Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Kongorinji Shiga: Harta Nasional & Taman Indah

Kuil Kongorinji Shiga: Harta Nasional & Taman Indah
Kongorinji di Shiga, kuil Tendai Koto Sanzan. Aula utama—Harta Nasional—pagoda, gerbang Niten, taman, jalur Jizo, dan warna musim gugur; jam dan akses.

Ringkasan Cepat

Tentang Kuil Kongorinji

Kuil Kongorinji di Kota Aisho, Prefektur Shiga, adalah kuil aliran Tendai yang termasuk dalam Koto Sanzan bersama Kuil Saimyoji dan Kuil Hyakusaiji; kuil tua ini konon didirikan oleh biksu Gyoki pada tahun Tenpyo ke-13 atas titah Kaisar Shomu.

Balai Utama Pusaka Nasional dan Kannon Hidup

Balai utama Daihikaku yang berdiri di bagian paling atas jalan menuju kuil merupakan Pusaka Nasional yang dibangun pada tahun Koan ke-11; arca utamanya, Bodhisattva Sho Kannon, disemayamkan dalam kondisi pahatan kasar karena konon darah mengalir dari kayu saat Gyoki memahatnya, sehingga disebut Kannon Hidup.

Pagoda Tiga Tingkat dan Gerbang Nitenmon

Pagoda tiga tingkat (Tairyuto) yang merupakan Benda Cagar Budaya Penting dibangun sekitar 40 tahun lebih awal daripada balai utama dan pemugarannya rampung pada tahun Showa ke-53; Gerbang Nitenmon dibangun pada pertengahan zaman Muromachi, lalu tingkat atasnya dilepas pada pertengahan zaman Edo sehingga menjadi bangunan satu tingkat.

Taman Pemandangan Indah

Taman Myojuin, kediaman utama kepala kuil, adalah taman jelajah berkolam yang terdiri atas taman selatan, timur, dan utara, ditata sejak zaman Momoyama hingga pertengahan zaman Edo, dan merupakan Tempat Berpemandangan Indah tingkat nasional; dedaunan merah di akhir musim gugur juga diperkenalkan sebagai maple bernoda darah.

Jalan Seribu Jizo

Di Kongorinji, jalan menuju kuil membentang sekitar 500 m dari gerbang utama hingga balai utama dan dipenuhi banyak arca Jizo yang didirikan dengan doa dan harapan, sehingga Anda perlu mengenakan sepatu yang nyaman untuk berjalan dan menyediakan cukup waktu untuk menaiki anak tangga batu dan tanjakan.

Jam Kunjungan, Tarif, dan Panduan Berjalan

Kunjungan buka pukul 8:30-16:30 dan tutup pukul 17:00; tarif masuk 800 yen untuk dewasa (SMA ke atas), 300 yen untuk pelajar SMP, dan 200 yen untuk pelajar SD; jika sulit berjalan menyusuri jalan kuil, Anda dapat memberi tahu loket penerimaan agar bisa memasukkan mobil hingga ke tempat parkir balai utama.

Cara Menuju ke Sana

Dari Stasiun Inae di Jalur JR Biwako sekitar 15 menit dengan taksi; taksi berbagi dengan pemesanan Ainori Taxi Aisho pada dasarnya perlu dipesan hingga 1 jam sebelum naik, sedangkan dengan mobil gunakan Koto Sanzan Smart IC bila memakai ETC, atau lewat Interchange Yokaichi atau Hikone bila tanpa ETC.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Shiga

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Kongōrin-ji di Aishō, Prefektur Shiga, adalah kuil aliran Tendai yang dikenal sebagai salah satu dari tiga kuil Kotō Sanzan.

Di ujung jalan menuju kuil yang memanjang di lereng gunung berdiri aula utama berstatus Pusaka Nasional; pengunjung juga dapat menjelajahi pagoda tiga tingkat dan Gerbang Nitenmon yang berstatus Properti Budaya Penting, taman yang ditetapkan sebagai Tempat Pemandangan Indah Nasional, serta jalan dengan deretan arca Jizō.

Arca utama disebut “Kannon hidup”. Menurut riwayat, ketika Gyōki memahatnya, darah mengalir dari permukaan kayu sehingga arca itu disemayamkan dalam bentuk pahatan yang masih kasar.

Dengan menelusuri arsitektur, arca Buddha, taman, dan jalan keimanan, terlihat sejarah kuil yang tidak hanya berkaitan dengan daun musim gugur.

Apa itu Kongōrin-ji? — Kuil Tendai yang termasuk Kotō Sanzan

Kongōrin-ji didirikan pada zaman Nara dan sejak zaman Heian berkembang sebagai pusat ajaran esoterik Tendai.

Kuil ini mencapai kejayaan dari zaman Kamakura hingga Muromachi; bangunan dan arca Buddha dari masa itu masih menjadi pusat kuil hingga kini.

Kuil tua yang diyakini didirikan oleh Gyōki

Menurut riwayat, pada tahun Tenpyō ke-13 Gyōki mendirikan kuil ini atas permohonan Kaisar Shōmu.

Kemudian, Jikaku Daishi datang dari Gunung Hiei; kuil ini menjadi pusat ajaran esoterik Tendai dan berkembang sebagai kuil cabang Enryaku-ji.

Penting untuk memandangnya sebagai kuil tempat riwayat pendirian zaman Nara, kepercayaan Tendai zaman Heian, dan arsitektur abad pertengahan bertumpang tindih.

Kuil yang diwariskan sebagai bagian Kotō Sanzan

Kongōrin-ji bersama Saimyō-ji dan Hyakusai-ji disebut Kotō Sanzan.

Ketiga kuil berada di sepanjang pegunungan bagian timur Prefektur Shiga, dan masing-masing memiliki ciri tersendiri dalam susunan aula, taman, serta jalan menuju kuil.

Di Kongōrin-ji, jalan yang menanjak dari gerbang utama ke aula utama dan taman yang memanfaatkan medan gunung membentuk satu pengalaman ziarah.

Bangunan utama yang lolos dari serangan api masa Sengoku

Kongōrin-ji pernah terkena serangan api pasukan Oda Nobunaga pada zaman Sengoku.

Menurut riwayat, kecerdikan kepala kuil saat itu menyelamatkan bangunan utama seperti aula utama, pagoda tiga tingkat, dan Gerbang Nitenmon.

Latar belakang masih terkumpulnya bangunan abad pertengahan di kompleks ini bukan hanya keimanan, tetapi juga keputusan orang-orang yang melindungi warisan budaya di tengah krisis.

Aula utama Pusaka Nasional — Melihat aula Tendai abad pertengahan dari dekat

Aula utama Daihikaku yang berdiri di bagian tertinggi jalan menuju kuil merupakan pusat keimanan dan arsitektur Kongōrin-ji.

Dengan melihat susunan ruang di dalam aula bersama arca-arca Buddha, pengunjung dapat membayangkan bagaimana doa dijalankan di kuil esoterik abad pertengahan.

Daihikaku yang dibangun pada akhir zaman Kamakura

Aula utama dipercaya dibangun pada tahun Kōan ke-11 dan ditetapkan sebagai Pusaka Nasional.

Atapnya bergaya irimoya dan dilapisi kulit pohon cemara hinoki; bagian dalam terbagi menjadi ruang luar, ruang dalam, dan ruang belakang sesuai susunan aula utama kuil esoterik.

Melihat batas antara ruang pengunjung dan ruang tempat arca utama disemayamkan membantu memahami fungsi arsitekturnya.

Arca utama yang disebut Kannon hidup

Arca utama Shō Kannon Bosatsu memiliki riwayat kuil bahwa Gyōki berdoa setiap kali mengayunkan pahat.

Karena darah mengalir dari permukaan kayu, orang menganggap jiwa Kannon telah bersemayam di dalamnya dan menyemayamkan arca dalam bentuk pahatan kasar sebelum selesai; dari sinilah sebutan “Kannon hidup” berasal.

Riwayat ini menyampaikan perasaan hormat kepada arca Buddha sebagai objek keimanan yang hidup.

Arca Buddha berstatus Properti Budaya Penting di dalam aula

Di dalam aula utama disemayamkan arca berdiri Jūichimen Kannon dan arca Buddha lain dari zaman Heian hingga Kamakura yang berstatus Properti Budaya Penting.

Jangan hanya mengagumi arca sebagai karya seni; ingat bahwa arca-arca itu tetap menjadi objek doa dan patuhi panduan serta tata krama ibadah di dalam aula.

Ketentuan pemotretan dan area yang boleh dimasuki berbeda-beda, jadi utamakan papan informasi dan arahan kuil.

Pagoda tiga tingkat dan Gerbang Nitenmon — Menjelajahi bangunan Properti Budaya Penting

Di sekitar aula utama berdiri pagoda tiga tingkat dan Gerbang Nitenmon, tempat pengunjung dapat membandingkan perubahan arsitektur dari abad pertengahan hingga awal zaman modern.

Dengan memahami posisi dan peran ketiga bangunan, terlihat bagaimana kompleks kuil di atas gunung disusun.

Pagoda tiga tingkat dibangun lebih dahulu daripada aula utama

Pagoda tiga tingkat juga disebut Tairyūtō; dokumen lama mencatatnya pada tahun Kangen ke-4 dan bangunan ini dipercaya didirikan lebih dari 40 tahun sebelum aula utama yang berstatus Pusaka Nasional.

Kini pagoda ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting; pemugaran rekonstruktifnya selesai pada tahun Shōwa ke-53 dan mewariskan bentuk pagoda abad pertengahan.

Jika dilihat dalam satu bidang pandang bersama aula utama, pengunjung dapat memastikan susunan pusat ibadah dan pagoda pada medan dengan perbedaan ketinggian.

Gerbang Nitenmon berubah dari gerbang bertingkat menjadi satu tingkat

Gerbang Nitenmon di depan aula utama berstatus Properti Budaya Penting dan dipercaya dibangun pada pertengahan zaman Muromachi.

Awalnya gerbang ini memiliki lantai atas, tetapi menurut riwayat bagian tersebut dilepas pada pertengahan zaman Edo sehingga menjadi bentuk satu tingkat seperti sekarang.

Penting untuk melihatnya sebagai bangunan yang terus digunakan walaupun telah mengalami perubahan.

Memahami bangunan sebagai satu kompleks, bukan terpisah

Aula utama, pagoda tiga tingkat, dan Gerbang Nitenmon masing-masing memiliki nilai sebagai warisan budaya sekaligus membentuk kompleks kuil yang terkumpul di ujung jalan.

Dengan memperhatikan urutan melewati gerbang, beribadah di aula utama, lalu memandang pagoda, pengunjung dapat mengalami alur yang diciptakan bangunan.

Ketika berhenti di tangga batu atau lereng, jangan menghalangi pengunjung lain dan lihatlah bangunan dari tempat yang aman.

Taman berpemandangan indah — Berjalan di taman dari tiga masa

Taman kediaman utama Myōju-in merupakan taman mengelilingi kolam yang memanfaatkan lereng gunung dan air.

Tempat ini mengalihkan sudut pandang dari kunjungan yang berpusat pada bangunan untuk perlahan melihat pemandangan yang dibentuk batu, pepohonan, permukaan air, dan gunung di belakangnya.

Terdiri dari taman selatan, timur, dan utara

Taman terdiri dari bagian selatan, timur, dan utara yang dipercaya ditata dari zaman Momoyama hingga pertengahan zaman Edo.

Karena tidak selesai sekaligus, susunan batu dan cara kolam terlihat berbeda di setiap tempat.

Selain batu dan tanaman, perhatikan juga kedalaman dengan lereng gunung sebagai latar.

Pemandangan yang dilindungi sebagai Tempat Pemandangan Indah Nasional

Ketiga taman ditetapkan sebagai Tempat Pemandangan Indah Nasional dan dilindungi sebagai lanskap bersejarah.

Jangan melangkah ke area lumut atau pepohonan; ubah sudut pandang dari jalur yang ditentukan agar dapat menikmatinya tanpa merusak susunan taman.

Pada hari hujan, batu dan jalan kayu menjadi licin, jadi jangan terlalu fokus pada pemandangan hingga lupa memeriksa pijakan.

Menikmati daun musim gugur melalui susunan seluruh taman

Pada akhir musim gugur, pepohonan taman berubah warna pekat dan juga diperkenalkan dengan nama “momiji berlumur darah”.

Nama ini menggambarkan warna cerah; kondisi daun musim gugur berubah mengikuti iklim dan waktu kunjungan.

Jangan menganggap waktu terbaik selalu tetap; periksa kondisi daun sebelum berkunjung.

Jalan seribu Jizō — Naik dari gerbang utama ke aula utama

Ziarah ke Kongōrin-ji juga bermakna dalam proses berjalan di jalan pegunungan dari gerbang utama hingga aula utama.

Deretan arca Jizō dan pepohonan di tepi jalan menciptakan waktu untuk bergerak dari tempat sehari-hari menuju pusat doa.

Jalan doa dengan deretan arca Jizō

Di jalan menuju aula utama dan sekitarnya berjajar banyak arca Jizō yang didirikan dengan harapan orang-orang yang menjalin hubungan dengan kuil.

Setiap arca memiliki ekspresi dan bentuk berbeda, sehingga pengunjung dapat merasakan doa banyak orang yang bertumpuk selama waktu panjang.

Jangan menyentuh arca atau memindahkan persembahan; satukan tangan dengan tenang dari jalan.

Perbedaan ketinggian dari gerbang utama ke aula utama

Jalan dari gerbang utama hingga aula utama berjarak sekitar 500 m.

Berbeda dengan kuil kota di tanah datar, pengunjung harus menaiki tangga batu dan lereng, sehingga diperlukan sepatu yang nyaman serta waktu yang cukup.

Beristirahat di tengah perjalanan membantu menikmati seluruh kompleks dengan tenang.

Panduan bagi pengunjung yang kesulitan berjalan

Pengunjung yang kesulitan menyusuri jalan dapat melapor ke loket kunjungan untuk mendapatkan panduan membawa kendaraan hingga area parkir aula utama.

Ketentuan ini berlaku untuk mobil penumpang dan bus besar, tetapi ikuti petunjuk loket mengenai keadaan serta syarat penggunaan pada hari itu.

Penting untuk memeriksa terlebih dahulu kemampuan berjalan orang yang mendampingi dan berkonsultasi setelah tiba sebelum memulai perjalanan yang terlalu berat.

Rute kunjungan yang disarankan — Dari taman ke kompleks kuil di gunung

Untuk kunjungan pertama, urutan loket, taman, jalan seribu Jizō, Gerbang Nitenmon, aula utama, dan pagoda tiga tingkat memudahkan pengunjung mengikuti perubahan pemandangan dan keimanan.

Jika objek kunjungan dikelompokkan menurut perannya, susunannya adalah sebagai berikut.

Area Daya tarik utama Sudut pandang
Sekitar kediaman utama Taman berpemandangan indah Pemandangan kolam dan gunung
Jalan menuju kuil Seribu arca Jizō Doa masyarakat
Kompleks di gunung Aula, pagoda, gerbang Arsitektur abad pertengahan

Memahami medan kuil dari taman

Melihat taman terlebih dahulu membantu memahami bahwa Kongōrin-ji adalah kuil yang memasukkan lereng gunung dan alam ke dalam kawasannya.

Berjalan menuju jalur setelah mengelilingi kolam akan meninggalkan kesan tentang perbedaan antara taman yang terbentang mendatar dan jalan doa yang menanjak secara vertikal.

Pada musim daun gugur atau waktu ramai, jangan menempati satu tempat terlalu lama dan salinglah memberi ruang dengan orang sekitar.

Dari Gerbang Nitenmon ke aula utama dan pagoda tiga tingkat

Di ujung jalan, lewati Gerbang Nitenmon, beribadah di aula utama Pusaka Nasional, lalu lihat pagoda tiga tingkat.

Dengan mengetahui tahun pembangunan dan sejarah perubahan, pengunjung dapat memahami bahwa ketiga bangunan tidak dibuat pada masa yang sama dengan bentuk yang sama.

Penting untuk menghitung waktu dari jam penutupan gunung dan menghindari rencana yang mengharuskan langsung turun setelah tiba di atas.

Jam kunjungan, harga tiket, dan akses — Cara menuju dari Stasiun Inae

Kongōrin-ji berjarak cukup jauh dari stasiun transportasi umum terdekat, sehingga cara pergi-pulang, termasuk taksi atau mobil, perlu ditentukan terlebih dahulu.

Periksa jam penerimaan kunjungan dan penutupan gunung, serta masukkan reservasi pulang dan waktu perjalanan ke dalam rencana.

Jam dan biaya kunjungan

Jam kunjungan adalah 8:30–16:30 dan gunung ditutup pada 17:00.

Biaya kunjungan adalah 800 yen untuk siswa sekolah menengah atas dan orang dewasa, 300 yen untuk siswa sekolah menengah pertama, dan 200 yen untuk siswa sekolah dasar.

Tarif rombongan berlaku mulai 20 orang, sehingga wisatawan perorangan menggunakan tarif biasa sebagai acuan.

Naik taksi dari Stasiun Inae

Dengan transportasi umum, perjalanan taksi dari Stasiun Inae di Jalur JR Biwako memerlukan waktu 15 menit.

Taksi bersama berbasis reservasi “Ainori Taxi Aishō” juga tersedia dan pada dasarnya harus dipesan paling lambat 1 jam sebelum waktu naik.

Layanan dari keberangkatan pertama hingga 9:00 harus dipesan sebelum 21:00 pada hari sebelumnya; periksa jadwal dan kontak reservasi sebelum menggunakannya.

Dengan mobil, periksa rute menurut simpang susun

Untuk kendaraan ETC, rute dari Simpang Susun Pintar Kotō Sanzan lebih dekat; kendaraan tanpa ETC diarahkan melalui Simpang Susun Yōkaichi atau Hikone.

Di jalan pegunungan, periksa papan petunjuk dan navigasi agar tidak keliru memasuki jalan lingkungan di sekitar kuil.

Jika perlu membawa kendaraan ke bagian atas jalan, laporkan ke loket kunjungan sebelum melewati area parkir biasa.

Ringkasan — Menjelajahi arsitektur, taman, dan jalan doa di Kongōrin-ji

Kongōrin-ji adalah kuil yang berlandaskan riwayat pendirian Gyōki dan keimanan kepada Kannon hidup, serta mewariskan aula utama abad pertengahan berstatus Pusaka Nasional, pagoda tiga tingkat, dan Gerbang Nitenmon berstatus Properti Budaya Penting.

Menjelajahi taman berpemandangan indah, jalan seribu Jizō, dan kompleks di gunung secara berurutan membantu memahami kawasan tempat medan alam dan doa masyarakat menyatu.

Sebelum berkunjung, periksa jam, biaya, kondisi daun musim gugur, taksi dari Stasiun Inae, dan panduan kendaraan bagi pengunjung yang kesulitan berjalan, lalu sediakan waktu yang cukup untuk beribadah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Kongorin-ji adalah kuil Buddha aliran Tendai yang, bersama Saimyo-ji dan Hyakusai-ji, termasuk dalam Koto Sanzan (tiga kuil pegunungan di sebelah timur Danau Biwa). Konon didirikan oleh biksu Gyoki pada tahun ke-13 era Tenpyo, dan di ujung jalan setapak yang menanjak di lereng gunung berdiri aula utama berstatus Harta Nasional serta pagoda tiga tingkat yang ditetapkan sebagai Benda Budaya Penting. Bukan hanya dedaunan musim gugurnya, jika dipandang sebagai kuil yang memadukan arsitektur, patung Buddha, taman, dan jalan doa, pesonanya akan terasa semakin luas.
A. Aula utama Kongorin-ji disebut Daihikaku, sebuah bangunan Harta Nasional selebar tujuh bentang yang dibangun pada tahun ke-11 era Koan. Atapnya bergaya irimoya (atap pelana-perisai) berlapis kulit kayu cemara hinoki, dan bagian dalamnya terbagi menjadi ruang luar, ruang dalam, dan ruang belakang, mempertahankan bentuk aula utama Buddha esoterik. Aula ini hingga kini masih menjadi tempat berdoa, jadi alih-alih sekadar menikmati patung sebagai karya seni, Anda akan lebih menghayatinya bila menjaga tata krama beribadah.
A. Patung utama Kongorin-ji adalah Sho-Kannon (Kannon Suci) yang menurut tradisi kuil disebut “Kannon Hidup”. Konon ketika Gyoki memahatnya sambil memberi hormat pada setiap goresan pisau, darah mengalir dari serat kayunya, sehingga diyakini ada jiwa yang bersemayam dan patung itu dipuja dalam keadaan masih dipahat kasar. Tradisi ini menyampaikan penghormatan terhadap patung sebagai objek keimanan yang hidup, dan menjadi petunjuk untuk merasakan doa di dalam aula.
A. “Daun maple bernoda darah” adalah sebutan bagi dedaunan merah tua di penghujung musim gugur yang mewarnai taman berpemandangan indah Kongorin-ji. Taman Myoju-in, kediaman kepala biksu, terdiri atas tiga taman dari periode Momoyama, awal Edo, dan pertengahan Edo, dan ditetapkan sebagai Tempat Berpemandangan Indah tingkat nasional. Karena kepekatan warnanya berubah menurut cuaca dan musim, nikmatilah kedalaman pemandangan ini dari jalur yang telah ditentukan, tanpa menginjak lumut atau memasuki area pepohonan.
A. Jam kunjungan Kongorin-ji adalah pukul 08.30 hingga 16.30, dan kuil ditutup pukul 17.00. Biaya masuk adalah 800 yen untuk dewasa (mulai jenjang SMA), 300 yen untuk pelajar SMP, dan 200 yen untuk pelajar SD. Karena ada jalan setapak menanjak sekitar 500 meter dari gerbang utama (Somon) ke aula utama, menyelesaikan pendaftaran dengan waktu luang—dihitung mundur dari jam tutup—akan lebih menenangkan.
A. Cara yang mudah adalah naik taksi dari Stasiun Inae di jalur JR Biwako, sekitar 15 menit. Ada juga taksi berbasis reservasi bernama “Ainori Taxi Aisho”, seharga 800 yen per orang sekali jalan dan perlu dipesan paling lambat 1 jam sebelum waktu keberangkatan. Karena jaraknya cukup jauh dari stasiun, menentukan transportasi pulang-pergi lebih dulu, termasuk perjalanan pulang, akan menghindarkan Anda dari kerepotan setelah berkunjung.
A. Di Kongorin-ji, jalan setapak membentang sekitar 500 meter dari gerbang utama ke aula utama dan menaiki anak tangga batu serta tanjakan, sehingga diperlukan sepatu yang nyaman dan waktu yang cukup. Beristirahat sejenak di tengah jalan membuat Anda dapat menikmati area kuil dengan tenang. Jika sulit berjalan, Anda bisa membawa mobil hingga tempat parkir aula utama, jadi silakan tanyakan di loket penerimaan kunjungan.
A. Jika mobil Anda memiliki ETC, Anda bisa langsung menuju ke sana dari Koto Sanzan Smart Interchange (Smart IC) dengan belok kanan di lampu lalu lintas. Tanpa ETC, rute yang dianjurkan adalah dari Interchange Yokaichi atau Hikone menyusuri Jalan Nasional 307. Di jalan-jalan tepi gunung, periksa rambu petunjuk dan navigasi, dan berhati-hatilah agar tidak keliru masuk ke jalan permukiman di sekitar kuil.

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Kumpulan Artikel Rekomendasi

Artikel rangkuman yang menampilkan artikel ini

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.