satu dari Tiga Tembok Tanah Besar di Jepang dan merupakan peninggalan yang sangat berharga.

6. Acara tahunan

Di Atsuta Jingū, berbagai acara diselenggarakan sepanjang tahun.

"Atsuta Matsuri (Shōbu-sai)" yang biasanya diadakan pada awal Juni dikenal sebagai festival dengan kembang api dan persembahan seni bela diri.

"Hatsu Ebisu" juga diadakan pada Tahun Baru dan ramai oleh para peziarah yang berdoa untuk kelancaran usaha.


Tempat wisata di sekitar Atsuta Jingū

1. Shirotori Garden (Taman Shirotori)

Shirotori Garden, yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Atsuta Jingū, adalah taman Jepang tipe kolam-keliling.

Anda dapat menikmati pemandangan yang berbeda di setiap musim.

Biaya masuk berbeda tergantung kategori, tetapi untuk dewasa sekitar 300 yen.

Pada musim gugur, kadang diadakan iluminasi malam.

2. Akuarium Pelabuhan Nagoya

Di Pelabuhan Nagoya, sekitar 20 menit naik mobil, terdapat Akuarium Pelabuhan Nagoya yang terkenal dengan pertunjukan orca dan lumba-lumba, sehingga area ini populer untuk keluarga.


Info praktis untuk wisatawan

Waktu terbaik berkunjung

Disarankan berkunjung pada pagi hari.

Karena pengunjung masih sedikit, Anda bisa menikmati ibadah dan suasana tenang dengan lebih nyaman.

Perkiraan waktu untuk berkeliling kawasan kuil adalah sekitar 60 hingga 90 menit.

Harga tiket masuk

  • Beribadah di area kuil: gratis
  • Kusanagi-kan: dewasa 500 yen, siswa SD dan SMP 200 yen
  • Kusanagi-kan + Hōmotsukan (tiket gabungan): dewasa 800 yen, siswa SD dan SMP 300 yen

Jam buka museum adalah pukul 9:00 hingga 16:30.

Masuk terakhir pukul 16:00.

Tiket gabungan dijual hingga pukul 15:30.

Etika saat beribadah

Dalam etika kuil Shinto, pengunjung dianjurkan berjalan di sisi jalur pendekatan dan menghindari bagian tengah.

Bersihkan tangan dan mulut di temizuya (tempat pensucian) sebelum beribadah.

Saran barang yang perlu dibawa

  • Sepatu yang nyaman dipakai berjalan (karena kompleks kuil cukup luas)
  • Kamera (untuk memotret alam dan arsitektur tradisional)
  • Uang receh (praktis saat membeli omamori (jimat) atau ema (papan doa))

Ringkasan

Atsuta Jingū adalah salah satu power spot terbaik di Nagoya untuk merasakan sejarah dan budaya Jepang.

Mulai dari bangunan kuil yang berkaitan dengan Tiga Regalia Suci, apresiasi pedang di Kusanagi-kan, hingga kawasan kuil yang dikelilingi alam indah, tempat ini punya banyak daya tarik.

Saat wisata di Nagoya, pastikan untuk mampir ke sini!

Nikmati pengalaman istimewa di Atsuta Jingū, tempat tradisi dan alam menyatu dengan indah!


Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Atsuta Jingu adalah kuil terkenal yang memuja Atsuta-no-Okami dan dikenal lewat tradisi yang menyebut Kusanagi no Tsurugi sebagai benda sucinya. Bersuci di tempat temizu sebelum beribadah membantu menenangkan diri dan membuat gestur maupun foto terasa lebih rapi, jadi menarik napas sejenak di dekat pintu masuk adalah langkah yang baik. Jika baru pertama kali berkunjung, cek peta lebih dulu lalu fokus pada 2–3 titik yang ingin dilihat agar lebih mudah berkeliling.
A. Kawasan kuil dapat dikunjungi untuk beribadah selama 24 jam. Pagi hari biasanya lebih sepi dan udaranya lebih jernih, sehingga cahaya yang menembus pepohonan di jalan pendekat sering menghasilkan foto yang lebih berkesan. Pada malam hari ada area yang cukup gelap di bawah kaki, jadi sepatu yang nyaman dipakai berjalan akan terasa lebih aman. Menjelang tutup, area pameran dan toko cenderung lebih sibuk, jadi datanglah lebih awal agar bisa menikmati dengan tenang.
A. Stasiun terdekat adalah Meitetsu "Jingumae", dan Anda juga bisa berjalan kaki dari JR "Atsuta" atau stasiun subway "Atsuta Jingu Nishi". Dari stasiun ada banyak papan petunjuk sehingga tidak mudah tersesat, dan pada hari panas, memilih rute yang lebih banyak teduh di area kuil akan membantu menghemat tenaga. Karena ada bagian yang harus ditempuh berjalan kaki, pilih sepatu yang tidak licin saat hari hujan agar lebih aman.
A. Museum Harta Karun dan Kusanagi-kan buka pukul 9.00–16.30 (masuk terakhir 16.00), dengan tiket masuk 500 yen untuk dewasa dan 200 yen untuk siswa SD dan SMP. Karena area pameran ber-AC, urutan "ibadah → pameran → istirahat" terasa nyaman terutama untuk menghindari panas di puncak musim panas. Area penjualan tiket dan loket sering ramai, jadi menyiapkan uang pas atau pembayaran non-tunai akan lebih praktis.
A. Goshuin dapat diterima di loket pemberian. Saat ramai, antrean mudah terbentuk, jadi alurnya akan lebih lancar jika Anda menyelesaikan ibadah terlebih dahulu baru kemudian mengambilnya. Pada hari hujan, kertas pelapis mudah lembap, jadi membawa map plastik bening akan lebih aman. Untuk mengurangi orang yang masuk ke dalam foto, gunakan komposisi vertikal atau ambil dari posisi yang sedikit lebih tinggi.
A. Pada dasarnya, tata caranya adalah dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, lalu satu kali membungkuk. Bagian tengah jalan pendekat dianggap sebagai jalur dewa, jadi berjalan di sisi tepi dianggap lebih sopan. Saat memotret, usahakan tidak menghentikan arus orang; jika ingin berhenti, menepilah dan ambil foto dengan singkat agar tidak mudah menimbulkan masalah. Dengan sepatu yang nyaman dan membawa minuman, pengalaman berkunjung di lokasi akan terasa lebih menyenangkan.
A. Di loket pemberian, Anda bisa menerima berbagai jimat seperti penolak bala dan keselamatan berkendara, serta omikuji. Untuk wisatawan, memilih ukuran berbeda antara yang mudah dibawa saat bepergian dan yang untuk dipajang di rumah akan membuat barang bawaan tidak terlalu merepotkan, sekaligus membantu menyimpan kenangan perjalanan setelah pulang. Jika mengunjungi spot-spot dalam area yang sama sekaligus, perpindahan jadi lebih sedikit dan waktu bisa digunakan lebih efisien.
A. Di area kuil ada tempat untuk membeli makanan ringan, sehingga praktis untuk beristirahat setelah beribadah. Pada jam ramai, akan lebih lancar jika Anda mengamankan tempat duduk terlebih dahulu sebelum memesan, dan menu hangat seperti kishimen cocok untuk memulihkan tenaga setelah banyak berjalan. Jika mengunjungi spot-spot dalam area yang sama sekaligus, perpindahan jadi lebih sedikit dan waktu bisa digunakan lebih efisien.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.