Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Gereja Sakitsu: Panduan Kristen Tersembunyi Amakusa

Gereja Sakitsu: Panduan Kristen Tersembunyi Amakusa
Panduan Gereja Sakitsu di desa nelayan Amakusa: sejarah Kristen tersembunyi, arsitektur, jalan desa, etika berkunjung, dan tips foto.

Ringkasan Cepat

Katedral Laut: Gereja Sakitsu

Gereja Sakitsu yang dijuluki "Katedral Laut" adalah gereja Katolik yang berdiri di desa nelayan Kota Amakusa, Prefektur Kumamoto. Dapat dinikmati menyatu dengan pemandangan permukiman tepi laut.

Sorotan Arsitektur

Bangunan gereja saat ini dibangun pada 1934. Dirancang dan dibangun oleh Tetsukawa Yosuke, dengan ciri khas ruang berpadu Jepang-Barat: tampilan luar bergaya Gotik dan interior beralas tatami yang langka.

Sejarah Altar

Tempat altar diletakkan diyakini bekas kediaman kepala desa tempat dulu dilakukan efumi (menginjak gambar suci). Sejarah kepercayaan setempat berpadu dengan ruang doa.

Menikmati Permukiman Sakitsu

Tidak hanya gereja, dengan berjalan menyusuri pelabuhan, gang-gang sempit, dan deretan rumah tepi laut, Anda bisa merasakan suasana permukiman Sakitsu yang memadukan desa nelayan dan kepercayaan.

Akses

Dengan mobil, umumnya pengunjung menjadikan Pusat Panduan Permukiman Sakitsu atau sekitar Michi-no-Eki Sakitsu (rest area jalan raya) sebagai titik awal, lalu berkeliling dengan berjalan kaki. Bus rute juga bisa digunakan.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Masuk Gereja

Kunjungan ke Gereja Sakitsu memerlukan reservasi sebelumnya. Pengambilan gambar di dalam ruang ibadah dilarang, dan pengambilan gambar atau penggunaan komersial di dalam area mungkin memerlukan izin.

Nilai sebagai Warisan Dunia

Permukiman Sakitsu adalah komponen "Situs Kristen Tersembunyi di Wilayah Nagasaki dan Amakusa". Nilainya ada pada seluruh permukiman, bukan hanya arsitektur gerejanya.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Kumamoto

Apa Itu Gereja Sakitsu - Pemandangan Doa Kakure Kirishitan yang Tersisa di Permukiman Tepi Laut

Gereja Sakitsu (Sakitsu Kyōkai, Gereja Katolik Sakitsu) adalah gereja Katolik yang berdiri di permukiman tepi laut di Sakitsu, Kawaura-machi, Amakusa, Prefektur Kumamoto.

Nama resminya adalah Gereja Katolik Sakitsu. Ruang dalam gereja saat ini dikenal sebagai salah satu dari sedikit gereja beralas tatami di Jepang, dan merupakan pemandangan doa yang juga disebut "Katedral Laut".

Karena menara gereja terlihat di tengah pemandangan pelabuhan, atap rumah-rumah penduduk, dan gang yang tenang, ini bukan tempat untuk sekadar memandang arsitektur religi, melainkan tempat untuk merasakan perpaduan antara kehidupan permukiman dan keyakinan.

Gereja yang Menyatu dengan Pemandangan Desa Nelayan

Kesan Gereja Sakitsu terletak pada sosoknya yang berdiri di dekat laut.

Berbeda dengan gereja kota yang dikelilingi bangunan tinggi, salib putih dan menara berdiri dengan tenang di tengah deretan rumah desa nelayan dan pemandangan pelabuhan.

Bagi wisatawan mancanegara, daya tarik besar tempat ini adalah kehidupan pedesaan Jepang dan budaya Kristen berada dalam satu pemandangan yang sama.

Pintu Masuk untuk Mengenal Aset Penyusun Warisan Budaya Dunia

Permukiman Sakitsu di Amakusa, tempat Gereja Sakitsu berada, adalah salah satu dari 12 aset yang menyusun Warisan Budaya Dunia "Situs Kakure Kirishitan di Wilayah Nagasaki dan Amakusa" yang terdaftar pada tahun 2018.

Secara resmi terdaftar sebagai "Permukiman Sakitsu di Amakusa", ini adalah permukiman yang menyampaikan sejarah Kakure Kirishitan (umat Kristen tersembunyi) yang menjalankan keyakinan mereka sambil menggunakan benda-benda sehari-hari sebagai pengganti alat ibadah.

Daripada hanya melihat gereja, dengan berjalan setelah mengetahui sejarah seluruh permukiman, Anda akan melihat mengapa budaya doa tersisa di tepi laut ini.

Jika Anda mengunjungi gereja ini sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah Permukiman Sakitsu, Anda bisa menikmatinya dengan lebih mendalam.

Tempat Wisata Sekaligus Tempat Doa

Di satu sisi, Gereja Sakitsu adalah tempat yang menyambut wisatawan, tetapi di sisi lain hingga kini tetap menjadi tempat doa yang penting bagi umat.

Bukan hanya sudut pandang wisata seperti mengambil foto, melihat bangunan, atau mempelajari sejarah, tetapi kesadaran untuk menjaga ketenangan sangatlah penting.

Jika sebelum masuk gereja Anda mengingat bahwa ini adalah tempat ibadah sehari-hari, cara Anda menghabiskan waktu akan menjadi sopan secara alami.

Latar Belakang Sejarah Gereja Sakitsu yang Ingin Diketahui Sebelum Berkunjung

Daya tarik Gereja Sakitsu bukan hanya keindahan eksteriornya.

Kunci untuk memahami tempat ini terletak pada keyakinan di masa larangan agama, kehidupan desa nelayan, serta ingatan tanah tempat gereja didirikan.

Bentuk Keyakinan yang Dijaga Kakure Kirishitan

Di Permukiman Sakitsu, ada masa di mana sulit untuk menunjukkan keyakinan Kristen secara terang-terangan pada periode larangan agama (kinkyō).

Di tengah itu, orang-orang mewariskan doa secara diam-diam sambil menjadikan benda-benda sehari-hari sebagai objek keyakinan.

Jika mengetahui latar belakang ini, Gereja Sakitsu bukan sekadar bangunan bergaya Barat, melainkan terlihat sebagai puncak doa yang dijaga selama waktu yang panjang.

Perhatikan Alat Ibadah Khas Desa Nelayan

Kehidupan tepi laut sangat berkaitan dengan budaya keyakinan di Permukiman Sakitsu.

Sebagai contoh, pola yang terlihat di bagian dalam cangkang kerang seperti awabi (abalon) dijadikan perumpamaan Bunda Maria. Benda-benda yang terkait dengan kehidupan desa nelayan dihargai sebagai alat ibadah yang menopang keyakinan.

Jika Anda memiliki sudut pandang ini di tempat tujuan, kehidupan orang-orang di pelabuhan, gang, dan yang menuju laut pun bisa dirasakan sebagai bagian dari sejarah.

Berdiri di Tempat yang Menyimpan Ingatan E-fumi

Bangunan Gereja Sakitsu saat ini didirikan di tempat yang berkaitan dengan ingatan periode larangan agama.

Altar di dalam gereja dikatakan ditempatkan di lokasi tempat e-fumi (tindakan menginjak gambar suci untuk mengonfirmasi keyakinan) dahulu dilakukan untuk menindak keyakinan.

Berdirinya bangunan gereja di tempat itu diterima sebagai simbol proses masyarakat daerah merebut kembali keyakinan mereka.

Ruang Dalam Beralas Tatami yang Menceritakan Ciri Khas Tanah

Gereja Sakitsu saat ini dikenal sebagai bangunan gereja yang dibangun kembali pada tahun 1934 (Shōwa 9) pada masa Pastor Halbout, dengan desain dan konstruksi oleh Tetsukawa Yosuke, yang dikenal menangani banyak arsitektur gereja.

Meskipun memiliki eksterior bergaya Gotik yang megah, ruang dalamnya dikenal sebagai ruang beralas tatami yang langka di Jepang.

Perpaduan antara bangunan bergaya Gotik dan tatami yang membuat Anda merasakan budaya kehidupan Jepang adalah hal yang wajib dilihat dan khas tanah ini.

Bagian menara di depan terbuat dari beton bertulang, dan penggunaan material yang berbeda dari ruang dalam yang berpusat pada kayu juga menjadi ciri khasnya.

Semakin orang yang berkunjung dengan membayangkan arsitektur gereja Barat, semakin mudah menyadari perbedaan yang tenang itu.

Berikut adalah rangkuman istilah untuk memahami sejarah, dikaitkan dengan pemandangan yang terlihat di tempat tujuan.

Istilah Makna Sudut Pandang
Kakure Kirishitan Keyakinan tersembunyi Pewarisan doa
Alat ibadah Perkakas doa Hubungan dengan kehidupan
E-fumi Tindakan konfirmasi keyakinan Ingatan tanah
Orasho Kata-kata doa Budaya lisan
Bekas rumah kepala desa Tempat penguasaan daerah Lokasi gereja

Menikmati Hal yang Wajib Dilihat di Gereja Sakitsu dengan Tenang

Di Gereja Sakitsu, daripada terburu-buru melihat hanya bangunannya, jika Anda menikmati eksterior, ruang dalam, dan pemandangan permukiman secara terpisah, kesannya akan lebih membekas.

Bukan pertunjukan yang mencolok, tetapi membaca perpaduan tempat-tempat yang tenang menjadi kesenangan perjalanan.

Siluet Tepi Laut yang Diciptakan Menara dan Salib

Pada eksterior Gereja Sakitsu, menara dan salib yang mengarah ke langit menarik perhatian.

Jika dipandang bersama pelabuhan dan deretan rumah, akan terlihat jelas bahwa gereja menyatu dengan permukiman.

Daripada hanya membingkai bangunannya secara besar, dengan memandang bangunan bersama kehidupan di sekitarnya, akan menjadi pemandangan khas Sakitsu.

Lihat Kontras Tatami dan Altar di Ruang Dalam

Jika ada kesempatan masuk ke ruang dalam, hal yang ingin diperhatikan adalah perpaduan antara lantai beralas tatami dan altar yang ditempatkan di lokasi tempat e-fumi dahulu dilakukan.

Namun, ruang dalam adalah ruang doa, dan pemotretan di dalam katedral dilarang.

Daripada menyimpannya sebagai dokumentasi, cara menghabiskan waktu dengan melihat secara tenang di lokasi dan menyimpan nuansa suasananya di hati lebih cocok.

Ekspresi Gereja yang Terlihat dari Gang Permukiman

Gereja Sakitsu, bukan hanya dengan memandang dari dekat, tetapi ekspresinya berubah ketika dipandang dari gang permukiman atau sekitar pelabuhan.

Menara yang terlihat di antara rumah-rumah penduduk dan sosoknya yang berdiri di tengah cahaya tepi laut, adalah pemandangan khas Permukiman Sakitsu.

Karena Anda berjalan di ruang kehidupan, diperlukan kepedulian terhadap tempat berhenti dan arah mengarahkan kamera.

Saat melihat sekitar gereja, akan lebih mudah berjalan jika Anda memilah cara menikmati dan kepedulian untuk setiap tempat.

Tempat Hal yang Dilihat Kepedulian
Eksterior Menara dan salib Jangan menghalangi lalu lintas
Ruang dalam Tatami dan altar Jangan memotret
Sekitar pelabuhan Harmoni dengan laut Jangan masuk tanah pribadi
Gang Pemandangan kehidupan Tahan suara keras
Seluruh permukiman Perpaduan sejarah Bawa pulang sampah

Etika Berkunjung Gereja Sakitsu yang Menghormati Tempat Doa

Saat mengunjungi Gereja Sakitsu, penting untuk menyeimbangkan rasa ingin tahu sebagai pengunjung dengan rasa hormat terhadap tempat doa.

Jika mengetahui etikanya, Anda bisa menghabiskan waktu tanpa kekhawatiran bahkan saat kunjungan gereja pertama.

Beralih ke Perasaan Tenang Sebelum Masuk Gereja

Sebelum masuk gereja, turunkan volume percakapan dan masuklah ke dalam dengan perasaan yang tenang.

Tidak ribut baik di dalam maupun di luar gereja adalah etika dasar saat berkunjung.

Jika mengenakan topi, melepasnya di dalam gereja adalah hal yang mendasar.

Meskipun Anda tidak paham tentang agama, asalkan memiliki sikap untuk menghabiskan waktu dengan tenang, tidak ada masalah.

Jangan Menyentuh Benda di Ruang Dalam

Hindari menyentuh sembarangan altar, kursi, pagar, benda pameran, dan sebagainya yang ada di ruang dalam.

Terutama area sekitar altar adalah tempat yang penting secara keyakinan, sehingga perlu mematuhi batas area yang boleh dimasuki.

Jika ada papan petunjuk atau arahan dari pihak setempat, ikutilah saat berkunjung.

Makan, Minum, dan Merokok Pun Berhati-Hatilah di Luar Gereja

Tahan makan, minum, minum minuman beralkohol, dan merokok di ruang dalam.

Di dalam permukiman pun, merokok sambil berjalan atau membuang sampah sembarangan merusak pemandangan dan kehidupan daerah.

Meskipun membawa minuman sambil berjalan, milikilah kesadaran untuk membawa pulang sampah sendiri.

Tunda Kunjungan Saat Acara Gereja Berlangsung

Saat misa, upacara pernikahan dan pemakaman, serta acara keagamaan lainnya sedang berlangsung, Anda perlu menunda kunjungan.

Meskipun bagi wisatawan terasa seperti perubahan rencana, bagi penduduk setempat itu adalah waktu doa dan ritual yang penting.

Sebelum berkunjung, periksalah panduan kunjungan, dan di lokasi jangan memaksakan diri untuk masuk gereja.

Berikut adalah rangkuman tindakan yang mudah membingungkan saat berkunjung, dibagi menjadi yang OK dan yang sebaiknya dihindari.

Situasi OK Hal yang Dihindari
Sebelum masuk gereja Menunggu dengan tenang Percakapan suara keras
Ruang dalam Melihat dengan hati tenang Memotret
Sekitar altar Melihat dari luar pagar Memasuki area
Saat acara Menunggu di luar Masuk gereja
Dalam permukiman Berjalan di pinggir jalan Menerobos tanah pribadi

Cara Menikmati Saat Berjalan di Permukiman Sakitsu

Perjalanan mengunjungi Gereja Sakitsu akan lebih membekas jika tidak diakhiri hanya dengan gereja saja.

Melalui laut, gang, kuil Shinto, museum, dan sebagainya, Anda bisa merasakan suasana permukiman tempat keyakinan dan kehidupan saling bertumpuk.

Berjalan di Permukiman Sebelum dan Sesudah Gereja

Jika Anda berjalan di sekitar pelabuhan dan gang setelah melihat gereja, akan lebih mudah merasakan mengapa gereja berada di tempat ini.

Jika membayangkan bahwa keyakinan dijaga di tengah kehidupan dekat laut, cara pandang pemandangan akan berubah.

Daripada mengunjungi spot wisata secara terpisah, disarankan untuk berjalan menyusuri seluruh permukiman sebagai satu kisah.

Miliki Kesadaran Berjalan dengan Meminjam Jalan Kehidupan

Di Permukiman Sakitsu, hingga kini ada orang-orang yang menjalani kehidupan.

Di jalan sempit, jangan berjalan melebar, dan miliki kesadaran untuk berjalan di pinggir jalan.

Jangan mengintip ke dalam rumah atau masuk ke pekarangan tanpa izin.

Di permukiman yang tenang, sedikit suara atau gerakan terkadang mencolok.

Utamakan Harmoni Eksterior dan Pemandangan Kota pada Foto

Pemotretan di dalam katedral dan di area gereja dilarang, tetapi menikmati eksterior dan pemandangan kota dari gang permukiman atau pelabuhan menjadi kenangan penting perjalanan.

Namun, jika rumah pribadi atau keadaan kehidupan terbawa dalam bingkai foto, penting untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum mengarahkan kamera.

Jika Anda lebih memperhatikan "apakah ini situasi yang boleh difoto" daripada "apakah bisa difoto", rasa hormat terhadap permukiman akan tersampaikan.

Berikut adalah rangkuman cara menikmati Gereja Sakitsu dan permukiman berdasarkan tipe wisatawan.

Tipe Perjalanan Cara Menikmati Hal yang Perlu Diperhatikan
Pertama kali Gereja dan pelabuhan Berjalan dengan tenang
Pecinta sejarah Memeriksa istilah Membaca latar belakang
Pecinta foto Berpusat pada eksterior Jangan memotret ruang dalam
Perjalanan keluarga Menyusuri gang Menghindari mengganggu
Perjalanan sendiri Menikmati doa Jangan berlama-lama

Cara Menuju dan Tempat Parkir Gereja Sakitsu

Gereja Sakitsu berada di sisi barat Pulau Amakusa Shimoshima, di Permukiman Sakitsu di sepanjang teluk kecil.

Karena hampir tidak ada ruang parkir untuk wisatawan di dalam permukiman, saat berkunjung dengan mobil, gunakan tempat parkir "Pusat Panduan Permukiman Sakitsu (Michi no Eki Sakitsu)" yang ada di pintu masuk permukiman.

Tempat Parkir Saat Berkunjung dengan Mobil

Di sekitar pusat panduan Michi no Eki Sakitsu, tersedia tempat parkir dan toilet.

Lokasinya berada di Sakitsu 1117-10, Kawaura-machi, Amakusa, Prefektur Kumamoto. Cara berjalan yang mendasar adalah memarkir mobil di sini lalu menuju permukiman dan gereja dengan berjalan kaki.

Di dalam pusat, selain panduan wisata, juga diadakan pameran panel tentang sejarah Kakure Kirishitan dan penjualan produk khas. Singgah ke sini sebelum berkunjung akan memperdalam pemahaman.

Saat Berkunjung dengan Transportasi Umum

Jika menggunakan bus lokal, dari halte bus "Kyōkai Iriguchi" milik Sankō Bus, gereja berjarak sekitar 1 menit berjalan kaki.

Karena jumlah jadwalnya terbatas, akan lebih aman jika Anda memeriksa jadwal sebelumnya dan merencanakan termasuk waktu bus pulang.

Catatan Reservasi, Pemotretan, dan Akses Masuk yang Ingin Diperiksa Sebelum Berkunjung ke Jepang

Gereja Sakitsu terkadang tidak bisa dikunjungi ruang dalamnya hanya dengan datang secara mendadak.

Jika Anda memeriksa reservasi sebelumnya, waktu yang tidak bisa dikunjungi, dan aturan pemotretan, Anda bisa menghabiskan waktu tanpa panik di lokasi.

Periksa Reservasi Sebelumnya untuk Kunjungan Ruang Dalam

Kunjungan ke dalam gereja (ruang dalam) memerlukan reservasi sebelumnya.

Selain itu, pada waktu di mana misa atau acara keagamaan berlangsung, Anda diminta menahan diri untuk berkunjung, dan terkadang ditetapkan kemungkinan kunjungan atau jam yang berbeda dari biasanya.

Sebelum perjalanan, berangkatlah setelah memeriksa cara menghubungi pengelola dan ketersediaan kunjungan.

Patuhi Aturan Pemotretan dan Penggunaan Komersial

Pemotretan foto di dalam katedral dilarang, dan pemotretan di area dalam gereja juga dilarang.

Jika menggunakan foto atau video untuk produk atau peliputan, terkadang diperlukan prosedur tertentu.

Bahkan untuk foto kenangan perjalanan pribadi, tahan tindakan seperti menggunakan tangga lipat atau peralatan besar, dan jangan mengganggu doa serta kehidupan orang sekitar.

Kesimpulan - Tips Agar Tidak Bingung di Gereja Sakitsu untuk Kunjungan Pertama

Gereja Sakitsu adalah spot yang ingin dikunjungi bukan hanya sebagai gereja indah di tepi laut, tetapi juga sebagai tempat di mana sejarah Kakure Kirishitan dan kehidupan desa nelayan saling bertumpuk.

Eksterior bergaya Gotik yang dibangun kembali pada tahun 1934 oleh tangan Tetsukawa Yosuke, ruang dalam beralas tatami, serta sosok gereja yang menyatu dengan pelabuhan, akan menjadi kenangan perjalanan tenang yang khas Amakusa.

Di sisi lain, di sini hingga kini merupakan tempat doa, dan sekitarnya juga merupakan ruang kehidupan.

Dengan memperhatikan reservasi sebelumnya untuk kunjungan ruang dalam, menahan diri berkunjung saat acara keagamaan, aturan larangan pemotretan di dalam katedral dan area gereja, serta cara berjalan di dalam permukiman, wisatawan mancanegara pun bisa menghabiskan waktu dengan tenang.

Jika berkunjung ke Gereja Sakitsu, bukan hanya melihat bangunannya, tetapi cobalah berjalan dengan tenang di jalan tepi laut dan merasakan kisah keyakinan yang tersisa di tanah ini.

Waktu itu akan menjadikan perjalanan Amakusa lebih mendalam dan membekas di hati.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Gereja Katolik Sakitsu di Kota Amakusa, Prefektur Kumamoto, adalah gereja yang berdiri di dalam "Desa Sakitsu Amakusa", salah satu aset penyusun Warisan Budaya Dunia. Ciri khasnya adalah pemandangan unik dengan menara runcing yang menyatu dengan deretan rumah desa nelayan, dan pada 2018 terdaftar sebagai bagian dari "Situs Kristen Tersembunyi di Wilayah Nagasaki dan Amakusa". Masih tersisa pula budaya menggunakan cangkang kerang sebagai pengganti alat ibadah.
A. Interior berlantai tatami yang langka di Jepang ini melambangkan iman Kristen tersembunyi yang memadukan budaya Jepang dan Barat. Gaya melepas sepatu lalu duduk di tatami untuk berdoa berakar pada kehidupan warga Amakusa yang lama menjaga iman secara sembunyi-sembunyi. Perlu diingat juga bahwa alur masuknya mengharuskan melepas alas kaki sebelum masuk ke dalam ruangan, agar Anda tidak bingung.
A. Bangunan gereja yang sekarang dibangun kembali pada tahun 1934 (Showa 9) dengan rancangan dan pengerjaan Yosuke Tetsukawa, yang dijuluki "bapak arsitektur gereja". Atas keinginan Pastor Halbout, gereja dibangun di bekas kediaman kepala desa tempat injak-injak gambar suci (efumi) pernah dilakukan pada masa larangan agama, dan konon altarnya didirikan tepat di lokasi efumi tersebut. Inilah bangunan yang merekam pembalikan iman, mengubah memori penindasan menjadi tempat berdoa.
A. Untuk masuk ke dalam gereja diperlukan reservasi terlebih dahulu, yang bisa diajukan lewat halaman reservasi atau telepon. Disarankan juga menghubungi Pusat Panduan Desa Sakitsu (telepon 0969-78-6000). Karena pada waktu misa atau acara keagamaan seperti pagi hari Minggu kunjungan dibatasi, periksa tanggal dan jam yang tidak bisa dikunjungi saat memesan agar tidak datang sia-sia.
A. Jam kunjungan umumnya pukul 9.00–17.00, dan kunjungan untuk melihat gereja pada dasarnya tidak dikenakan biaya. Namun di interior berlantai tatami, penting untuk tenang dan lebih menghayati suasana doa daripada sekadar memotret. Pada pagi hari yang cerah, cahaya menembus jendela kaca patri dan menyinari ruangan dengan lembut.
A. Dengan mobil, sekitar 2 jam 10 menit dari IC Matsubase Jalan Tol Kyushu, dan sekitar 45 menit dari Bandara Amakusa. Jika naik bus Sanko, dari Hondo Bus Center transit di Ichomachi Chuo lalu turun di "Kyokai Iriguchi" dan berjalan sekitar 1 menit. Karena jadwal bus sangat sedikit, sebaiknya pastikan dulu jam bus pulang atau gunakan mobil sewaan agar rencana tidak berantakan di perjalanan panjang Amakusa.
A. Untuk mobil, gunakan tempat parkir Pusat Panduan Desa Sakitsu (Sakitsu 1117-10, Kawaura-machi, Kota Amakusa), lalu berjalan kaki ke gereja. Di dalam desa, jalan-jalan kecil dan gang sempit saling berpotongan dan juga merupakan tempat tinggal warga, sehingga dirancang agar kendaraan tidak masuk. Melihat dulu pameran tentang Kristen tersembunyi di Pusat Panduan sebelum berjalan akan mengubah cara Anda memandang desa ini.
A. Jika hanya gereja, sekitar 30 menit; jika seluruh Desa Sakitsu, bisa dijelajahi dengan saksama dalam 2–3 jam berjalan kaki. Tempat-tempat menarik berkumpul di sepanjang jalan utama sekitar 1 km dari utara ke selatan. Naik tangga ke "Taman Pemandangan Lonceng Kapel" di belakang Kuil Sakitsu Suwa, Anda bisa memandang "Gereja di Laut" yang seolah mengapung di Teluk Kawaura. Pemandangan religi unik tempat gereja dan kuil hidup berdampingan juga tak boleh dilewatkan.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.