Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Pulau Suo-Oshima Yamaguchi | Laut Setouchi & Hawaii

Pulau Suo-Oshima Yamaguchi | Laut Setouchi & Hawaii
Panduan Pulau Suo-Oshima di timur Yamaguchi: panorama Laut Setouchi, sejarah imigran Hawaii, kuliner pulau, pantai, akuarium, dan etika.

Ringkasan Cepat

Daya Tarik Singkat

Suo-Oshima adalah pulau di Prefektur Yamaguchi yang dijuluki "Hawaii-nya Laut Pedalaman Seto". Pulau ini cocok untuk perjalanan santai sambil menikmati pemandangan laut bertabur pulau, sejarah imigran Hawaii, dan budaya jeruk.

Sorotan

Barisan pohon palem dan pantai berpasir putih Katazoegahama, pemandangan laut berpulau-pulau Setouchi Alps (Gunung Dake dan lainnya), kolam sentuh dalam ruangan Akuarium Nagisa, dan rest area Michi-no-Eki Southern Seto Towa.

Akses

Suo-Oshima terhubung dengan sisi Kota Yanai di daratan utama melalui Jembatan Oshima Ohashi, sehingga bisa langsung masuk ke pulau dengan mobil. Untuk JR, gerbangnya adalah Stasiun Obatake di Jalur Sanyo; di dalam pulau berpindah dengan bus rute atau mobil.

Menyentuh Sejarah di Fasilitas Budaya

Anda dapat mengelilingi Museum Imigran Jepang-Hawaii (dibuka 1999), Museum Peringatan Miyamoto Tsuneichi, Museum Peringatan Hoshino Tetsuro, dan Museum Peringatan Mutsu yang memamerkan peninggalan kapal perang Mutsu.

Perkiraan Biaya

Tiket masuk Akuarium Nagisa adalah ¥210 untuk dewasa dan ¥100 untuk pelajar SD–SMP. Buka pukul 09.00–16.30 (masuk hingga pukul 16.00).

Kuliner Lokal dan Oleh-Oleh

Anda dapat menikmati produk olahan jeruk khas pulau jeruk, ikan teri kering (iriko) dan rumput laut hijiki, hot pot jeruk (mikan nabe) yang terutama dinikmati pada Oktober–Maret, serta sajian ikan layur (tachiuo) dalam gaya penyajian kagamimori.

Cara Menghabiskan Waktu di Pulau

Daripada hanya berpindah dari satu titik wisata ke titik lain, nikmati tepi laut, rest area, museum, dan akuarium sebagai satu rangkaian santai. Sisakan waktu untuk berhenti memandang laut; perhatikan pula dusun-dusun dan lingkungan alamnya.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Yamaguchi

Suō-Ōshima Itu Pulau Seperti Apa? Menikmati Laut dan Budaya dengan Santai

Suō-Ōshima adalah kawasan gugusan pulau yang terletak di Laut Pedalaman Seto (Seto Inland Sea) di bagian timur Prefektur Yamaguchi, dengan pulau utama Yashiro-jima sebagai pusatnya, terdiri dari 5 pulau berpenghuni dan 25 pulau tak berpenghuni.

Kawasan ini terhubung dengan daratan utama melalui Jembatan Ōshima Ōhashi, dan setelah menyeberangi jembatan, Anda akan disuguhi pemandangan laut, perkampungan, kebun jeruk (kankitsu), serta suasana pelabuhan yang tenang.

Jembatan Ōshima Ōhashi menghubungkan pulau ini dengan sisi Kota Yanai (Yanai-shi) di daratan utama, sehingga jika membawa mobil, Anda bisa langsung masuk ke dalam pulau setelah menyeberangi jembatan.

Pulau ini merupakan pulau terbesar ketiga di Laut Pedalaman Seto setelah Awaji-shima dan Shōdoshima, dengan populasi sekitar 13.000 jiwa, sehingga nuansa kehidupan sehari-hari masih terasa kental.

Bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang, tempat ini lebih cocok untuk perjalanan yang menikmati suasana pulau daripada perjalanan yang terburu-buru mengunjungi tempat wisata terkenal.

Kenapa Disebut "Hawaii di Seto"

Suō-Ōshima dikenal dengan sebutan "Hawaii di Seto" karena sejarah imigrasi ke Hawaii dan hubungan persaudaraannya dengan Pulau Kauai.

Pada masa imigrasi resmi pemerintah di zaman Meiji, tercatat 3.913 orang dari Suō-Ōshima menyeberang ke Hawaii, dan pada tahun 1963 pulau ini menjalin ikatan pulau kembar (sister island) dengan Pulau Kauai di Negara Bagian Hawaii.

Di pulau ini, Anda bisa menjumpai acara dan suasana bernuansa Aloha, menikmati pemandangan unik di mana budaya daerah Jepang berpadu dengan budaya Hawaii.

Namun, daripada hanya mengharapkan suasana resor, kesan perjalanan Anda akan terasa lebih dalam bila memperhatikan sejarah imigrasi dan kehidupan di pulau ini.

Alasan Cocok untuk Wisata Pulau Sambil Menikmati Pemandangan Laut

Pemandangan laut bertabur gugusan pulau yang khas Laut Pedalaman Seto merupakan daya tarik besar dari Suō-Ōshima.

Di sekitar jembatan, sepanjang pantai, pelabuhan, hingga tepi laut, banyak momen di mana Anda bisa merasakan laut bahkan saat dalam perjalanan, sehingga cocok untuk meluangkan waktu sejenak berhenti dan menikmati pemandangan, bukan sekadar mengambil foto.

Karena warna laut dan siluet pulau berubah tergantung cuaca, sebaiknya jangan menjejalkan terlalu banyak jadwal agar Anda bisa menikmati ruang lapang khas pulau ini.

Bagi Pemula, Nikmati Secara Menyeluruh daripada per Titik Destinasi

Di Suō-Ōshima, daripada hanya menuju satu bangunan saja, kepuasan Anda akan meningkat bila memadukan tepi pantai, museum, rest area pinggir jalan (michi-no-eki), dan perkampungan.

Di dalam pulau tersebar museum peringatan, akuarium, tempat pemandangan alam yang indah, serta lokasi untuk berbelanja.

Karena pulau utama saja membentang panjang dari timur ke barat, baik saat menggunakan transportasi umum maupun berkeliling dengan mobil, perjalanan akan lebih nyaman bila Anda menentukan arah yang ingin dituju terlebih dahulu.

Cara Menyusun Wisata Suō-Ōshima dan Memilih Tempat Persinggahan

Untuk wisata Suō-Ōshima, pulau ini lebih mudah dijelajahi bila Anda menentukan tujuan dan memilih tempat singgah, daripada berkeliling seluruh kawasan yang luas sekaligus.

Dengan menentukan lebih dulu apakah Anda ingin menikmati pemandangan laut, mengenal budaya, atau menikmati belanja dan kuliner, kebingungan selama perjalanan akan berkurang.

Memilih Tujuan Berdasarkan Gaya Perjalanan

Bagi wisatawan asing, memadukan tujuan berdasarkan tema juga cocok untuk mengurangi kekhawatiran soal bahasa dan transportasi.

Dengan memisahkan hari untuk bersantai di tepi pantai dan hari untuk menikmati museum serta belanja, Anda akan lebih mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan cuaca.

Tabel berikut merangkum cara menghabiskan waktu yang perlu diperhatikan berdasarkan tujuan perjalanan.

Tujuan Perjalanan Cara Menghabiskan Waktu yang Cocok Hal yang Perlu Diperhatikan
Kunjungan Pertama Laut dan rest area Berkeliling tanpa memaksakan diri
Mengutamakan Pemandangan Tepi pantai dan panorama Cek cuaca
Mengutamakan Budaya Berkeliling museum Cek hari libur museum
Wisata Keluarga Akuarium dan tepi pantai Siapkan baju ganti
Saat Hujan Fasilitas dalam ruangan Jadwal yang fleksibel

Menjadikan Michi-no-Eki Southern Seto Towa sebagai Basis Perjalanan

Michi-no-Eki Southern Seto Towa (rest area di tepi jalan) adalah pusat wisata yang dilengkapi dengan pasar hasil bumi, restoran masakan khas daerah, pusat ikan, hingga sudut informasi.

Tempat ini berada di kawasan Nishikata, Kota Suō-Ōshima, jika Anda menuju ke timur dari Jembatan Ōshima Ōhashi melalui Jalan Nasional Rute 437, dengan jarak sekitar 25 menit berkendara dari jembatan.

Fasilitas ini pada dasarnya buka dari pukul 10.00 hingga 18.00, dan karena Anda bisa mengecek brosur serta panduan tempat tujuan berikutnya sambil melihat produk khas pulau, tempat ini mudah digunakan bahkan bagi wisatawan yang baru pertama kali berkunjung.

Di dekatnya juga terdapat Shingu-jima, sebuah pulau kecil yang terhubung dengan jalan setapak berpasir saat air laut surut, namun pastikan Anda mengecek kondisi pasang surut dan keamanan pijakan di lokasi sebelum bertindak.

Cek Jadwal dan Panduan Transportasi Sebelum Bepergian

Menuju Suō-Ōshima tersedia beberapa moda transportasi, seperti kereta api, bus reguler, mobil, dan feri.

Jika naik JR, Stasiun Ōbatake (Ōbatake Station) di jalur Sanyō Main Line berfungsi sebagai pintu gerbang pulau, dan dari sana Anda berpindah ke dalam pulau dengan bus reguler atau mobil.

Karena transportasi umum di dalam pulau perlu dicek jumlah keberangkatan dan tujuannya terlebih dahulu, Anda akan lebih tenang bila berangkat setelah mengecek jadwal hari itu.

Meski berkeliling dengan mobil, kurangi kecepatan di jalan sepanjang pantai maupun perkampungan, dan sadarilah bahwa Anda sedang melintasi jalan yang menjadi bagian kehidupan warga setempat.

Cara Menikmati Suō-Ōshima dengan Tepi Laut dan Alamnya

Daya tarik alam Suō-Ōshima terletak pada menikmati warna laut, angin, siluet pulau, dan ketenangan pelabuhan, bukan pada pertunjukan yang mencolok.

Jika Anda tidak sekadar mengambil foto, tetapi menyisipkan waktu untuk berjalan sedikit, duduk, dan mendengarkan suara, kenangan khas wisata pulau Seto akan membekas.

Sudut Pandang saat Menghabiskan Waktu di Pantai Katazoegahama

Pantai Katazoegahama (Katazoegahama Beach) memiliki pemandangan seperti resor tropis dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon palem, menjadikannya salah satu tempat yang mudah untuk merasakan suasana tepi laut Suō-Ōshima.

Pantai ini juga terpilih sebagai salah satu dari 100 Pantai Terbaik oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang, dan musim berenangnya kira-kira berlangsung dari akhir Juni hingga akhir Agustus.

Karena aturan berenang dan penggunaan pantai bisa berubah tergantung musim dan panduan setempat, kunjungilah setelah mengecek status pembukaan dan hal-hal yang perlu diperhatikan.

Di tepi laut, karena sampah yang tertinggal di pasir atau bebatuan memengaruhi pemandangan dan makhluk hidup, sikap membawa pulang kembali barang yang Anda bawa sangatlah penting.

Untuk Seto Inland Alps dan Aktivitas Luar Ruang, Utamakan Persiapan

Di Suō-Ōshima, selain aktivitas laut, juga diperkenalkan cara menikmati seperti bersepeda (cycling) dan trekking.

Kawasan yang mencakup pegunungan seperti Gunung Dakesan (Dakesan/ketinggian 618,5 m) disebut Seto Inland Alps, dan dari menara pandang terbentang pemandangan laut bertabur gugusan pulau.

Jika menghabiskan waktu di alam, penting untuk mengecek cuaca, pakaian, air minum, dan kondisi pijakan, serta tidak memaksakan rute perjalanan.

Di gunung maupun laut, karena Anda berada di tengah lingkungan alam meski di tempat wisata, jangan memasuki area terlarang dan ikutilah petunjuk yang ada di lokasi.

Menyentuh Sejarah Imigrasi Hawaii dan Budaya Pulau

Dalam perjalanan ke Suō-Ōshima, selain pemandangan laut, penting juga untuk mengenal sejarah bagaimana penduduk pulau ini terhubung dengan luar negeri.

Dengan memadukan fasilitas budaya di dalam pulau seperti imigrasi Hawaii, folklor, lagu, hingga museum peringatan yang mendoakan perdamaian, kisah di balik pemandangan pun akan terlihat.

Mengenal Kenangan Imigrasi di Museum Imigrasi Jepang-Hawaii

Museum Imigrasi Jepang-Hawaii (Nihon Hawai Imin Shiryōkan) dibuka pada tahun 1999 sebagai fasilitas untuk mewariskan sejarah imigrasi dari Suō-Ōshima ke Hawaii kepada generasi mendatang.

Museum ini memanfaatkan bekas kediaman bergaya perpaduan Jepang-Barat yang dibangun oleh imigran yang kembali dari Hawaii, sehingga jejak imigrasi pun terasa dari bangunannya sendiri.

Saat melihat pameran, akan lebih mudah dipahami bila Anda memperhatikan keterkaitan dengan keluarga, pekerjaan, bahasa, dan kampung halaman, bukan sekadar kisah orang-orang yang menyeberang ke luar negeri.

Bagi wisatawan asing pun, tempat ini merupakan spot yang mudah membekas sebagai lokasi di mana daerah Jepang dan sejarah imigrasi luar negeri saling terhubung.

Melihat Kehidupan Pulau di Museum Miyamoto Tsuneichi

Museum Miyamoto Tsuneichi (di dalam Suō-Ōshima Cultural Exchange Center) adalah fasilitas untuk mengenal jejak Miyamoto Tsuneichi, seorang ahli folklor yang dijuluki "Raksasa yang Mengembara".

Miyamoto Tsuneichi lahir di Suō-Ōshima dan dikenal karena menyusuri seluruh Jepang untuk mencatat kehidupan rakyat biasa, dan di dalam museum tersimpan karya tulis serta foto-foto yang ia ambil.

Meski istilah folklor terasa sulit, tempat ini akan terasa lebih akrab bila Anda menganggapnya sebagai tempat untuk melihat perkakas kehidupan, catatan daerah, dan kreativitas masyarakat.

Cocok bagi wisatawan yang ingin mengenal sudut pandang orang yang tinggal di suatu daerah, bukan sekadar tempat wisata terkenal.

Merasakan Budaya Jepang yang Terekam dalam Lagu di Museum Hoshino Tetsurō

Museum Hoshino Tetsurō adalah museum peringatan bagi Hoshino Tetsurō, penulis lirik lagu era Shōwa yang dikenal lewat "Kyōdai-bune" dan "Sanbyaku Rokujūgo Ho no Māchi".

Hoshino Tetsurō juga berasal dari Suō-Ōshima, dan bagian dalam museum dirancang agar Anda bisa merasakan dunia karyanya melalui tayangan video dan pameran.

Meski Anda tidak sepenuhnya memahami lirik berbahasa Jepang, Anda tetap bisa merasakan suasana dan nuansa zaman yang terkandung dalam lagu-lagunya.

Bagi wisatawan yang menyukai musik, tempat ini bisa dinikmati dari sudut pandang perpaduan antara alam pulau dan budaya lagu Jepang.

Menyentuh Doa untuk Perdamaian di Museum Mutsu

Museum Mutsu (Mutsu Kinenkan) diperkenalkan sebagai fasilitas yang memamerkan peninggalan dan dokumen kapal perang "Mutsu" yang tenggelam di lepas pantai pulau, sebagai tempat untuk mendoakan arwah para korban yang gugur dan perdamaian abadi.

Kapal perang Mutsu meledak dan tenggelam pada tahun 1943 di Selat Hashirajima (lepas pantai Ihota, Suō-Ōshima), dan bagian haluan serta baling-baling yang diangkat dari dasar laut dipamerkan di luar dan di dalam museum.

Penting untuk melihat pameran dengan tenang dan menghormati suasana sebagai fasilitas peringatan.

Perhatikan volume suara saat berfoto maupun berbicara, dan sadarilah bahwa Anda sedang mengunjungi fasilitas peringatan untuk mengenang para korban.

Cara menikmati fasilitas budaya dapat dirangkum sebagai berikut.

Tema Sudut Pandang Cocok untuk
Sejarah imigrasi Keluarga yang menyeberangi laut Penyuka sejarah
Folklor Kreativitas dalam kehidupan Penyuka daerah
Lagu Kata dan suasana Penyuka musik
Perdamaian Kenangan yang hening Yang ingin belajar

Menikmati Ciri Khas Pulau lewat Kuliner dan Belanja

Kuliner Suō-Ōshima akan lebih mudah dinikmati bila Anda menjadikan hasil laut dari Laut Pedalaman Seto dan budaya jeruk (kankitsu) sebagai porosnya.

Rasa puas Anda akan meningkat bila menganggap makan dan belanja sebagai waktu untuk menyentuh kehidupan pulau, bukan sekadar istirahat di sela-sela wisata.

Memilih Jeruk dan Hasil Laut sebagai Oleh-oleh

Di Michi-no-Eki Southern Seto Towa, diperkenalkan hasil pertanian yang tumbuh subur berkat alam pulau, hasil laut Laut Pedalaman Seto, serta kue khas dan produk olahan.

Suō-Ōshima adalah "pulau jeruk mikan" yang menyumbang sekitar 80% produksi jeruk mikan di Prefektur Yamaguchi, sehingga produk olahan jeruk serta olahan hasil laut seperti iriko (ikan teri kering) dan hijiki (rumput laut) merupakan oleh-oleh yang mudah dipilih karena praktis dibawa pulang.

Jika membawanya pulang ke luar negeri, karena aturan membawa bahan makanan berbeda-beda tergantung negara dan wilayah, cek juga peraturan di negara tujuan Anda.

Nikmati Mikan Nabe dan Tachiuo no Kagamimori Bila Berkesempatan Menjumpainya

Sebagai kuliner khas daerah Suō-Ōshima, diperkenalkan mikan nabe (hot pot jeruk) dan tachiuo no kagamimori (sajian ikan layur/tachiuo).

Mikan nabe adalah hidangan musim dingin yang terutama bisa dinikmati dari Oktober hingga Maret, sebuah sajian khas pulau jeruk yang menyuguhkan jeruk panggang dan bakso ikan lokal.

Karena ketersediaannya bisa berubah tergantung restoran, musim, dan stok bahan, bila Anda ingin mencobanya, akan lebih aman mengecek informasi restoran terlebih dahulu.

Daripada memilih hanya karena namanya unik, menikmatinya sebagai hidangan yang memanfaatkan jeruk dan hasil laut pulau akan membuatnya membekas dalam kenangan perjalanan.

Cek Metode Pembayaran dan Status Operasional di Toko Kecil

Restoran dan toko di dalam pulau memiliki skala dan bentuk operasional yang berbeda-beda.

Karena pembayaran nontunai (cashless) dan dukungan bahasa asing berbeda tiap toko, Anda akan lebih tenang bila mengecek metode pembayaran dan status operasional sebelum masuk.

Saat ramai, hindari berlama-lama, dan di toko dengan jumlah kursi sedikit, jangan lupa untuk memperhatikan warga setempat maupun pengunjung berikutnya.

Etika dan Hal yang Perlu Dicek bagi Wisatawan Asing

Suō-Ōshima adalah tempat wisata, sekaligus tempat kehidupan sehari-hari bagi warga yang tinggal di pulau ini.

Dengan sedikit perhatian dari pihak pengunjung, waktu Anda di tepi laut, fasilitas, maupun perkampungan akan terasa lebih nyaman.

Menyadari Jarak antara Alam dan Kehidupan di Tepi Laut

Di tepi pantai maupun pelabuhan, Anda mungkin menjumpai pemandangan yang membuat ingin berfoto.

Namun, di pelabuhan nelayan, sekitar rumah warga, atau lokasi dekat lahan pribadi, utamakanlah rambu larangan masuk serta aktivitas warga setempat.

Jika berencana melakukan pemotretan dengan drone atau pemotretan komersial, Anda perlu mengonfirmasi kepada pengelola lahan atau fasilitas dan memastikan keselamatan sekitar.

Menyentuh Makhluk Laut dengan Lembut di Akuarium Nagisa

Di Akuarium Nagisa (Nagisa Suizokukan), Anda bisa menyentuh makhluk laut seperti bintang laut, teripang, dan hiu di kolam sentuh (touching pool) dalam ruangan yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Jepang.

Tiket masuk seharga 210 yen untuk dewasa dan 100 yen untuk pelajar SD-SMP, jam buka dari pukul 9.00 hingga 16.30 (penerimaan pengunjung hingga pukul 16.00), dan pada dasarnya tutup setiap Rabu serta pada periode akhir dan awal tahun.

Masuklah ke kolam sentuh (touching pool) dengan bertelanjang kaki, dan perlakukan makhluk hidup dengan hati-hati di dalam air.

Selain itu, disarankan untuk menahan diri dari makan di dalam ruangan, membawa hewan peliharaan, serta memotret dengan lampu kilat (flash).

Jika membawa anak kecil, sadarilah bahwa ada tempat dengan pijakan yang licin, dan Anda akan lebih tenang bila menyiapkan handuk serta baju ganti.

Cek Hari Libur dan Pengumuman Sebelum Menggunakan Fasilitas

Fasilitas seperti akuarium dan museum peringatan bisa saja mengalami hari libur atau penutupan sementara.

Akuarium Nagisa dan Museum Hoshino Tetsurō pada dasarnya libur hari Rabu, namun karena ketentuan seperti periode akhir dan awal tahun serta penutupan sementara berbeda tiap fasilitas, cek informasi operasional pada pengumuman masing-masing fasilitas sebelum menentukan jadwal perjalanan.

Hal yang perlu dicek dapat dibagi seperti berikut agar mengurangi kelalaian.

Situasi Hal yang Boleh Dilakukan Hal yang Perlu Ditahan
Tepi pantai Membawa pulang sampah Merusak benda alam
Pelabuhan nelayan Utamakan aktivitas warga Masuk tanpa izin
Akuarium Menyentuh di dalam air Menggenggam terlalu kuat
Museum peringatan Melihat dengan tenang Berbicara keras
Restoran Cek pembayaran Berlama-lama

Rangkuman | Tips Menikmati Waktu Tenang di Pulau Suō-Ōshima

Suō-Ōshima adalah kawasan untuk menikmati pemandangan Laut Pedalaman Seto, sejarah imigrasi Hawaii, dan budaya kuliner pulau dengan santai secara terpadu.

Jika baru pertama kali berkunjung, jangan hanya berfokus pada tepi laut; dengan memadukan rest area, museum, dan akuarium dalam batas yang wajar, karakter pulau ini akan terasa lebih kaya.

Cek terlebih dahulu moda transportasi, hari libur fasilitas, dan aturan tepi laut, serta di lokasi jangan lupa untuk memperhatikan perkampungan yang tenang dan lingkungan alam.

Tidak menjejalkan terlalu banyak jadwal dan menyisakan waktu untuk memandang laut adalah tips penting untuk menikmati perjalanan yang khas Suō-Ōshima.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Suo-Oshima adalah kawasan yang mengapung di Laut Pedalaman Seto di bagian timur Prefektur Yamaguchi, terdiri atas lima pulau berpenghuni dan 25 pulau tak berpenghuni dengan pulau utamanya Yashirojima. Ini adalah pulau terbesar ketiga di Laut Pedalaman Seto setelah Awajishima dan Shodoshima, dengan populasi sekitar 13.000 jiwa. Alih-alih berkeliling tempat wisata dengan terburu-buru, pulau ini cocok untuk "perjalanan pulau yang penuh jeda" sambil menikmati warna laut dan ketenangan pelabuhan.
A. Julukan ini berasal dari sejarah 3.913 orang dari pulau ini yang berlayar ke Hawaii melalui migrasi resmi pemerintah pada era Meiji, dan pada tahun 1963 menjalin hubungan pulau kembar dengan Pulau Kauai. Pemandangan bernuansa tropis seperti barisan pohon palem di Katazoegahama pun turut mendorong julukan ini. Alih-alih sekadar suasana resor, mengarahkan perhatian pada jejak para migran akan membuat wajah pulau terlihat lebih berdimensi.
A. Pulau ini terhubung dengan sisi Kota Yanai di daratan utama melalui Jembatan Oshima Ohashi, sehingga dengan mobil Anda bisa langsung masuk ke pulau. Untuk kereta, Stasiun Obatake di jalur JR Sanyo Main adalah pintu gerbangnya, dan dari stasiun menuju dalam pulau bisa dengan bus reguler Bocho Kotsu atau mobil. Jembatan juga bisa dilewati dengan berjalan kaki, tetapi karena bus di dalam pulau terbatas, memeriksa jadwal hari kunjungan sebelum berangkat akan mencegah kebingungan.
A. Michi-no-Eki Southern Seto Towa praktis sebagai basis, dilengkapi pasar hasil bumi, restoran masakan daerah, dan pusat ikan. Dari Jembatan Oshima Ohashi menyusuri Jalan Nasional 437 ke arah timur sekitar 25 menit berkendara, dengan jam buka 10.00-18.00. Tepat di dekatnya ada Miyajima yang jalur pasirnya muncul hanya sekitar waktu air surut, dan mampir dengan memperhitungkan ketinggian air akan mempertemukan Anda dengan pemandangan yang magis.
A. Katazoegahama adalah pantai bernuansa tropis dengan pasir putih dan barisan pohon palem sepanjang sekitar 1,2 km, yang bahkan terpilih dalam 100 Pantai Berenang Terbaik versi Kementerian Lingkungan Hidup. Musim berenang biasanya akhir Juni hingga akhir Agustus. Karena status pembukaan dan aturan penggunaan berubah tiap tahun, periksa petunjuk setempat sebelum berkunjung dan jangan lupa untuk selalu membawa pulang sampah yang Anda bawa.
A. Tarif masuk adalah 210 yen untuk dewasa dan 100 yen untuk pelajar SD-SMP, dengan jam buka 9.00-16.30 (masuk terakhir pukul 16.00), serta hari libur utama pada Rabu dan akhir tahun dan Tahun Baru. Andalannya adalah kolam sentuh dalam ruangan yang disebut salah satu terbesar di Jepang, di mana Anda bisa masuk bertelanjang kaki dan menyentuh bintang laut serta hiu. Karena permukaannya licin, menyiapkan handuk dan baju ganti akan lebih meyakinkan bagi yang membawa anak.
A. Ada Museum Migran Jepang-Hawaii yang dibuka pada tahun 1999. Museum ini memanfaatkan bekas kediaman bergaya campuran Jepang-Barat yang dibangun oleh para perantau yang pulang dari Hawaii, sehingga bangunannya sendiri menceritakan jejak para migran. Jika pamerannya dilihat bukan hanya sebagai "orang-orang yang menyeberangi lautan" tetapi dari sudut pandang ikatan dengan keluarga, pekerjaan, dan kampung halaman, kisah di balik pemandangan akan terasa lebih dalam.
A. Ada Museum Peringatan Tsuneichi Miyamoto yang menelusuri jejak ahli folklor yang dijuluki "raksasa pengembara", Museum Peringatan Tetsuro Hoshino yang menghormati penulis lirik lagu era Showa, dan Museum Peringatan Mutsu yang memamerkan peninggalan kapal perang "Mutsu". Mutsu adalah kapal yang tenggelam akibat ledakan di Selat Hashirajima pada tahun 1943 dan juga menjadi tempat berkabung, jadi sebaiknya amati dengan tenang sambil memperhatikan pengambilan foto dan volume percakapan.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.