Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Miyako: Kuil Bersejarah yang Wajib Dikunjungi di Miyakojima

Kuil Miyako: Kuil Bersejarah yang Wajib Dikunjungi di Miyakojima
Panduan Kuil Miyako di Miyakojima: sejarah Ryukyu, dewa yang dipuja, alur ziarah, etika kuil, dan tips memadukannya dengan wisata pulau.

Ringkasan Cepat

Sekilas Daya Tarik

Kuil Miyako adalah kuil bersejarah yang bersemayam di Hirara, Kota Miyakojima. Diyakini didirikan pada tahun 1590, kuil ini tergolong sebagai tempat ziarah yang tenang di wilayah paling selatan Jepang dan mudah disinggahi di tengah perjalanan.

Dewa yang Dipuja dan Keyakinan

Dewa utama Kuil Miyako adalah Tiga Dewa Kumano dan Tiga Dewa Tomiya. Dicintai sebagai dewa keselamatan pelayaran dan pelindung daerah; khas Miyakojima yang dikelilingi laut, cocok untuk berdoa memohon keselamatan di laut dan kelancaran perjalanan.

Cara Menuju ke Sana

Dekat dengan pusat kota Hirara, Kota Miyakojima. Sekitar 10 menit berkendara dari Bandara Miyako; dari Pelabuhan Hirara atau area penginapan di pusat kota mudah dicapai dengan berjalan kaki atau taksi singkat.

Perkiraan Waktu yang Dibutuhkan

Berjalan santai di area kuil sekitar 15–30 menit. Mudah dikombinasikan dengan jalan-jalan atau makan di pusat kota, dan pagi hari mudah untuk berziarah dengan tenang.

Doa · Acara

Doa untuk keselamatan keluarga, keselamatan lalu lintas, kelancaran usaha, persalinan lancar, tolak bala, dan lainnya dilakukan sewaktu-waktu. Pendaftaran 09.00–17.00, juga melayani pernikahan Shinto dan upacara peletakan tanah.

Perhatian saat Hari Hujan dan Musim

Ziarah tetap bisa dilakukan saat hujan, tetapi tangga batu dan pijakan licin, jadi sepatu yang nyaman lebih aman. Musim panas sinar matahari kuat, jadi menyiapkan topi dan minuman akan membuat nyaman.

Etika Berziarah

Karena ini tempat berdoa yang juga dikunjungi warga setempat, dasarnya dua kali membungkuk, dua kali bertepuk, satu kali membungkuk; hindari suara keras dan pemotretan tanpa izin. Melepas topi dan kacamata hitam di depan aula pemujaan lebih sopan.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Okinawa

Apa Itu Miyako Jinja? Menikmati Suasana Kuil dan Warisan Ryūkyū di Miyakojima

Miyako Jinja (kuil Shinto) adalah kuil yang terletak di Kota Miyakojima, Prefektur Okinawa.

Menurut situs resminya, kuil ini merupakan kuil yang berada di bawah naungan Jinja Honchō dan menjadi kuil paling selatan di Jepang, yang memuja Kumano Sanjin (tiga dewa Kumano) dan Tuyumya Sanjin (tiga dewa Tuyumya).

Tempat Ziarah yang Menghadirkan Ketenangan dalam Perjalanan Wisata Miyakojima

Ketika berbicara tentang Miyakojima, kesan yang kuat mungkin adalah laut, jembatan, dan pantai.

Namun di tengah itu semua, Miyako Jinja adalah tempat untuk menghabiskan waktu dengan tenang sambil menyentuh sejarah dan kepercayaan pulau ini.

Sekadar mampir di sela-sela wisata pun sudah cukup untuk sedikit menenangkan suasana perjalanan.

Berbeda dengan tempat wisata yang ramai, di area kuil ini lebih cocok memperlambat langkah dan meresapi suasana torii (gerbang kuil), bangunan kuil, serta jalan menuju kuil.

Bangunan Kuil Beratap Genteng Merah yang Berkesan Khas Okinawa

Yang menarik perhatian dari pemandangan Miyako Jinja adalah bangunan kuil beratap genteng merah yang terasa khas Okinawa.

Bahkan bagi wisatawan yang terbiasa melihat kuil di daratan utama Jepang (Honshū), pemandangan cahaya tropis yang berpadu dengan genteng merah akan mudah membekas di ingatan.

Namun perlu diingat, sebelum menjadi objek wisata, kuil adalah tempat berdoa.

Saat mengambil foto pun, jagalah jarak agar tidak mengganggu para peziarah maupun upacara keagamaan (shinji).

Pintu Masuk untuk Mengenal Budaya Miyakojima Lebih Dalam

Miyako Jinja bukan sekadar tempat untuk melihat kuil Jepang.

Jika dilihat sebagai tempat yang menyatukan perjalanan sejarah Miyakojima, sejarah Ryūkyū, dan kepercayaan kuil daratan utama, pemahaman Anda akan bertambah meski hanya singgah sebentar.

Menyisipkan kunjungan budaya seperti ini di sela-sela perjalanan menikmati pemandangan laut yang indah akan membuat kesan terhadap Miyakojima menjadi lebih utuh dan mendalam.

Mengenal Sejarah Miyako Jinja Membuat Ziarah Lebih Bermakna

Sejarah Miyako Jinja memuat kisah pulau yang menyeberangi lautan dan rasa syukur kepada dewa tanah kelahiran.

Dengan sedikit mengetahui latar belakangnya sebelum berziarah, cara Anda memandang area kuil pun akan berbeda.

Awal Mula yang Diyakini Berasal dari Pemujaan Dewa Naminoue-gū ke Miyako

Menurut sejarah resminya, seorang tokoh dari Miyakojima mengalami musibah dalam perjalanan pulang setelah menyerahkan upeti ke Shuri, dan setelah berhasil kembali dengan selamat ke tanah air, ia bersyukur kepada dewa tanah kelahirannya dengan memindahkan pemujaan dewa Naminoue-gū (kuil terkenal di Naha) ke Miyako.

Sejarah ini menghadirkan kesan keterkaitan antara pulau, laut, dan pemerintahan kerajaan.

Saat mengunjungi kuil di tempat wisata, sekadar mengetahui latar belakang seperti ini membuat waktu melewati torii bukan lagi sekadar wisata biasa.

Kuil yang Memuja Kumano Sanjin dan Tuyumya Sanjin

Miyako Jinja memuja Kumano Sanjin dan Tuyumya Sanjin, yaitu tiga dewa yang dahulu memerintah Miyakojima.

Kumano Sanjin terdiri dari Izanami-no-Ōkami, Hayatama-no-o-no-kami, dan Kotosaka-no-o-no-kami.

Tuyumya Sanjin terdiri dari Yonaha-Eigen-no-mikoto, Meguromori-Sadamasa-no-mikoto, dan Nakasone-Genga-no-mikoto.

Banyak nama dewa yang mungkin terdengar asing, tetapi Anda tidak perlu menghafal semuanya.

Akan lebih mudah dipahami jika Anda menganggapnya sebagai "kepercayaan kuil daratan utama" dan "sejarah kawasan Miyakojima" yang dipuja di satu tempat yang sama.

Merangkum latar belakang para dewa secara singkat akan memudahkan pemahaman saat berziarah.

Kategori Poin cara memahami
Kumano Sanjin Hubungan dengan Naminoue-gū
Tuyumya Sanjin Sejarah pemerintahan Miyakojima
Kanjō (pemindahan dewa) Menyambut kehadiran dewa
Sōchinju Kuil pelindung kawasan

Sejarah Pemulihan yang Juga Terukir di Sini

Sejarah Miyako Jinja mencakup pembangunan, kerusakan akibat perang, pemindahan pemujaan, dan pemulihan.

Menurut sejarah resminya, setelah perang para dewa yang dipuja sempat dipindahkan sementara ke Harimizu Utaki, dan setelahnya pemulihan terus dilakukan.

Saat menyusuri area kuil saat ini, jika Anda memandangnya bukan hanya dari keindahan bangunannya melainkan sebagai tempat yang terus dijaga oleh masyarakat setempat, Anda akan merasakan bobot ketenangan yang lebih dalam.

Alur Ziarah di Miyako Jinja yang Tidak Membingungkan meski Pertama Kali

Bahkan wisatawan yang belum terbiasa dengan kuil Jepang pun bisa berziarah dengan tenang asalkan mengetahui alur dasarnya.

Yang terpenting bukanlah tata cara yang sempurna, melainkan bersikap tenang dengan penuh rasa hormat.

Menenangkan Perasaan di Depan Torii

Torii dianggap sebagai batas untuk memasuki tempat suci dari ruang keseharian.

Membungkuk sedikit sebelum melewatinya akan membuat suasana hati Anda beralih secara alami ke suasana berziarah.

Di jalan menuju kuil, berjalanlah sambil memperhatikan arus para peziarah di sekitar Anda.

Penting untuk tidak berbicara dengan suara keras atau berhenti terlalu lama hingga menghalangi jalan orang lain.

Menyucikan Diri dengan Tenang Jika Tersedia Temizu

Jika temizuya (tempat menyucikan tangan) tersedia, sucikan tangan dan mulut Anda sebelum menuju bangunan sembahyang (haiden).

Jika tidak tahu cara menggunakannya, jangan memaksakan diri meniru tata cara yang rumit, dan bertindaklah agar tidak mengganggu peziarah lain.

Di tempat yang menggunakan air, penting juga untuk tidak memperlakukan gayung (hishaku) dan sekitarnya dengan kasar.

Saat bepergian, gerakan kita mudah terlihat berlebihan ketika belum memahami etikanya, jadi lakukanlah perlahan agar lebih tenang.

Berdoa Singkat dan Tenang di Depan Haiden

Di depan haiden, masukkan saisen (uang persembahan) jika ada kotak saisen, lalu berdoalah dengan tenang.

Dalam ziarah kuil pada umumnya, tata cara "dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, satu kali membungkuk" (ni-rei ni-hakushu ichi-rei) sudah dikenal luas, tetapi jika ada panduan setempat, utamakanlah panduan tersebut.

Isi doa boleh berupa rasa syukur atas keselamatan perjalanan, atau harapan sehari-hari.

Jangan menempati tempat terlalu lama dan bergeraklah agar orang berikutnya mudah berziarah, sehingga ziarah Anda terasa alami dan tertib.

Alur ziarah akan lebih mudah dipahami jika dibayangkan seperti berikut.

Situasi Yang dilakukan Yang perlu diperhatikan
Depan torii Membungkuk ringan Menenangkan perasaan
Jalan menuju kuil Berjalan tenang Tidak menghalangi jalan
Temizu Menyucikan tangan Tidak membasahi sekitar
Depan haiden Berdoa Singkat dan tenang
Saat pergi Menoleh dan membungkuk Meninggalkan rasa syukur

Nuansa Khas Ryūkyū dan Waktu Tenang yang Ingin Dilihat di Area Kuil

Di Miyako Jinja, Anda bisa merasakan ekspresi khas kuil Okinawa dari struktur bangunan kuil dan suasana area kuilnya.

Daripada mengejar spot menarik secara berlebihan, mengamati detailnya secara perlahan justru membuat Anda lebih dekat dengan pesona tempat ini.

Memperhatikan Atap dan Warna Bangunan Kuil

Atap genteng merah selaras dengan langit dan cahaya tropis.

Jika Anda melihat keseluruhan bangunan dari kejauhan, Anda akan merasakan kesan kuil yang berakar pada iklim dan alam Okinawa.

Saat didekati, Anda juga bisa menikmati lengkungan atap, warna bagian kayu, serta perpaduannya dengan hijaunya area kuil.

Jika mengambil foto, memilih komposisi yang tidak menyertakan peziarah akan lebih mudah mempertahankan suasana yang tenang.

Melihat Ekspresi Penjaga yang Mirip Komainu dan Shīsā

Dalam perjalanan wisata di Okinawa, Anda mungkin menjumpai shīsā (patung penjaga khas Okinawa) di sekitar rumah dan bangunan.

Di Miyako Jinja pun, dengan memperhatikan ekspresi sebagai simbol penjaga, Anda bisa merasakan keterkaitannya dengan budaya Okinawa.

Mengamatinya sambil membandingkan dengan komainu (patung anjing penjaga) yang biasa dilihat di kuil daratan utama, Anda akan memahami perbedaan ekspresi kepercayaan tiap daerah.

Menyadari perbedaan kecil inilah yang memperkaya ziarah sebagai sebuah pengalaman budaya.

Menjadikan Ketenangan Area Kuil sebagai Jeda dalam Perjalanan

Perjalanan wisata Miyakojima adalah perjalanan yang jadwalnya mudah padat oleh perpindahan tempat dan aktivitas.

Di Miyako Jinja, sebaiknya sengaja tidak memadatkan jadwal dan menyisihkan waktu untuk berdiam tenang meski hanya beberapa menit.

Suara angin, udara di depan torii, dan ketenangan di depan bangunan kuil.

Elemen-elemen seperti ini akan menjadi kenangan perjalanan yang sulit diabadikan hanya lewat foto.

Etika Ziarah di Miyako Jinja yang Perlu Diperhatikan Wisatawan

Etika kuil terlihat sulit, tetapi pada dasarnya hanya ada dua: "tidak mengganggu orang yang berdoa" dan "tidak merusak tempat yang suci".

Meski tidak memahami bahasa atau tata caranya, jika Anda memegang prinsip ini, Anda bisa berziarah dengan tenang.

Utamakan Kepedulian terhadap Sekitar saat Memotret

Untuk boleh tidaknya mengambil foto, mohon periksa papan pengumuman setempat atau panduan resmi.

Lebih aman untuk menahan diri di tempat yang bertanda larangan, saat upacara keagamaan sedang berlangsung, atau memotret ke arah bagian dalam bangunan kuil.

Saat ramai, usahakan tidak berhenti terlalu lama hanya untuk memotret.

Menghindari memotret orang yang sedang berziarah dari depan juga membuat mereka lebih tidak merasa terganggu.

Perhatikan Pakaian yang Sopan meski di Daerah Tropis

Miyakojima adalah daerah yang sering panas, tetapi di kuil sebaiknya hindari pakaian yang terlalu terbuka atau pakaian yang masih basah.

Jika mampir sebelum atau sesudah ke pantai, menyiapkan pakaian yang bisa dikenakan sebagai penutup akan lebih tenang.

Tidak perlu berpakaian formal.

Namun, sekadar memiliki kesadaran bahwa Anda memasuki tempat berdoa akan membuat perilaku dan sikap Anda tertata secara alami.

Menahan Diri dari Makan-Minum dan Bersuara Keras di Area Kuil

Di area kuil, tahanlah diri dari makan sambil berjalan dan berbicara dengan suara keras.

Jika masuk dengan suasana beristirahat seperti sedang berwisata, tanpa sadar Anda bisa membawa suasana bersemangat khas tempat resor.

Di kuil, sekadar menurunkan volume suara meski hanya percakapan singkat sudah mengubah kesan.

Saat berfoto dengan teman seperjalanan pun, sebaiknya menyesuaikan dengan ketenangan di sekitar.

Etika ziarah dapat dirangkum seperti berikut.

Situasi OK Sebaiknya dihindari
Sekitar torii Membungkuk ringan Mengobrol lama di jalan
Depan haiden Berdoa tenang Percakapan bersuara keras
Saat memotret Memeriksa pengumuman Memotret orang tanpa izin
Pakaian Menggunakan penutup Tetap dengan pakaian basah
Seluruh area kuil Berjalan perlahan Makan sambil berjalan

Cara Memadukan Doa Permohonan dan Acara dengan Perjalanan

Di Miyako Jinja, tidak hanya ziarah biasa, berbagai doa permohonan (kigan) dan acara tahunan juga diumumkan secara resmi.

Wisatawan tidak perlu memaksakan menyesuaikan jadwal, tetapi jika bertepatan dengan hari kunjungan, penting untuk bersikap menyaksikan dengan tenang.

Konfirmasi Awal Lebih Aman Jika Ingin Melakukan Kigan

Di situs resminya diinformasikan bahwa berbagai doa (kitō) seperti pernikahan di hadapan dewa, keselamatan keluarga, kelancaran usaha, kunjungan bayi pertama (hatsu-miyamairi), pengusiran kesialan (yakubarai), dan penyucian mobil (kuruma-barai) dilayani sewaktu-waktu.

Namun, pada waktu-waktu yang telah dipesan untuk upacara atau pernikahan, layanan tidak dapat diberikan, sehingga disarankan untuk menghubungi kantor kuil (shamusho) terlebih dahulu.

Jika berkunjung untuk berwisata, lebih aman untuk tidak menganggap Anda pasti bisa dilayani pada hari itu juga.

Terutama jika Anda datang dengan tujuan melakukan kigan, periksalah informasi resmi sebelum menetapkan rencana perjalanan.

Suasana Area Kuil Berubah pada Hari Acara Tahunan

Di situs resmi Miyako Jinja diinformasikan berbagai acara tahunan seperti tsukinami-sai bulanan, saitan-sai, nagoshi-no-ōharae, reitai-sai, shiwasu-no-ōharae, dan joya-sai.

Pada hari acara, suasananya bisa berbeda dari ziarah wisata biasa.

Jika Anda melihat upacara keagamaan, jangan mendekat terlalu jauh dan tahanlah diri dari memotret maupun berbicara.

Jika Anda berkesempatan menyaksikan kepercayaan setempat yang masih berlangsung hingga kini, menghormati gerak-gerik para peserta adalah sikap terbaik.

Hal yang Ingin Diperiksa di Situs Resmi

Sebelum berkunjung, memeriksa situs resmi Miyako Jinja akan membuat Anda lebih tenang.

Di situs resmi tersedia peta, kontak, acara tahunan, serta panduan penyucian dan doa permohonan.

Alamatnya, menurut situs resmi, adalah 5-1 Nishizato, Hirara, Kota Miyakojima, Prefektur Okinawa.

Waktu tempuh akses maupun biaya transportasi berbeda-beda tergantung titik keberangkatan dan moda transportasi yang digunakan, jadi periksalah informasi transportasi dan peta terbaru sebelum berangkat.

Kesimpulan | Merasakan Spiritualitas Miyakojima di Miyako Jinja

Miyako Jinja adalah kuil yang menambahkan sejarah dan ketenangan pada perjalanan wisata Miyakojima.

Jika berkunjung setelah mengetahui latar belakang pemujaan Kumano Sanjin dan Tuyumya Sanjin, Anda akan merasakan bangunan kuil beratap genteng merah dan suasana area kuil dengan lebih mendalam.

Pada ziarah pertama, Anda tidak perlu menghafal tata cara yang sulit secara sempurna.

Jika Anda membungkuk di torii, berjalan dengan tenang, dan menyadari untuk tidak mengganggu doa orang di sekitar, ziarah Anda akan menjadi penuh hormat secara alami.

Di sela-sela perjalanan menikmati laut dan alam Miyakojima, cobalah mampir ke Miyako Jinja.

Dengan melihatnya bukan sekadar sebagai pemandangan, melainkan sebagai tempat berdoa yang selama ini dijaga oleh masyarakat pulau, Anda akan membawa pulang jeda yang tenang dalam kenangan perjalanan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Miyako Shrine adalah kuil yang berdiri di Hirara, Kota Miyakojima, Prefektur Okinawa, dan dianggap sebagai kuil paling selatan di Jepang di bawah naungan Jinja Honcho. Memuja tiga dewa Kumano dan tiga dewa Tuimya, kuil ini akrab bagi warga pulau sebagai dewa keselamatan pelayaran dan pelindung wilayah. Ciri utamanya adalah tempat ini bukan fasilitas wisata yang meriah, melainkan tempat doa yang tenang tempat kepercayaan warga setempat berdenyut.
A. Miyako Shrine adalah kuil dengan sejarah lebih dari 400 tahun yang diwariskan didirikan pada tahun 1590 (Tensho 18). Awalnya bermula saat Hirara Ozato Ufuya, yang terombang-ambing dalam perjalanan pulang dari mempersembahkan upeti ke Shuri, selamat kembali ke pulau berkat doanya kepada dewa, lalu sebagai ungkapan syukur ia mengundang tiga dewa Kumano dari Naminoue-gu. Tiga dewa Tuimya adalah kepala suku yang dahulu memerintah pulau, yang dipuja sebagai dewa.
A. Yang membuatnya populer sebagai tempat spiritual Miyakojima adalah karena memuja tiga dewa Kumano dan tiga dewa Tuimya. Dikenal dengan berkah peningkatan rezeki dan kelancaran usaha, "shisa penjaga" khas Okinawa yang menjaga bangunan pemujaan juga menjadi daya tarik. Bersama atap genteng merah terang, Anda dapat merasakan langsung nuansa khas Ryukyu, dan menikmati pemandangan yang sedikit berbeda dari kuil daratan.
A. Dari Bandara Miyako kira-kira sekitar 10 hingga 15 menit berkendara, terletak dekat kawasan kota Hirara. Karena kuil berdiri di dataran tinggi di atas tanjakan, kunjungan dengan mobil sewaan praktis dan tempat parkir gratis pun bisa digunakan. Bila dimasukkan ke dalam alur singgah sebelum atau sesudah berkendara ke arah Pulau Ikema atau Jembatan Irabu, rute perjalanan menjadi lebih efisien dan mudah diatur.
A. Goshuin (tulisan tinta kenangan ziarah) Miyako Shrine bisa diterima di kantor kuil, dengan jam penerimaan kira-kira pukul 9.00 hingga 17.00. Hatsuho-ryo (persembahan yang diserahkan ke kuil) sekitar 500 yen, dan buku goshuin khas Miyakojima bergambar shisa penjaga juga diberikan. Karena saat upacara atau pernikahan di hadapan dewa kadang tidak bisa dilayani, mengunjungi dengan waktu yang cukup longgar akan lebih pasti.
A. Meski berjalan santai mengelilingi area kuil kira-kira sekitar 15 hingga 30 menit, ini bukan fasilitas wisata untuk berlama-lama. Dari bangunan pemujaan di dataran tinggi, Anda bisa memandang Pelabuhan Hirara, laut biru Miyako, dan bila kondisi baik hingga Jembatan Irabu, jadi menambahkan beberapa menit untuk menikmati pemandangan setelah ziarah akan meningkatkan kepuasan. Lokasinya mudah dikombinasikan dengan jalan-jalan di kota maupun makan.
A. Waktu pagi hari tenang dan menjadi saat yang mudah untuk berdoa dengan khusyuk. Karena sinar matahari musim panas di Miyakojima sangat kuat dan area kuil di dataran tinggi sedikit tempat teduh, bila berkunjung di siang hari menyiapkan topi dan minuman akan lebih aman. Pada hari hujan, tangga batu dan pijakan di area kuil menjadi licin, jadi pilihlah sepatu yang nyaman untuk berjalan.
A. Selain keselamatan keluarga dan keselamatan lalu lintas, tersedia jimat khas tropis seperti jimat jodoh (ofuda yang dikenakan) berbentuk cangkang kerang. Stiker keselamatan lalu lintas yang ditempel di mobil menjadi pilihan yang sudah melekat bahkan di kalangan pengemudi setempat. Jimat adalah sesuatu yang diterima dengan sepenuh doa, dan jika sudah tidak diperlukan, dalam beberapa kondisi dapat dikembalikan di kuil lain.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.