Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Jurokurakan Iwa Yuza | Ukiran Arhat di Pantai

Jurokurakan Iwa Yuza | Ukiran Arhat di Pantai
Panduan Jurokurakan Iwa di pantai Yuza, Yamagata, berisi makna ukiran arhat di karang Laut Jepang, rute pantai, dan etika memotret.

Ringkasan Cepat

Sekilas Daya Tarik

Kelompok arca batu peringatan Juroku Rakan Iwa di Pantai Fukura, Kota Yuza, Prefektur Yamagata. Sebuah tempat pemandangan doa di mana Anda dapat menikmati 22 arca Buddha yang dipahat langsung pada karang Laut Jepang, ditemani angin laut dan deburan ombak.

Sorotan

Di Juroku Rakan Iwa, Anda dapat berjalan sambil mencari total 22 arca Buddha pahatan tebing—16 arhat yang dipahat pada karang ditambah Sakyamuni, Manjusri, Samantabhadra, Kannon, dan lainnya—dalam wujud yang menyatu antara permukaan batu andesit dan ekspresi wajah Buddha.

Akses

Sekitar 15 menit berjalan kaki dari Stasiun Fukura di Jalur JR Uetsu. Dengan mobil sekitar 10 menit dari Yuza-Chokai IC di Jalan Tol Nihonkai-Engan Tohoku. Tersedia tempat parkir, toilet, jalur pejalan kaki, dan jembatan penyeberangan.

Sejarah dan Latar Belakang

Pendeta Kankai dari Kuil Kaizen di Fukura memprakarsainya untuk mendoakan korban kecelakaan laut dan memohon keselamatan pelayaran. Dikerjakan selama 5 tahun sejak 1864 (Genji 1), dan 22 arca rampung pada 1868 (Meiji 1).

Pemandangan dan Waktu yang Disarankan

Dari dek pandang, Anda dapat melihat matahari terbenam dan Pulau Tobishima. Pemandangan senja tenggelam di Laut Jepang, serta kontras indah antara langit biru, batu rakan, dan laut, memungkinkan Anda membandingkan wajah batu yang berubah menurut waktu.

Perhatian dan Etika

Karena merupakan tempat pemujaan, jangan menyentuh atau menaiki arca batu. Karena tebing basah mudah licin, pilih sepatu yang nyaman berjalan, dan pada hari berangin kencang atau berombak tinggi jangan memaksakan diri mendekat.

Pengalaman dan Sekitarnya

Selain menikmati mencari arca Buddha yang dipahat pada kontur batu, Anda dapat mengelilingi dek pandang berisi prasasti puisi seperti prasasti haiku Matsuo Basho, dan merasakan lanskap yang menyatu antara Laut Jepang, Gunung Chokai, dan kota Fukura.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Yamagata

Apa Itu Jūroku Rakan Iwa | Wisata Magaibutsu dan Doa di Tepi Laut Yamagata

Jūroku Rakan Iwa (gugusan patung Buddha yang dipahat pada batu untuk doa persembahan arwah) adalah tempat wisata magaibutsu (patung Buddha yang dipahat di tebing batu) di Pantai Fukura, Kota Yuza (Yuza-machi), Prefektur Yamagata, tempat laut, batu karang, dan kepercayaan berpadu menjadi satu.

Pengalaman memandang patung Buddha yang dipahat di batu karang sedikit berbeda dengan menyaksikan arca Buddha di dalam aula kuil; angin laut dan deburan ombak turut membekas dalam ingatan.

Meski kini menjadi tempat wisata, aslinya tempat ini dibuat untuk mendoakan arwah orang-orang yang meninggal karena kecelakaan laut sekaligus memohon keselamatan pelayaran, sehingga semakin tenang Anda berjalan, semakin mudah latar belakangnya terasa.

Ke-22 patung Buddha batu yang dipahat selama 5 tahun mulai tahun 1864 (tahun pertama era Genji) dikenal sebagai magaibutsu berskala langka bahkan di sepanjang pesisir Laut Jepang.

Lokasi di Pesisir Laut Jepang, Kota Yuza, Prefektur Yamagata

Lokasinya berada di Nishidate, Fukura, Kota Yuza, Distrik Akumi, Prefektur Yamagata, terletak di garis pantai wilayah Shōnai.

Sebagai patokan, dari Stasiun Fukura di jalur JR Uetsu sekitar 15 menit berjalan kaki, dan dengan mobil sekitar 10 menit dari Yuza Chōkai IC di Jalan Tol Nihonkai Engan Tōhoku.

Karena tersedia area parkir dan toilet, tempat ini juga mudah disinggahi oleh wisatawan dari luar negeri.

Pemandangan Laut Jepang membentang di sekelilingnya, dan pada hari cerah, warna laut dan langit serta bayangan bebatuan mempertegas kehadiran patung-patung Buddha.

Ada juga yang datang sebagai tempat wisata pemandangan tepi laut, tetapi saat berdiri menghadap batu, yang pertama terasa bukanlah kemeriahan, melainkan kedalaman doa.

Latar Belakang Dibangun untuk Persembahan Arwah dan Keselamatan Pelayaran

Jūroku Rakan Iwa diceritakan dibangun atas ikrar Pendeta Kankai (Kankai Oshō), kepala ke-21 Kuil Fukura Kaizen-ji (Fukura Kaizen-ji), yang memohon keselamatan pelayaran serta mendoakan arwah para nelayan yang kehilangan nyawa akibat ganasnya ombak Laut Jepang.

Sejak tahun 1864 (tahun pertama era Genji), Pendeta Kankai sendiri mengumpulkan dana dengan mengemis (takuhatsu) di desa-desa sekitar dan kota Sakata, lalu memimpin para pemahat batu setempat.

Menurut cerita, setelah 5 tahun, ke-22 magaibutsu selesai pada tahun pertama era Meiji (1868).

Keterlibatan para pemahat batu setempat dalam memahat sosok Buddha di batu karang menunjukkan bahwa tempat ini terjalin erat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Laut adalah tempat yang di satu sisi mendatangkan rezeki, tetapi terkadang juga menyimpan bahaya.

Justru karena tanah ini memahami kedua sisi itu, kelompok patung Buddha ini menyimpan perasaan untuk mengenang mereka yang telah tiada sekaligus mendoakan keselamatan orang-orang yang bekerja di laut.

Kawasan ini juga terpilih dalam "100 Warisan Sejarah dan Budaya Perikanan dan Desa Nelayan yang Ingin Diwariskan ke Masa Depan" dari Badan Perikanan Jepang.

Memahami "Rakan" Mengubah Cara Memandang

Rakan (rakan) adalah istilah dalam agama Buddha yang merujuk pada orang mulia yang telah menempuh banyak latihan spiritual dan mendekati pencerahan.

Di Jūroku Rakan Iwa, diperkenalkan bahwa terdapat 22 patung yang terdiri dari 16 rakan ditambah arca Shakamuni (Buddha Sakyamuni), Monju Bosatsu (Bodhisattva Manjusri), Fugen Bosatsu (Bodhisattva Samantabhadra), Kannon, Shaributsu, dan Mokuren.

Alih-alih hanya mencari jumlahnya, jika Anda mencari bentuk doa yang dipahat tangan manusia di lekuk-lekuk batu, kegiatan mengamati pun menjadi waktu yang tenang.

Cara Memandang Magaibutsu (Magaibutsu) yang Dipahat di Batu Karang

Daya tarik Jūroku Rakan Iwa terletak pada kenyataan bahwa batu itu sendiri dapat dilihat sebagai panggung bagi arca Buddha.

Batu karang ini terbentuk dari lava (batuan andesit) yang mengalir keluar akibat letusan Gunung Chōkai lalu mencapai Laut Jepang, dan patung-patung Buddha dipahat langsung pada permukaan batu yang keras itu.

Karena patung-patung ini tidak berjajar rapi dalam satu baris menghadap ke depan seperti pameran museum, ada keseruan tersendiri dalam mencarinya sambil mengubah arah pandang.

Magaibutsu Adalah "Arca Buddha yang Dipahat di Batu"

Magaibutsu merujuk pada arca Buddha yang diukir di dinding atau permukaan batu alam.

Dalam kasus Jūroku Rakan Iwa, karena arca dipahat di batu karang tepi laut yang terpapar ombak dan angin, tekstur batu dan ekspresi Buddha tampak menyatu.

Ada bagian yang garis luarnya terlihat jelas, ada pula bagian yang muncul samar berpadu dengan bayangan batu.

Berjalan dengan Niat "Mencari" 22 Magaibutsu, Bukan "Menghitung"

Ke-16 rakan digabung dengan Buddha dan bodhisattva lainnya disebutkan berjumlah 22 patung.

Namun, di lokasi, cara pandangnya berubah tergantung suara ombak, arah cahaya, dan lekuk batu.

Daripada terburu-buru memastikan semuanya, jika Anda memperhatikan ekspresi wajah dan bentuk tangan patung yang ditemukan dengan berpatokan pada papan petunjuk, kesannya akan lebih membekas.

Memahami Istilah Memperdalam Pemahaman tentang Jūroku Rakan Iwa

Bahkan bagi wisatawan yang tidak akrab dengan agama Buddha, mengetahui sedikit istilah dasar akan mengurangi kebingungan di lokasi.

Tabel berikut merangkum istilah yang sebaiknya dipahami sebelum melihat Jūroku Rakan Iwa.

Istilah Arti Cara Memandang di Lokasi
Rakan Orang mulia yang mendekati pencerahan Perhatikan ekspresi dan postur
Magaibutsu Arca Buddha yang dipahat di batu Lihat permukaan batu dan arca sebagai satu kesatuan
Kuyō (persembahan arwah) Mengenang orang yang telah meninggal Berjalan dengan tenang
Keselamatan pelayaran Mendoakan keselamatan orang yang bekerja di laut Sadari hubungan dengan laut

Pemandangan dan Waktu yang Ingin Dinikmati di Jūroku Rakan Iwa

Jūroku Rakan Iwa adalah tempat kepercayaan sekaligus tempat untuk menikmati pemandangan Laut Jepang.

Kontras antara batu rakan dan Laut Jepang di bawah langit biru, serta siluetnya yang tenggelam bersama matahari terbenam, juga menjadi ciri khas pemandangannya.

Bukan sekadar mengambil foto, jika Anda diam-diam membandingkan wajah batu yang berubah menurut waktu, kunjungan Anda akan lebih berkesan.

Memandang Matahari Terbenam dan Laut Jepang

Dari dek pandang, tempat ini juga dikenal sebagai spot foto untuk memandang matahari terbenam dan Pulau Tobishima.

Pada waktu matahari tenggelam di Laut Jepang, siluetnya tampak indah saat udara jernih.

Namun, karena di dekat bebatuan pijakan menjadi sulit terlihat, jika ingin menunggu pemandangan senja, bertindaklah dengan mempertimbangkan juga cukupnya cahaya untuk jalan pulang.

Menikmati Dek Pandang dan Prasasti Haiku dengan Santai

Di dek pandang terdapat prasasti haiku, termasuk prasasti haiku Matsuo Bashō, serta prasasti puisi lainnya.

Setelah mengetahui haiku "Atsumi-yama ya Fukura kakete yūsuzumi", saat memandangnya, pandangan orang-orang yang dahulu menjelajah pesisir Laut Jepang berpadu dengan pemandangan masa kini.

Daripada hanya melihat patung Buddha lalu segera pergi, jika Anda juga meluangkan waktu memandang laut dan bentang alam sekitar dari dek pandang, keluasan tempat ini akan lebih terasa.

Memotret dengan Menghormati Tempat Kepercayaan

Jūroku Rakan Iwa memang tempat wisata pemandangan terbuka, tetapi juga merupakan kelompok patung Buddha yang dibuat untuk persembahan arwah.

Di tempat orang berdoa, hindari suara keras, jangan terlalu dekat dengan patung Buddha, dan jangan memaksakan diri masuk ke tempat berpijak yang buruk.

Perlu diketahui, menurut peraturan taman Kota Yuza, apabila melakukan pemotretan atau kegiatan sejenisnya secara komersial, diperlukan izin dari wali kota.

Etika dan Cara Berjalan yang Perlu Diperhatikan Wisatawan Asing

Jūroku Rakan Iwa adalah tempat di mana lingkungan alam tepi laut dan objek kepercayaan berpadu.

Sambil menikmatinya sebagai tempat wisata, penting untuk tidak merusak batu maupun patung Buddha dan tetap bersikap tenang karena kawasan ini adalah tempat doa.

Terutama bagi yang datang dari luar negeri, akan lebih tenang jika menyadari bahwa perasaan terhadap pijakan, cuaca, dan pemotretan di sini berbeda dengan jalan-jalan di perkotaan biasanya.

Utamakan Pijakan di Area Bebatuan

Bebatuan tepi laut menjadi licin saat basah.

Pada hari dengan ombak tinggi atau angin kencang, jangan memaksakan diri mendekat ke bebatuan demi berfoto; pandanglah dari tempat yang aman.

Pilihlah sepatu yang nyaman untuk berjalan, dan akan lebih aman jika menghindari sandal atau sepatu berhak.

Jangan Menyentuh atau Menaiki Patung Buddha

Karena magaibutsu dipahat di batu, meski ingin melihat dari dekat, jangan menyentuhnya atau memanjat batu.

Permukaannya telah terpapar hujan dan angin dalam waktu yang sangat lama, sehingga tindakan kecil wisatawan pun bisa menyebabkan kerusakan.

Mengambil foto dengan sedikit menjaga jarak, dari tempat yang telah ditunjukkan, justru membuat suasana keseluruhan kelompok patung Buddha lebih mudah tersampaikan.

Pastikan Acara dan Pencahayaan Malam Terlebih Dahulu

Di Jūroku Rakan Iwa, pada akhir Juli diadakan Festival Jūroku Rakan, dan dilaksanakan upacara doa keselamatan pelayaran.

Pada periode ini terkadang juga diadakan pencahayaan malam (light-up).

Karena isi pelaksanaan acara maupun pencahayaan berbeda-beda tiap tahun, akan lebih tenang jika Anda memeriksa informasinya sebelum bepergian.

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Mengunjungi Jūroku Rakan Iwa

Jūroku Rakan Iwa bukan hanya indah sebagai tempat wisata pemandangan tepi laut, tetapi juga tempat untuk merasakan sejarah doa yang telah berlangsung lebih dari 150 tahun.

Meski kunjungan singkat, jika Anda datang setelah mengetahui latar belakang patung Buddhanya, cara memandang batu dan laut pun berubah.

Bahkan bila singgah di sela-sela wisata, jika Anda menghabiskan waktu sambil menjaga ketenangan tempat sebagai lokasi persembahan arwah, itu akan menjadi waktu yang khas tempat ini.

Poin yang Ingin Dipastikan Sebelum Menuju ke Sana

Jika datang dengan kereta, Anda bisa menuju dari Stasiun Fukura dengan berjalan kaki, tetapi kemudahan berjalan berubah tergantung cuaca di pesisir.

Bila datang dengan mobil pun, berhati-hatilah saat berkendara setelah matahari terbenam atau saat angin kencang.

Tersedia area parkir, toilet, jalur pejalan kaki, dan jembatan penyeberangan, tetapi utamakan pijakan saat mendekati bebatuan.

Rasakan Juga Alam di Sekitarnya

Di sekitar Jūroku Rakan Iwa, Laut Jepang, Gunung Chōkai, dan suasana kota Fukura dapat dirasakan menyatu.

Alih-alih hanya memandang laut, jika Anda menyadari hubungannya dengan gunung dan permukiman di belakangnya, akan lebih mudah membayangkan mengapa doa dipahat di tempat ini.

Saat menyentuh kepercayaan suatu daerah di tempat tujuan, bukan hanya membaca penjelasan, tetapi waktu untuk diam-diam menempatkan diri di dalam pemandangan juga penting.

Kesimpulan | Jūroku Rakan Iwa, Tempat Wisata Yamagata untuk Merasakan Laut dan Doa

Jūroku Rakan Iwa adalah lanskap doa yang berpusat pada 22 magaibutsu, terletak di pesisir Laut Jepang, Kota Yuza, Prefektur Yamagata.

Di balik pembuatan arca yang dimulai tahun 1864 (tahun pertama era Genji), terdapat persembahan arwah bagi mereka yang meninggal karena kecelakaan laut serta harapan masyarakat akan keselamatan pelayaran.

Saat berkunjung, cobalah tidak hanya memandang matahari terbenam dan Laut Jepang, tetapi juga memperhatikan ekspresi Buddha yang dipahat di batu, alam di sekitar pijakan, dan ketenangan sebagai tempat kepercayaan.

Tempat ini menarik pula bagi wisatawan yang gemar memotret, tetapi dengan mematuhi dasar-dasar seperti tidak menyentuh patung Buddha, tidak memaksakan diri di area bebatuan, serta memastikan acara dan pencahayaan malam terlebih dahulu, Anda dapat menikmati waktu khas Jūroku Rakan Iwa dengan tenang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Kelompok patung Buddha Batu Enam Belas Rakan adalah 22 patung Buddha yang diukir langsung (magaibutsu) pada karang di Pantai Fukura, Kota Yuza, Prefektur Yamagata. Karena patung-patung Buddha berjajar dekat suara ombak, kesannya sangat berbeda dari patung Buddha yang dilihat di dalam aula kuil. Menjelang matahari terbenam, bayangan pada batu menjadi lebih tegas, dan Anda bisa merasakan pemandangan yang memadukan laut dan kepercayaan.
A. Karena konon hanya di sini di sisi Laut Jepang terdapat magaibutsu berskala sebesar ini yang diukir pada karang, sehingga bernilai secara historis. Tempat ini juga terpilih dalam "100 Warisan Sejarah dan Budaya Perikanan dan Desa Nelayan yang Ingin Diwariskan ke Masa Depan" oleh Badan Perikanan. Sambil dikenal sebagai tempat matahari terbenam, menyadari bahwa ini juga tempat pemujaan yang mendoakan keselamatan di laut akan memperdalam cara Anda memandangnya.
A. Diprakarsai oleh Kankai, kepala biksu generasi ke-21 Kaizenji Fukura, pembuatannya memakan waktu 5 tahun sejak 1864 (era Genji tahun pertama) dan selesai pada era Meiji tahun pertama (1868). Konon diukir untuk mendoakan arwah para nelayan yang meninggal di Laut Jepang serta keselamatan di laut. Gagasan mengukir doa pada batu di tepi laut itu sendiri menyampaikan betapa dekatnya kehidupan dan laut di tanah ini.
A. Rakan adalah istilah dalam agama Buddha yang merujuk pada orang mulia yang melalui banyak pelatihan telah mendekati pencerahan. Di Batu Enam Belas Rakan, termasuk Buddha Sakyamuni, Bodhisatwa Manjusri, dan Bodhisatwa Samantabhadra, seluruhnya diukir 22 patung. Karena melihat angkanya saja mudah disalahpahami sebagai "16 patung", di lokasi akan lebih mudah dipahami jika berjalan sambil mencari ekspresi dan arah tiap patung satu per satu.
A. Sekitar 15 menit berjalan kaki dari Stasiun Fukura jalur JR Uetsu, atau sekitar 10 menit dengan mobil dari Yuza Chokai IC di Jalan Tol Nihonkai Engan Tohoku. Di sepanjang pantai ada hari berangin kencang, jadi jika berjalan kaki, sisakan waktu lebih agar lebih aman. Jika membidik matahari terbenam, pertimbangkan pula kegelapan saat pulang; bagi yang berjalan menuju stasiun, membawa lampu kecil akan berguna.
A. Tempat parkir dan toilet tersedia, dan Anda bisa parkir di "Sunset Juroku Rakan" yang bersebelahan. Karena ada jembatan pejalan kaki dan jalur setapak juga, alur berjalan menyusuri garis pantai menuju patung Buddha cukup mudah dipahami. Namun, ada pengumuman bahwa kendaraan besar tidak bisa parkir, jadi untuk kunjungan rombongan sebaiknya konfirmasi cara transportasi terlebih dahulu.
A. Dari dek pandang, Anda bisa memandang matahari terbenam ke Laut Jepang dan Pulau Tobishima di lepas pantai; pada hari yang cerah, siluetnya tampak jelas. Jika menunggu sejak sedikit sebelum cahaya miring mulai menerpa batu, bukan hanya tepat sebelum matahari terbenam, bayangan patung Buddha pun akan lebih mudah dipotret. Karena angin laut terasa dingin, membawa pakaian luar akan membuat kunjungan lebih nyaman di berbagai musim.
A. Karena berjalan di area berbatu, sepatu antilicin dan pakaian yang leluasa akan cocok. Pada hari berangin kencang atau ombak tinggi, pijakan kaki cenderung tidak stabil, jadi lebih aman menghindari sepatu hak tinggi atau sandal. Dengan tidak terlalu mendekat ke patung Buddha dan mengunjunginya dengan tenang sebagai tempat pemujaan, Anda bisa menghargai baik pemandangan maupun kepercayaan.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.