Nikmati Perjalanan ke Jepang!

10 Warisan Dunia & Power Spot Iwate | Chusonji & Motsuji

10 Warisan Dunia & Power Spot Iwate | Chusonji & Motsuji
Panduan 10 Warisan Dunia dan power spot Iwate: Chusonji, Motsuji, Takkoku Bishamondo, Mitsuishi, Hayachine, dan Situs Goshono.

Ringkasan Cepat

Daya tarik dalam sekilas

10 pilihan untuk menikmati budaya Buddhis Iwate dan lanskap spiritual secara tenang, dengan poros Warisan Dunia Hiraizumi, mengunjungi Chusonji, Motsuji, kuil, dan situs Jomon.

Warisan Dunia Hiraizumi (aset penyusun)

Terdaftar pada 2011. Lima aset — Chusonji, Motsuji, situs Kanjizaioin, situs Muryokoin, dan Kinkeisan — merepresentasikan pemikiran Tanah Murni (Pure Land).

Daya tarik

Konjikido (Harta Nasional) dan Tsukimizaka Chusonji, taman Tanah Murni (Pure Land) Motsuji yang berpusat pada Kolam Oizumigaike, serta batu raksasa Kuil Mitsuishi dan legenda cap tangan iblis.

Akses

Hiraizumi berbasis di Stasiun JR Hiraizumi, ke Chusonji sekitar 5 menit dengan bus atau 20 menit berjalan, dan Motsuji sekitar 7 menit berjalan. Morioka sedikit lebih dari 2 jam dari Tokyo dengan Shinkansen.

Biaya dan bus keliling

Biaya kunjungan Chusonji: dewasa ¥1.000, siswa SMA ¥700, siswa SMP ¥500, siswa SD ¥300. Bus keliling Hiraizumi "Run-Run" ¥200 sekali naik, tiket harian ¥550.

Perkiraan waktu dan cara berkeliling

Warisan Dunia Hiraizumi dapat dikelilingi dalam setengah hari–1 hari dengan berjalan atau sepeda sewaan. Ke arah Hanamaki dan Ichinohe, mobil sewaan lebih praktis.

Hal yang bisa dialami

Festival Iris dan Festival Hagi Motsuji, kepercayaan gunung dan kagura Kuil Hayachine, serta merasakan budaya Jomon di Situs Goshono.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Iwate

10 Situs Warisan Dunia dan Tempat Spiritual di Iwate serta Cara Menikmatinya

Jika ingin menjelajahi Situs Warisan Dunia dan tempat spiritual di Iwate, mulailah dengan menjadikan Warisan Dunia Hiraizumi sebagai poros perjalanan agar makna wisata Anda lebih mudah dipahami.

Warisan budaya Hiraizumi terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO pada tahun 2011 (Heisei 23) dengan nama "Hiraizumi—Kuil, Taman, dan Situs Arkeologi yang Merepresentasikan Tanah Suci Buddha (Jōdo)".

Dengan memadukan kuil Buddha, taman, situs bersejarah, gunung, kuil Shinto, dan situs zaman Jomon, Anda dapat merasakan secara utuh budaya Buddha, kepercayaan lokal, dan cara pandang terhadap alam yang tersisa di Iwate.

Menjadikan Hiraizumi sebagai Perjalanan Membaca Pemikiran Tanah Suci melalui Pemandangan

Di Chūson-ji dan Mōtsū-ji, kesan akan lebih mendalam bukan hanya dengan memandang bangunannya, tetapi juga dengan menyadari hubungan posisi antara kolam, gunung, jalan menuju kuil, dan reruntuhan.

Warisan Dunia Hiraizumi memiliki keistimewaan berupa terjaganya secara utuh kuil, taman, dan situs arkeologi yang dibangun berdasarkan pemikiran Tanah Suci (Jōdo) dalam ajaran Buddha.

Aset penyusun yang terdaftar berjumlah 5 buah, yaitu Chūson-ji, Mōtsū-ji, situs Kanjizaiō-in, situs Muryōkō-in, dan Gunung Kinkeisan.

Kunjungi Tempat Spiritual untuk Menenangkan Hati

Tempat spiritual dalam artikel ini bukan berarti tempat yang mengabulkan permohonan, melainkan tempat di mana Anda dapat menghabiskan waktu dengan tenang sambil merasakan suasana sejarah dan kepercayaan.

Di kuil Shinto maupun kuil Buddha, ketentuan mengenai pemotretan atau area yang boleh dimasuki berbeda-beda tergantung tempatnya, jadi lebih aman untuk memeriksa papan petunjuk setempat atau panduan resmi sebelum bertindak.

Ciri Khas Iwate Terlihat dari Perpaduan Warisan Dunia dan Kepercayaan Lokal

Dengan memadukan taman Tanah Suci Hiraizumi, legenda Morioka, kepercayaan gunung Hayachine-san, dan budaya Jomon situs Goshono-iseki, Anda dapat menikmati secara luas budaya spiritual Iwate.

Untuk kunjungan singkat, fokuskan pada Hiraizumi; jika waktu memungkinkan, perluas hingga ke arah Morioka, Hanamaki, dan Ichinohe agar perjalanan lebih bervariasi.

Menentukan area yang sesuai berdasarkan tujuan perjalanan akan memudahkan penyusunan rencana.

Tujuan Perjalanan Area Utama Spot yang Cocok
Fokus Warisan Dunia Hiraizumi Chūson-ji dan Mōtsū-ji
Menikmati taman Hiraizumi Mōtsū-ji dan situs Kanjizaiō-in
Menyentuh legenda Morioka Mitsuishi-jinja
Kepercayaan alam Hanamaki Hayachine-jinja
Budaya Jomon Ichinohe Situs Goshono-iseki

Warisan Dunia Hiraizumi | Menyusuri Chūson-ji & Mōtsū-ji sebagai Pusatnya

Jika baru pertama kali mengunjungi Warisan Dunia Iwate, menyusuri Chūson-ji dan Mōtsū-ji sebagai pusat akan memudahkan Anda memahami gambaran menyeluruh Hiraizumi.

Keduanya merupakan tempat yang mewariskan budaya klan Fujiwara Ōshū hingga kini, di mana kemegahan Konjikidō (aula emas) dan ketenangan taman Tanah Suci menampilkan pesona yang kontras.

Dari Stasiun JR Hiraizumi, dengan menggunakan bus keliling Hiraizumi "Run Run" (200 yen sekali naik, tiket bebas naik 1 hari 550 yen) yang beroperasi terutama pada akhir pekan dan hari libur, Anda dapat berkeliling Chūson-ji, Mōtsū-ji, situs Muryōkō-in, dan lainnya secara efisien.

Chūson-ji | Menyentuh Jiwa Hiraizumi melalui Konjikidō dan Jalan Menuju Kuil

Chūson-ji adalah kuil yang mewakili Hiraizumi, dan di dalam kawasannya diwariskan berbagai benda budaya yang berkaitan dengan seni Buddha zaman Heian, termasuk Konjikidō.

Konjikidō adalah aula Amida yang dibangun pada tahun 1124 (Tenji 1) oleh Kiyohira, generasi pertama klan Fujiwara Ōshū, dan dikenal sebagai Harta Nasional yang melambangkan pemikiran Tanah Suci Hiraizumi karena seluruh bangunannya dilapisi lembaran emas.

Momen menyusuri jalan menuju kuil juga penting; dengan melewati jalan menanjak bernama "Tsukimizaka" yang dikelilingi pepohonan, Anda dapat merasakan suasana bahwa seluruh gunung ini telah diwariskan sebagai ruang doa.

Fasilitas yang termasuk dalam tiket kunjungan (termasuk Konjikidō) dikenai biaya, dengan harga tiket masuk 1.000 yen untuk dewasa, 700 yen untuk siswa SMA, 500 yen untuk siswa SMP, dan 300 yen untuk siswa SD (jam kunjungan 8.30–17.00 pada 1 Maret–3 November, dan 8.30–16.30 pada 4 November–akhir Februari, dengan penerbitan tiket hingga 10 menit sebelum tutup).

Di sekitar Konjikidō, periksalah papan petunjuk mengenai panduan dalam aula dan pemotretan, serta berkunjunglah dengan kesadaran menjaga benda cagar budaya.


Mōtsū-ji | Memandang Taman Tanah Suci Berpusat pada Kolam Ōizumi-ga-ike

Mōtsū-ji adalah kuil yang menyimpan taman Tanah Suci berpusat pada kolam Ōizumi-ga-ike serta reruntuhan kompleks bangunan (garan) zaman Heian.

Di taman ini, permukaan air kolam, susunan batu, dan hijaunya latar belakang menyatu, memancarkan pemikiran yang berupaya mewujudkan dunia Buddha di atas bumi.

Pada pertengahan hingga akhir Juni di awal musim panas diadakan Ayame Matsuri (festival bunga iris), dan pada awal musim gugur diadakan Hagi Matsuri (festival bunga hagi), sehingga Anda dapat menikmati taman Tanah Suci bersama bunga-bunga musiman.

Alih-alih terburu-buru hanya melihat bangunannya, memandang perlahan sekeliling kolam akan lebih menyampaikan budaya taman Hiraizumi.

Kesan terhadap Chūson-ji dan Mōtsū-ji dapat sangat berubah tergantung cara memandangnya, jadi memahami poin-poin penting sebelum berkunjung akan memperdalam pemahaman.

Spot Sudut Pandang Kesan Perjalanan
Chūson-ji Aula dan jalan menuju kuil Megah
Mōtsū-ji Kolam dan taman Hening
Situs Kanjizaiō-in Reruntuhan taman Ruang kosong
Situs Muryōkō-in Penataan dengan gunung Imajinasi
Kinkeisan Gunung suci Simbol


Menikmati Pemikiran Tanah Suci secara Mendalam di Situs Bersejarah Hiraizumi

Bukan hanya Chūson-ji dan Mōtsū-ji, dengan menyusuri hingga situs bersejarah di sekitarnya, Anda akan lebih mudah merasakan bahwa Hiraizumi dirancang sebagai satu kota religius.

Di tempat yang bangunannya tidak lagi tersisa, ada kesenangan tersendiri dalam membayangkan pemandangan masa lalu dengan berpegang pada bekas kolam, batu fondasi, dan cara gunung terlihat.

Situs Kanjizaiō-in | Menikmati Ruang Kosong di Bekas Taman yang Tenang

Situs Kanjizaiō-in adalah situs bersejarah yang terletak tepat di sebelah timur Mōtsū-ji, di mana Anda dapat menyentuh estetika Hiraizumi melalui bekas taman berpusat pada kolam Maizuru-ga-ike yang telah direstorasi.

Meski bukan tempat yang menyisakan bangunan megah, dengan memandang kolam dan ruang yang lapang, perjalanan ini menjadi ajang membayangkan aula-aula yang telah hilang.

Tempat ini juga cocok bagi wisatawan yang ingin berjalan dengan tenang menghindari keramaian.

Situs Muryōkō-in | Merasakan Penataan dengan Latar Gunung Kinkeisan

Situs Muryōkō-in adalah bekas kuil yang menurut cerita dibangun oleh Hidehira, generasi ketiga klan Fujiwara Ōshū, dengan meniru Byōdō-in Hōō-dō di Uji, dan merupakan situs bersejarah di mana Anda dapat merasakan rancangan lanskap Hiraizumi.

Saat ini merupakan tempat yang dikunjungi terutama untuk melihat reruntuhannya, tetapi dengan menyadari hubungannya dengan Gunung Kinkeisan di belakangnya, Anda dapat melihat pemikiran Hiraizumi yang memandang bangunan, taman, dan gunung sebagai satu kesatuan.

Tempat ini kadang diceritakan melalui keindahan pemandangan matahari terbenam yang bertumpang tindih dengan Gunung Kinkeisan, tetapi saat berkunjung, berhati-hatilah terhadap pijakan dan lingkungan sekitar serta berkunjunglah dengan tenang.

Kinkeisan | Gunung Suci yang Disadari sebagai Pusat Hiraizumi

Gunung Kinkeisan, meski hanya gunung kecil dengan ketinggian sekitar 98 meter, merupakan tempat suci yang penting untuk memahami Warisan Dunia Hiraizumi.

Di Hiraizumi, bukan hanya kuil dan taman, gunung itu sendiri pun memiliki peran penting dalam kepercayaan dan perancangan kota.

Alih-alih menjadikan pendakian sebagai tujuan, dengan menyadari posisi gunung yang terlihat dari Mōtsū-ji atau situs Muryōkō-in, lanskap Hiraizumi akan lebih mudah dibaca.

Tempat Doa yang Ingin Dikunjungi di Sekitar Hiraizumi

Jika ingin menambahkan satu lagi tujuan pada perjalanan Hiraizumi, Takkoku-no-Iwaya Bishamon-dō, yang dikenal sebagai aula yang dibangun di dalam gua batu, akan meninggalkan kesan mendalam.

Meski bukan aset penyusun Warisan Dunia, tempat ini merupakan spot yang layak dipertimbangkan bersamaan karena memiliki keterkaitan erat dalam memahami sejarah Hiraizumi.

Takkoku-no-Iwaya Bishamon-dō | Lanskap Unik dari Tebing Batu dan Aula

Takkoku-no-Iwaya Bishamon-dō adalah kuil tua dengan sosok aula yang berkesan, dibangun seolah menempel pada gua batu.

Tempat ini dianggap sebagai kuil pelindung negara yang berasal dari pendiriannya oleh Sakanoue no Tamuramaro pada tahun 801 (Enryaku 20), dan ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Nasional dengan nama "Takkoku-no-Iwaya".

Tebing batu, aula, dan alam sekitarnya bertumpang tindih dalam jarak dekat, menghadirkan pemandangan doa yang penuh ketegangan berbeda dari pusat Hiraizumi.


Makna Melihatnya Bersama Situs Bersejarah Hiraizumi

Takkoku-no-Iwaya Bishamon-dō cocok bagi wisatawan yang ingin memahami secara luas budaya Buddha dan kepercayaan lokal Hiraizumi.

Tempat ini berjarak sekitar 10 menit berkendara ke arah barat dari Mōtsū-ji, dengan lokasi yang mudah dikunjungi dari pusat Hiraizumi menggunakan sepeda sewa atau mobil.

Saat berkunjung, utamakan papan petunjuk di dalam aula dan area kuil, serta patuhi arahan setempat di tempat yang memiliki aturan mengenai pemotretan atau area yang boleh dimasuki.

Kuil Shinto yang Menghadirkan Ciri Khas Iwate di Morioka

Jika Hiraizumi adalah pusat budaya Buddha, di Morioka Anda dapat menyentuh kisah khas Iwate dengan mengunjungi kuil Shinto yang mengakar pada nama tempat dan kehidupan sehari-hari.

Kuil Shinto yang bisa disisipkan dalam jalan-jalan kota Morioka juga menarik karena mudah disinggahi dengan tenang di sela-sela wisata.

Mitsuishi-jinja | Mengunjungi Legenda Terkait Nama Iwate

Mitsuishi-jinja adalah kuil Shinto di Kota Morioka yang dikenal dengan tiga batu granit raksasa dan legenda cap tangan iblis.

Ada cerita bahwa iblis yang berbuat jahat ditangkap dan dipaksa menekankan cap tangannya pada tiga batu agar tidak datang lagi, dan dari batu yang menyisakan cap tangan (te-gata) inilah nama provinsi "Iwate" konon berasal.

Kegembiraan atas kepergian iblis yang dirayakan dengan menari mengelilingi batu konon menjadi awal mula "Sansa Odori" (tarian Sansa), sekaligus menjadi asal-usul julukan lain Morioka, "Kozukata".

Meski bukan fasilitas wisata besar, tempat ini akan berkesan bagi mereka yang ingin menyentuh kisah di balik nama tempat Iwate.

Morioka Hachiman-gū | Merasakan Kepercayaan yang Mengakar dalam Kehidupan

Morioka Hachiman-gū adalah kuil Shinto yang dibangun oleh Nanbu Shigenobu pada tahun 1680 (Enpō 8) dan telah terjalin erat dengan kehidupan masyarakat Morioka.

Honda-wake-no-mikoto yang dipuja di sini konon dihormati sebagai dewa sumber kehidupan manusia, mencakup pertanian, industri, perdagangan, ilmu pengetahuan, serta sandang, pangan, dan papan.

Aula besar berwarna merah yang dibangun kembali pada tahun 1997 (Heisei 9) memiliki kehadiran yang menonjol bahkan di tengah kota, dengan suasana yang mudah dikunjungi bagi wisatawan mancanegara yang ingin merasakan pengalaman berdoa di kuil Shinto dalam wisata Morioka.


Menyentuh Kepercayaan Gunung dan Warisan Dunia Jomon

Pemandangan doa di Iwate tidak berakhir hanya di Hiraizumi dan Morioka.

Dengan menyentuh budaya yang menjadikan gunung sebagai objek kepercayaan serta kehidupan spiritual zaman Jomon, kedalaman waktu Iwate akan terlihat.

Hayachine-jinja | Merasakan Suasana Kepercayaan Gunung

Hayachine-jinja adalah kuil Shinto di mana Anda dapat merasakan kepercayaan gunung yang berkaitan dengan Gunung Hayachine-san (ketinggian 1.917 meter), puncak tertinggi Pegunungan Kitakami.

Hayachine-jinja yang terletak di distrik Take, Kota Hanamaki wilayah Ōhasama-machi, konon didirikan pada tahun 807 (Daidō 2) dan merupakan salah satu dari beberapa Hayachine-jinja yang ada di sekitar Gunung Hayachine-san.

Pada perayaan tahunan setiap 1 Agustus, kuil ini juga dikenal karena dipersembahkannya Hayachine Kagura (tarian ritual Kagura Hayachine) yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

Karena ada kuil Shinto dengan nama yang mirip di sekitarnya, saat mencari tujuan kunjungan akan lebih aman untuk memeriksa lokasi dan panduan resmi sebelum berangkat.


Situs Goshono-iseki | Menyusuri Warisan Dunia Zaman Jomon

Situs Goshono-iseki adalah bekas permukiman zaman Jomon pertengahan akhir (sekitar 5.000–4.200 tahun lalu) yang terletak di Ichinohe-machi, Prefektur Iwate, dan merupakan salah satu aset penyusun "Situs Jomon di Hokkaido dan Tohoku Utara" yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2021.

Bangunan lubang (tateana) yang telah direstorasi serta reruntuhan gundukan tanah (morido) yang diperkirakan berkaitan dengan ritual terbentang luas, sehingga Anda dapat merasakan kehidupan dan budaya spiritual masyarakat Jomon secara dekat.

Jika Hiraizumi adalah tempat yang menyampaikan dunia ideal ajaran Buddha, maka situs Goshono-iseki adalah tempat untuk merenungkan kehidupan dan budaya spiritual zaman Jomon.

Karena Anda dapat menyentuh bentuk doa yang berbeda dari kuil, tempat ini cocok bagi wisatawan yang ingin mengenal Warisan Dunia Iwate secara luas.

Cara Menuju Situs Warisan Dunia dan Tempat Spiritual di Iwate

Situs Warisan Dunia dan tempat spiritual di Iwate tersebar di area yang luas mulai dari Hiraizumi, Morioka, Hanamaki, hingga Ichinohe, jadi mengatur sarana transportasi sejak awal akan memudahkan penyusunan rencana.

Area Hiraizumi mudah dikelilingi dengan bus keliling, berjalan kaki, atau sepeda sewa berpusat pada Stasiun JR Hiraizumi, sementara untuk arah Morioka, Hanamaki, dan Ichinohe lebih praktis menggunakan Shinkansen JR Tohoku atau mobil sewa.

Cara Berkeliling Area Hiraizumi

Chūson-ji berjarak sekitar 5 menit dengan bus dari Stasiun JR Hiraizumi, atau sekitar 20 menit berjalan kaki, sedangkan Mōtsū-ji dekat, hanya sekitar 7 menit berjalan kaki dari Stasiun Hiraizumi, dengan spot-spot utama yang terkumpul di sekitar stasiun.

Situs Kanjizaiō-in dan situs Muryōkō-in juga berada dalam area ini, sehingga dengan waktu setengah hari hingga satu hari Anda dapat menyusuri sekilas Warisan Dunia Hiraizumi secara keseluruhan.


Cara Memperluas ke Area Morioka, Hanamaki, dan Ichinohe

Morioka berjarak sekitar lebih dari 2 jam dari Stasiun Tokyo dengan Shinkansen JR Tohoku, dan Mitsuishi-jinja serta Morioka Hachiman-gū dapat dikunjungi dengan berjalan kaki atau bus reguler dari pusat kota.

Karena frekuensi transportasi umum ke Hayachine-jinja (Ōhasama-machi, Kota Hanamaki) dan situs Goshono-iseki (Ichinohe-machi) terbatas, menggunakan mobil sewa akan menambah kebebasan bergerak.


Etika Berdoa yang Perlu Diketahui Wisatawan Mancanegara

Kuil dan situs bersejarah di Iwate merupakan tempat wisata sekaligus tempat yang menjaga kepercayaan dan benda cagar budaya.

Anda tidak perlu menghafal tata cara khusus dengan sempurna, tetapi yang penting adalah berjalan dengan tenang, membaca papan petunjuk, dan tidak mengganggu peziarah lain.

Ambil Foto Setelah Memeriksa Papan Petunjuk

Di kuil Buddha maupun kuil Shinto, pemotretan kadang dibatasi di sebagian area kawasan.

Di benda cagar budaya, dalam aula, dan sekitar tempat pemberian jimat, periksalah papan mengenai boleh atau tidaknya pemotretan, dan jika ragu lebih aman memutuskan untuk tidak mengambil foto.

Jangan Menghalangi Alur Peziarah

Di jalan menuju kuil, depan aula pemujaan, dan jalan sempit taman, perhatikanlah tempat Anda berhenti.

Saat mengambil foto pun, menyelesaikannya dengan singkat agar tidak menghentikan alur ibadah atau kunjungan orang lain akan membuat waktu terasa lebih tenang.

Ikuti Panduan Setempat untuk Goshuin dan Jimat

Layanan goshuin (stempel kunjungan) dan jimat kadang berbeda tergantung kuil atau harinya.

Informasi terperinci seperti biaya, jam layanan, dan cara pemberian sebaiknya diperiksa melalui panduan resmi atau papan setempat, dan saat ramai patuhilah antrean sambil menunggu giliran.

Berikut tindakan yang sering membingungkan saat berdoa, khusus untuk wisatawan.

Situasi Tindakan yang Dianjurkan Tindakan yang Dihindari
Dalam aula Periksa papan petunjuk Memotret tanpa izin
Jalan menuju kuil Berjalan di tepi Menghalangi jalan
Taman Menikmati dengan tenang Melewati pagar
Tempat pemberian jimat Menunggu giliran Mendesak orang lain
Situs bersejarah Perhatikan pijakan Menyentuh reruntuhan

Kesimpulan | Menyusuri Warisan Dunia dan Pemandangan Doa Iwate dengan Tenang

Perjalanan menjelajahi Situs Warisan Dunia dan tempat spiritual di Iwate akan lebih mudah dipahami jika dimulai dari merasakan pemikiran Tanah Suci Hiraizumi berpusat pada Chūson-ji dan Mōtsū-ji.

Dengan melangkah hingga ke situs Kanjizaiō-in, situs Muryōkō-in, dan Gunung Kinkeisan, Anda akan melihat pandangan dunia Hiraizumi yang mencakup bukan hanya bangunan, tetapi juga taman dan gunung.

Dengan memadukan Takkoku-no-Iwaya Bishamon-dō, Mitsuishi-jinja, Morioka Hachiman-gū, Hayachine-jinja, dan situs Goshono-iseki, Anda dapat merasakan keterkaitan antara budaya Buddha, kepercayaan Shinto, kepercayaan gunung, dan budaya Jomon yang tersisa di Iwate.

Saat berkunjung, periksalah panduan resmi dan papan setempat, dan nikmatilah pemandangan doa Iwate sambil menjaga ketenangan dalam berdoa serta kepedulian terhadap benda cagar budaya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Aset penyusun Situs Warisan Dunia Hiraizumi ada 5, yaitu Chuson-ji, Motsu-ji, Reruntuhan Kanjizaio-in, Reruntuhan Muryoko-in, dan Kinkeisan. Pada 2011, situs ini terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO dengan nama "Hiraizumi—Kuil, Taman, dan Situs Arkeologi yang Menggambarkan Tanah Buddha (Tanah Suci)". Cirinya adalah kuil, taman, situs bersejarah, dan gunung suci yang dilindungi sebagai satu kesatuan, jadi berjalanlah sambil menyadari hubungan posisi bangunan dengan kolam dan gunung, bukan bangunan tunggal, agar pemikiran Tanah Suci terasa lebih utuh.
A. Tiket masuk Konjikido Chuson-ji (biaya kunjungan yang dibayar di kuil) adalah 1.000 yen untuk dewasa. Tarifnya 700 yen untuk siswa SMA, 500 yen untuk siswa SMP, dan 300 yen untuk siswa SD, dengan jam 08.30–17.00 pada 1 Maret–3 November, dan hingga 16.30 pada 4 November–akhir Februari. Penerbitan tiket ditutup 10 menit sebelum jam tutup. Konjikido berada di dalam aula pelindung, jadi di dalam aula ikuti papan petunjuk mengenai boleh atau tidaknya memotret.
A. Konjikido adalah aula Amida yang dibangun oleh Kiyohira, pendiri generasi pertama klan Fujiwara Oshu, pada tahun pertama era Tenji (1124), sebuah Harta Nasional yang seluruh aulanya berlapis lembaran emas. Dikenal sebagai bangunan yang melambangkan pemikiran Tanah Suci Hiraizumi, kerajinan hiasan kerang (raden) dan seni pernis di bagian dalamnya dianggap sebagai puncak seni Buddha era Heian. Fakta bahwa jasad empat generasi klan Fujiwara termasuk Kiyohira tersimpan di dalam Konjikido juga baik diingat sebagai latar sejarah unik yang tak ditemukan di kuil lain, agar kunjungan terasa lebih mendalam.
A. Daya tarik Motsu-ji adalah taman Tanah Suci era Heian yang berpusat pada Kolam Oizumi, dengan susunan batu dan pantai kerikil yang ditata di kolam sepanjang sekitar 180 meter timur-barat. Festival Iris digelar biasanya pertengahan hingga akhir Juni, saat sekitar 300 jenis dan 30.000 rumpun iris bermekaran, dan di awal musim gugur juga diadakan Festival Hagi. Saat bunga mekar, pemandangan taman yang terpantul di permukaan kolam oleh cahaya rendah pagi hari terlihat indah, dan mengelilingi tepian kolam perlahan menjadi cara utama untuk menikmati taman ini daripada hanya berfokus pada bangunannya.
A. Bus keliling Hiraizumi "Run Run" praktis, beroperasi terutama pada Sabtu, Minggu, dan hari libur, dengan tarif 200 yen sekali naik dan tiket bebas seharian 550 yen. Berpangkal di Stasiun Hiraizumi, bus ini menghubungkan Motsu-ji, Chuson-ji, Reruntuhan Muryoko-in, dan lainnya. Sekitar 13–17 Agustus saat Obon sering beralih ke operasi setiap hari, dan bila berkunjung di hari kerja jumlah armadanya terbatas, jadi memadukan sewa sepeda di depan stasiun akan menambah keleluasaan bergerak.
A. Chuson-ji berada di atas bukit sekitar 5 menit naik bus atau sekitar 20 menit berjalan kaki dari Stasiun JR Hiraizumi. Motsu-ji dekat, sekitar 7 menit berjalan kaki dari stasiun, dan tempat-tempat utama terkumpul di sekitar stasiun. Dengan setengah hari hingga satu hari, Anda bisa berjalan kaki termasuk ke Reruntuhan Kanjizaio-in dan Reruntuhan Muryoko-in. Karena Chuson-ji menanjak terus di Tsukimizaka, menggunakan bus untuk arah naik akan menghemat tenaga.
A. Kuil Mitsuishi di Kota Morioka adalah kuil yang diceritakan sebagai asal nama tempat "Iwate". Ada legenda bahwa iblis yang berbuat jahat diikat pada tiga batu raksasa dan dipaksa menekankan cap tangan pada batu sebagai bukti tidak akan datang lagi. Konon, menari mengelilingi batu karena gembira iblis pergi menjadi awal "Sansa Odori", dan tanah tempat iblis tak lagi datang juga diceritakan sebagai asal nama lain "Kozukata".
A. Situs Goshono adalah bekas permukiman zaman Jomon periode pertengahan akhir yang terletak di Kota Ichinohe, Prefektur Iwate. Sebagai situs berusia sekitar 5.000–4.200 tahun, situs ini terdaftar sebagai Situs Warisan Budaya Dunia pada 2021 sebagai aset penyusun "Situs Jomon di Hokkaido dan Tohoku Utara". Bangunan lubang pit dan struktur gundukan yang dipugar terbentang luas, dan bangunan lubang pit yang dipugar dengan atap tanah menjadi daya tarik yang tergolong langka secara nasional.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.