Eigen-ji di Kota Higashiomi, Prefektur Shiga, adalah kuil utama aliran Eigen-ji dari mazhab Rinzai, yang dikelilingi aliran jernih Sungai Echi dan alam Pegunungan Suzuka.
Setelah menaiki tangga batu Rakan-zaka, Anda akan menjumpai Gerbang Sanmon yang ditetapkan sebagai properti budaya prefektur, Hōjō yang memuja Yotsugi Kannon, Hattō, menara lonceng, Zendō, Kaisandō, dan bangunan lain yang berjajar mengikuti kontur gunung.
Tempat ini dikenal sebagai lokasi terkenal untuk menikmati dedaunan musim gugur, tetapi dengan menelusuri kompleks kuil Zen, tempat berlatih, dan sejarah pendiri kuil, guru Zen Jakushitsu Genkō, secara berurutan, Anda dapat melihat sisi Eigen-ji yang tidak hanya berupa pemandangan musiman.
Tentang Eigen-ji | Kuil utama Rinzai yang didirikan oleh guru Zen Jakushitsu Genkō
Eigen-ji adalah kuil utama aliran Eigen-ji dari mazhab Rinzai dan merupakan pusat latihan Zen yang mewariskan praktik zazen serta doa.
Sasaki Rokkaku Ujiyori dan guru Zen Jakushitsu Genkō
Sejarah Eigen-ji bermula pada tahun pertama era Kōan pada zaman Dinasti Utara dan Selatan, ketika Sasaki Rokkaku Ujiyori, penguasa Provinsi Ōmi, mengabdikan diri kepada biksu ternama Jakushitsu Genkō, menyumbangkan tanah di wilayah kekuasaannya, dan membangun kompleks kuil.
Guru Jakushitsu adalah seorang biksu yang mempelajari Zen di Tiongkok, dan konon banyak biksu maupun umat awam berkumpul karena mengagumi kebajikannya.
Di lingkungan kuil, sejarahnya akan lebih mudah dipahami dengan menempatkan Ujiyori sebagai pendiri yang menyediakan landasan pembangunan dan guru Jakushitsu sebagai pendiri spiritual, masing-masing mendukung pendirian kuil dan ajaran Zen.
Kuil pusat aliran Eigen-ji
Eigen-ji merupakan salah satu kuil utama mazhab Rinzai dan Ōbaku, serta menjadi pusat aliran Eigen-ji.
Di Zendō, para biksu pelatih tekun melakukan zazen dan pekerjaan sehari-hari; sebelum menjadi tempat wisata, lingkungan kuil adalah tempat latihan dan keyakinan.
Kompleks yang dibangun kembali setelah kebakaran
Eigen-ji pernah kehilangan kompleks bangunannya akibat kebakaran dalam peperangan dan mengalami masa kemunduran.
Pada zaman Edo, pemulihan dilanjutkan oleh guru Zen Beppō Shōin, Isshi Bunshu, dan tokoh lain, sementara bangunan-bangunannya didirikan kembali dengan dukungan istana kekaisaran dan klan Ii.
Bangunan di lingkungan kuil tidak semuanya dibangun sekaligus pada masa yang sama; penting untuk memandangnya sebagai lapisan sejarah yang terbentuk melalui berbagai tahap pemulihan.

Rakan-zaka dan Sungai Echi | Jalan masuk dari alam menuju kuil Zen
Kunjungan ke Eigen-ji dimulai dengan menaiki tangga batu menuju Gerbang Sōmon sambil memandang Sungai Echi.
Sungai, jembatan, arca batu Buddha, dan lereng menjadi pengantar untuk mengalihkan suasana hati dari keseharian menuju lingkungan kuil.
Berjalan dari Jembatan Daiketsu menuju lingkungan kuil
Di jalan masuk, Anda menyeberangi Jembatan Daiketsu sambil merasakan aliran Sungai Echi dan anak sungainya, lalu bergerak menuju kawasan suci kuil.
Suara air dan pepohonan gunung menjadi ciri pemandangan Eigen-ji serta meneruskan hingga kini lingkungan alam yang dicintai oleh guru pendiri.
Saat memotret di jembatan atau tepi sungai, jangan masuk ke jalur kendaraan atau pejalan kaki lain, dan nikmatilah pemandangan dari tempat yang aman.
Rakan-zaka yang diapit arca batu Buddha
Setelah melewati Jembatan Daiketsu, terdapat Rakan-zaka dengan lebih dari 120 anak tangga batu.
Di tebing batu pada ujung pendakian, dipuja tritunggal Shaka dan enam belas arhat yang menyambut para pengunjung.
Karena anak tangga tersusun terus-menerus, jangan terlalu terpaku pada pemandangan; perhatikan pijakan dan beristirahatlah selama mendaki.
Melihat aliran jernih Sungai Echi
Sungai Echi yang terlihat dari lingkungan kuil mengalir dari Pegunungan Suzuka menuju Danau Biwa dan membentuk lanskap gunung serta air Eigen-ji.
Dahulu sungai ini disebut Raikei, dan ada pula legenda bahwa setelah kuil didirikan namanya berubah menjadi Sungai Otonashi.
Dengan mengaitkan legenda tersebut dengan pemandangan sungai masa kini, Anda akan memahami bahwa Eigen-ji bukanlah kompleks bangunan yang terpisah dari alam, melainkan kuil Zen yang menyatu dengan lembah dan air.

Sanmon dan Sōmon | Melintasi batas menuju kompleks Zen
Gerbang Sōmon dan Sanmon memisahkan bagian dalam dan luar lingkungan kuil, sekaligus mengungkapkan ajaran kuil Zen dalam bentuk bangunan.
Dengan mengetahui papan nama gerbang, prasasti batu, dan arca Buddha di lantai atas, Anda dapat melihat makna yang sulit disadari jika hanya melewatinya.
Sōmon dan Sensuishui
Sōmon adalah gerbang pertama lingkungan kuil yang sekaligus berfungsi sebagai loket; di sisi kanannya terdapat batu penanda batas yang menyatakan bahwa minuman beralkohol, daging, dan lima sayuran berbau tajam tidak boleh dibawa masuk.
Bak air besar di depan gerbang dibuat menyerupai bentuk telinga dan disebut “Sensuishui”, yang mengandung makna membasuh pikiran duniawi.
Jika Anda memahami arti tulisannya sebelum melewati gerbang, tempat ini dapat dimengerti sebagai sarana untuk menata hati sebelum memasuki kuil Zen.
Sanmon, properti budaya yang ditetapkan prefektur
Sanmon, yang juga disebut Gerbang Tiga Pembebasan, adalah gerbang besar dua lantai yang ditetapkan sebagai properti budaya Prefektur Shiga.
Di lantai atas dipuja tritunggal Shaka dan enam belas arhat, tetapi pengunjung umum tidak diperbolehkan naik.
Dari bawah, bayangkan susunan lantai atas, lalu amati jarak antartiang, tumpang tindih atap, dan cara lingkungan kuil terlihat melalui gerbang.
Hal yang perlu diperhatikan saat memotret gerbang
Di sekitar Sanmon, arus pengunjung cenderung padat, dan terdapat pula tangga batu serta jalan menanjak.
Untuk mencegah kecelakaan, penggunaan tripod dan drone dilarang di lingkungan kuil, sedangkan monopod diperbolehkan dengan syarat memperhatikan orang-orang di sekitar.
Jangan memanjat dinding batu atau tempat tinggi, dan ambillah foto dari posisi yang tidak mengganggu alur kunjungan.

Hōjō dan Yotsugi Kannon | Berdoa di aula utama beratap gelagah
Hōjō di Eigen-ji juga berfungsi sebagai aula utama, disebut “Anjinshitsu”, dan memuja Yotsugi Kannon yang merupakan patung rahasia.
Atapnya yang besar dan ruang doa di dalamnya memperlihatkan pusat arsitektur serta keyakinan Eigen-ji.
Atap besar dari gelagah Danau Biwa
Atap besar Hōjō ditutup dengan gelagah dari Danau Biwa dan dipelihara melalui penggantian atap secara berkala.
Bangunan yang ada sekarang didirikan pada zaman Edo dengan bantuan klan Ii, kemudian mengalami beberapa kali renovasi.
Dengan melihat tekstur halus bahan atap dan kemiringannya yang besar, Anda dapat merasakan hubungan antara bahan alami setempat dan arsitektur kuil.
Patung rahasia Yotsugi Kannon
Arca utama, Bodhisatwa Kannon, disebut “Yotsugi Kannon” karena keyakinan orang-orang yang berdoa agar memperoleh penerus.
Karena merupakan patung rahasia, sosoknya biasanya tidak dapat dilihat dan hanya diperlihatkan pada kesempatan terbatas.
Walaupun sosoknya tidak terlihat, rapatkan tangan di depan zushi dan hayati makna keyakinan melalui legenda tentang guru pendiri dan Kannon.
Papan nama gunung Zuiseki-zan
Di bagian depan Hōjō tergantung papan bertuliskan nama gunung “Zuiseki-zan”, yang dipercaya merupakan kaligrafi guru pendiri Jakushitsu.
Eigen-ji memiliki legenda tentang pertanda ajaib yang berkaitan dengan batu, dan nama gunung itu pun berasal dari kisah tersebut.
Dengan mengaitkan tulisan pada papan dengan bebatuan serta bentuk pegunungan di sekitarnya, Anda akan memahami bahwa nama kuil dan nama gunung lahir dari kisah tempat tersebut.
Hattō, Zendō, dan Kaisandō | Memahami peran kuil Zen melalui bangunannya
Di sekitar Hōjō terdapat bangunan yang digunakan untuk upacara, latihan, dan penghormatan kepada pendiri.
Dengan melihat fungsi masing-masing secara terpisah, Anda dapat memahami bahwa kuil utama bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga tempat para biksu berlatih dan aliran keagamaan dikelola.
Hattō untuk menyelenggarakan upacara
Hattō disebut “Daiyūhōden” dan sekaligus berfungsi sebagai aula Buddha untuk menyelenggarakan upacara kuil utama.
Di altar Shumidan ditempatkan Shaka Nyorai, Yang Mulia Kāśyapa, dan Yang Mulia Ānanda, serta terdapat pula area untuk memuja para leluhur dan dewa pelindung kompleks kuil.
Untuk area di dalam aula yang boleh dimasuki dan ketentuan kunjungan selama upacara, utamakan petunjuk di lokasi.
Zendō tempat para biksu pelatih tinggal
Zendō adalah tempat para biksu pelatih tidak hanya melakukan zazen, tetapi juga menjalani kehidupan bersama yang tertib sejak bangun hingga tidur.
Mereka melanjutkan kehidupan Zen dengan duduk, makan, dan beristirahat di ruang yang disediakan bagi setiap orang.
Berbeda dari sesi pengalaman bagi pengunjung umum, Zendō sehari-hari adalah tempat latihan, sehingga patuhilah pembatasan masuk dan pengambilan gambar.
Kaisandō yang memuja guru Jakushitsu
Kaisandō disebut “Daijakutō” dan dibangun di atas makam guru pendiri Jakushitsu.
Papan “Daijaku” di depan aula dipercaya merupakan karya guru Ingen dan menyampaikan hubungan dalam garis silsilah Dharma Zen.
Di Kaisandō, jangan hanya melihat bagian luar bangunan; berkunjunglah dengan tenang sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang membuka ajaran kuil.

Dedaunan musim gugur dan hijau muda | Menikmati alam di tepi Sungai Echi pada setiap musim
Lingkungan Eigen-ji dipenuhi pohon mapel dan berbagai pepohonan lain, sementara musim berganti bersama pemandangan air Sungai Echi.
Waktu terbaik menikmati musim gugur berubah menurut cuaca, jadi jangan berpatokan pada tanggal tertentu dan periksalah kondisi warna daun sesaat sebelum berkunjung.
Pada musim gugur, ikuti perubahan warna dari jalan masuk hingga Sanmon
Saat musim dedaunan, susunan pepohonan tampak berbeda di Rakan-zaka, Sōmon, Sanmon, dan sekitar Hōjō.
Daripada berpusat pada satu titik foto, bandingkan beragam pemandangan dengan tangga batu, gerbang bertingkat, atap gelagah, dan Sungai Echi sebagai latar untuk menangkap suasana musim gugur khas Eigen-ji.
Pada musim menikmati mapel, jam kunjungan dan pengelolaan tempat parkir mungkin berbeda dari biasanya.
Hijau muda memudahkan Anda merasakan ketenangan kuil Zen
Dari musim semi hingga awal musim panas, daun-daun muda menyelimuti dinding batu dan bangunan, sehingga Anda dapat berjalan di lingkungan kuil sambil mendengar suara air dan burung.
Pada hari hujan, warna lumut dan dedaunan terlihat lebih pekat, tetapi tangga batu dan jembatan menjadi licin.
Jangan sampai payung menghalangi pandangan orang di sekitar, dan gunakan sepatu yang nyaman untuk berjalan saat berkunjung.
Mapel yang dipercaya berasal dari tanaman sang pendiri
Di lingkungan kuil, garis keturunan mapel yang dipercaya ditanam oleh guru Jakushitsu terus diwariskan.
Pohon-pohon sekarang diyakini berasal dari bibit yang ditanam ulang secara berkelanjutan, bukan berarti satu pohon tua dipertahankan apa adanya.
Dengan mengetahui legenda dan sejarah penanaman ulang, dedaunan musim gugur dapat dipandang sebagai lanskap yang meneruskan ingatan kuil kepada generasi berikutnya.
Jam kunjungan, sumbangan, dan akses | Naik bus dari Stasiun Yōkaichi
Eigen-ji terletak jauh dari stasiun kereta, dan salah satu cara menuju ke sana adalah menggunakan bus umum dari Stasiun Yōkaichi.
Jam kunjungan, sumbangan, dan tempat parkir dapat berubah menurut musim atau acara, jadi periksalah informasi untuk tanggal kunjungan Anda.
Jam kunjungan dan sumbangan
Jam kunjungan biasa adalah pukul 9:00 hingga 16:00.
Sumbangan kunjungan yang diinformasikan adalah 600 yen untuk orang dewasa, 200 yen untuk siswa sekolah menengah pertama dan orang yang menunjukkan kartu penyandang disabilitas, serta gratis untuk anak sekolah dasar dan yang lebih muda.
Pada November, jam kunjungan berubah karena musim menikmati mapel; jika berkunjung pada musim gugur, periksa informasi sebelum datang.
Bus Ōmi Railway dari Stasiun Yōkaichi
Dengan transportasi umum, tersedia rute bus jalur Misono dari Stasiun Yōkaichi milik Ōmi Railway dan turun di halte Eigen-ji-mae.
Waktu perjalanan sekitar 35 menit, tetapi dapat berubah sesuai kondisi jalan dan kepadatan musiman.
Periksa jadwal operator pada tanggal perjalanan, termasuk bus pulang, dan turunlah dari gunung dengan waktu yang cukup sebelum layanan terakhir.
Dengan mobil, gunakan tempat parkir sebelum Jembatan Tando
Dengan mobil, perjalanan dapat dilakukan dari arah Persimpangan Yōkaichi di Jalan Tol Meishin dan tempat lain melalui Rute Nasional 421, lalu gunakan tempat parkir kuil utama Eigen-ji sebelum Jembatan Tando.
Kapasitas parkir biasa terbatas, dan saat musim dedaunan, tempat parkir resmi atau tempat parkir dengan reservasi di sekitar kawasan mungkin akan diinformasikan.
Hindari parkir di jalan atau memasuki jalan permukiman di sekitar kuil, dan ikuti arahan pada hari tersebut.
Keselamatan saat memotret dan menaiki tangga batu
Untuk mencegah kecelakaan, penggunaan tripod dan drone dilarang di lingkungan kuil, sedangkan monopod dapat digunakan dengan syarat memperhatikan orang-orang di sekitar.
Di Rakan-zaka dan jembatan, perhatikan pijakan, jangan memasuki area latihan yang ditutup, serta kurangi percakapan dan suara rana selama upacara.
Ringkasan | Menelusuri sejarah Zen, kompleks bangunan, dan lanskap Sungai Echi di Eigen-ji
Sejak didirikan oleh Sasaki Ujiyori dan guru Jakushitsu Genkō, kemudian mengalami kebakaran serta pemulihan, Eigen-ji terus menyampaikan ajaran Zen sebagai kuil utama aliran Eigen-ji dari mazhab Rinzai.
Dengan melihat secara berurutan Sungai Echi, Rakan-zaka, Sanmon, Hōjō beratap gelagah, Hattō, Zendō, dan Kaisandō, Anda akan lebih mudah memahami lingkungan kuil tempat alam dan ruang latihan menyatu.
Sebelum berkunjung, periksa jam kunjungan, sumbangan, bus, dan informasi tempat parkir pada musim dedaunan, lalu berkunjunglah dengan waktu yang cukup sambil menaati aturan pemotretan dan menghormati area latihan.





Ulasan (0)