Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Mari Jepang: Perbedaan Temari & Kemari, Bola Tradisional

Mari Jepang: Perbedaan Temari & Kemari, Bola Tradisional
Panduan mari Jepang: beda temari dan kemari, sejarah bola tradisional, ide oleh-oleh, daya tarik wisata, dan pilihan workshop budaya.

Ringkasan Cepat

Daya Tarik Singkat

Mari (bola tradisional Jepang) adalah budaya tradisional yang memperlihatkan estetika, hadiah, dan tata cara Jepang melalui dua sisi: temari sebagai kerajinan dan kemari yang terkait dengan budaya istana.

Hal-hal Menarik

Anda dapat menikmati mari dengan menonton, membeli, atau membuatnya, seperti motif Matsumoto Temari dan Matsue Washi Temari, Kemari Hajime di Shimogamo Jinja, dan Kemari Matsuri di Tanzan Jinja.

Ciri Khas Temari

Kerajinan yang dibentuk dengan kertas atau benang katun, dan menggambarkan motif seperti bunga, bintang, burung, dan ombak dengan benang.

Daya Tarik Kemari

Budaya bola yang menekankan tata cara dan harmoni, di mana penting untuk mengembalikan bola yang mudah ditendang oleh lawan.

Hal yang Bisa Dialami

Sebagai contoh pengalaman di Kota Matsumoto, ada pelajaran membuat temari motif yaegiku selama sekitar 120 menit seharga 4.400 yen, mudah diikuti pemula sekalipun.

Cara Menuju ke Sana

Dari Matsumoto Station ke sekitar Kastil Matsumoto sekitar 20 menit berjalan kaki; bengkel Matsue Washi Temari sekitar 11 menit dengan taksi dari JR Matsue Station.

Tanggal Acara dan Durasi

Kemari Hajime pada 4 Januari, Kemari Matsuri pada 29 April dan 3 November; jalan-jalan di sekitar Matsumoto sekitar setengah hari.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Semua area

Apa Itu Mari? Makna Bola Tradisional dalam Budaya Jepang

Mari adalah budaya permainan bola yang telah lama dicintai di Jepang, dengan tradisi yang berkembang luas mulai dari permainan istana hingga kehidupan masyarakat biasa.

Meski sama-sama disebut "mari", terdapat perbedaan besar baik dari segi tampilan maupun cara menikmatinya antara Kemari (kemari, permainan menendang bola ala istana) yang diwariskan sebagai permainan istana, dan Temari (temari, bola benang hias) yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi wisatawan, daripada melihatnya sebagai olahraga kompetitif, akan lebih mudah dipahami jika dijadikan pintu masuk untuk mengenal estetika Jepang dan budaya pemberian hadiah.

Dengan menelusuri budaya mari yang masih tersisa di berbagai daerah seperti Kyoto, Nara, Nagano, dan Shimane, Anda dapat melihat estetika dan doa yang dititipkan orang Jepang pada bentuk bola.

Perbedaan Temari dan Kemari, Memahami Mari Lebih Dalam

Temari, Bola Hias dan Mainan yang Akrab dalam Kehidupan Sehari-hari

Temari adalah kerajinan tradisional yang dibentuk menggunakan kertas, sekam padi, dan benang katun, dengan motif seperti bunga, bintang, burung, dan ombak yang diekspresikan secara indah.

Akarnya konon berasal dari Tiongkok, dan di Jepang awalnya menyebar sebagai permainan istana pada periode Nara dan Heian, yang kemudian berkembang dengan bahan dan teknik khas di berbagai daerah.

Sejak pertengahan periode Edo, bentuk modernnya berkembang menjadi bola berinti serat pakis zenmai yang dililit kapas, lalu dibungkus benang indah dengan motif geometris, dan menyebar ke seluruh negeri sebagai mainan anak perempuan saat Tahun Baru.

Saat ini, temari tidak hanya dinikmati sebagai mainan anak, tetapi juga banyak digunakan sebagai hadiah dan dekorasi interior.

Kemari, Permainan Anggun yang Terhubung dengan Budaya Istana

Sementara itu, kemari dikenal sebagai permainan menendang bola ke atas agar tidak jatuh ke tanah, dan bukanlah permainan yang mempertandingkan menang-kalah, melainkan budaya tata gerak yang menekankan mengoper bola yang mudah ditendang lawan.

Menurut penjelasan Badan Rumah Tangga Kekaisaran (Kunaichō), bola yang digunakan dalam kemari terbuat dari kulit rusa, berdiameter sekitar 20 cm, dengan berat sekitar 120 gram yang ternyata cukup ringan, dan delapan orang membentuk lingkaran sambil saling menendang dengan seruan "Ari", "Yaa", "Ou".

Dipercaya berasal dari Tiongkok sekitar 1.400 tahun lalu, kemari mulai populer di istana sejak pertengahan periode Heian, dan menyebar hingga ke kalangan samurai pada periode Kamakura.

Setelah sempat terputus pasca Restorasi Meiji, pada tahun 1907 (Meiji 40) didirikan "Kemari Hozonkai (Asosiasi Pelestarian Kemari)" berkat dana hibah dari Kaisar Meiji, dan hingga kini masih ditampilkan saat pembukaan khusus Kyoto Gosho dan tempat-tempat lainnya.

Dari fakta bahwa adat istiadat seputar kemari tertulis dan terdokumentasi, terlihat bahwa kemari diwariskan bukan sekadar permainan, melainkan sebagai budaya yang disertai tata cara dan tradisi.

Mengapa Motif dan Warna Temari Populer sebagai Oleh-oleh Wisata

Estetika Khas Jepang dalam Bola Kecil

Daya tarik temari adalah kemampuannya mengekspresikan simetri halus dan nuansa musim dalam bentuk bulat.

Motif geometris yang dibuat dengan menumpuk benang memiliki keindahan yang teratur, dan desain seperti seruni, sakura (bunga sakura), asanoha (motif daun rami), ombak, dan lingkaran salju mencerminkan pandangan alam dan cita rasa dekoratif Jepang.

Kombinasi warna cerah seperti merah, kuning, dan ungu juga dikatakan memiliki makna penangkal kejahatan, dan secara historis digunakan sebagai perlengkapan pernikahan atau hadiah untuk mendoakan tumbuh kembang anak.

Meski indah dilihat dalam foto, dari dekat Anda dapat lebih merasakan tumpukan benang dan ketelitian kerajinan tangan.

Alasan Sering Dipilih sebagai Oleh-oleh Wisata

Dalam wisata belakangan ini, temari lebih sering ditemui sebagai "benda untuk dipajang" daripada "benda untuk dimainkan".

Matsumoto Temari yang diwariskan di Kota Matsumoto, Prefektur Nagano, adalah kerajinan tradisional yang konon mulai dibuat oleh wanita keluarga samurai Domain Matsumoto sekitar 200 tahun lalu, dan saat ini diperkenalkan sebagai dekorasi interior dan hadiah yang menggunakan benang yang diwarnai dengan pewarna alami tumbuhan dari Shinshū.

Karena penampilannya ringan dan khas Jepang, serta mudah dipajang di ruangan setelah dibawa pulang, temari cocok untuk yang sedang mencari oleh-oleh kerajinan.

Harganya berkisar mulai beberapa ribu yen untuk ukuran mini, hingga puluhan ribu yen untuk karya berukuran besar yang dibuat sebagai karya seni, sehingga mudah dipilih sesuai anggaran perjalanan.

Tiga Cara Menikmati Mari saat Wisata: Melihat, Membeli, Membuat

Mulailah dengan Melihat di Pameran atau Toko Kerajinan

Daya tarik mari terletak pada keindahan yang terlihat dari jauh sekaligus presisi yang terlihat dari dekat.

Di museum, toko kerajinan, dan area penjualan kerajinan tradisional daerah, Anda dapat dengan mudah membandingkan perbedaan motif dan suasana tiap daerah, yang juga menjadi jalan untuk memahami budaya Jepang.

Bagi yang ingin merasakan budaya istana Kyoto, direkomendasikan pembukaan khusus Kyoto Gosho atau Kemari Hajime di Shimogamo Jinja (kuil Shimogamo, setiap tanggal 4 Januari), sementara bagi yang tertarik pada temari sebagai kerajinan, direkomendasikan toko kerajinan di Kota Matsumoto atau Matsue Washi Temari Kōbō (workshop temari kertas washi Matsue, 9.30-16.00, tutup hari Selasa dan Kamis) di Kota Matsue, Prefektur Shimane.

Khusus untuk temari, hanya dengan melihat perbedaan komposisi warnanya saja sudah cukup untuk dinikmati.

Jika Mencari Pengalaman, Pembuatan Temari Mudah Dipahami

Yang mudah diikuti wisatawan adalah pengalaman membuat temari.

Matsue Washi Temari yang diwariskan di Kota Matsue, Prefektur Shimane, adalah temari unik yang dibuat dengan menempelkan Izumo Mingeishi (kertas kerajinan rakyat Izumo) pada inti, lalu dijahit dengan benang sulam dan diselesaikan dengan chigiri-e (seni sobek kertas), dan konon mulai dibuat oleh dayang-dayang istana Domain Matsue pada periode Edo.

Di tempat seperti "Teshigoto Shōkai Suguri" di Kota Matsumoto, Prefektur Nagano, juga tersedia kelas pengalaman membuat temari motif yaegiku (seruni berlapis) selama sekitar 120 menit (4.400 yen), yang dapat diikuti dengan santai bahkan oleh pemula.

Daripada hanya melihat barang jadi, dengan memilih bentuk dan warna sendiri, Anda akan lebih mudah mengingat mari sebagai "budaya", bukan hanya "dekorasi".

Tips yang Perlu Diketahui Saat Melihat dan Memilih Mari

Temari Lebih Menarik Jika Memahami Makna Motifnya

Jika menemukan karya yang menarik, pertama-tama lihatlah kombinasi warna, pengulangan motif, dan tekstur bahannya.

Di tempat yang ada keterangannya, perhatikan nama daerah (Matsumoto Temari, Matsue Washi Temari, Kaga Temari, dan lain-lain), bahan (benang katun, benang sutra, kertas washi), dan cara pembuatannya agar mudah dibandingkan.

Walaupun bentuknya sama-sama bulat, kesan yang diberikan akan sangat berbeda antara yang berkesan lucu dan yang terlihat sebagai kerajinan tangan yang anggun.

Kemari Lebih Mudah Dipahami Jika Bertemu dalam Pertunjukan atau Upacara

Kemari, alih-alih sekadar memandang barang jadinya, akan lebih mudah dipahami keindahan tata geraknya dan keterkaitannya dengan budaya istana jika dilihat dalam konteks pertunjukan atau ritual.

Di Shimogamo Jinja Kyoto (4 Januari "Kemari Hajime"), Shiramine Jingū, Tanzan Jinja Nara ("Kemari Matsuri" setiap 29 April dan 3 November), dan tempat lainnya, Anda dapat menyaksikan persembahan kemari oleh anggota asosiasi pelestari yang mengenakan kostum tradisional.

Jika menemukan pameran terkait atau acara kuil saat berwisata, perhatikan tidak hanya peralatannya, tetapi juga kostum (mari-suikan dan kuzu-bakama), seruan khas, dan gerakan kaki.

Anda akan merasakan bagaimana budaya tradisional Jepang berlanjut melintasi batas antara permainan, etika, dan apresiasi.

Informasi Praktis dan Tips Cara Menuju untuk Menikmati Mari

Estimasi Cara Menuju Spot Wisata Utama

Untuk merasakan Matsumoto Temari, dari Stasiun JR Matsumoto ke sekitar Kastil Matsumoto sekitar 20 menit jalan kaki, dan dapat dinikmati dalam setengah hari sambil berjalan-jalan di kota benteng.

Matsue Washi Temari Kōbō berjarak sekitar 11 menit dengan taksi dari Stasiun JR Matsue, atau sekitar 6 menit jalan kaki dari halte bus terdekat "Koizumi Yakumo Kinenkan-mae", lokasinya mudah dikombinasikan dengan wisata Kastil Matsue dan Koizumi Yakumo Kinenkan (museum peringatan Lafcadio Hearn).

Shimogamo Jinja di Kyoto dapat ditempuh dari Stasiun JR Kyoto dengan bus kota nomor 4 atau 205 menuju "Shimogamo Jinja-mae", sementara Tanzan Jinja di Nara berjarak sekitar 25 menit dengan bus dari Stasiun JR atau Kintetsu Sakurai.

Tips Perjalanan untuk Wisatawan Mancanegara

Di pusat informasi wisata utama dan toko kerajinan, brosur sederhana dalam bahasa Inggris biasanya tersedia, dan pemesanan pengalaman akan lebih lancar jika dilakukan online atau telepon sehari sebelumnya.

Temari kecil dan ringan sehingga mudah dibawa pulang sebagai bagasi kabin, dan jika memilih yang dikemas dalam kotak kayu paulownia atau kantong kain, dapat disimpan lebih lama.

Acara persembahan kemari dapat dibatalkan atau diubah lokasi/waktunya saat hujan, jadi sebaiknya konfirmasi informasi resmi tiap kuil sebelum berkunjung agar lebih tenang.

Kesimpulan | Menikmati Budaya Jepang melalui Mari

Mari bukan sekadar alat bulat biasa.

Pada temari hidup keindahan kerajinan tangan dan keunikan tiap daerah, sementara pada kemari hidup sejarah 1.400 tahun dan tata cara yang anggun.

Saat menemukannya dalam perjalanan, jangan hanya berakhir sebagai kerajinan yang lucu, namun bayangkan juga permainan, hadiah, nuansa musim, dan etika di baliknya, maka cara pandang terhadap budaya Jepang akan terasa jauh lebih dalam. 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Mari tradisional Jepang secara umum terbagi menjadi dua: kemari yang ditendang dengan kaki dan temari dekoratif yang dimainkan dengan tangan. Kemari adalah permainan bangsawan yang dibawa dari Tiongkok sekitar 1.400 tahun lalu, sedangkan temari menyebar di kalangan rakyat sebagai mainan Tahun Baru untuk anak perempuan pada pertengahan zaman Edo. Meski sama-sama disebut mari, bentuk dan maknanya berbeda antara budaya istana dan masyarakat umum.
A. Kemari adalah olahraga elegan dari kalangan bangsawan Heian yang menendang bola kulit rusa terus-menerus tanpa menjatuhkannya. Bola berdiameter sekitar 20 cm dan berat sekitar 120 g ini pada dasarnya hanya ditendang dengan kaki kanan. Tidak seperti sepak bola, kemari tidak mengejar menang-kalah, tetapi menjunjung etika mengembalikan bola ke posisi yang mudah diterima lawan, sehingga kepedulian pada orang lain lebih dihargai daripada teknik semata.
A. Tempat utama untuk menyaksikan persembahan kemari di Kyoto adalah Shimogamo Shrine, Shiramine Jingu, dan Kyoto Imperial Palace. Di Shimogamo Shrine, Kemari Hajime diadakan setiap 4 Januari sekitar pukul 13:30, dengan pemain berkostum tradisional yang menendang bola sambil meneriakkan Ari, Yaa, dan Ou. Area berdiri gratis, tetapi jika ingin memotret dari dekat, tersedia tempat duduk khusus seharga 2.000 yen dengan pendaftaran mulai tengah hari pada hari acara.
A. Shiramine Jingu adalah kuil yang berdiri di bekas kediaman keluarga Asukai, leluhur kemari dan waka, serta memuja dewa pelindung permainan bola dan olahraga. Memutar nade-mari satu kali di Tugu Kemari di samping Jinushi-sha dipercaya membawa keberuntungan dalam permainan bola, sehingga kuil ini juga dikenal sebagai tempat berdoa kemenangan bagi pemain tim nasional sepak bola Jepang. Persembahan kemari diadakan setiap 14 April dan 7 Juli, dan aksesnya sekitar 2 menit berjalan kaki dari halte bus kota Horikawa Imadegawa.
A. Temari diberikan sebagai jimat keberuntungan dengan harapan anak tumbuh sehat dan terhindar dari hal buruk. Bentuknya yang bulat melambangkan semuanya berjalan lancar dan berakhir baik. Pada zaman Edo, dayang-dayang istana memberikannya sebagai hadiah Tahun Baru untuk anak perempuan, dan hingga kini temari masih populer sebagai hadiah kelahiran maupun perayaan hari pertama anak.
A. Temari ukuran mini mulai dari beberapa ribu yen, sedangkan karya besar yang lebih serius bisa mencapai puluhan ribu yen atau lebih. Untuk ukuran yang sama, harga dapat sangat berbeda tergantung jumlah benang dan kerumitan pola, dan karya tunggal buatan pengrajin bisa lebih dari 100.000 yen. Untuk oleh-oleh, temari kecil berbentuk netsuke atau strap mudah dibawa, dan untuk penyimpanan jangka panjang, hindari sinar matahari langsung serta kelembapan agar warnanya tidak pudar.
A. Matsue Washi Temari Kobo buka pukul 9:30-16:00 dan tutup pada hari Selasa serta Kamis. Tempat ini menawarkan pengalaman seperti membuat jimat washi temari selama sekitar 1 jam, dengan menempelkan chigiri-e washi pada bola lapis berdiameter 8 cm. Lokasinya sekitar 11 menit naik taksi dari Stasiun JR Matsue dan berada di sepanjang parit Matsue Castle, sehingga cocok dipadukan dengan jalan-jalan setengah hari di kota kastil.
A. Di Suguri Temari atau Teshigoto Shokai Suguri di Matsumoto, Prefektur Nagano, pengunjung dapat mencoba membuat Matsumoto Temari selama sekitar 120 menit dengan biaya 4.400 yen. Lokasinya berada di Chuo 3-2-13 Matsumoto, sekitar 20 menit berjalan kaki dari Stasiun JR Matsumoto. Tempat ini mudah dipadukan dengan kunjungan ke Matsumoto Castle, dan karya yang selesai dapat dibawa pulang pada hari yang sama sebagai oleh-oleh perjalanan.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.