Apa Itu Joya no Kane? Tradisi Pergantian Tahun Khas Jepang
Joya no Kane adalah tradisi pergantian tahun di Jepang yang dilakukan dengan membunyikan bonshō (lonceng besar kuil) di kuil Buddha pada malam Ōmisoka (31 Desember) hingga awal hari Tahun Baru.
"Joya" berarti malam terakhir tahun lama, yaitu malam di akhir tahun.
Di Jepang ada budaya mengunjungi kuil Buddha atau jinja saat akhir tahun dan awal tahun, dan di antaranya, Joya no Kane telah lama dicintai sebagai waktu untuk merefleksikan pergantian tahun dengan tenang.
Di banyak kuil, para biksu yang membunyikan lonceng, dan para pengunjung mendengarkan suaranya.
Selain itu, di beberapa kuil tertentu, pengunjung umum juga bisa berpartisipasi dalam kanetsuki (pengalaman membunyikan lonceng).
Namun, metode pelaksanaan dan syarat partisipasi berbeda di setiap kuil, jadi penting untuk mengikuti panduan di lokasi.

Apa Makna Joya no Kane? Mengapa Dibunyikan 108 Kali
Joya no Kane memiliki makna untuk menyingkirkan bonnō (hawa nafsu duniawi) dan menyambut tahun baru dengan hati yang tenang.
Secara umum, sering dijelaskan bahwa lonceng dibunyikan 108 kali karena angka tersebut melambangkan jumlah bonnō manusia, dan secara luas dikenal pemikiran bahwa suara lonceng menyingkirkan kebimbangan dan keterikatan hati untuk menyambut tahun baru dengan hati yang bersih.
Mengenai asal usul angka 108, terdapat berbagai pendapat, contohnya "kombinasi kebimbangan yang muncul dari rokkon (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran)", "shiku-hakku (4×9 + 8×9 = 108)", "jumlah dari 12 bulan + 24 sekki (24 musim) + 72 kō (72 fase mikro) = 108", dan lainnya.
Bagi wisatawan asing, ini adalah tradisi yang memberikan suasana pergantian tahun khas Jepang yang sedikit berbeda dari hitungan mundur yang meriah.
Daripada kemeriahan, ciri khas tradisi ini adalah kesadaran akan pergantian tahun di tengah suara dan ketenangan.
Sejarah dan Asal Usul Joya no Kane
Asal usul Joya no Kane diperkirakan berasal dari kuil aliran Zen di Tiongkok pada Dinasti Song, dan diceritakan bahwa di Jepang diadopsi di kuil Zen sejak periode Kamakura, dan menjadi tradisi pergantian tahun dari Ōmisoka hingga Tahun Baru pada periode Muromachi.
Sejak era modern, tradisi ini menyebar sebagai pemandangan khas pergantian tahun, dan saat ini dilaksanakan di banyak kuil.
Di sisi lain, tergantung pada aliran atau kebijakan kuil, beberapa kuil tidak melaksanakan Joya no Kane, melaksanakannya di siang hari, atau melaksanakannya dengan nama yang berbeda.
Perbedaan dengan Hatsumōde di Jinja
Sebagai budaya akhir tahun dan awal tahun di Jepang, banyak orang mungkin teringat hatsumōde di jinja.
Hatsumōde merujuk pada kunjungan ke jinja atau kuil setelah memasuki tahun baru, sedangkan Joya no Kane adalah tradisi pergantian tahun di kuil Buddha yang dilaksanakan sebelum atau saat tahun baru.
Meskipun terkadang dialami pada periode yang sama, tempat dan maknanya berbeda, jadi akan lebih mudah dipahami jika dipandang sebagai dua hal yang terpisah.

Perkiraan Waktu dan Jumlah Joya no Kane
Waktu pelaksanaan Joya no Kane berbeda di setiap kuil, namun banyak contoh yang dimulai sekitar pukul 23.00 pada Ōmisoka dan berlanjut hingga pukul 00.00 lewat di hari Tahun Baru.
Di banyak kuil, dikenal kebiasaan membunyikan 107 kali pada Ōmisoka, dan satu kali terakhir setelah pergantian tahun.
Namun, ada juga kuil yang membunyikan kali pertama setelah pukul 00.00, atau menyelesaikan 108 kali pada sore hari, sehingga tidak selalu dilaksanakan tengah malam.
Sebelum berkunjung, akan lebih aman jika memeriksa jam mulai dan jam selesai melalui situs resmi kuil atau informasi asosiasi pariwisata.
Alur Umum Joya no Kane dan Cara Menonton
Alur Joya no Kane berbeda di setiap kuil, namun secara umum berlangsung seperti berikut.
Pertama, Tiba di Kuil dan Periksa Panduan
Setelah tiba di lokasi, periksa apakah kanetsuki hanya untuk ditonton, atau bisa berpartisipasi.
Bahkan jika bisa berpartisipasi, terkadang diperlukan tiket nomor antrean, atau tempat antrean sudah ditentukan.
Ada kuil yang menyediakan jimat untuk 108 orang pertama, atau ada yang dimulai sekitar pukul 23.45.
Perhatikan baik-baik papan panduan dan instruksi staf kuil, dan jangan mendekati shōrō (menara lonceng) tanpa izin.
Mendengarkan Suara Lonceng dengan Tenang
Hanya dengan menonton saja, suasana Joya no Kane sudah cukup terasa.
Suara lonceng sering kali terasa menyatu dengan udara kuil dan ketenangan sekitarnya, dan ini adalah pengalaman yang sulit disampaikan hanya melalui foto atau video.
Di sekitar Anda juga ada orang-orang yang berkumpul dengan perasaan berdoa, jadi akan lebih aman untuk menahan suara percakapan.
Jika Bisa Berpartisipasi, Patuhi Urutan dan Tata Cara
Di kuil yang membuka partisipasi umum, terkadang lonceng dibunyikan secara bergiliran.
Bahkan dalam kasus tersebut, jangan menentukan jumlah sendiri atau membunyikan beberapa kali berturut-turut, dan selalu ikuti panduan.
Sebelum dan sesudah membunyikan, biasanya dipandu untuk menangkupkan tangan (gasshō) dan membungkuk satu kali menghadap lonceng, dan penting untuk membunyikan dengan tenang tanpa menggunakan tenaga berlebihan.
Di shōrō (menara lonceng), terkadang pijakan kaki gelap atau ada perbedaan ketinggian, jadi penting untuk bertindak dengan tenang.

Etika Saat Mengalami Joya no Kane
Di tempat upacara keagamaan, perhatian diperlukan meskipun untuk tujuan wisata.
Bahkan untuk pertama kali tidak sulit, namun ada beberapa etika yang perlu diperhatikan.
Jangan Berbicara dengan Suara Keras
Saat mendengarkan suara lonceng, banyak orang yang menghabiskan waktu dengan tenang.
Bahkan jika berkunjung bersama teman, lebih baik menahan volume suara daripada terus berbicara dengan ramai, agar lebih membaur dengan sekitar.
Prioritaskan Kepedulian Sekitar Saat Memotret
Joya no Kane adalah momen yang ingin diabadikan dalam foto, namun kemungkinan dan jangkauan pemotretan berbeda di setiap kuil.
Di dekat shōrō atau tempat antrean, terkadang diminta untuk menahan diri memotret.
Hindari penggunaan flash dan menempati tempat dalam waktu lama, dan periksalah panduan di lokasi terlebih dahulu.
Jangan Sembarangan Menyentuh Lonceng atau Peralatan
Shōrō, lonceng, dan shumoku (alat pemukul) untuk membunyikan lonceng adalah peralatan penting untuk upacara.
Jika tidak ada panduan partisipasi, jangan menyentuhnya untuk foto kenangan atau membunyikan lonceng untuk dicoba.
Perhatikan Pakaian Hangat dan Kemudahan Berjalan
Joya no Kane sering dilaksanakan di luar ruangan pada tengah malam akhir tahun, dan tergantung daerah, suhu bisa turun hingga di bawah nol derajat.
Lakukan persiapan musim dingin yang matang dengan mantel tebal, sarung tangan, syal, kaus kaki hangat, dan pilih sepatu yang nyaman untuk berjalan agar tidak lelah meskipun berdiri lama.
Akses ke Joya no Kane dan Persiapan Sebelum Berkunjung
Pada malam Ōmisoka saat Joya no Kane dilaksanakan, sebagian transportasi umum mungkin beroperasi semalaman atau dengan jadwal khusus.
Di pusat kota Tokyo dan Kyoto, terkadang masih bisa berpindah setelah kereta terakhir, namun di kuil daerah, sarana transportasi tengah malam terbatas, jadi periksa jadwal terlebih dahulu.
Banyak kuil yang gratis untuk berpartisipasi, namun ada juga kuil yang menerima tiket nomor antrean dengan menyumbangkan jōzai (sumbangan amal: sekitar 100-1.000 yen).
Untuk durasi kunjungan, jika hanya menonton sekitar 30 menit hingga 1 jam, dan jika termasuk pengalaman membunyikan lonceng, perkirakan sekitar 1 hingga 2 jam.
Hal yang Perlu Diketahui Wisatawan Pertama Kali ke Jepang
Untuk menikmati Joya no Kane, daripada pengetahuan khusus, yang penting adalah memahami bahwa ini adalah tradisi yang dilestarikan oleh dukungan masyarakat lokal dan kuil.
Di beberapa kuil, kunjungan didominasi oleh penduduk lokal, dan terkadang tidak ada panduan besar untuk wisatawan.
Pamflet multi-bahasa atau kuil dengan tulisan bahasa Inggris terbatas, jadi jika ada hal yang tidak diketahui, jangan memaksakan penilaian sendiri, lebih aman untuk bertanya dengan singkat dan sopan.
Selain itu, terkadang Joya no Kane "cukup hanya dilihat".
Anda tidak harus membunyikan lonceng sendiri.
Hanya dengan mendengarkan suara dan merasakan suasana di tempat itu saja, sudah menjadi pengalaman menyentuh budaya pergantian tahun.
Cara Menikmati yang Direkomendasikan
- Merasakan akhir tahun dengan tenang sambil mendengarkan suara lonceng
- Mengetahui budaya kuil di akhir dan awal tahun bersama dengan hatsumōde
- Menghargai suara dan suasana di tempat, bukan hanya foto
- Memperhatikan pemandangan khas pergantian tahun yang bisa dinikmati di sekitar kuil seperti kios makanan lokal atau amazake (minuman manis tradisional)
Kesimpulan
Joya no Kane adalah salah satu tradisi pergantian tahun khas Jepang yang dilaksanakan di kuil pada malam Ōmisoka.
Secara umum dijelaskan bahwa pada 108 suara lonceng terkandung makna untuk menyingkirkan bonnō dan menyambut tahun baru dengan hati yang tenang.
Di banyak kuil, kebiasaannya adalah membunyikan 107 kali pada Ōmisoka dan 1 kali pada Tahun Baru dengan total 108 kali, namun jam mulai dan syarat partisipasi berbeda di setiap kuil.
Bagi wisatawan asing, ini adalah pengalaman menyentuh pemandangan musim dingin Jepang dan budaya keagamaan, namun yang terpenting adalah memahami bahwa ini adalah upacara yang tenang, dan mengikuti panduan setiap kuil.
Baik menonton maupun berpartisipasi, jika dihadapi tanpa melupakan kepedulian terhadap sekitar, Joya no Kane akan mudah menjadi waktu yang berkesan dalam perjalanan Anda.


