Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Tōshunji Yamaguchi | Jejak Mōri Motonari & Budaya Ōuchi

Kuil Tōshunji Yamaguchi | Jejak Mōri Motonari & Budaya Ōuchi
Panduan Kuil Tōshunji di Yamaguchi: jejak Mōri Motonari, budaya Ōuchi, gerbang, aula Kannon, etika ziarah, dan rute sekitar.

Ringkasan Cepat

Daya Tarik Sekilas

Tōshun-ji adalah kuil aliran Rinzai di Kota Yamaguchi yang terkait dengan Mōri Motonari. Gerbang utama (sanmon) dan Aula Kannon dari zaman Muromachi masih tersisa, sehingga Anda bisa merasakan sejarah dalam suasana tenang.

Sorotan

Sanmon berstatus Properti Budaya Penting nasional (gerbang berkaki empat, gaya kirizuma, atap kayu cemara hinoki) dan Aula Kannon yang dibangun pada 1430 lalu dipindahkan pada 1915. Perhatikan ornamen gaya Zen seperti jendela katōmado dan pintu sankarado.

Latar Sejarah

Tōshun-ji adalah kuil pemakaman Mōri Motonari yang dipindahkan dari Yoshida di Aki melalui Hiroshima dan Hagi ke Yamaguchi. Berdiri di bekas Kuil Kokusei-ji yang terkait klan Ōuchi, dan menurut tradisi masih tersisa bekas sabetan pedang dari Ekspedisi Chōshū akhir zaman Edo di aula utama.

Akses dengan Kereta & Bus

Sekitar 30 menit naik bus dari Stasiun JR Shin-Yamaguchi, turun di "Kenchō-mae", lalu 10 menit berjalan kaki. Berlokasi di Mizunoue-chō 5-27, sisi utara Taman Kōzan.

Akses dengan Mobil

Sekitar 20 menit berkendara dari IC Ogōri di Jalan Tol Chūgoku. Anda juga bisa mempertimbangkan memakai parkir Taman Kōzan.

Cara Menikmati Saat Hujan & Tiap Musim

Di hari hujan, permukaan bangunan kayu dan batu menjadi lembap dan tenang sehingga keheningan bertambah. Suasananya berubah tiap musim: sakura di musim semi, hijau di musim panas, dan dedaunan merah di musim gugur.

Jalan Santai di Sekitar

Taman Kōzan yang memiliki Pagoda Lima Tingkat Ruriko-ji (Harta Nasional) berada dalam jarak berjalan kaki. Bila berjalan ke arah Sungai Ichinosaka, Anda juga bisa menikmati tepi air dan deretan kota tua.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Yamaguchi

Apa Itu Tōshun-ji? Kuil Bersejarah Terkait Mōri Motonari di Yamaguchi

Tōshun-ji adalah kuil aliran Rinzai cabang Kennin-ji yang terletak di Minonoue-chō, Kota Yamaguchi, Prefektur Yamaguchi, dan berkaitan erat dengan Mōri Motonari (daimyō terkenal periode Sengoku dari wilayah Chūgoku).

Sangō (nama gunung kuil) tempat ini adalah Shōju-san, dan lokasinya berada dekat dengan pusat wisata Yamaguchi, hanya berjarak jalan kaki dari Kōzan Park dan Pagoda Lima Tingkat Rurikō-ji yang merupakan Harta Nasional (National Treasure).

Alih-alih menjadi fasilitas wisata yang ramai, tempat ini lebih cocok untuk menikmati secara perlahan bangunan-bangunan tua dari periode Muromachi serta suasana tenang di dalam area kuil.

Latar Belakang sebagai Kuil Makam Keluarga Mōri Motonari

Tōshun-ji dipercaya didirikan pada tahun 1572 (tahun ke-3 era Genki) sebagai kuil makam keluarga (bodaiji) Mōri Motonari, di dalam kompleks kastil di Yoshida, Provinsi Aki (kini Kota Akitakata, Prefektur Hiroshima).

Setelah itu, seiring perpindahan pusat kekuasaan klan Mōri, kuil ini berpindah melalui Hiroshima dan Hagi hingga akhirnya dipindahkan ke lokasinya sekarang di Yamaguchi.

Mōri Motonari, yang dikenal sebagai daimyō pada periode Sengoku, terkenal lewat kisah "Tiga Anak Panah" (Sanshi no Oshie) tentang pentingnya persatuan.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Jepang, akan lebih mudah dipahami jika menganggap tempat ini sebagai kuil yang memiliki hubungan mendalam dengan klan Mōri yang menopang sejarah wilayah Chūgoku, daripada sekadar menghafal nama tokohnya.

Daya tarik di area kuil ini bukanlah pertunjukan yang megah, melainkan merasakan tumpukan waktu yang panjang lewat bangunan yang hening dan peninggalan-peninggalan batu.

Menyusuri Jejak Budaya Ōuchi

Di lokasi Tōshun-ji sekarang, konon dahulu pernah berdiri kuil bernama Kokusei-ji yang dibangun oleh Ōuchi Morimi pada era Ōei (awal 1400-an).

Yamaguchi adalah kota yang memiliki sejarah dijuluki "Kyoto Barat" (Nishi no Kyō), dengan kuil Buddha, jinja (kuil Shinto), dan deretan bangunan tua yang tersebar dalam jangkauan yang berdekatan.

Saat menyusuri Tōshun-ji, Anda dapat merasakan bukan hanya klan Mōri, tetapi juga lapisan budaya Yamaguchi yang berlanjut sejak zaman klan Ōuchi.

Lokasi Dekat Kōzan Park dan Pagoda Lima Tingkat Rurikō-ji

Tōshun-ji adalah kuil yang berada dekat dengan Kōzan Park dan Pagoda Lima Tingkat Rurikō-ji, sebuah Harta Nasional.

Pagoda Lima Tingkat Rurikō-ji, setelah melalui "renovasi besar era Reiwa", kini dapat dilihat kembali dengan atap kulit kayu cemara (hiwadabuki) yang telah selesai diperbarui.

Ini bukan sekadar tempat untuk mengambil foto yang mencolok; dengan menambahkan waktu untuk menikmati suasana tenang kawasan kuil, kesan perjalanan khas Yamaguchi akan terasa lebih dalam.

Poin Arsitektur yang Wajib Dilihat di Gerbang Sanmon dan Kannon-dō Tōshun-ji

Yang patut diperhatikan di Tōshun-ji adalah gerbang Sanmon dan aula Kannon-dō yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional (Important Cultural Property).

Dengan sedikit memperhatikan detail bangunannya, cara Anda memandang tempat ini akan berubah meski kunjungannya singkat.

Gerbang Sanmon: Melihat Struktur Kokoh Gerbang Empat Kaki dari Periode Muromachi

Sanmon adalah bangunan yang pertama kali terlihat di pintu masuk kuil. Berdasarkan gayanya berupa gerbang empat kaki (shikyakumon), atap pelana (kirizuma-zukuri), dan kulit kayu cemara (hiwadabuki), gerbang ini diperkirakan dibangun sekitar awal periode Muromachi.

Gerbang ini dipercaya berasal dari masa pendirian kuil Kokusei-ji yang dulu berada di lokasi ini, dan ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional sebagai peninggalan yang berharga.

Alih-alih mencari ornamen yang mencolok, cobalah amati ketebalan tiang, bentuk atap, dan titik berat gerbang yang rendah secara keseluruhan, maka kekuatan khas kuil Zen akan terasa.

Setelah mendekat untuk melihat detailnya, ambillah sedikit jarak dan pandangi kembali keseluruhan bentuknya, maka Anda akan menyadari bagaimana gerbang ini mempertegas suasana hening di dalam area kuil.

Kannon-dō: Memperhatikan Bangunan Muromachi yang Dipindahkan pada 1915

Kannon-dō semula merupakan bangunan yang berada di Taki no Kannon-ji di Kamiunoryō, dan dipercaya dibangun pada tahun 1430 (tahun ke-2 era Eikyō).

Bangunan ini dipindahkan dari kuil yang berkaitan dengan klan Ōuchi ke area Tōshun-ji pada tahun 1915 (tahun ke-4 era Taishō), dan bersama Sanmon ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional.

Dengan memperhatikan elemen-elemen arsitektur gaya Zen seperti jendela lengkung (katōmado) dan pintu kayu berkisi (sankarado), Anda akan mendapatkan kenikmatan yang lebih dari sekadar melihat bangunan tua.

Ikutilah petunjuk di lokasi mengenai bagian dalam bangunan dan area yang boleh dimasuki, serta utamakan sikap mengamati bagian luarnya dengan saksama.

Mengenal Istilah Arsitektur Membuat Kunjungan Lebih Mudah

Anda tidak perlu menghafal semua istilah teknis, tetapi mengetahui beberapa kata akan memudahkan Anda menemukan daya tarik bangunan.

Istilah Poin yang Dilihat Kesan
Sanmon Bentuk pintu masuk Ketegangan yang hening
Katōmado Jendela melengkung Nuansa lembut
Sankarado Desain pintu Ekspresi bangunan tua
Hiwadabuki Tekstur atap Ketenangan alami

Mengamati Properti Budaya dengan Menjaga Jarak

Bangunan kayu tua mudah rusak akibat perbuatan seperti menyentuh, bersandar, atau menginjak batu di kakinya.

Saat mengambil foto pun, pilihlah posisi yang tidak terlalu dekat dengan bangunan dan tidak menghalangi jalur pengunjung lain agar lebih aman.

Cara Menyusuri Area Tōshun-ji: Alur Berkunjung yang Menikmati Keheningan

Di Tōshun-ji, berjalan mengikuti keheningan area kuil akan lebih membekas daripada sekadar mengejar semua daya tarik dalam waktu singkat.

Meski tidak ada rute yang ditetapkan secara rinci, dengan mengalihkan pandangan dari pintu masuk ke bangunan lalu ke peninggalan batu, alur perjalanan akan tercipta dengan sendirinya.

Awali dengan Menarik Napas di Depan Gerbang

Sebelum memasuki kuil, berhentilah sejenak di depan gerbang, maka Anda akan lebih mudah mengalihkan suasana hati dari jalan raya dan hiruk-pikuk kota ke ketenangan area kuil.

Di kuil-kuil Jepang, gerakan yang tenang seperti membungkuk sejenak di pintu masuk lebih menyatu dengan lingkungan daripada bergegas melewatinya.

Menghormati Sekitar Aula Utama sebagai Tempat Ibadah yang Hidup

Kuil adalah tempat wisata sekaligus tempat doa dan upacara keagamaan.

Pada tiang aula utama (hondō), konon masih terdapat bekas sabetan pedang yang dibuat oleh para samurai yang berkumpul setelah Ekspedisi Chōshū Pertama di akhir periode Edo, sehingga Anda dapat merasakan sejarah yang begitu nyata.

Di sekitar aula utama, dengan merendahkan suara dan tidak menyentuh pintu maupun perlengkapan, Anda akan bersikap wajar sebagai pengunjung yang berdoa.

Mengamati Peninggalan Batu dan Area Makam dengan Tenang

Di dalam area kuil terdapat daya tarik berupa peninggalan batu dan area makam yang mencerminkan sejarah Yamaguchi.

Di tempat yang dekat dengan area makam, mengutamakan sikap diam sambil mengatupkan tangan berdoa daripada memotret akan lebih menjaga suasana kuil.

Memahami Sejarah Tōshun-ji dengan Mudah

Sejarah Tōshun-ji bukan sekadar perubahan sebuah kuil, melainkan lapisan ingatan klan Ōuchi, klan Mōri, dan akhir periode Edo yang berlatar di Yamaguchi.

Tanpa perlu menghafal tahun-tahun secara rinci, dengan memahami peran tiap zaman, cara Anda memandang area kuil akan menjadi lebih hidup.

Tanah yang Mewarisi Budaya Klan Ōuchi

Yamaguchi dikenal sebagai tanah tempat perdagangan dan budaya dengan daratan Tiongkok berkembang pesat di bawah daimyō penjaga (shugo daimyō) klan Ōuchi pada periode Muromachi.

Saat mengarahkan pandangan ke Sanmon dan Kannon-dō Tōshun-ji, Anda dapat merasakan bukan hanya sejarah kaum samurai, tetapi juga pewarisan budaya melalui arsitektur kuil.

Kuil yang Menelusuri Ingatan Klan Mōri

Karena Tōshun-ji dikisahkan sebagai kuil makam keluarga Mōri Motonari, tempat ini juga menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah klan Mōri.

Bahkan bagi wisatawan yang tidak begitu paham sejarah, mengingat Mōri Motonari sebagai daimyō periode Sengoku yang membangun kekuatan besar di wilayah Chūgoku akan memudahkan Anda memahami makna kuil ini.

Membayangkan Yamaguchi di Akhir Periode Edo

Tōshun-ji juga diperkenalkan sebagai tempat yang berkaitan dengan Restorasi Meiji.

Dalam panduan wisata Prefektur Yamaguchi, tempat ini disebut sebagai lokasi yang berkaitan dengan pergerakan akhir periode Edo, seperti markas pasukan Kiheitai dan tempat tinggal sementara Mōri Takachika, penguasa domain feodal (han).

Saat berdiri di area kuil yang hening, kisah politik dan peperangan terasa dekat sebagai ingatan yang benar-benar tersimpan di tanah ini.

Merangkum Cara Pandang Berdasarkan Setiap Zaman

Dengan membagi alur sejarah berdasarkan tokoh dan zaman, urutan melihat bangunan pun dapat menjadi lebih bermakna.

Sudut Pandang Tempat yang Dilihat Cara Merasakannya
Klan Ōuchi Sanmon Yamaguchi lama
Klan Mōri Sekitar aula utama Ingatan keluarga
Akhir periode Edo Seluruh area kuil Nuansa zaman
Properti budaya Kannon-dō Keahlian dan pelestarian

Etika Berkunjung ke Tōshun-ji yang Perlu Diketahui Wisatawan

Di Tōshun-ji, yang utama adalah menjaga keheningan dan menghormati properti budaya, bukan tata cara yang rumit.

Bahkan wisatawan yang belum terbiasa dengan tempat ibadah pun dapat merasa tenang jika mengamati sekitar dengan baik dan bertindak sederhana.

Menyesuaikan Volume Suara dan Kecepatan Berjalan

Di dalam area kuil, berjalanlah perlahan tanpa berbicara keras atau berlari agar menyatu dengan suasananya.

Saat berkunjung dalam rombongan pun, persingkatlah percakapan di depan bangunan dan jangan menguasai tempat pemotretan terlalu lama.

Mengutamakan Petunjuk di Lokasi untuk Pemotretan

Di kuil, area yang boleh difoto bisa berbeda-beda tergantung tempatnya.

Di Tōshun-ji pun, utamakan petunjuk yang terpampang di lokasi dan panduan dari pihak kuil mengenai boleh-tidaknya memotret serta area yang boleh dimasuki. Di tempat yang Anda ragu, pilihan aman adalah tidak memotret.

Tidak Menyentuh Properti Budaya demi Pelestarian

Tiang kayu, pintu tua, dan peninggalan batu bisa menjadi beban meski hanya disentuh ringan.

Menjaga jarak adalah etika penting agar pemandangan yang sama tetap tersisa bagi pengunjung berikutnya.

Merangkum Tindakan yang Boleh dan Sebaiknya Dihindari

Dengan mengetahui pedoman perilaku sebelum berkunjung, Anda tidak akan mudah bingung di lokasi.

Situasi Boleh Sebaiknya Dihindari
Area kuil Berjalan tenang Bicara keras
Depan bangunan Melihat dari jarak Menyentuh tiang
Pemotretan Cek papan petunjuk Memotret dalam ruangan tanpa izin
Area makam Mengatupkan tangan Memotret dari dekat

Cara Menikmati Tōshun-ji yang Berubah Menurut Musim dan Cuaca

Tōshun-ji adalah tempat untuk menikmati ekspresi bangunan kayu yang berubah menurut cahaya musim dan cuaca, bukan pertunjukan yang mencolok.

Dengan mencari detail pemandangan sesuai waktu kunjungan, area kuil yang sama pun akan memberi kesan yang berbeda.

Hari Cerah: Mengamati Atap dan Bayangan

Pada hari cerah, garis atap kulit kayu cemara dan bayangan gerbang terlihat jelas.

Jangan hanya melihat bangunan dari depan; dengan sedikit mengubah sudut pandang, gradasi bayangan yang tercipta oleh tiang dan atap akan lebih menonjol.

Hari Hujan: Tekstur Kayu dan Batu yang Menenangkan

Pada hari hujan, permukaan bangunan kayu dan batu tampak lembap, dan keheningan area kuil semakin terasa.

Jika berjalan sambil berhati-hati dengan pijakan, Anda dapat menikmati suasana tenang yang berbeda dari hari cerah.

Menyadari Perubahan Pemandangan Tiap Musim

Sakura di musim semi, dedaunan hijau segar, dan daun musim gugur (kōyō/momiji) mengubah ekspresi area kuil di setiap musim.

Jangan hanya mengandalkan bunga atau daun musim gugur; dengan memperhatikan warna udara, sudut cahaya, dan kerapatan pepohonan, Anda dapat menikmati beragam ekspresi kuil ini.

Musim Pemandangan Cara Menikmati
Semi Cahaya lembut Beristirahat di depan gerbang
Panas Hijau pekat Berjalan di teduh pepohonan
Gugur Warna yang dalam Mengamati atap dan daun
Dingin Udara jernih Menikmati garis bentuk

Akses ke Tōshun-ji dan Informasi Dasar Kunjungan

Tōshun-ji berada di kawasan Kōzan Park di pusat Kota Yamaguchi, dan mudah dikunjungi baik dengan transportasi umum maupun mobil.

Alamatnya adalah Minonoue-chō 5-27, Kota Yamaguchi, Prefektur Yamaguchi, terletak di sisi utara Kōzan Park.

Akses dengan Kereta dan Bus

Dari Stasiun Shin-Yamaguchi (JR), naik bus sekitar 30 menit, turun di halte bus "Kenchō-mae", lalu berjalan kaki sekitar 10 menit.

Jika masuk ke Kota Yamaguchi melalui Jalur JR Yamaguchi, akan lebih aman jika Anda memeriksa halte bus dan bagian jalan kaki terlebih dahulu.

Akses dengan Mobil dan Tempat Parkir

Dari Ogōri Interchange di Jalan Tol Chūgoku, sekitar 20 menit dengan mobil.

Jika berkendara, akan lebih aman jika Anda memeriksa petunjuk di lokasi, termasuk penggunaan tempat parkir Kōzan Park.

Pertimbangan Jam Kunjungan dan Biaya Masuk

Tōshun-ji adalah kuil dengan gaya kunjungan berupa menyusuri area kuil dengan tenang, terutama menikmati tampilan luar seperti Sanmon dan Kannon-dō.

Karena biaya masuk (harga tiket masuk), jam buka gerbang, dan status pembukaan bagian dalam bisa berbeda menurut waktu, memeriksa panduan sebelum berkunjung akan membuat Anda tidak panik saat hari kunjungan.

Tempat di Sekitar yang Perlu Diketahui saat Berjalan-jalan

Di sekitar Tōshun-ji terdapat kuil, jinja, dan tempat berjalan santai yang tenang di sepanjang sungai, sehingga mudah merasakan suasana bersejarah Kota Yamaguchi.

Dengan tidak menjejalkan terlalu banyak rencana dan menyelingi tempat yang hening dengan jalan-jalan kota, alur perjalanan akan terasa lebih tenang.

Merasakan Lapisan Sejarah di Kōzan Park dan Pagoda Lima Tingkat Rurikō-ji

Di sekitar Kōzan Park terkumpul daya tarik bersejarah yang mewakili Yamaguchi, mulai dari Pagoda Lima Tingkat Rurikō-ji yang merupakan Harta Nasional.

Dengan membandingkan area kuil Tōshun-ji yang tenang dengan bangunan di sekitarnya, perbedaan karakter tiap bangunan akan lebih mudah dipahami.

Berjalan ke Arah Sungai Ichinosaka Mengubah Wajah Kota

Di pusat Kota Yamaguchi, suasana kuil dan jinja menyatu secara alami dengan ketenangan deretan bangunan kota.

Jika Anda melangkah ke arah Sungai Ichinosaka (Ichinosakagawa), Anda dapat merasakan tepi air dan wajah kota tua, serta menyentuh pesona Yamaguchi yang bukan hanya soal kuil.

Menyisakan Ruang dalam Jadwal Perjalanan

Tōshun-ji adalah tempat yang cocok untuk waktu berhenti dan mengamati, bukan untuk mengambil banyak foto.

Dengan menyisakan ruang hingga jadwal berikutnya, Anda akan lebih leluasa menghabiskan waktu dengan santai di depan Sanmon dan Kannon-dō.

Kesimpulan: Tōshun-ji, Spot Bersejarah yang Cocok untuk Perjalanan Tenang di Yamaguchi

Tōshun-ji adalah tempat untuk menikmati dengan tenang sejarahnya sebagai kuil terkait Mōri Motonari, jejak budaya Ōuchi, serta Sanmon dan Kannon-dō yang merupakan properti budaya penting.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Jepang, kuil ini menghadirkan keheningan khas Yamaguchi di tengah perjalanan yang sering terburu-buru mengunjungi spot-spot terkenal.

Di lokasi, dengan memeriksa papan petunjuk dan panduan, tidak menyentuh properti budaya, serta berjalan dengan suara pelan, Anda dapat menikmati suasana kuil secara alami.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Toushunji adalah kuil aliran Rinzai cabang Kenninji di Mizunokami-cho, Kota Yamaguchi, Prefektur Yamaguchi, yang dikenal sebagai kuil pemakaman Mori Motonari, panglima perang zaman Sengoku. Shoshuzan adalah sangō-nya, yaitu nama gunung yang dipakai dalam tradisi penamaan kuil Jepang. Gerbang kuil dan aula Kannon yang dibangun pada Zaman Muromachi ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional, dan kuil ini dicintai bukan sebagai tempat wisata yang ramai, melainkan sebagai tempat untuk menikmati ketenangan areanya.
A. Toushunji didirikan pada tahun 1572 sebagai kuil pemakaman Mori Motonari. Kuil ini dibuka oleh cucu Motonari, Mori Terumoto, di Yoshida, Provinsi Aki, dan berpindah ke Yamaguchi melalui Hiroshima dan Hagi seiring perpindahan pusat kekuasaan klan Mori. Motonari adalah panglima yang terkenal lewat kisah "Tiga Anak Panah", dan dari area kuil ini Anda bisa menyusuri perjalanan klan Mori yang menopang sejarah wilayah Chugoku.
A. Gerbang kuil dan aula Kannon sama-sama merupakan bangunan tua yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional. Gerbang kuil adalah gerbang berkaki empat dari Zaman Muromachi, sedangkan aula Kannon adalah bangunan gaya Zen yang dibangun tahun 1430 dan dipindahkan pada tahun 1915. Pada gerbang kuil terpancar kekuatan khas kuil Zen dari ketebalan tiang dan pusat gravitasi atap yang rendah, sedangkan pada aula Kannon terasa ekspresi bangunan tua lewat desain jendela katomado (jendela dekoratif bergaya Zen) dan pintu san-karado (pintu lipat berpanel).
A. Biaya kunjungan (biaya masuk kuil) gratis, dan Anda bisa berkunjung sambil melihat bagian luar gerbang kuil dan aula Kannon. Daya tariknya adalah bisa mampir tanpa mengkhawatirkan biaya, dan di area kuil sikap berjalan dengan tenang sangatlah penting. Pada tiang aula utama masih tersisa bekas sabetan pedang yang konon dibuat para prajurit domain yang berkumpul setelah ekspedisi Choshu pertama di akhir era Edo, sehingga Anda bisa merasakan sisi nyata sejarah.
A. Naik bus sekitar 30 menit dari Stasiun JR Shin-Yamaguchi, turun di halte "Kenchomae", lalu jalan kaki sekitar 10 menit. Letaknya di sisi utara Taman Kozan, dalam jarak berjalan kaki dari Pagoda Lima Tingkat Rurikoji yang berstatus harta nasional. Karena ruas busnya panjang, memasukkannya ke rute berjalan kaki setengah hari bersama pagoda lima tingkat dan Taman Kozan akan mengurangi perpindahan yang tidak perlu.
A. Tidak ada tempat parkir khusus pengunjung, jadi lebih praktis memakai Parkir Taman Kozan (gratis) di dekatnya. Dengan mobil, sekitar 20 menit dari Ogori IC di Chugoku Expressway. Karena bisa parkir di area yang sama dengan Pagoda Lima Tingkat Rurikoji, ingatlah bahwa sekali memarkir mobil, Anda bisa menyusuri dan berkeliling situs bersejarah sekitar dengan berjalan kaki.
A. Goshuin bisa diperoleh sebagai kenang-kenangan kunjungan ke persinggahan ke-16 Ziarah Kannon Chugoku. Isinya adalah tulisan tinta "Daihiden" yang berkaitan dengan dewa utama Sho-Kanzeon Bosatsu, dengan cap Shoshuzan Toushunji. Goshuin (tulisan tinta kenang-kenangan kunjungan) menjadi kenangan ziarah persinggahan yang tenang, dan banyak peziarah mengunjungi kuil ini sebagai bagian dari ziarah tempat suci.
A. Karena banyak bangunan kayu tua, pada dasarnya jaga jarak dan pandanglah tanpa menyentuh tiang, pintu, atau reruntuhan batu. Sekitar aula utama juga merupakan tempat doa dan upacara, jadi turunkan volume suara, dan di area makam utamakan sikap berdoa dengan tenang daripada memotret. Tidak menyentuh properti budaya adalah etika yang menjaga pemandangan yang sama tetap ada bagi pengunjung berikutnya.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.