15 Rekomendasi Tempat Wisata Kumamoto dan Cara Menikmatinya
Wisata Kumamoto menarik karena dalam satu perjalanan Anda dapat memadukan sejarah Kumamoto-jō (Kastel Kumamoto), bentang alam vulkanik kawasan Aso, serta laut dan budaya keagamaan di Kepulauan Amakusa.
Jika baru pertama kali berkunjung, jadikan pusat kota Kumamoto sebagai titik awal, lalu perluas perjalanan ke arah Aso atau Amakusa agar tema perjalanan lebih mudah disusun.
Dari pusat Kota Kumamoto, perjalanan dengan mobil menuju Aso memerlukan sekitar 1 jam 30 menit, sedangkan menuju Amakusa sekitar 2 jam. Keduanya cocok untuk perjalanan sehari maupun menginap satu malam.
Agar mudah dipilih sesuai tujuan perjalanan, berikut 15 tempat wisata yang kami susun berdasarkan area dan cara menikmatinya.
| Tempat | Area | Cocok untuk |
|---|---|---|
| Kumamoto-jō | Kota Kumamoto | Sejarah |
| Sakura no Baba Jōsaien | Kota Kumamoto | Kuliner & oleh-oleh |
| Katō-jinja | Kota Kumamoto | Pemandangan kastel |
| Suizenji Jōjuen | Kota Kumamoto | Taman |
| Kusasenri-ga-hama | Aso | Padang rumput |
| Kawah Nakadake Aso | Aso | Gunung berapi |
| Daikanbō | Aso | Panorama |
| Aso-jinja | Aso | Berdoa |
| Kurokawa Onsen | Aso | Keliling pemandian |
| Kikuchi Keikoku | Kumamoto utara | Hutan & sungai jernih |
| Taman Nabegataki | Oguni | Pemandangan air terjun |
| Amakusa Gokyō | Amakusa | Berkendara di tepi laut |
| Desa Sakitsu | Amakusa | Warisan Dunia |
| Wisata melihat lumba-lumba | Amakusa | Pengalaman laut |
| Tsūjun-kyō | Yamato | Budaya jembatan batu |
Di Pusat Kota Kumamoto, Nikmati Kastel dan Taman Tradisional
Di pusat Kota Kumamoto terdapat banyak tempat wisata yang menghadirkan suasana kawasan di sekitar kastel dan budaya taman tradisional, dengan Kumamoto-jō sebagai pusatnya.
Kumamoto-jō, Sakura no Baba Jōsaien, Katō-jinja, dan Suizenji Jōjuen mudah dijangkau dengan trem kota atau bus, sehingga dapat dikunjungi dengan santai dalam setengah hari hingga satu hari.
Di Aso, Jadikan Pemandangan Alam sebagai Bintang Utama
Di kawasan Aso, memadukan padang rumput, titik panorama, area sekitar kawah, dan onsen membuat Anda lebih mudah merasakan skala alam khas Kumamoto.
Karena ada tempat yang dipengaruhi aktivitas vulkanik dan cuaca, penting untuk memeriksa informasi setempat sebelum bergerak.
Di Amakusa dan Yamato, Kenali Budaya Laut dan Pengelolaan Air
Di Amakusa, perjalanan melintasi jembatan antarpulau dan suasana tenang Desa Sakitsu, bagian dari Warisan Budaya Dunia, memberikan pengalaman yang lebih berkesan.
Tsūjun-kyō (Jembatan Tsūjun) di Yamato adalah jembatan saluran air lengkung dari batu yang berstatus Harta Nasional. Bangunan ini menunjukkan kearifan masyarakat dalam menyalurkan air sekaligus menjadi pintu untuk mengenal kehidupan di pegunungan Kumamoto.
Menyusuri Sejarah dan Kota Bawah Kastel di Sekitar Kumamoto-jō
Wisata di pusat kota Kumamoto terasa mengalir alami bila memadukan sejarah, ziarah, belanja, dan jalan-jalan di taman dengan Kumamoto-jō sebagai pusatnya.
Karena banyak tempat yang dijelajahi dengan berjalan di luar ruangan, akan lebih nyaman bila menyisipkan istirahat sesuai musim dan cuaca.
Kumamoto-jō | Melihat Sejarah dan Menara Utama di Kastel yang Sedang Dipulihkan
Kumamoto-jō dikenal sebagai kastel yang dibangun oleh panglima Katō Kiyomasa. Melalui dinding batu, menara utama (tenshukaku), dan menara pengawasnya, pengunjung dapat mengenal sejarah Kumamoto.
Kastel ini sempat rusak akibat Gempa Kumamoto 2016, namun pemulihan menara utama selesai pada 2021, dan Anda bisa mengunjungi pameran di dalam menara besar dan kecil serta lantai observasi di lantai 6.
Pameran menelusuri perjalanan dari pembangunan oleh Katō Kiyomasa, kebakaran saat Perang Seinan, rekonstruksi era Shōwa, hingga pemulihan pasca Gempa Kumamoto, melalui maket dan tayangan video.
Karena pemulihan bagian seperti Menara Uto (Uto-yagura) berlanjut hingga sekitar 2032, periksa rute kunjungan dan area yang dibuka sebelum datang.
Sakura no Baba Jōsaien | Memilih Kuliner dan Oleh-oleh Kumamoto
Sakura no Baba Jōsaien adalah kompleks wisata di kaki Kumamoto-jō, tempat pengunjung dapat menikmati kuliner dan memilih oleh-oleh.
Dalam suasana yang mengingatkan pada kawasan sekitar kastel, Anda dapat mencicipi berbagai hidangan khas dan kudapan seperti basashi (irisan daging kuda mentah), karashi-renkon (akar teratai berisi mustard), dan ikinari-dango (kue beras isi ubi dan pasta kacang merah), serta melihat beragam kerajinan tangan.
Di sini juga terdapat Wakuwaku-za, fasilitas untuk mempelajari sejarah Kumamoto-jō, sehingga tempat ini cocok dijadikan lokasi beristirahat saat berwisata di Kota Kumamoto.
Katō-jinja | Spot Berdoa dengan Kumamoto-jō Terasa Dekat
Katō-jinja adalah kuil Shinto (jinja) yang berada di dalam kompleks Kumamoto-jō, dengan Katō Kiyomasa sebagai dewa utama yang dipuja.
Dari dalam kompleks terdapat titik untuk memandang menara utama dan Menara Uto Kumamoto-jō, sehingga menarik karena Anda bisa menikmati doa dan pemandangan kastel sekaligus.
Di kuil, sebelum mengambil foto jangan menghalangi alur para peziarah lain, dan tetaplah tenang saat berada di dalam kompleks.
Suizenji Jōjuen | Taman Berkeliling yang Merasakan Air Rembesan Aso
Suizenji Jōjuen adalah taman berkeliling gaya Momoyama yang ditetapkan sebagai Tempat Pemandangan Indah dan Situs Bersejarah tingkat nasional.
Dengan kolam yang dialiri air rembesan bawah tanah dari Aso sebagai pusatnya, saat berjalan sambil memandang gundukan bukit buatan dan tata letak pohon pinus, Anda bisa merasakan konsep taman Jepang yang konon menghadirkan pemandangan Jalur Tōkaidō dalam ruang yang terbatas.
Di dalam taman juga terdapat Izumi-jinja, yang memuja para daimyō dari keluarga Hosokawa, serta gedung teater Noh. Selain berjalan-jalan di taman, pengunjung dapat mengenal budaya Kumamoto.
Tiket masuk 500 yen untuk dewasa (16 tahun ke atas) dan 200 yen untuk anak (6–15 tahun). Dari Kumamoto-jō hanya sekitar 20 menit dengan trem kota, sehingga mudah dijangkau.
Menikmati Alam dan Pemandangan Vulkanik di Aso
Aso adalah area dengan bentang alam kaldera terbesar di dunia, tempat padang rumput, kawah, dan pemandangan gunung terluar saling bertumpuk.
Karena pemandangan yang terlihat berubah menurut musim dan cuaca, jangan menjejalkan terlalu banyak agenda; sisakan ruang santai untuk waktu di luar ruangan agar kepuasan meningkat.
Karena kesan pemandangan Aso berubah tiap musim, memilih tempat sesuai tujuan perjalanan akan memperdalam pemahaman Anda.
| Nuansa Musim | Pemandangan | Cara Menikmati |
|---|---|---|
| Musim semi (haru) | Hijau lembut | Jalan di padang rumput |
| Musim panas (natsu) | Hijau pekat | Keliling titik panorama |
| Musim gugur (aki) | Langit jernih | Berfoto |
| Musim dingin (fuyu) | Barisan gunung yang tenang | Menginap di onsen |
Kusasenri-ga-hama | Pemandangan Indah Aso dengan Padang Rumput dan Nakadake
Kusasenri-ga-hama adalah spot pemandangan padang rumput yang mewakili area puncak Aso pada ketinggian sekitar 1.100 m.
Di hamparan padang rumput berdiameter sekitar 1 km, Anda dapat memandang Nakadake yang mengepulkan asap. Saat cuaca mendukung, kontras antara bentang alam vulkanik dan padang rumput yang tenang terlihat jelas.
Hindari mendekati atau memberi makan kuda yang sedang digembalakan, dan berjalanlah mengikuti tanda peringatan setempat.
Kawah Nakadake Aso | Merasakan Aktivitas Vulkanik dan Memeriksa Pembatasan Kawah
Area sekitar Kawah Nakadake di Gunung Aso merupakan tempat khas Aso, tempat pengunjung dapat melihat asap gunung berapi aktif dan danau kawah berwarna hijau zamrud dari dekat.
Namun, karena area yang boleh dimasuki dan boleh-tidaknya kunjungan kawah berubah sesuai gas vulkanik, cuaca, dan tingkat kewaspadaan erupsi, periksalah informasi pembatasan kawah vulkanik Aso serta tingkat kewaspadaan erupsi dari Badan Meteorologi Jepang sebelum berkunjung.
Saat tingkat kewaspadaan erupsi 2 atau lebih, akses ke sekitar kawah dibatasi dan ada masa di mana kunjungan kawah tidak dapat dilakukan.
Orang dengan asma, penyakit bronkial, penyakit jantung, atau kondisi tubuh kurang fit perlu memeriksa panduan terkait gas vulkanik dan memutuskan untuk tidak memaksakan diri mendekat.
Daikanbō | Memandang Lima Puncak Aso dari Gunung Terluar
Daikanbō adalah spot panorama untuk memandang Lembah Aso dan Lima Puncak Aso (Aso Gogaku) dari gunung terluar Aso setinggi sekitar 936 m.
Garis punggung Lima Puncak Aso yang disebut "Nehanzō" (patung Buddha berbaring) karena tampak seperti Buddha yang tidur, terkenal, dan pada dini hari di musim gugur hingga musim dingin kadang muncul lautan awan.
Cocok bagi yang ingin melihat pemandangan luas, dan bila dipadukan dengan Kusasenri-ga-hama serta Aso-jinja, Anda lebih mudah memahami bentang alam Aso secara utuh.
Karena ketinggiannya dan ada hari berangin kencang, saat berfoto perhatikan pijakan kaki dan orang di sekitar.
Aso-jinja | Menikmati Gerbang Rōmon Tiga Besar Jepang dan Kota Depan Kuil
Aso-jinja adalah kuil kuno yang mewariskan kepercayaan kawasan Aso, dan sebagian bangunannya ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting nasional.
Gerbang rōmon yang runtuh total akibat Gempa Kumamoto adalah gerbang ganda setinggi sekitar 18 m, tergolong salah satu dari Tiga Besar Gerbang Rōmon Jepang, dan pemulihannya selesai pada Desember 2023.
Setelah berdoa, berjalanlah menyusuri kawasan di depan kuil yang memiliki sejumlah mata air bernama mizuki. Di sini Anda dapat mengenal budaya air dan kuliner Aso serta melihat daya tarik kawasan ini di luar pemandangan alamnya.
Menyegarkan Diri dengan Air dan Onsen di Aso dan Kumamoto Utara
Dari Aso hingga Kumamoto utara terdapat banyak tempat untuk menikmati pemandangan perairan, seperti onsen, sungai jernih, dan air terjun.
Kurokawa Onsen | Keliling Kota Onsen Pegunungan dengan Nyūtō Tegata
Kurokawa Onsen adalah kawasan pemandian air panas tempat sekitar 30 penginapan berkumpul di lembah pegunungan yang dikelilingi hijaunya alam di sepanjang Sungai Tanoharu.
Kurokawa Onsen dikenal dengan konsep bahwa seluruh kawasan merupakan satu ryokan besar, sehingga pengunjung dapat merasakan suasana yang tenang dan terpadu.
Untuk keliling pemandian terbuka (rotenburo) tanpa menginap, "nyūtō tegata" (tiket pemandian) sangat praktis; harganya 1.500 yen per lembar untuk dewasa dan berlaku selama 6 bulan.
Satu tegata dapat digunakan untuk 2 rotenburo yang tersedia, sedangkan satu stiker sisanya dapat ditukar dengan makanan atau oleh-oleh. Dengan demikian, pengunjung dapat menikmati pemandian dan berjalan-jalan sekaligus.
Karena jam layanan bagi pengunjung harian berbeda di setiap fasilitas, periksa terlebih dahulu apakah ryokan yang ingin Anda kunjungi sedang menerima tamu tanpa menginap.
Kikuchi Keikoku | Menikmati Suara Hutan dan Sungai Jernih
Kikuchi Keikoku adalah lembah di bagian barat laut gunung terluar Aso pada ketinggian sekitar 500–800 m, tempat Anda bisa menikmati pemandangan yang tercipta dari air jernih dan hutan perawan.
Untuk masuk ke lembah, diperlukan dana kerja sama pemeliharaan lingkungan alam sebesar 500 yen per orang untuk pelajar SMA ke atas.
Puncak daun musim gugur (kōyō) biasanya akhir Oktober hingga pertengahan November, hijau daun muda indah pada akhir April hingga Mei, dan musim panas populer sebagai tempat sejuk untuk menghindari panas.
Karena jalur setapak bisa licin oleh batu basah dan daun gugur, memilih sepatu yang nyaman untuk berjalan akan lebih aman.
Karena ada kalanya lembah tidak dapat dimasuki akibat pekerjaan pengamanan atau kondisi cuaca, periksalah panduan Kikuchi Keikoku atau Kota Kikuchi sebelum berkunjung.
Taman Nabegataki | Menikmati Air Terjun dari Sisi Belakang (Wajib Reservasi)
Taman Nabegataki adalah destinasi di Kota Oguni yang memungkinkan pengunjung melihat air terjun dari sisi belakang. Alirannya melebar sekitar 20 m dan jatuh dari ketinggian sekitar 10 m seperti tirai.
Kunjungan ke taman memerlukan reservasi dan pembelian tiket secara online sebelumnya. Harga tiket masuk 300 yen untuk dewasa dan 150 yen untuk pelajar SD/SMP. Jam buka 09.00–17.00, dengan batas masuk terakhir pukul 16.30.
Karena pijakan mudah basah di sekitar air terjun, jangan terlalu asyik berfoto dan tetaplah beraktivitas dalam area yang diarahkan.
Informasi dapat diperoleh melalui Pusat Layanan Oguni (0967-46-4440). Karena reservasi dilakukan melalui situs web, periksa ketersediaannya segera setelah tanggal perjalanan ditentukan.
Keliling Pemandangan Laut dan Iman di Amakusa
Amakusa adalah area di mana jembatan penghubung pulau, deretan kota tepi laut, dan sejarah iman saling bertumpuk.
Karena Anda bisa merasakan udara laut yang berbeda dari pusat kota Kumamoto maupun Aso, cocok bagi yang ingin memberi variasi pada perjalanan.
Di Amakusa, membagi waktu untuk menikmati pemandangan, berjalan-jalan, dan mengikuti aktivitas akan membuat perjalanan dengan banyak perpindahan tetap nyaman.
| Tujuan Perjalanan | Cara Memilih | Tempat yang Cocok |
|---|---|---|
| Pemandangan laut | Menyeberangi jembatan | Amakusa Gokyō |
| Budaya | Berjalan tenang | Desa Sakitsu |
| Pengalaman | Melaut | Melihat lumba-lumba |
| Foto | Menunggu cahaya | Kota tepi laut |
Amakusa Gokyō | Rute Berkendara di Laut yang Menghubungkan Pulau-pulau
Amakusa Gokyō adalah sebutan kolektif untuk 5 jembatan yang menghubungkan daratan utama Kyūshū dengan Kepulauan Amakusa, dibuka pada 1966.
Setiap kali melintasi Tenmon-kyō, Ōyano-bashi, Naka-no-hashi, Maeshima-bashi, dan Matsushima-bashi, panorama laut dan pulau akan berubah. Karena kaitannya dengan budidaya mutiara, rute ini juga dikenal sebagai Amakusa Pearl Line.
Perpindahan itu sendiri menjadi bagian dari wisata, dan bila menjelajah dengan mobil sewaan, singgahlah di titik-titik panorama dan nikmatilah pemandangan tepi laut dalam batas yang wajar.
Desa Sakitsu | Menyusuri Warisan Kristen Tersembunyi yang Menjadi Warisan Budaya Dunia
Desa Sakitsu adalah salah satu properti penyusun Warisan Budaya Dunia "Situs-situs Terkait Kristen Tersembunyi di Kawasan Nagasaki dan Amakusa" yang terdaftar pada 2018.
Di tempat yang memadukan kehidupan desa nelayan dan sejarah iman ini, Gereja Katolik Sakitsu yang berinterior lantai tatami juga disebut "Katedral Laut".
Karena hingga kini masih menjadi desa berpenghuni, penting untuk berjalan dengan tenang, dan pengambilan foto di dalam gereja dilarang.
Untuk mengunjungi bagian dalam gereja, pengunjung disarankan melakukan reservasi terlebih dahulu melalui Pusat Informasi Gereja-gereja di Kawasan Nagasaki dan Amakusa. Periksa panduannya sebelum berkunjung.
Wisata Melihat Lumba-lumba | Mengamati Lumba-lumba Liar di Laut Amakusa
Wisata melihat lumba-lumba di Amakusa adalah aktivitas naik perahu untuk mengamati lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik liar.
Di pesisir barat Amakusa diperkirakan terdapat sekitar 200 ekor lumba-lumba sepanjang tahun, sehingga peluang melihat kawanan cukup tinggi.
Karena ini pengalaman dengan alam, operasional dan tampilannya berubah sesuai cuaca dan kondisi laut.
Periksa reservasi, titik kumpul, dan penanganan saat pembatalan lewat panduan operator, dan amatilah dengan mengikuti arahan pemandu di atas perahu.
Mengenal Budaya Jembatan Batu dan Air di Yamato
Jika memperluas perjalanan hingga Kota Yamato, pengunjung dapat mengenal kearifan pengelolaan air yang diwariskan di pegunungan Kumamoto.
Tsūjun-kyō | Melihat Jembatan Saluran Air Lengkung Batu Berstatus Harta Nasional
Tsūjun-kyō adalah jembatan saluran air lengkung dari batu yang dibangun pada 1854 (Kaei 7) untuk mengalirkan air ke Dataran Shiraito yang kekurangan air. Jembatan ini ditetapkan sebagai Harta Nasional pada 2023.
Pelepasan air dilakukan untuk membuang lumpur yang menumpuk di jembatan, dan pemandangan air yang menyembur deras dari tengah jembatan menjadi daya tarik khasnya.
Selain bentuk jembatannya, mengetahui latar bahwa ia dipakai sebagai saluran untuk mengairi lahan pertanian akan mengubah cara Anda memandang pemandangannya.
Karena hari pelepasan air dan peninjauan di atas jembatan (berbayar) berubah sesuai jadwal, cuaca, dan alasan pengelolaan, periksalah kalender pelepasan air Tsūjun-kyō atau pengumumannya.
Cara Memasukkannya ke dalam Perjalanan Kumamoto
Tsūjun-kyō adalah kandidat yang mudah disisipkan di tengah perjalanan dari pusat kota Kumamoto menuju arah Aso atau Takachiho.
Namun, karena perjalanan di pegunungan dipengaruhi cuaca dan kondisi jalan, susunlah jadwal yang longgar agar dapat menikmatinya dengan nyaman.
Etika dan Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Wisata Kumamoto Sebelum ke Jepang
Ciri tempat wisata Kumamoto adalah banyaknya tempat di mana alam, iman, dan ruang kehidupan berdekatan.
Agar perjalanan menyenangkan, periksalah aturan tiap tempat lewat tanda setempat, dan hindari pemotretan atau memasuki area secara paksa.
Berikut kami rangkum perilaku yang mudah membingungkan saat wisata, terbagi menjadi hal yang boleh dan hal yang sebaiknya dihindari.
| Situasi | Boleh | Sebaiknya Dihindari |
|---|---|---|
| Kawah | Memeriksa pembatasan | Mengabaikan larangan masuk |
| Padang rumput | Berjalan di jalur | Mendekati hewan |
| Kuil | Berdoa dengan tenang | Menghalangi alur jalan |
| Desa | Menghormati kehidupan warga | Masuk lahan pribadi |
| Onsen | Membersihkan badan | Mencuci badan di dalam bak |
Di Kawah dan Lembah, Utamakan Arahan Setempat
Di tempat wisata alam seperti Kawah Nakadake Aso dan Kikuchi Keikoku, kondisi dapat berubah karena aktivitas vulkanik, cuaca, atau pekerjaan pemeliharaan.
Jangan hanya menilai dari informasi yang Anda lihat sebelum perjalanan; utamakan panduan hari itu dan arahan staf setempat.
Di Kuil dan Desa, Berjalanlah dengan Tenang
Di Aso-jinja, Katō-jinja, dan Desa Sakitsu, bukan hanya wisatawan, tetapi juga peziarah dan warga menggunakan ruang yang sama.
Saat mengambil foto, berhati-hatilah agar wajah orang atau pintu masuk rumah tidak ikut terekam, dan jangan memasuki area terlarang.
Di Onsen, Patuhi Etika Pemandian Jepang
Di kawasan onsen seperti Kurokawa Onsen, etika umumnya adalah membersihkan badan sebelum masuk ke bak dan tidak memasukkan handuk ke dalam air.
Karena penanganan tato serta cara pendaftaran pemandian sehari berbeda tiap fasilitas, periksalah panduan masing-masing fasilitas sebelum menggunakannya.
Kesimpulan
Perjalanan ke 15 tempat wisata rekomendasi di Kumamoto akan terasa lengkap bila memadukan sejarah di sekitar Kumamoto-jō, bentang alam Aso, laut Amakusa, dan budaya pengelolaan air di Yamato.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Jepang, menjadikan pusat Kota Kumamoto sebagai basis lalu menambahkan Aso atau Amakusa sudah cukup untuk menikmati pemandangan khas Kumamoto.
Karena pembatasan kawah, akses ke lembah, reservasi air terjun, jadwal pelepasan air, dan ketentuan penggunaan onsen dapat berubah, periksa informasi terbaru sebelum berangkat dan susun rencana perjalanan yang aman serta tidak terlalu padat.













Ulasan (0)