Seperti Apa Pemakaman di Jepang?
Pemakaman di Jepang (osōshiki) adalah upacara khidmat untuk melepas kepergian almarhum dan menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
Saat orang terdekat meninggal dunia, umumnya orang akan menghadiri tsuya (upacara melayat malam hari) dan kokubetsu-shiki (upacara perpisahan), memberikan kōden (uang duka), serta menandatangani buku tamu (hōmeichō).
Materi pendidikan bahasa Jepang dari Bunkachō (Badan Urusan Kebudayaan Jepang) juga menyusun pengetahuan tentang kōden, pakaian, dan tata krama percakapan sebagai poin penting agar tidak panik saat ada pemakaman mendadak.
Bagi wisatawan atau penduduk asing yang baru pertama kali menghadirinya, banyak hal mungkin terasa membingungkan. Namun, dengan memahami alur dasar dan tata kramanya, Anda dapat menghadapinya dengan tenang.

Memahami Alur Tsuya dan Kokubetsu-shiki
Tsuya umumnya diselenggarakan pada malam sebelum kokubetsu-shiki.
Dahulu tsuya merupakan upacara untuk menemani almarhum sepanjang malam, tetapi kini lebih umum dilakukan "han-tsuya" yang dimulai sekitar pukul 18.00 dan berlangsung 1–2 jam.
Di lokasi, prosesnya dimulai dengan mendaftar di meja penerima tamu, menyampaikan belasungkawa secara singkat kepada keluarga, lalu dilanjutkan dengan shōkō (membakar dupa) atau kenka (mempersembahkan bunga). Memahami alur ini sebelumnya akan membantu Anda lebih tenang.
Kokubetsu-shiki umumnya berlangsung pada siang hari di hari berikutnya, dengan rangkaian pembacaan sutra, pidato penghormatan, shōkō, dan pemberangkatan jenazah (shukkan).
Cara Bersikap Saat Bingung dengan Tata Krama Pemakaman
Cara pelaksanaan upacara pemakaman bisa berbeda tergantung agama, sekte, dan daerah.
Daripada hanya menghafal satu prosedur detail, lebih aman jika diam-diam mengikuti panduan dari pengelola acara atau gerakan peserta sebelumnya.
Petugas penerima tamu atau staf perusahaan jasa pemakaman juga sering memandu alurnya, jadi tidak masalah bertanya pelan-pelan jika Anda tidak mengerti.

Tata Krama Dasar Pakaian dan Barang Bawaan ke Pemakaman
Panduan hidup untuk warga asing dari Prefektur Saitama menjelaskan bahwa pria umumnya memakai jas hitam dengan kemeja putih dan dasi hitam, sedangkan wanita memakai pakaian hitam.
Aksesori sebaiknya dijaga sederhana, dan menghindari warna mencolok atau desain yang mencuri perhatian akan menciptakan kesan yang sesuai dengan suasana.
Untuk wanita, cincin pernikahan dan kalung atau anting-anting mutiara masih dapat dikenakan, tetapi aksesori lainnya sebaiknya dilepas.
Sepatu dan tas juga sebaiknya berwarna hitam, hindari bahan mengilap atau ornamen logam yang menonjol.
Tata Krama Membungkus dan Memberikan Kōden
Saat hadir di tsuya atau kokubetsu-shiki, kōden dimasukkan ke dalam amplop khusus duka (bushūgi-bukuro), dan dianjurkan untuk tidak menggunakan uang baru (shinsatsu).
Penghindaran uang baru dimaksudkan agar tidak memberi kesan "sudah mempersiapkannya sebelumnya". Jika hanya ada uang baru, lipat sedikit terlebih dahulu sebelum dimasukkan.
Jumlah kōden bervariasi tergantung kedekatan hubungan dan daerah. Untuk teman, kenalan, atau rekan kerja, kisaran 5.000 yen hingga 10.000 yen dapat menjadi acuan.
Di lokasi yang memiliki meja penerima tamu, keluarkan amplop kōden dari fukusa (kain pembungkus), serahkan, lalu tanda tangani buku tamu sesuai alurnya.
Apakah Juzu Diperlukan? Pertimbangan Berdasarkan Agama
Materi Bunkachō menyebut bushūgi-bukuro dan juzu (manik-manik doa Buddha) sebagai barang persiapan untuk pemakaman.
Namun, karena bentuk peribadatan berbeda antara Buddha, Shintō, Kristen, dan non-religius, juzu tidak harus dianggap sebagai keperluan mutlak bagi semua orang. Sesuaikan dengan agama upacaranya.
Untuk pemakaman Buddha, umumnya membawa juzu. Tetapi pada pemakaman Shintō atau Kristen, juzu biasanya tidak digunakan.
Jika Anda tidak tahu agama dari upacara tersebut sebelumnya, tidak perlu memaksakan menyiapkannya. Mengikuti panduan di lokasi saja sudah cukup.

Cara Memahami Shōkō, Kenka, dan Tamagushi-hōten Tanpa Bingung
Pada pemakaman di Jepang, cara berdoa berbeda menurut agama: Buddha menggunakan shōkō (pembakaran dupa), Shintō menggunakan tamagushi-hōten (mempersembahkan ranting suci), dan Kristen menggunakan kenka (mempersembahkan bunga).
Shōkō adalah tata cara menaburkan makkō (serbuk dupa) ke kōro (tempat dupa). Cara yang sering diperkenalkan adalah mengangkatnya hingga setinggi dahi sebelum memasukkannya, tetapi ada aliran yang tidak melakukan gerakan tersebut, dan jumlah pengulangannya pun berbeda-beda.
Tamagushi-hōten adalah tata cara Shintō yang mempersembahkan tamagushi (ranting sakaki dengan kertas shide) ke altar, dengan pola dasar nirei nihakushu ichirei (dua kali membungkuk, dua kali tepuk tangan, satu kali membungkuk). Namun, dalam pemakaman, tepukan dilakukan tanpa suara (shinobi-te).
Kenka dilakukan pada pemakaman Kristen dan sejenisnya, dengan menyusun bunga seperti krisan atau anyelir di altar dengan tangkainya menghadap ke altar.
Sikap dan Tindakan yang Perlu Diperhatikan di Lokasi
Yang penting bukanlah memperlihatkan tata krama secara sempurna, tetapi tidak mengganggu alur acara.
Cukup berperilaku tenang sesuai dengan jalannya acara, dan meski tidak yakin dengan detail prosedur, Anda akan tetap diterima sebagai peserta yang menghormati upacara.
Sebelum memasuki ruangan, pastikan ponsel disetel ke mode silent atau dimatikan. Pengambilan foto atau video sebaiknya dihindari kecuali dengan izin keluarga almarhum.
Sampaikan Ucapan Belasungkawa dengan Singkat dan Tenang
Materi Bunkachō menekankan pentingnya mengetahui frasa baku belasungkawa dan cara berbicara sesuai situasi.
Frasa yang umum digunakan adalah "Kono tabi wa goshūshō-sama desu" dan "Kokoro yori okuyami mōshiagemasu". Sampaikan dengan suara yang pelan dan tenang.
Hindari kasane kotoba (kata berulang) seperti "kasanegasane" atau "tabitabi", dan imi kotoba (kata pantangan) seperti "shinu" (mati), "shi" (empat), atau "ku" (sembilan), karena dianggap mengisyaratkan kesialan yang berulang.
Pada pemakaman, sampaikan perasaan secara singkat tanpa berbicara terlalu lama, agar tidak menambah beban keluarga almarhum.
Jangan Memaksakan Memperluas Percakapan
Meskipun bertemu kerabat atau kenalan setelah lama tidak berjumpa, jangan jadikan momen tersebut sebagai ajang sosialisasi agar terlihat tetap khidmat.
Pada momen duka, sikap penuh perhatian lebih tersampaikan daripada banyaknya kata-kata.
Berbagi kabar terbaru atau obrolan ringan sebaiknya dilakukan kemudian melalui kontak terpisah. Di lokasi, fokuskan perhatian pada almarhum dan keluarga yang ditinggalkan.

Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Peserta dari Luar Negeri
Pemakaman Jepang merupakan kombinasi ritual keagamaan dan kebiasaan sosial, sehingga ada momen yang berbeda dari kebiasaan luar negeri.
Misalnya, di lokasi sebaiknya hindari sapaan keras, pelukan, atau jabat tangan; cukup sampaikan perasaan dengan mokurei (anggukan diam) atau bungkukan ringan.
Memotret atau mengunggah ke media sosial di tempat duka dianggap pelanggaran tata krama yang serius, jadi sebaiknya dihindari.
Tulisan di amplop kōden berbeda menurut agama: pada banyak aliran Buddha umumnya "Goreizen" atau "Gokōden", pada Shintō "Otamagushi-ryō", dan pada Kristen "Ohanaryō".
Kesimpulan: Agar Tidak Bingung dengan Tata Krama Pemakaman Jepang
Jika Anda akan menghadiri pemakaman Jepang untuk pertama kalinya, siapkan terlebih dahulu pakaian sederhana berbasis warna hitam, serta pahami penanganan kōden dan alur penerima tamu.
Selanjutnya, pahami bahwa shōkō, kenka, dan tamagushi-hōten berbeda menurut agama. Dengan menyampaikan belasungkawa singkat dan bersikap tenang, Anda tidak akan terlalu bingung di lokasi.
Lebih dari sekadar menghafal tata krama secara sempurna, sikap menunjukkan rasa hormat kepada almarhum dan keluarga adalah hal yang paling utama.
Pemakaman di Jepang dapat dipahami sebagai tempat untuk mewujudkan perasaan tersebut secara tenang. Jika Anda menyadarinya, perhatian yang diperlukan akan terlihat dengan lebih jelas.
