Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Mutsu Kokubunji Yakushido|warisan Date Masamune

Kuil Mutsu Kokubunji Yakushido|warisan Date Masamune
Kunjungi Mutsu Kokubunji Yakushido di Sendai: aula utama yang dibangun kembali oleh Date Masamune, gerbang Nio beratap jerami, situs kuno, etika, dan metro.

Ringkasan Cepat

Ikhtisar

Yakushido Mutsu Kokubunji di Distrik Wakabayashi, Kota Sendai, adalah kuil bersejarah tempat Anda dapat melihat di satu lokasi baik reruntuhan kuil provinsi (kokubunji) dari zaman Nara maupun arsitektur bergaya Momoyama, Properti Budaya Penting yang ditetapkan negara dan dibangun kembali oleh Date Masamune pada tahun 1607. Sekitar 3 menit berjalan kaki dari Stasiun Yakushido, Anda dapat mengunjungi bangunan dan reruntuhan kuil kuno sekaligus.

Daya tarik utama

Yakushido Mutsu Kokubunji adalah Properti Budaya Penting yang ditetapkan negara. Daya tariknya adalah atap kokoh bergaya irimoya beratap genteng tradisional, proporsi seimbang lima bentang lebar dan lima bentang dalam, serta kontras antara tampilan luar dari kayu polos dengan relikui (zushi) berbentuk istana yang berhias.

Cara menuju ke sana

Sekitar 3 menit berjalan kaki dari Stasiun Yakushido di Jalur Tozai Kereta Bawah Tanah Kota Sendai. Dari Stasiun Sendai sekitar 15 menit dengan bus, sehingga mudah dimasukkan ke dalam rencana wisata kota.

Cara menyusuri area kuil

Berangkat dari gerbang Niomon beratap jerami—properti budaya yang ditetapkan prefektur dan diperkirakan dibangun sekitar tahun Keicho ke-12 (1607)—lalu menyusuri jalan masuk menuju Yakushido, susunan ruang kuil menjadi lebih mudah dipahami.

Reruntuhan kuil kuno

Yakushido berdiri di bekas lokasi aula ceramah reruntuhan Mutsu Kokubunji, sebuah Situs Bersejarah Nasional. Dari situs yang telah ditata dan papan penjelasannya, Anda dapat membayangkan luasnya kompleks kuil kuno pada masa itu.

Pelajari lebih lanjut

Sekitar 5 menit berjalan kaki, Fasilitas Panduan Situs Bersejarah Mutsu Kokubunji dan Reruntuhan Biara dapat dikunjungi secara gratis, buka pukul 09.00 hingga 17.00 (masuk terakhir pukul 16.45), serta menampilkan sejarah pendirian dan benda-benda hasil penggalian.

Etika beribadah

Di kuil, jangan bertepuk tangan; setelah memberi persembahan, satukan kedua telapak tangan dengan hening untuk berdoa. Untuk pemotretan, utamakan papan pengumuman dan arahan petugas, serta jaga jarak saat berlangsung upacara keagamaan.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Miyagi

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Apa Itu Mutsu Kokubunji Yakushidō? Kuil di Sendai Tempat Sejarah Kuno Berpadu dengan Budaya Date

Mutsu Kokubunji Yakushidō adalah kuil bersejarah di Kinoshita, Distrik Wakabayashi, Kota Sendai. Daya tarik utamanya adalah kamu bisa merasakan reruntuhan kuil provinsi (kokubunji) era Nara sekaligus budaya Date era modern awal di tempat yang sama.

Bangunan Yakushidō saat ini merupakan Benda Cagar Budaya Penting yang ditetapkan negara, dan mudah dijangkau dengan transportasi umum, sekitar 3 menit jalan kaki dari Stasiun Yakushidō (Yakushidō Station) jalur Tōzai kereta bawah tanah kota Sendai, sehingga cocok bagi wisatawan yang tertarik pada arsitektur kuil maupun reruntuhan kuil kuno.

Tempat yang Berkaitan dengan Titah Pembangunan Kuil Provinsi oleh Kaisar Shōmu

Mutsu Kokubunji dibangun dengan latar belakang titah pendirian kuil provinsi yang dikeluarkan Kaisar Shōmu pada tahun Tenpyō 13 (tahun 741), dan diperkirakan selesai sekitar tahun Tenpyō-hōji 4 (tahun 760).

Tempat ini penting untuk merenungkan keterkaitan antara agama Buddha dan negara di wilayah Tōhoku, dan hingga kini jejak kuil kuno masih tersisa di area situs bersejarah yang luas.

Yakushidō Saat Ini yang Dibangun Kembali oleh Date Masamune

Yakushidō saat ini adalah bangunan yang dibangun kembali oleh Date Masamune dengan mengundang para pengrajin seperti Suruga-no-kami Munetsugu dari Senshū (kini Prefektur Osaka), dan selesai pada tahun Keichō 12 (tahun 1607).

Masih tersisa papan bubungan (munafuda) bertuliskan“Didirikan pada tanggal 24 bulan 10 tahun Keichō 12, tahun hinoto-hitsuji”, sehingga ini menjadi bangunan era modern awal yang berharga dengan tahun pembangunan yang jelas diketahui.

Karena ditata sebagai tempat doa yang baru pada masa Domain Sendai sambil mewarisi ingatan akan kuil kuno, dari satu bangunan saja kamu bisa membaca sejarah dari zaman yang berbeda.

Arsitektur yang Dilindungi sebagai Benda Cagar Budaya Penting yang Ditetapkan Negara

Yakushidō adalah Benda Cagar Budaya Penting yang ditetapkan negara, dan 1 relikuari berbentuk istana (zushi) serta 1 papan bubungan juga ditetapkan sebagai“pelengkap (tsuketari)”.

Bersama bangunan utama Ōsaki Hachimangū, kuil ini dianggap sebagai salah satu dari dua karya puncak arsitektur Momoyama yang mewakili Sendai. Jika kamu memperhatikan bukan hanya kemewahan hiasannya, tetapi juga komposisi kuat yang memanfaatkan kayu polos serta keseimbangan tenang dari keseluruhan bangunan, ciri khas arsitektur Momoyama akan lebih mudah terlihat.

Menata lapisan-lapisan sejarah memudahkanmu memahami apa yang perlu dilihat di lokasi.

Periode Sejarah Objek yang Diperhatikan Poin untuk Memahaminya
Era Nara Reruntuhan Kokubunji Negara kuno dan agama Buddha
Masa Date Masamune Yakushidō Arsitektur Momoyama di Sendai
Masa kini Pelestarian dan penataan situs bersejarah Tempat pelestarian dan pembelajaran

Hal Menarik di Mutsu Kokubunji Yakushidō: Membaca Arsitektur Momoyama dari Luar

Bahkan dari luar saja, kamu bisa menangkap ciri bangunan dengan mengamati secara berurutan bentuk atap, rangka kayu, serambi, dan struktur bagian depan.

Karena panduan cagar budaya Prefektur Miyagi menyatakan bahwa bagian luar dapat diamati dengan bebas, langkah dasarnya adalah lebih dulu mengamati keseluruhan bentuk dengan tenang dari sekeliling bangunan.

Atap Irimoya Berlapis Genteng Tradisional yang Kokoh

Atapnya bergaya irimoya, dan garis kokoh dari lapisan genteng tradisional hongawarabuki membuat seluruh bangunan tampak mantap.

Mengamati bukan hanya dari depan tetapi juga dari sudut menyerong memudahkan melihat susunan bidang atap dan kedalaman emper, sehingga kamu lebih mudah menangkap kesan tiga dimensi bangunan.

Struktur Seimbang Berukuran 5 Bentang kali 5 Bentang

Yakushidō memiliki komposisi bujur sangkar 5 bentang di depan dan 5 bentang ke dalam, dengan kanopi depan kōhai di fasad dan serambi yang mengelilinginya.

Kamu tidak perlu menghitung jarak antar tiang satu per satu, tetapi dengan menggerakkan pandangan dari tengah ke kiri dan kanan, kamu bisa merasakan kestabilan dan simetri bangunan.

Kesederhanaan Kayu Polos dan Kekuatan Hiasan Pelana

Bagian luar tidak menonjolkan pewarnaan, melainkan berpijak pada shirakizukuri, teknik kayu polos tanpa cat yang menonjolkan ekspresi alami kayu itu sendiri.

Karena hiasan pelana menampilkan desain yang sederhana namun gagah, mengamati dari sedikit jarak di bawah atap atau dari sisi pelana memudahkanmu menemukan detailnya.

Lihat Setelah Mengenal Relikuari (Zushi) di Dalam

Bagian dalam terbagi jelas menjadi ruang dalam dan ruang luar, dan di atas altar shumidan di bagian belakang bersemayam relikuari zushi berbentuk istana.

Zushi dihiasi ukiran, lembaran emas, dan aksesori logam hias pada rangka yang rumit, sehingga serat kayu yang tenang di bagian luar berkontras mencolok dengan kemewahan di bagian dalam.

Mengetahui istilah arsitektur terlebih dahulu membuat pengamatanmu di lokasi lebih konkret.

Istilah Tempat yang Dilihat Tips Mengamati
Gaya irimoya Seluruh atap Bentuk bagian atas dan bawah
Kōhai Tengah fasad Bagian menonjol yang menyambut peziarah
Mawarien Sekeliling bangunan Lorong di sisi luar lantai
Hiasan pelana Sisi pelana atap Desain di bawah papan tepi pelana

Menyusuri Gerbang Niōmon dan Area Kuil: Menikmati Pemandangan Menuju Yakushidō

Daripada hanya melihat Yakushidō lalu pulang, menyadari alur dari gerbang Niōmon menuju area kuil membuat susunan ruang kuil lebih mudah dipahami.

Karena pandangan dituntun berurutan mulai dari gerbang, jalan menuju kuil, lalu bangunan, kami menyarankan memperlambat langkah untuk merasakan perubahan ruang.

Niōmon Beratap Jerami adalah Cagar Budaya yang Ditetapkan Prefektur

Niōmon merupakan Benda Cagar Budaya Berwujud yang ditetapkan Prefektur Miyagi, dan diperkirakan dibangun sekitar tahun Keichō 12 (tahun 1607), pada masa yang sama dengan pembangunan Yakushidō.

Sebagai gerbang berkaki delapan satu lantai dengan bentuk 3 bentang satu pintu, atap jerami bergaya irimoya dan ekspresi kayu yang sederhana menciptakan kesan yang berbeda dari lapisan genteng hongawarabuki milik Yakushidō.

Bandingkan Pemandangan Sebelum dan Sesudah Melewati Gerbang

Dengan melihat garis atap dan tiang di sisi luar gerbang, lalu melihat bagaimana Yakushidō ditempatkan di ujung jalan menuju kuil dari sisi dalam gerbang, kamu bisa memahami perannya sebagai pintu masuk.

Saat melihat patung Niō atau detail gerbang, mohon berdiri di posisi yang tidak menghalangi lalu lintas dan berikan ruang bagi alur peziarah.

Jangan Lupa bahwa Area Kuil adalah Tempat Ibadah

Area kuil adalah tempat untuk menikmati cagar budaya sekaligus kuil yang doanya masih berlanjut hingga kini.

Saat acara atau upacara keagamaan sedang berlangsung, mohon menjaga jarak dengan tenang dan mengutamakan tanda larangan masuk serta arahan petugas.

Mengenal Reruntuhan Kuil Kuno: Sejarah di Balik Yakushidō

Yakushidō bukan bangunan yang berdiri sendiri, melainkan berdiri di dalam reruntuhan Mutsu Kokubunji kuno yang ditetapkan sebagai situs bersejarah nasional.

Karena penggalian arkeologi mengungkap bahwa Yakushidō saat ini dibangun di atas bekas aula ceramah (kōdō), mengarahkan perhatian juga pada reruntuhan di bawah kakimu memperdalam makna kunjungan.

Yakushidō Saat Ini yang Berdiri di Bekas Aula Ceramah

Aula ceramah sebuah kuil kuno adalah bangunan utama tempat para biksu mempelajari kitab suci dan menyampaikan ajaran.

Dibangunnya Yakushidō era modern awal di bekas aula ceramah itu menunjukkan bahwa ruang kuil yang telah hilang diwariskan dalam bentuk yang berbeda.

Bayangkan Seluruh Situs Bersejarah sebagai Satu Kuil

Meski kini bangunan tidak tersisa secara berderet, kamu bisa membayangkan luas kompleks kuil (garan) di masa lalu dengan berpegang pada situs bersejarah yang telah ditata dan papan petunjuk.

Dengan mengarahkan pandangan bukan hanya pada bangunan di depanmu, tetapi juga pada lahan kosong, tinggi rendah tanah, dan penanda rekonstruksi, kamu lebih mudah menangkap kesan skala kuil kuno.

Alur Ibadah dan Etiket: Yang Perlu Diketahui Wisatawan yang Berkunjung ke Jepang

Di kuil-kuil Jepang, prinsip dasarnya adalah tidak terlalu memisahkan wisata dan ibadah, serta berkunjung sambil menunjukkan rasa hormat dengan tenang.

Karena tata cara rincinya berbeda menurut aliran dan kuil, jika ada pengumuman di lokasi, mohon utamakan hal itu.

Rapikan Pakaian dan Barang Bawaan Sebelum Gerbang

Merapikan topi dan barang bawaan besar serta menyimpan makanan dan minuman sebelum memasuki area kuil membuatmu bisa beribadah dengan tenang.

Mohon hindari berbicara dengan suara keras atau berlari, dan jangan menghalangi bagian tengah lorong dalam waktu lama.

Satukan Kedua Telapak Tangan dengan Tenang di Depan Aula Utama

Di kuil, umumnya orang tidak bertepuk tangan (kashiwade), melainkan menyatukan kedua telapak tangan dengan tenang setelah memasukkan uang persembahan.

Kamu dapat berdoa dengan kata-katamu sendiri, tetapi cukup dengan menenangkan hati sejenak pun sudah memadai.

Untuk Pemotretan, Utamakan Pengumuman dan Arahan Petugas

Meski memotret bagian luar, mohon berhati-hati agar tidak memotret wajah peziarah atau jalannya upacara keagamaan tanpa izin.

Karena di dalam aula, di sekitar arca Buddha, dan di sekitar loket pemberian jimat kadang diberlakukan pembatasan pemotretan, jika tidak menemukan tanda, paling aman menanyakannya ke kantor kuil.

Untuk Goshuin dan Doa, Pastikan Pendaftaran pada Hari Itu

Jika kamu ingin menerima goshuin (stempel kuil) atau doa, ketersediaan dan jam layanan dapat berubah tergantung acara, jadi mohon pastikan melalui panduan resmi atau loket di lokasi.

Daripada menjadikan memperoleh goshuin sebagai satu-satunya tujuan, lebih wajar menyelesaikan ibadah terlebih dahulu lalu menuju loket layanan.

Dengan menata standar perilaku, meski baru pertama kali berkunjung kamu tidak mudah kebingungan.

Situasi Perilaku yang Dianjurkan Perilaku yang Sebaiknya Dihindari
Jalan menuju kuil Berjalan dengan tenang Menghalangi lorong
Depan aula utama Merangkapkan tangan Bertepuk tangan
Pemotretan Memeriksa pengumuman Memotret upacara tanpa izin
Loket pemberian jimat Datang setelah beribadah Mengobrol lama saat ramai

Cara Menyusun Akses dan Kunjungan: Memanfaatkan Stasiun Yakushidō dan Fasilitas Informasi

Mutsu Kokubunji Yakushidō berjarak sekitar 3 menit jalan kaki dari Stasiun Yakushidō jalur Tōzai kereta bawah tanah kota Sendai, dan sekitar 15 menit naik bus dari Stasiun Sendai, sehingga mudah dimasukkan ke dalam wisata dalam kota menggunakan transportasi umum.

Baik kamu mempelajari latar situs bersejarah lebih dulu maupun memeriksanya setelah melihat situsnya secara langsung, informasi yang kamu tangkap dari pameran yang sama akan berbeda.

Menggunakan Kereta Bawah Tanah Memudahkan Memastikan Rute

Setelah keluar dari Stasiun Yakushidō, kamu bisa menuju area kuil dalam sekitar 3 menit jalan kaki sambil memeriksa papan petunjuk di lokasi.

Jika membawa barang besar, agar tidak mengganggu pejalan kaki dan peziarah di sekitar, menitipkannya di penginapan lalu berjalan dengan barang bawaan ringan akan lebih nyaman.

Belajar tentang Kuil Kuno di Fasilitas Informasi

Di“Fasilitas Informasi Situs Bersejarah Reruntuhan Mutsu Kokubunji dan Biara Biksuni”yang berada dalam jarak berjalan kaki, kamu bisa belajar melalui panel dan pameran tentang pendirian Kokubunji dan biara biksuni Kokubun-niji, sejarah bagaimana kawasan ini bangkit kembali setelah gempa Jōgan pada era Heian, serta benda-benda temuan dari penggalian.

Masuknya gratis, jam buka pukul 9:00 hingga 17:00 (masuk terakhir pukul 16:45), dan berjarak sekitar 5 menit jalan kaki dari Stasiun Yakushidō.

Karena dapat melengkapi tata letak dan peran kuil kuno yang sulit dipahami hanya dari luar Yakushidō, wisatawan yang sangat tertarik pada sejarah akan memperdalam pemahaman jika mengunjunginya juga.

Perhatikan bahwa Hari Acara Memiliki Alur Berbeda dari Biasanya

Karena kuil menyelenggarakan acara tahunan dan ritual doa goma, pada hari itu lokasi pendaftaran dan area yang bisa dimasuki mungkin berbeda dari biasanya.

Sebelum berkunjung, mohon periksa pengumuman di situs web resmi, dan di lokasi ikutilah papan petunjuk serta arahan petugas.

Kesimpulan: Merasakan Lapisan Sejarah di Mutsu Kokubunji Yakushidō

Di Mutsu Kokubunji Yakushidō, tiga masa saling bertumpuk: bekas aula ceramah Kokubunji era Nara, Benda Cagar Budaya Penting yang dibangun kembali oleh Date Masamune pada tahun Keichō 12 (tahun 1607), dan tempat ibadah yang masih berlanjut hingga kini.

Dengan mengamati atap irimoya berlapis genteng hongawarabuki, desain kayu polos, dan Niōmon beratap jerami, lalu melengkapi latar kuil kuno di fasilitas informasi situs bersejarah, kunjungan tidak akan berakhir hanya pada mengagumi bangunan.

Untuk pemotretan dan goshuin, utamakan arahan di lokasi, dan dengan tetap menjaga ketenangan saat beribadah, nikmatilah sejarah dan budaya Sendai dengan saksama.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Ini adalah situs bersejarah di Distrik Wakabayashi, Sendai, yang berpusat pada paviliun Yakushido yang dibangun kembali oleh Date Masamune dan berdiri di atas reruntuhan Mutsu Kokubunji dari periode Nara. Ini adalah kuil aliran Chisan dari sekte Shingon dengan objek utama Yakushi Nyorai. Tempat ini langka di kawasan Tohoku karena memiliki “struktur sejarah ganda”, yang memungkinkan menikmati reruntuhan kokubunji negara kuno sekaligus arsitektur Momoyama era modern awal dalam satu kompleks.
A. Yakushido yang sekarang dibangun kembali oleh Date Masamune dan selesai pada tahun Keicho ke-12 (1607). Masamune mengundang para pengrajin seperti Suruga-no-kami Munetsugu dari Senshu (kini Prefektur Osaka), dan karena masih tersisa papan bubungan (munafuda) bertuliskan “造立慶長十二年丁未十月廿四日” (didirikan pada tanggal 24 bulan 10 tahun Keicho ke-12), tahun pembangunannya diketahui dengan jelas, menjadikannya bangunan era modern awal yang berharga. Munafuda tersebut ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Penting bersama dengan bangunannya, sebagai bagian pelengkap.
A. Bangunan ini merupakan bergaya Momoyama yang mewakili Sendai dan ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Penting nasional. Bersama bangunan utama Osaki Hachimangu, ia disebut “dua puncak arsitektur Momoyama Sendai”. Berbeda dengan warna-warni mewah kuil Hachimangu, daya tariknya terletak pada komposisi kayu polos tanpa cat (shiraki) yang kuat dan keseimbangan yang tenang; membandingkan keduanya membuat kita merasakan luasnya ragam arsitektur Momoyama.
A. Dengan melihatnya baik dari depan maupun dari serong depan, komposisi atapnya mudah dipahami. Bangunan ini beratap gaya irimoya dengan genteng formal (hongawarabuki), berproporsi seimbang lima bentang (ken) pada sisi lebar dan lima bentang pada sisi dalam; dari sudut serong, atap yang menjorok dalam dan tumpukan bidang atap tampak menonjol. Pada sisi pedimen, menengadah dari jarak agak jauh memudahkan menangkap ornamen pedimen yang sederhana namun perkasa di bawah papan tepi atap.
A. Dari Stasiun Sendai, naik kereta bawah tanah Jalur Tozai menuju Stasiun Yakushido; dari stasiun, sekitar 3 menit berjalan kaki sampai ke Mutsu Kokubunji Yakushido. Kereta bawah tanah tidak perlu ganti jalur dan rutenya mudah diikuti. Dengan bus, naik dari peron nomor 5 Pintu Barat Stasiun Sendai ke arah Kasuminome via Yamatomachi, lalu turun di halte “Yakushido-mae” untuk tiba di dekat kompleks.
A. Jika hanya melihat Yakushido dan gerbang Niomon, sekitar 20〜30 menit, tetapi bila termasuk fasilitas informasi situs bersejarah, sebaiknya siapkan sekitar 1 jam agar lebih leluasa. Jika lebih dulu mempelajari tata letak bangunan (garan) kuil kuno di fasilitas informasi lalu melihat aslinya, makna reruntuhan aula ceramah dan ruang situs yang terbentang di bawah kaki dapat dipahami secara utuh.
A. Fasilitas Informasi Situs Bersejarah Mutsu Kokubunji dan reruntuhan biara perempuan berada dalam jarak berjalan kaki dan masuknya gratis. Buka pukul 9:00–17:00, dengan masuk terakhir pukul 16:45, sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Yakushido. Di sisi barat kompleks juga terdapat Kannondo situs ke-25 ziarah 33 Kannon Sendai dan Kuil Hakusan; dengan menjadikan fasilitas informasi sebagai titik awal, Anda dapat berjalan menghubungkan sejarah kuno dan modern awal.
A. Yakushido yang sekarang dibangun di atas “reruntuhan aula ceramah (kodo-ato)” Mutsu Kokubunji dari periode Nara. Aula ceramah adalah bangunan pusat tempat para biksu mempelajari kitab suci dan menyampaikan ajaran; berdirinya aula era modern awal di atas bekasnya adalah bukti bahwa ruang kuil yang hilang diwariskan dalam bentuk yang berubah. Dengan berpedoman pada perbedaan ketinggian tanah dan papan petunjuk, cobalah membayangkan garan yang luas pada masa lampau.

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.