Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Daiju-ji Okazaki: Sejarah Ieyasu & Vista Line Kastil

Kuil Daiju-ji Okazaki: Sejarah Ieyasu & Vista Line Kastil
Panduan Daiju-ji di Okazaki: sejarah Ieyasu, klan Matsudaira dan Tokugawa, Vista Line ke Kastil Okazaki, cagar budaya, dan etika ziarah.

Ringkasan Cepat

Daya Tarik Singkat

Daijuji di Kota Okazaki, Prefektur Aichi, adalah kuil aliran Jōdo yang terkait Tokugawa Ieyasu. Sebagai kuil leluhur keluarga Matsudaira dan keluarga shogun Tokugawa, Anda dapat menikmati dengan tenang kisah kebangkitan Ieyasu dan Vista Line yang memandang Kastil Okazaki.

Anekdot Kebangkitan Ieyasu

Setelah Pertempuran Okehazama, Ieyasu yang berusia 19 tahun berniat bunuh diri di depan makam leluhur, lalu diberi ungkapan Buddha "Onri-edo Gongu-jōdo" (menjauhi dunia tercemar dan mendambakan Tanah Suci) oleh kepala biara—sebuah titik balik. Ungkapan itu kemudian menjadi semboyan pada panji perangnya.

Pemandangan Vista Line

Pemandangan lurus sepanjang sekitar 3 km yang menghubungkan Daijuji dan Kastil Okazaki. Dari aula utama, melewati sanmon dan sōmon, Anda dapat memandang Kastil Okazaki tempat kelahiran Ieyasu; lanskap sekitar 380 tahun lalu masih terjaga hingga kini.

Sorotan di Area Kuil

Di area kuil terdapat tahōtō (pagoda dua tingkat) yang merupakan Properti Budaya Penting (dibangun pada tahun Tenbun 4), sanmon, aula utama, ōhōjō dengan lukisan dinding Reizei Tamechika, serta aula ihai tempat berjajar papan arwah seukuran tubuh para shogun turun-temurun.

Biaya Kunjungan dan Perkiraan Waktu

Biaya kunjungan dewasa 500 yen, SD/SMP 300 yen, balita gratis. Jam kunjungan 09.00–16.00 (pendaftaran hingga 15.50), area kuil dapat dikelilingi sekitar 1 jam.

Cara Menuju ke Sana

Sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Daimon jalur Aichi Loop Railway. Bisa juga tiba dari Stasiun Meitetsu Higashi-Okazaki dengan bus Meitetsu turun di halte "Daijuji" lalu berjalan kaki sekitar 5 menit.

Cara Menikmati Ziarah

Jika dikunjungi bersama Kastil Okazaki, tempat kelahiran dan tempat kebangkitan Ieyasu terhubung sebagai satu perjalanan. Di area makam dan aula ihai, berbicaralah pelan, dan untuk pemotretan ikuti panduan setempat.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Aichi

Apa Itu Daiju-ji | Kuil Buddha Aliran Jōdo di Okazaki yang Berkaitan dengan Tokugawa Ieyasu

Daiju-ji adalah kuil Buddha aliran Jōdo yang terletak di Kota Okazaki, Prefektur Aichi, dan menjadi tempat yang tak terpisahkan untuk memahami sejarah keluarga Matsudaira serta keluarga shogun Tokugawa.

Kuil ini diyakini didirikan pada tahun 1475 (tahun ke-7 era Bunmei) oleh Matsudaira Chikatada, generasi ke-4 keluarga Matsudaira. Di dalam kompleks kuil yang tenang, Anda dapat menelusuri kisah keluarga, keyakinan, dan kebangkitan kembali Tokugawa Ieyasu yang sulit terlihat hanya dari Kastil Okazaki saja.

Latar Belakang Sebagai Bodaiji Keluarga Matsudaira dan Keluarga Shogun Tokugawa

Daiju-ji dikenal sebagai bodaiji keluarga Matsudaira, dan kemudian juga terhubung erat dengan keluarga shogun Tokugawa.

Bodaiji adalah kuil tempat mendoakan arwah leluhur dan menjaga ingatan sebuah keluarga besar.

Di dalam kompleks kuil tersimpan makam delapan generasi keluarga Matsudaira serta ihai (papan nama arwah) berukuran seukuran manusia dari para shogun Tokugawa dari generasi ke generasi. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Jepang, memandang kuil ini bukan sekadar tempat wisata, melainkan tempat di mana sejarah keluarga samurai dan doa berpadu, akan membuatnya lebih mudah dipahami.

Makna Mengunjungi Daiju-ji dalam Wisata Okazaki

Okazaki dikenal sebagai tempat kelahiran Tokugawa Ieyasu, dan Daiju-ji adalah tempat yang menceritakan titik balik dalam hidupnya.

Jika Kastil Okazaki melambangkan "tempat ia dilahirkan", maka Daiju-ji dapat dipandang sebagai "tempat ia bangkit kembali".

Dengan mengunjungi kastil dan kuil sekaligus, Anda akan lebih mudah merasakan Ieyasu bukan hanya sebagai pahlawan, tetapi juga sebagai sosok manusia yang pernah dilanda keraguan.

Menikmati Ketenangan Sebuah Kuil

Di dalam kompleks kuil, suasana gerbang, bangunan aula, pemakaman, dan taman terhubung dengan lembut.

Alih-alih hanya lewat sambil mengambil foto, cobalah berhenti sejenak di depan Sanmon (gerbang utama) dan memandang susunan atap serta poros jalan setapak menuju kuil, maka ketenangan khas Daiju-ji akan mulai terasa.

Bahkan bagi Anda yang tidak begitu memahami sejarah, hal terpenting adalah berjalan dengan tenang terlebih dahulu dan merasakan waktu panjang yang telah lama dijaga kuil ini.

Mengenal Kisah Kebangkitan Ieyasu | Legenda "Onri Edo, Gongu Jōdo"

Yang membuat Daiju-ji begitu berkesan adalah legenda ketika Tokugawa Ieyasu menghadapi krisis dalam hidupnya.

Dengan mengetahui kata-kata "Onri Edo, Gongu Jōdo" yang diwariskan di kuil ini, cara Anda memandang kompleks kuil pun akan berubah drastis.

Legenda yang Diwariskan Setelah Pertempuran Okehazama

Menurut tradisi kuil, setelah Pertempuran Okehazama pada tahun 1560 (tahun ke-3 era Eiroku), Ieyasu muda yang saat itu berusia 19 tahun (saat itu bernama Matsudaira Motoyasu) melarikan diri ke Daiju-ji dan sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya di depan makam leluhur.

Saat itulah kata-kata "Onri Edo, Gongu Jōdo" konon diberikan kepadanya oleh Tōyo Tenshitsu Shōnin, kepala biara ke-13.

Legenda ini diceritakan sebagai titik balik ketika Ieyasu meninggalkan dunia zaman perang yang penuh kekacauan dan berbalik menuju tekad untuk mewujudkan dunia yang damai.

Menerima Makna Kata-Kata Ini dalam Perjalanan

"Onri Edo" mengandung makna membenci dan meninggalkan dunia yang ternoda.

"Gongu Jōdo" terhubung dengan gagasan mendambakan dan mencari dunia yang tenteram bagaikan Tanah Suci (Jōdo).

Kata-kata ini sebenarnya berasal dari kitab Buddha "Ōjōyōshū", tetapi daripada menghafalnya sebagai istilah Buddha yang rumit, memahaminya sebagai kata-kata yang mendambakan perdamaian setelah melewati zaman kekacauan akan terasa lebih dekat bagi para wisatawan.

Konon di kemudian hari Ieyasu mengibarkan delapan aksara ini pada panji perangnya dan menjadikannya pedoman hidup sepanjang hayatnya.

Sudut Pandang untuk Merasakan Ieyasu Lebih Dekat

Ieyasu sering diceritakan sebagai penguasa yang sempurna, tetapi di Daiju-ji ia terlihat sebagai sosok yang bangkit kembali dari keraguan.

Oleh karena itu, saat melihat pameran maupun bangunan, memusatkan perhatian bukan hanya pada sejarah kemenangan, melainkan juga pada keyakinan dan kata-kata yang menopangnya di saat-saat sulit, akan menambah kedalaman pengalaman.

Kemampuan untuk mengaitkan sejarah yang Anda temui dalam perjalanan dengan kehidupan Anda sendiri juga merupakan daya tarik Daiju-ji.


Cara Menikmati Vista Line yang Memandang ke Kastil Okazaki

Setelah mengunjungi Daiju-ji, Anda sebaiknya berjalan sambil menyadari keberadaan Vista Line yang memandang ke arah Kastil Okazaki.

Pemandangan yang menembus hingga ke kastil di seberang gerbang merupakan panorama simbolis di mana sejarah Okazaki dan penataan kotanya berpadu.

Apa Itu Vista Line

Vista Line merujuk pada garis pandang lurus sepanjang sekitar 3 kilometer yang menghubungkan Daiju-ji dengan Kastil Okazaki.

Asal-usulnya bermula saat Tokugawa Iemitsu, shogun ketiga, melakukan pembangunan besar-besaran Daiju-ji pada tahun 1641 (tahun ke-18 era Kan'ei) dalam rangka peringatan 17 tahun wafatnya Ieyasu. Ia menata susunan bangunan kuil sedemikian rupa sehingga dari aula utama, melalui Sanmon dan Sōmon (gerbang terluar), Kastil Okazaki yang merupakan tempat kelahiran kakeknya dapat terlihat tepat di tengah.

Dengan memandang kastil dari dalam kuil, Anda dapat memahami bahwa tempat kelahiran Ieyasu dan bodaiji keluarga Matsudaira terhubung dalam satu garis lurus.

Pemandangan yang berusia sekitar 380 tahun ini masih dijaga hingga kini, dan Kastil Okazaki yang terlihat melalui gerbang digambarkan bagaikan lukisan di dalam bingkai.

Kiat Saat Memandang Melalui Gerbang

Vista Line akan lebih mudah dipahami jika Anda tidak sekadar memandang ke kejauhan, melainkan menyadari titik tengah gerbang dan susunan atapnya.

Saat mencari kastil di balik Sanmon maupun Sōmon, pemandangan itu sendiri akan terasa bagaikan sebuah bingkai lukisan.

Karena Sōmon saat ini menjadi gerbang selatan SD Daiju-ji, harap menghargai peziarah di sekitar, pihak sekolah, dan kehidupan warga setempat dengan tidak menempati satu lokasi terlalu lama.

Situasi Sudut Pandang Hal yang Diperhatikan
Depan Sanmon Titik tengah gerbang Saling mengalah
Melalui Sōmon Mencari kastil Menjaga area terlarang
Sisi aula utama Merasakan poros Menahan bicara
Sisi kastil Memandang sebaliknya Utamakan keselamatan

Memandangnya Sebagai Panorama yang Dijaga oleh Masyarakat

Vista Line bukanlah daya tarik yang berdiri sendiri hanya di dalam kuil.

Di sepanjang garis panorama ini terpasang 92 paku logam berdiameter 5 sentimeter yang bertuliskan "Vista Line", dan pemandangan ini telah dijaga oleh seluruh warga kota.

Para wisatawan pun sebagai salah satu pihak yang turut berbagi panorama ini, sebaiknya memandangnya dengan tenang dan berupaya agar saat mengambil foto tidak mengganggu jalur lalu lalang maupun ibadah orang lain.

Daya Tarik untuk Menikmati Warisan Budaya dan Kompleks Kuil dengan Santai

Di dalam kompleks Daiju-ji tersebar bangunan dan warisan budaya yang menyampaikan sejarah keluarga Tokugawa.

Daripada menghafal nama satu per satu, dengan menyadari bangunan mana yang memiliki peran apa, Anda akan lebih mudah menjelajah meski baru pertama kali berkunjung.

Melihat Tahōtō dan Sanmon

Tahōtō (pagoda) adalah bangunan yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional, dibangun pada tahun 1535 (tahun ke-4 era Tenbun) oleh Kiyoyasu, generasi ke-7 keluarga Matsudaira, dan merupakan pagoda yang menunjukkan gaya akhir periode Muromachi.

Sanmon juga berkesan sebagai titik awal panorama yang mengarah ke Kastil Okazaki.

Selain bentuk dan ornamen bangunannya, dengan menyadari bahwa gerbang merupakan batas yang memisahkan bagian dalam dan luar kompleks kuil, makna ruang kuil akan menjadi lebih mudah dipahami.

Ketenangan Aula Utama dan Ōhōjō

Aula utama adalah tempat yang menjadi pusat doa.

Di Ōhōjō, dengan mengarahkan perhatian pada lukisan dinding karya Reizei Tamechika, pelukis gaya Yamato-e dari akhir periode Edo, serta ruang yang berkaitan dengan keluarga shogun, Anda dapat merasakan suasana perpaduan antara budaya samurai dan budaya kuil.

Sebelum menjadi benda pameran, warisan budaya ini dijaga sebagai sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan dan doa arwah.

Merasakan Ikatan Keluarga Tokugawa di Ihaidō

Ihaidō (aula ihai) adalah tempat penting untuk merenungkan doa arwah keluarga Matsudaira dan keluarga shogun Tokugawa.

Ihai berukuran seukuran manusia dari para shogun berbagai generasi berjajar di sini, dan berdiri di hadapannya, nama-nama tokoh sejarah tidak lagi terlihat sekadar sebagai daftar tahun, melainkan sebagai rangkaian silsilah keluarga dan doa.

Karena ketentuan boleh-tidaknya melihat bagian dalam serta rute kunjungan dapat berubah, ikutilah petunjuk di lokasi dan melangkahlah dengan tenang.

Merangkum Daya Tarik dalam Kompleks Kuil

Dengan mengetahui peran masing-masing bangunan sebelum berjalan, Anda akan mengurangi hal yang terlewat meski waktu kunjungan singkat.

Lokasi Sudut Pandang Latar Belakang
Tahōtō Bentuk atap Properti Budaya Penting
Sanmon Poros panorama Garis menuju kastil
Aula utama Pusat doa Inti kuil
Ōhōjō Lukisan dinding Budaya samurai
Ihaidō Tempat doa arwah Ingatan Tokugawa

Etika Berkunjung ke Daiju-ji yang Perlu Diketahui Wisatawan Asing

Daiju-ji adalah tempat wisata sekaligus kuil yang hingga kini masih dijaga sebagai tempat keyakinan.

Dengan memilih perilaku yang menghormati sejarah, para wisatawan pun dapat berziarah dengan nyaman.

Utamakan Petunjuk di Lokasi untuk Pengambilan Foto

Saat mengambil foto di dalam kompleks kuil, periksalah papan pengumuman atau arahan petugas.

Pengambilan foto di dalam bangunan, terhadap warisan budaya, atau saat upacara keagamaan berlangsung mungkin dibatasi.

Bahkan di tempat yang boleh difoto, penggunaan tripod atau menempati lokasi dalam waktu lama mudah mengganggu orang di sekitar, jadi sikap mengambil foto secara singkat dan saling mengalah akan lebih menenangkan.

Rendahkan Suara di Pemakaman dan Ihaidō

Di tempat yang berkaitan dengan doa arwah keluarga Matsudaira dan keluarga Tokugawa, mengecilkan volume percakapan adalah hal yang mendasar.

Jangan menyentuh batu nisan atau benda yang berkaitan dengan doa arwah secara sembarangan, dan jangan mengambil foto dari jarak yang terlalu dekat.

Cukup dengan menangkupkan tangan secara tenang, rasa hormat terhadap budaya kuil pun sudah tersampaikan dengan baik.

Tempat Melepas Sepatu dan Cara Menerima Goshuin

Di tempat yang mengharuskan naik ke dalam aula, terkadang ada petunjuk untuk melepas sepatu.

Tatalah sepatu yang telah dilepas dengan rapi, dan berhati-hatilah agar tidak merusak lantai atau warisan budaya dengan payung basah atau barang bawaan besar.

Jika Anda menginginkan goshuin (cap kunjungan kuil), karena ketersediaan pemberian maupun cara pelayanannya dapat berubah, memintanya setelah memeriksa loket resepsi atau petunjuk di lokasi akan lebih menenangkan.

Situasi Perilaku Baik Perilaku yang Dihindari
Foto di kompleks Periksa pengumuman Menempati lama
Dalam bangunan Ikuti petunjuk Foto tanpa izin
Sekitar pemakaman Tangkupkan tangan tenang Bicara keras
Tempat lepas sepatu Tata sepatu rapi Masuk beralas kaki
Goshuin Konfirmasi di resepsi Mendesak petugas

Harga Tiket Masuk, Jam Buka, dan Cara Menuju Daiju-ji

Jika Daiju-ji dikunjungi bersama Kastil Okazaki, kisah Ieyasu akan terhubung secara lebih utuh dan berdimensi.

Dengan menguasai informasi dasar kunjungan dan cara menuju lokasi lebih awal, perpindahan di hari kunjungan akan berjalan lancar.

Perkiraan Harga Tiket Masuk dan Jam Buka

Harga tiket masuk adalah 500 yen untuk dewasa, 300 yen untuk siswa SD dan SMP, serta gratis untuk balita.

Jam buka mulai pukul 9 hingga 16 (pendaftaran hingga pukul 15.50), dan dengan memperhitungkan sekitar 1 jam untuk mengunjungi kompleks kuil beserta Tahōtō dan Ihaidō, Anda dapat berkeliling dengan leluasa.

Karena terkadang kunjungan tidak dapat dilakukan akibat acara khusus kuil dan sebagainya, jika Anda bertujuan melihat warisan budaya atau menerima goshuin, memeriksa cara pendaftaran serta petunjuk hari itu sebelum berkunjung akan lebih menenangkan.

Menelusuri Sejarah Bersama Kastil Okazaki

Di Kastil Okazaki Anda mengenal sisi tempat kelahiran Ieyasu, sedangkan di Daiju-ji Anda dapat menyentuh kisah Ieyasu bangkit kembali.

Jika mengunjungi Kastil Okazaki terlebih dahulu, Anda akan lebih mudah membayangkan hubungan letaknya saat memandang kastil dari Daiju-ji.

Jika mengunjungi Daiju-ji terlebih dahulu, dengan melihat kastil melalui gerbang lalu menuju ke sisi kastil, timbullah kesenangan mengikuti garis panorama tersebut.

Periksa Transportasi Umum dan Petunjuk di Lokasi

Menuju Daiju-ji, ada cara dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari Stasiun Daimon jalur Aichi Loop Railway.

Dari Stasiun Higashi-Okazaki jalur Meitetsu, Anda juga dapat tiba dengan naik bus Meitetsu, turun di halte bus "Daiju-ji", lalu berjalan kaki sekitar 5 menit.

Karena status operasional dan lokasi pemberhentian bus dapat berubah, pada hari kunjungan periksalah petunjuk dari operator transportasi sebelum melakukan perpindahan.

Rangkuman | Menikmati Sejarah dan Panorama dengan Tenang di Daiju-ji

Daiju-ji adalah kuil aliran Jōdo tempat berpadunya kisah kebangkitan Tokugawa Ieyasu, doa arwah keluarga Matsudaira dan keluarga shogun Tokugawa, serta Vista Line yang memandang ke Kastil Okazaki.

Ini bukanlah tempat untuk mencari pengalaman wisata yang mencolok, melainkan tempat untuk mengenal latar belakang sejarah dan menerima dengan tenang pemandangan yang terbentang di balik gerbang.

Jika dikunjungi bersama Kastil Okazaki, Anda dapat menghubungkan tempat kelahiran dan tempat kebangkitan Ieyasu dalam satu rangkaian perjalanan.

Saat berziarah, periksalah petunjuk di lokasi, dan sambil menjaga etika dalam pengambilan foto maupun percakapan, cobalah menghadapi sejarah Okazaki dengan santai.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Daijuji adalah kuil aliran Jodo di Kota Okazaki, Prefektur Aichi, dan merupakan kuil pemakaman (kuil tempat mendoakan arwah keluarga) keluarga Matsudaira dan keluarga Shogun Tokugawa. Konon didirikan pada 1475 oleh Chikatada, generasi keempat Matsudaira; bila Kastil Okazaki adalah "tempat lahir" Ieyasu, menyusuri Daijuji sebagai "tempat ia bangkit kembali" dari kekalahan di Okehazama akan membuat kisahnya tampak lebih utuh.
A. Artinya membenci dan menjauhi dunia yang kacau serta mendambakan dunia damai bagai surga, dan berasal dari kitab Buddha "Ojoyoshu". Konon setelah Pertempuran Okehazama, ketika Ieyasu berusia 19 tahun berpikir untuk mengakhiri hidupnya di depan makam leluhur, biksu kepala ke-13 Toyo Tenshitsu Shonin memberinya kata ini, dan kelak Ieyasu mengibarkan delapan aksara ini pada panji perangnya sebagai pedoman seumur hidup.
A. Biaya kunjungan 500 yen untuk dewasa, 300 yen untuk SD dan SMP, gratis untuk balita, dan rombongan 15 orang lebih mendapat diskon 100 yen untuk dewasa. Jam kunjungan dari pukul 9 hingga 16 (penerimaan hingga 15.50). Termasuk area berbayar seperti Ohojo dan aula pusaka (aula ihai), siapkan sekitar 1 jam agar bisa menikmati hingga ihai keluarga Shogun dengan santai.
A. Naiklah bus Meitetsu jalur Daijuji dari Stasiun Meitetsu Higashi-Okazaki, turun di "Daijuji", lalu sekitar 5 menit berjalan kaki. Perjalanannya sekitar 15 menit dengan ongkos sekitar 260 yen. Jika berangkat dari Stasiun Daimon di Aichi Loop Line, jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki; opsi ini juga praktis bila Anda ingin bergerak dengan kereta tanpa terlalu bergantung pada jadwal bus.
A. Vista Line adalah pemandangan garis lurus sepanjang sekitar 3 km yang menghubungkan Daijuji dan Kastil Okazaki. Ini berasal dari penataan oleh shogun ketiga Iemitsu saat membangun kembali kompleks kuil pada peringatan 17 tahun wafatnya Ieyasu, agar tempat kelahiran sang kakek bisa terlihat. Karena menara utama Kastil Okazaki tampak terbingkai oleh gerbang Sanmon dan Somon dari sisi aula utama, membawa lensa telefoto akan memudahkan menangkap makna pemandangannya.
A. Di aula papan memorial (ihai), berjajar ihai seukuran tubuh dari para shogun Tokugawa secara turun-temurun. Konon dibuat sesuai tinggi badan saat wafat, sehingga cirinya adalah Anda bisa merasakan keberadaan tiap shogun melalui ukurannya. Alih-alih hanya menelusuri namanya, mengarahkan pandangan pada perbedaan tinggi ihai membuat rangkaian silsilah dan doa terasa begitu hidup.
A. Goshuin (tulisan tinta kenang-kenangan kunjungan) pada dasarnya bertuliskan "Enri-Edo Gongu-Jodo", dan goshuin biasa seharga 500 yen. Kadang muncul versi terbatas seperti goshuin kirie yang menggambarkan Somon dan Kastil Okazaki, dan bila dijelajahi bersama Kogetsuin tempat asal Matsudaira, Anda bisa merapikan alur kepercayaan keluarga Tokugawa di buku goshuin.
A. Tahoto yang merupakan Cagar Budaya Penting nasional adalah menara bergaya akhir zaman Muromachi yang dibangun oleh Kiyoyasu, generasi ketujuh Matsudaira, pada 1535, dengan atap indah yang bahkan disebut terbaik di wilayah Tokai. Di Ohojo juga tersisa lukisan dinding karya Reizei Tamechika, pelukis Yamato-e akhir zaman Edo, sehingga Anda bisa merasakan atmosfer berpadunya budaya samurai dan budaya kuil.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.