Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Air Terjun Akame 48 Mie: Panduan Jelajah Lembah & Hutan

Air Terjun Akame 48 Mie: Panduan Jelajah Lembah & Hutan
Panduan Air Terjun Akame 48 di Mie: rute lembah, hutan, pemandangan musim, pakaian, etika alam, dan tips foto untuk pemula.

Ringkasan Cepat

Sekilas daya tarik

Akame 48 Waterfalls di Kota Nabari, Mie adalah spot jalan-jalan alam untuk menikmati dengan santai 23 air terjun terkenal, hutan, dan suara air di jalur setapak lembah sepanjang sekitar 3,3 km.

Hal menarik "Akame Gobaku (Lima Air Terjun)"

Air Terjun Fudo (tinggi jatuh sekitar 15 m), Senju, Nunobiki (sekitar 30 m), Ninai, dan Biwa. Bandingkan perbedaan cara air jatuh serta perpaduannya dengan bebatuan dan pepohonan.

Akses

Sekitar 10 menit dengan Mie Kotsu Bus ke arah Air Terjun Akame dari Stasiun Akameguchi Kintetsu Osaka Line. Dengan mobil, tersedia parkir gratis untuk sekitar 250 mobil di sekitar pintu masuk.

Biaya masuk kawasan

Biaya pelestarian lembah (biaya masuk) ¥1.000 untuk dewasa, ¥500 untuk anak (SD dan SMP).

Perkiraan waktu

Berjalan pulang pergi menyusuri lembah Akame 48 Waterfalls sambil melihat 23 air terjun sekitar 3 jam. Ke Stasiun Akameguchi, sekitar 54 menit dengan ekspres dari arah Osaka, sekitar 1 jam 29 menit dari arah Kyoto, dan sekitar 1 jam 39 menit dari arah Nagoya.

Musim & cara berjalan

Musim semi hingga awal musim panas dedaunan hijau segar, musim panas suara air dan rindang pepohonan, musim gugur (pertengahan–akhir November) dedaunan merah, musim dingin lembah yang sunyi. Pakai sepatu beralas stabil dan tidak licin, serta bawa barang yang membebaskan kedua tangan.

Pengalaman

Anda bisa singgah sebelum atau sesudah menyusuri air terjun ke Akametaki Aquarium yang memelihara salamander raksasa (Monumen Alam Khusus) atau "Hutan Ninja" untuk mencoba latihan ninja.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Mie

Apa Itu Akame Shijūhachi Taki | Menyusuri Air Terjun dan Hutan di Lembah Nabari, Mie

Akame Shijūhachi Taki (Air Terjun 48 Akame) adalah lembah yang terletak di Akame-chō, Kota Nabari, Prefektur Mie, sebuah tempat wisata alam untuk berjalan menyusuri aliran jernih Sungai Takigawa sambil menembus hutan yang lebat.

Di sepanjang jalur setapak lembah sejauh sekitar 3,3 km terdapat 23 air terjun yang memiliki nama, dan angka "48" melambangkan banyaknya jumlah air terjun di sini.

Meski Anda mungkin sudah mengenal nama Akame Shijūhachi Taki, di lokasi ini Anda tidak hanya akan melihat satu air terjun saja, melainkan menikmati perlahan udara lembah, suara air, dan tekstur bebatuannya dalam sebuah perjalanan yang menenangkan.

Alasan Akame Shijūhachi Taki Cocok untuk Wisatawan Asing

Berbeda dengan wisata perkotaan, di Akame Shijūhachi Taki Anda bisa merasakan langsung pemandangan tepi air di pegunungan Jepang sambil berjalan kaki.

Di sepanjang jalan Anda akan sering berhenti di dekat air terjun, sehingga bukan hanya berfoto, tetapi suara air dan kesejukan rindangnya pepohonan juga akan membekas di ingatan.

Di pintu masuk lembah terdapat pula "Akame Taki Aquarium" yang memelihara salamander raksasa Jepang (ōsanshōuo), monumen alam khusus Jepang. Mampir ke sini sebelum berjalan akan menambah pemahaman tentang satwa lembah ini.

Berjalan di Lembah Mirip Pengalaman Observasi Alam

Jalur setapak lembah ini tidak hanya menuntun Anda dari satu air terjun ke air terjun berikutnya, tetapi juga melewati bebatuan berlumut, akar pohon, dan aliran air yang deras untuk diamati.

Dengan tidak terburu-buru dan bergantian memperhatikan pijakan kaki serta sekeliling, kedalaman dan keindahan lembah akan lebih terasa.

Jika menyusuri seluruh lembah pulang-pergi, Anda akan berjalan sambil melihat 23 air terjun yang memiliki nama. Sebaiknya siapkan waktu sekitar 3 jam agar bisa menikmatinya dengan leluasa.

Bagi yang Baru Pertama Kali, Sediakan Waktu Longgar

Karena Akame Shijūhachi Taki adalah tempat masuk ke alam pegunungan, penting untuk tidak menjejalkan terlalu banyak rencana dan menyesuaikan langkah dengan cuaca serta kondisi fisik.

Sebelum berkunjung, ada baiknya memastikan apakah ada pembatasan pendakian atau pengumuman dari pengelola fasilitas agar lebih tenang.

Hal yang Wajib Dilihat di Akame Shijūhachi Taki | Akame Gobaku dan Beragam Wajah Air

Daya tarik Akame Shijūhachi Taki akan lebih terasa bukan dengan terburu-buru mengunjungi air terjun terkenal saja, melainkan dengan membandingkan perbedaan cara aliran airnya.

Lima air terjun representatif, Akame Gobaku, dikenal sebagai Fudō-daki, Senju-daki, Nunobiki-daki, Ninai-daki, dan Biwa-daki, masing-masing memiliki keunikan dalam asal-usul nama dan cara penampakannya.

Lihat Akame Gobaku Berdasarkan Namanya

Kelima air terjun ini berbeda dalam suara, cara air jatuh, serta perpaduannya dengan bebatuan dan pepohonan di sekitarnya, sehingga mengingat namanya akan memudahkan Anda menata kesan selama menyusuri lembah.

Fudō-daki adalah air terjun di sisi pintu masuk dengan ketinggian jatuh sekitar 15 m, berasal dari nama dewa Fudō Myōō, dan "ziarah air terjun" konon merujuk pada pemujaan di air terjun ini.

Senju-daki adalah air terjun tempat air mengalir di bebatuan bagaikan seribu tangan, sedangkan Nunobiki-daki dengan ketinggian sekitar 30 m termasuk yang terbesar di lembah ini, dengan air putih yang jatuh seolah membentangkan sehelai kain.

Ninai-daki disebut sebagai pemandangan terindah di lembah ini, dengan aliran yang terbelah dua oleh batu besar di tengahnya, sedangkan Biwa-daki dikenal karena bentuknya yang menyerupai alat musik biwa.

Bandingkan Cara Air Jatuh

Air terjun tidak hanya bisa dilihat dari depan; dengan sedikit mengubah sudut pandang, garis air yang mengalir di bebatuan dan kekuatan air yang jatuh ke kolam akan terlihat berbeda.

Karena debit air dan cara cahaya masuk berubah setiap hari, air terjun yang sama pun akan memberi kesan berbeda menurut musim dan cuaca.

Saat membedakan air terjun, akan lebih mudah dipahami jika Anda memperhatikan "bagaimana air bergerak" terlebih dahulu sebelum namanya.

Sudut pandang Titik perhatian Cara menikmati
Air yang jatuh Garis dan sebaran Sedikit menjauh
Kolam air terjun Warna air Lihat pantulan
Permukaan batu Tekstur basah Ubah sudut
Pepohonan Cahaya dan bayangan Jadikan latar
Jembatan dan jalan Perbedaan ketinggian Perhatikan pijakan

Pisahkan Foto Luas dan Foto Dekat

Di lembah ini, memisahkan foto yang menampilkan air terjun secara besar dengan foto yang memasukkan hutan dan jalan untuk menangkap suasana tempat akan memperkaya kenangan perjalanan Anda.

Di tempat yang jalannya sempit, jangan berhenti terlalu lama dan jaga posisi agar wisatawan lain bisa lewat, supaya semua orang nyaman.

Cara Menikmati Setiap Musim | Dedaunan Hijau Baru, Daun Musim Gugur, dan Lembah Akame di Musim Dingin

Di Akame Shijūhachi Taki, warna tepi air, terangnya hutan, dan udara yang dirasakan saat berjalan berubah menurut musim.

Jika Anda bisa memilih waktu kunjungan, menyesuaikan pakaian dan cara berjalan dengan pemandangan yang ingin dilihat akan meningkatkan kepuasan.

Musim Semi hingga Awal Musim Panas, Dedaunan Hijau Baru Jadi Bintang

Pada April hingga Juni, dari musim semi (musim semi/spring) hingga awal musim panas, pepohonan di lembah menjadi cerah, dan ini musim yang tepat untuk melihat kontras antara putihnya air terjun dan hijau muda dedaunan.

Setelah hujan Anda perlu berhati-hati dengan pijakan, tetapi tekstur tanaman tepi air dan bebatuan justru bisa terasa lebih pekat.

Musim Panas, Nikmati Suara Air dan Keteduhan Pohon

Pada Juli hingga Agustus di musim panas, ada tempat-tempat yang bisa Anda lewati sambil menghindari sinar matahari, tetapi karena mudah berkeringat di jalan pegunungan, beristirahat secara berkala akan membuat perjalanan lebih nyaman.

Suara air di lembah memberi kesan sejuk, tetapi di tempat yang licin, utamakan pijakan kaki ketimbang pemandangan.

Musim Gugur, Lihat Hutan yang Berubah Warna Bersama Air Terjun

Pada pertengahan hingga akhir November, musim kōyō (dedaunan merah-jingga musim gugur), warna hutan berubah dan ini musim yang membuat kontras antara putihnya air terjun dan gelapnya bebatuan mudah tertangkap kamera.

Pada masa ramai pengunjung, penting untuk saling mengalah di jalan sempit dan bersikap sabar menunggu giliran berfoto.

Musim Dingin, Utamakan Ketenangan dan Tindakan Keselamatan

Di musim dingin udara lembah menjadi jernih dan suasana hening lebih terasa, namun pada hari-hari dengan jalan yang membeku atau bersalju, Anda perlu pertimbangan soal perlengkapan.

Karena disarankan menyiapkan crampon sederhana saat jalan membeku atau bersalju, untuk kunjungan musim dingin utamakan memeriksa kondisi jalur terlebih dahulu.

Perlu diperhatikan pula bahwa pada periode musim dingin (1 Desember hingga Rabu kedua bulan Maret), jam buka menjadi pukul 09.00 hingga 16.30, dan hari libur adalah 28 Desember hingga 31 Desember serta setiap Kamis dari Desember hingga Kamis kedua bulan Maret.

Musim Cara melihat pemandangan Kesadaran saat berjalan
Semi Hijau muda Hati-hati setelah hujan
Panas Suara air dan keteduhan Sisipkan istirahat
Gugur Warna hutan Saling mengalah
Dingin Lembah yang hening Periksa jalan beku

Pakaian dan Cara Berjalan yang Perlu Diperhatikan Wisatawan Asing

Meski Akame Shijūhachi Taki adalah tempat wisata, kondisi pijakannya adalah lembah yang mudah terpengaruh oleh alam.

Dengan mempersiapkan diri bukan sekadar seperti jalan-jalan kota, melainkan lebih seperti hiking singkat, Anda bisa berjalan dengan tenang.

Utamakan Sepatu yang Tidak Licin

Di dalam lembah, jalan menjadi licin saat hujan atau pagi hari, sehingga memilih sepatu dengan sol yang stabil akan memudahkan berjalan.

Alas kaki seperti sandal atau hak tinggi yang sulit menahan kaki dengan kokoh cenderung membuat Anda tidak stabil di batu basah atau anak tangga, jadi sebaiknya dihindari.

Atur Barang Bawaan agar Kedua Tangan Bebas

Meski berencana berfoto, saat berjalan sebaiknya kedua tangan tetap bebas digunakan agar lebih mudah bergerak di anak tangga atau jalan sempit.

Daripada membawa koper besar masuk ke lembah, lebih sesuai dengan kondisi di lokasi jika Anda menata barang terlebih dahulu di stasiun, penginapan, atau fasilitas sekitar sebelum berangkat.

Situasi Persiapan yang cocok Hal yang dihindari
Setelah hujan Sepatu anti-licin Berjalan terburu-buru
Pagi hari Periksa pijakan Hanya melihat pemandangan
Jalan musim dingin Pakaian hangat dan perlengkapan Masuk dengan pakaian tipis
Saat berfoto Menepi Menghalangi jalan

Etika di Akame Shijūhachi Taki | Berjalan Sambil Menjaga Alam

Lembah Akame adalah tempat untuk menikmati pemandangan sekaligus lingkungan alam tempat tumbuhan dan satwa hidup.

Bagi wisatawan asing pun, mengetahui etika dasar berjalan di taman alam Jepang akan membuat Anda bisa bertindak tanpa kebingungan di lokasi.

Jangan Membawa Pulang Tumbuhan atau Satwa

Ada imbauan untuk tidak memetik atau memindahkan satwa maupun tumbuhan di dalam lembah.

Lumut, tumbuhan liar pegunungan, serangga, dan ikan, sekalipun Anda temukan, sebaiknya tidak terlalu disentuh dan cukup dinikmati lewat foto atau pengamatan.

Lembah ini juga merupakan habitat berharga bagi salamander raksasa Jepang (ōsanshōuo), monumen alam khusus, sehingga sikap tidak menyentuh satwa secara sembarangan turut menjaga kelestarian alam.

Hindari Penggunaan Api

Di dalam lembah terdapat imbauan untuk tidak menggunakan api langsung seperti barbeku, api unggun, memasak, maupun peralatan berapi.

Jika ingin menikmati makanan, gunakan restoran di sekitar atau tempat yang sudah ditentukan, dan tanamkan kesadaran untuk membawa pulang sampah Anda.

Saat Memotret, Hargai Kelancaran Jalan dan Pemandangan

Di dekat air terjun, Anda perlu berhati-hati agar penggunaan tripod atau tongkat selfie tidak menghalangi lalu lintas orang di sekitar.

Di tempat yang ramai, sekadar memotret singkat lalu memberi tempat saja sudah membuat wisatawan lain lebih mudah menikmati pemandangan yang sama.

Situasi Yang boleh dilakukan Yang dihindari
Mengamati tumbuhan Melihat dan memotret Memetik
Tepi air Berjalan tenang Menangkap ikan
Istirahat Memberi jalan Menggunakan api
Memotret Menunggu giliran Menguasai tempat lama
Saat hujan Melangkah hati-hati Memaksakan diri

Cara Menuju Akame Shijūhachi Taki dan Harga Tiket Masuk | Dari Stasiun Akameguchi ke Lembah

Jika menuju dengan transportasi umum, dari Stasiun Akameguchi jalur Kintetsu Osaka beroperasi bus Mie Kotsu ke arah Akame Taki, dengan waktu tempuh sekitar 10 menit.

Karena jadwal dan kondisi operasional bus bisa berubah menurut musim dan hari, memeriksa informasi dari operator transportasi seperti Mie Kotsu sebelum berangkat akan memudahkan Anda menyusun rencana perjalanan.

Untuk menyusuri lembah diperlukan biaya pelestarian lembah (harga tiket masuk/biaya pendakian), yaitu dewasa 1.000 yen dan anak-anak (SD dan SMP) 500 yen.

Mudah Dimasukkan ke Rencana Perjalanan dari Osaka, Nagoya, dan Kyoto

Stasiun Akameguchi mudah dijangkau dari jalur Kintetsu, sehingga menjadi kandidat untuk dimasukkan ke dalam rencana perjalanan dari arah Osaka, Nagoya, dan Kyoto.

Dengan kereta ekspres Kintetsu, perkiraan waktu dari arah Osaka ke Stasiun Akameguchi sekitar 54 menit, dari arah Kyoto sekitar 1 jam 29 menit, dan dari arah Nagoya sekitar 1 jam 39 menit.

Bila berkunjung pulang-hari (day trip), periksa dulu bus dan kereta untuk pulang, lalu atur lama waktu di lembah agar tidak terburu-buru.

Bila Berkunjung dengan Mobil dan Tempat Parkir

Bila menggunakan mobil, tersedia tempat parkir gratis untuk sekitar 250 mobil di sekitar pintu masuk lembah.

Dari arah Osaka perkiraan sekitar 2 jam melalui Nishi-Meihan dan Meihan Kokudo, dan dari arah Nagoya sekitar 2 jam 30 menit melalui Higashi-Meihan dan Meihan Kokudo.

Jadikan Sekitar Pintu Masuk Bagian dari Perjalanan

Di sekitar pintu masuk terdapat Akame Taki Aquarium, "Ninja no Mori (Hutan Ninja)" tempat mengalami latihan ninja, serta tempat untuk makan dan berbelanja.

Akame adalah tempat yang konon dijadikan lokasi latihan oleh Momochi Sandayū, leluhur ninja Iga, sehingga menyelipkan pengalaman ninja atau waktu beristirahat di sekitar sebelum dan sesudah menyusuri air terjun akan membuat perjalanan Anda tidak sekadar mendaki jalan pegunungan.

Biasakan Memeriksa Cuaca dan Pembatasan

Lembah ini bisa terpengaruh oleh hujan lebat atau topan, dan terkadang ada pengumuman pembatasan pendakian atau pencabutannya.

Memeriksa pembatasan pendakian dan informasi transportasi bukan hanya sehari sebelumnya tetapi juga pada hari kunjungan, serta mengikuti petunjuk di lokasi, akan menjadi cara menikmati yang aman.

Kesimpulan | Tips Menikmati Akame Shijūhachi Taki dengan Tenang

Akame Shijūhachi Taki adalah lembah di Kota Nabari, Mie, yang kesannya makin mendalam bukan dengan mengejar jumlah dan nama air terjun, melainkan dengan berjalan sambil merasakan suara hutan, cara air jatuh, dan perubahan pijakan kaki.

Wisatawan asing akan lebih mudah menikmatinya sebagai wisata alam dengan memperhatikan sepatu yang nyaman dipakai berjalan, barang bawaan yang membebaskan kedua tangan, serta persiapan yang sesuai cuaca.

Dengan menjaga etika dasar seperti tidak membawa pulang satwa dan tumbuhan, tidak menggunakan api, serta saling mengalah di jalan sempit, alam Akame akan lebih mudah dilestarikan untuk pengunjung berikutnya.

Sebelum berangkat, periksa pembatasan pendakian dan informasi transportasi, lalu nikmati air terjun dan hutan Mie dengan ritme Anda sendiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Akame 48 Waterfalls adalah sebutan untuk gugusan air terjun dan jalur setapak yang membentang di ngarai Kota Nabari, Prefektur Mie. Di ngarai sepanjang sekitar 3,3 km tersebar 23 air terjun, dan tempat ini juga dikenal sebagai habitat Salamander Raksasa Jepang. Angka "48" dalam namanya adalah ungkapan untuk menyatakan jumlah yang banyak, dan mengetahui sejarahnya sebagai tempat latihan ninja Iga akan menambah unsur cerita pada penjelajahan alam.
A. Biaya pelestarian ngarai (biaya masuk) adalah dewasa 1.000 yen dan anak 500 yen. Biaya ini dipakai untuk kebersihan ngarai, manajemen keselamatan, dan pelestarian lingkungan alam. Menganggapnya bukan sekadar tiket masuk, melainkan dana kerja sama untuk menjaga air terjun dan biota, akan mendorong perilaku seperti tidak membuang sampah dan tidak keluar dari jalur saat menjelajah.
A. Dari Stasiun Akameguchi jalur Kintetsu Osaka, naik Bus Mie Kotsu sekitar 10 menit, lalu turun di halte "Akame-taki". Jumlah bus terbatas, dan pada April-November bus terakhir dari "Akame-taki" sekitar menjelang sore, jadi memeriksa jadwal pulang lebih dulu akan lebih aman. Dengan taksi, perpindahan dari stasiun bisa singkat, dan jika beberapa orang, kadang mudah dipakai dengan patungan.
A. Dari arah Osaka, Kyoto, dan Nagoya, Anda bisa pergi sehari ke Akame 48 Waterfalls. Dengan kereta ekspres Kintetsu, dari arah Osaka ke Stasiun Akameguchi sekitar 54 menit, dari arah Kyoto sekitar 1 jam 29 menit, dan dari arah Nagoya sekitar 1 jam 39 menit. Jika memadukan jelajah pulang-pergi ngarai dengan Hutan Ninja, tiba di lokasi pada pagi hari akan memberi kelonggaran untuk kembali dengan bus terakhir.
A. Jika berkeliling air terjun-air terjun utama dari pintu masuk, perkiraannya sekitar 90 menit hingga 3 jam pulang-pergi. Jika sampai ke bagian terdalam, jalannya panjang, dan ada tangga serta batu basah, jadi perlu keputusan untuk berbalik tergantung kondisi fisik dan cuaca. Orang yang berjalan sambil memotret butuh waktu lebih lama dari biasa, jadi menentukan jangkauan dengan menghitung mundur dari jadwal bus pulang akan lebih aman.
A. Akame Goppaku merujuk pada 5 air terjun utama: Fudo Falls, Senju Falls, Nunobiki Falls, Ninai Falls, dan Biwa Falls. Nunobiki Falls dengan ketinggian jatuh sekitar 30 m termasuk terbesar di ngarai dan jatuh putih seperti membentangkan kain, sementara Ninai Falls yang alirannya terbelah dua oleh batu besar di tengah disebut sebagai salah satu pemandangan khas ngarai. Tidak hanya dari depan, mengubah sedikit sudut membuat Anda melihat hingga perbedaan garis air yang menyusuri bebatuan.
A. Dedaunan musim gugur biasanya mencapai puncak pertengahan hingga akhir November, masa saat kontras putihnya air terjun dengan hutan yang memerah memikat di foto. Dari musim gugur hingga dingin, iluminasi "Taki Akari" biasanya diadakan mulai sekitar pukul 17.00 sore. Namun saat iluminasi, Anda hanya bisa maju sampai Fudo Falls yang dekat pintu masuk, jadi yang ingin melihat air terjun di dalam sebaiknya memisahkannya dengan jelajah siang agar bisa menikmati keduanya.
A. Sepatu yang tidak licin seperti sepatu kets beralas stabil atau sepatu trekking cocok dipakai. Di ngarai, batu basah setelah hujan atau di pagi hari mudah licin, dan sandal atau hak cenderung tidak stabil di area berundak. Memakai ransel agar kedua tangan bebas akan memudahkan bergerak saat memotret dan di undakan, dan ada baiknya mengingat bahwa menyiapkan crampon sederhana disarankan saat membeku di musim dingin.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.