Apa Itu Utsue Shijūhachi-taki? Menyusuri Keindahan Ngarai Hida dengan Berjalan Kaki
Utsue Shijūhachi-taki (Air Terjun 48 Utsue) berada di taman alam tingkat prefektur di Kokufu-chō, Kota Takayama, Prefektur Gifu, tempat kamu bisa mengamati aliran sungai pegunungan dan air terjun yang mengalir di dalam hutan dari jalur pejalan kaki.
Ini bukan tempat wisata untuk melihat satu air terjun besar saja, melainkan tempat yang paling nikmat dijelajahi dengan berjalan ke arah hulu sambil menikmati cara air jatuh, bentuk bebatuan, serta perubahan lumut dan pepohonan.
Jelajah air terjun dengan aliran besar dan kecil yang saling menyambung
Sungai Shijūhachi-taki-gawa mengalir melewati lembah curam dan membentuk air terjun beragam ukuran di antara batuan dasar dan rimbunan pohon.
Selama berjalan, kamu akan menemukan tempat air jatuh dalam untaian tipis, tempat air meluncur di dinding batu, dan tempat air tumpah deras ke kolam air terjun, sehingga meski hanya berpindah sebentar kesan pemandangan pun berubah.
Di tengah jalur terdapat dek pandang, dan pada hari cerah kamu bisa menikmati pemandangan puncak-puncak Pegunungan Alpen Utara (Kita Alps).
Melihat air terjun yang bernama satu per satu secara berurutan
Meski dalam namanya terdapat kata 48, panduan jalur memperkenalkan secara berurutan 13 air terjun bernama, seperti Uogaeri-taki, Hira-taki, Ō-taki, Ruri-taki, dan Nunosarashi-taki.
Alih-alih terburu-buru menghitung jumlahnya, berjalan sambil mengaitkan setiap nama dengan wujud airnya membuatmu lebih mudah mengenal nama tempat berbahasa Jepang dan cara pandang terhadap alam.
Tempat menikmati suara air dan hutan sekaligus
Saat dekat air terjun suara air menjadi lebih keras, dan begitu sedikit menjauh suara burung serta gemerisik daun kembali terdengar, sehingga perubahan suara pun menjadi bagian dari perjalanan.
Kamu bisa melihat dari dekat batu berlumut dan pohon besar, tetapi lakukan pengamatan dari sisi dalam jalur, dan utamakan pijakan kaki serta lalu lalang orang di sekitar.

Daya Tarik Utsue Shijūhachi-taki: Membaca Pemandangan dari Nama Air Terjun
Di antara nama air terjun ada yang menggambarkan cara air mengalir, bentuk batu, atau suara yang terdengar, dan mengetahui maknanya membuat pemandangan lebih mudah dikenali.
Periksa peta taman di pintu masuk, dan menyimpan nama yang sulit dibaca di layar membuatnya lebih mudah dicocokkan dengan papan petunjuk di lokasi.
Pandangan ke arah hulu yang dimulai dari Uogaeri-taki
Uogaeri-taki (Air Terjun Uogaeri) memiliki tinggi sekitar 6 meter, dan konon dinamai demikian karena begitu terjal sehingga ikan tidak dapat berenang lebih jauh ke hulu.
Alih-alih sejak awal hanya berusaha memotret air terjun dari jarak dekat, memandang termasuk arah aliran sungai dan pepohonan di sekitarnya membantu menyampaikan bentuk lembah.
Merasakan volume air dan kekuatan jatuhnya di Ō-taki
Ō-taki (Air Terjun Ō) memiliki tinggi sekitar 18,8 meter, terbesar di antara kelompok air terjun, dan bentuk air yang menyatu lalu jatuh bersama beserta kabut airnya meninggalkan kesan yang kuat.
Semakin dekat belum tentu semakin aman, jadi pilih posisi berdirimu dalam jangkauan yang terlihat dari pagar atau jalur.
Ruri-taki dan warna cahaya yang menembus sela dedaunan
Ruri-taki (Air Terjun Ruri) memiliki tinggi sekitar 6 meter, dan konon dinamai demikian karena kolam air terjunnya berkilau biru lazuardi (ruri) saat menerima cahaya matahari yang menembus dedaunan, dengan hutan pohon beech (buna) di sekitarnya.
Karena cara cahaya masuk berubah menurut cuaca dan waktu, sebaiknya jangan terlalu berharap pada warna tertentu, melainkan amati permukaan air serta terang-gelap hutan pada hari itu.
Melihat aliran yang membentang ke samping di Nunosarashi-taki
Nunosarashi-taki (Air Terjun Nunosarashi) memiliki tinggi sekitar 3 meter, permukaan airnya beriak putih dan tampak seperti kain putih bersih yang dijemur membentang (sarashi) di atas batu lebar, itulah asal namanya.
Alih-alih membandingkan hanya dari ketinggian jatuhnya, melihat aliran putih yang membentang di atas batu dan batasnya dengan hijau di sekitarnya menunjukkan perbedaannya dengan air terjun lain.
Cara membaca nama air terjun yang sulit dan petunjuk untuk mengamatinya dirangkum sebagai berikut.
| Nama | Cara baca | Petunjuk mengamati |
|---|---|---|
| Uogaeri-taki | Uogaeri | Aliran yang terjal |
| Hira-taki | Hira | Air yang meluncur di batuan |
| Bonnon-taki | Bonnon | Suara air yang bergema |
| Ruri-taki | Ruri | Cahaya di permukaan air |
| Nunosarashi-taki | Nunosarashi | Air putih yang membentang |

Cara Berjalan untuk Pertama Kali: Melangkah di Jalur Tanpa Tersesat
Utsue Shijūhachi-taki adalah perjalanan menyusuri air terjun ke arah hulu, jadi alih-alih berjalan cepat sejak awal, mengatur agar tenaga dan cahaya masih tersisa untuk perjalanan pulang justru lebih penting.
Perkiraan waktu untuk keluarga yang mendaki perlahan adalah sekitar 1 jam, tetapi wisatawan yang menyisipkan pemotretan dan istirahat sebaiknya merencanakan dengan waktu yang cukup longgar.
Periksa peta dan kondisi permukaan jalan di pintu masuk
Sebelum berangkat, pastikan posisimu saat ini, urutan air terjun, dan titik putar balik, dan perpendek langkah saat permukaan jalan basah setelah hujan atau di tempat teduh.
Ketika terlewat papan petunjuk, alih-alih mencari jalan pintas, kembali menyusuri jalur hingga titik yang bisa dipastikan justru lebih aman.
Berhenti di setiap air terjun dan jangan terburu-buru saat pulang
Di depan air terjun, menepilah ke posisi yang tidak menghalangi jalan, lalu pindahkan pandangan secara berurutan dari suara air, dinding batu, ke pepohonan, sehingga kamu bisa menikmati pemandangan dengan tertata meski dalam waktu singkat.
Saat pulang, beban pada kaki berubah di jalan turun, jadi jangan memeriksa foto yang telah diambil sambil berjalan; berhentilah di tempat yang stabil untuk mengoperasikannya.
Tindakan yang perlu diperhatikan pada setiap tahap perjalanan dirangkum berikut ini.
| Tahap | Tindakan | Hal yang dilihat |
|---|---|---|
| Sebelum berangkat | Periksa peta | Urutan air terjun |
| Menanjak | Perpendek langkah | Permukaan jalan dan papan petunjuk |
| Menikmati air terjun | Berhenti di tepi | Bentuk air dan batu |
| Perjalanan pulang | Utamakan pijakan | Beda ketinggian dan basah |

Cara Menikmati Tiap Musim: Perbedaan Dedaunan Hijau Segar, Musim Panas, dan Daun Musim Gugur
Pemandangan hutan dan sungai berganti wajah menurut musim, dan bahkan pada air terjun yang sama, warna latar dan cara cahaya masuk pun berbeda.
Karena kondisi buka dan tingkat perubahan warna daun musim gugur bergantung pada cuaca, memeriksa informasi buka tepat sebelum berkunjung terasa lebih tenang.
Musim semi hingga awal musim panas, lihat warna daun muda dan lumut
Dari musim semi hingga awal musim panas, daun yang bertunas dan warna batu yang lembap saling bertumpuk, menjadikannya musim yang mudah menemukan kontras dengan putihnya air terjun.
Karena hawa sejuk kadang masih tersisa di tempat teduh, sebaiknya membawa jaket tipis dan mengenakan pakaian yang bisa disesuaikan dengan perubahan suhu.
Di musim panas, utamakan asupan cairan dan istirahat
Bahkan di dalam hutan pun bisa menjadi gerah, jadi jangan hanya mengandalkan kesejukan tepi air; pastikan membawa minuman dan beristirahat.
Karena keringat membuat perhatian pada pijakan mudah lengah, aturlah napas sebelum memotret dan jaga jarak yang cukup dengan orang di sekitar.
Di musim gugur, bandingkan daun musim gugur dengan terang-gelap air terjun
Di musim gugur mudah memasukkan pepohonan yang berwarna dan aliran air putih dalam satu bingkai, dan komposisi yang memotret bukan hanya air terjun tetapi seluruh ngarai cocok dengan pemandangannya.
Karena daun yang gugur bisa membuat batu dan beda ketinggian sulit terlihat, berhentilah sejenak saat mendongak melihat pemandangan.
Membandingkan cara melihat tiap musim dan apa yang perlu disiapkan dengan kriteria yang sama memudahkan memilih.
| Musim | Fokus pemandangan | Persiapan |
|---|---|---|
| Musim semi | Tunas dan lumut | Pakaian berlapis |
| Awal musim panas | Hijau pekat dan air | Perlengkapan hujan |
| Musim panas | Naungan pohon dan suara air | Minuman |
| Musim gugur | Daun musim gugur dan aliran putih | Pakaian hangat |
| Musim dingin | Periksa penutupan | Rencanakan ulang kunjungan |
Pakaian dan Barang Bawaan: Persiapan untuk Jalur yang Basah
Alih-alih berjalan santai di tempat wisata, persiapan seperti menyusuri jalur gunung yang lembap justru lebih sesuai.
Sambil membuat barang bawaan ringan, mengutamakan tiga hal yaitu anti-selip, pengaturan suhu tubuh, dan sarana komunikasi membuatmu lebih mudah bergerak.
Pilih sepatu berdasarkan daya cengkeram, bukan tampilan
Karena licin setelah hujan dan di tempat teduh, sepatu anti-selip disarankan.
Hindari sepatu jalan kota bersol datar atau alas kaki yang mudah basah, dan stabilkan pergelangan kaki dengan sepatu yang sudah biasa kamu pakai.
Kosongkan kedua tangan untuk bersiap menghadapi perubahan cuaca
Mengumpulkan minuman, perlengkapan hujan, jaket tipis, handuk, dan sumber daya cadangan untuk ponsel dalam ransel kecil memudahkan menggunakan pegangan tangan dan menjaga keseimbangan.
Siapkan juga kantong untuk membawa pulang sampah, dan kelola bungkus makanan serta tisu agar tidak terjatuh.
- Sepatu:Anti-selip dan sudah biasa dipakai
- Pakaian:Jaket yang mudah dilepas-pakai dan perlengkapan hujan
- Air:Siapkan jumlah yang tidak akan kurang di tengah jalan
- Perangkat:Peta tersimpan dan sumber daya cadangan
- Kepedulian lingkungan:Kantong kecil untuk membawa pulang sampah

Keselamatan dan Etika: Agar Tidak Terlalu Dekat dengan Air Terjun
Di tepi air, mengutamakan aturan jalur dan kestabilan pijakan di atas foto yang menarik adalah prasyarat untuk menikmati pemandangan.
Panduannya antara lain jangan keluar dari rute, jangan mendekati tebing atau air terjun, dan turun gunung sebelum matahari terbenam.
Jangan keluar melewati tali atau pagar
Pagar tali bukan penanda posisi pemotretan, melainkan batas agar tidak masuk ke tempat berbahaya.
Bahkan di tempat tanpa pagar sekalipun, jangan mendekati tepi tebing atau tepi air; lihatlah air terjun dari sudut yang bisa dipastikan dari jalur.
Memotret setelah berhenti
Berjalan sambil mengangkat ponsel pintar membuat reaksimu terhadap batu basah dan beda ketinggian menjadi lambat, jadi berhentilah sepenuhnya di tempat yang stabil sebelum memotret.
Perlu juga berhati-hati agar tidak memakai tripod dan sejenisnya hingga menghalangi jalan; sisakan lebar agar wisatawan lain bisa lewat, dan jangan menutupi tempat yang sama dalam waktu lama.
Biarkan tumbuhan dan hewan tetap di tempatnya
Jangan memetik tumbuhan hutan atau memberi makan hewan liar; amati apa yang kamu temukan tepat di tempatnya.
Menurunkan volume suara dan musik mengurangi dampak bukan hanya pada wisatawan di sekitar, tetapi juga pada hewan yang hidup di hutan.
Membandingkan tindakan demi keselamatan dan demi pelestarian alam memudahkan pengambilan keputusan di lokasi.
| Situasi | Yang dilakukan | Yang dihindari |
|---|---|---|
| Berjalan | Menyusuri jalur | Mencari jalan pintas |
| Menikmati air terjun | Melihat dari dalam pagar | Mendekati tebing |
| Memotret | Berhenti lalu memotret | Memotret sambil berjalan |
| Alam | Mengamati di tempat | Memetik atau memberi makan |
| Keluar taman | Membawa pulang sampah | Bertahan hingga setelah matahari terbenam |
Akses dan Pemeriksaan Sebelum Berkunjung: Merencanakan dari Takayama dan Hida-Furukawa
Utsue Shijūhachi-taki adalah taman alam yang jauh dari pusat Kota Takayama, jadi alih-alih berangkat seperti berwisata di kota, kamu perlu lebih dulu menentukan sarana transportasi pergi-pulang.
Lokasinya adalah 3235-86 Utsue, Kokufu-chō, Kota Takayama, Prefektur Gifu, dan taman ini tutup pada musim dingin.
Di lokasi ditetapkan iuran kebersihan sebesar 200 yen untuk dewasa dan 100 yen untuk siswa sekolah dasar, jadi periksa status operasional dan panduannya sebelum berangkat.
Dengan mobil, perkirakan hingga perjalanan pulang setelah tiba
Diperkenalkan rute berkendara sekitar 20 menit dari Simpang Susun Takayama (Takayama IC), dan tempat parkir menyediakan ruang untuk sekitar 150 mobil biasa dan sekitar 6 bus besar.
Jika berkendara, periksa cuaca di daerah pegunungan, kondisi jalan, dan waktu matahari terbenam, dan hindari rencana buru-buru pulang di jalan gelap setelah menjelajah air terjun.
Untuk transportasi umum, susun rencana termasuk taksi
Diperkenalkan cara menggunakan taksi dari Stasiun JR Hida-Kokufu (Hida-Kokufu Station) atau Stasiun Hida-Furukawa (Hida-Furukawa Station).
Karena di daerah ketersediaan kendaraan berubah-ubah, pastikan sebelumnya bukan hanya perjalanan pergi tetapi juga cara naik saat pulang, dan catat kontak untuk berjaga-jaga bila tidak ada sinyal.
Untuk kondisi buka dan panduan pada hari itu, kamu juga bisa menghubungi Pusat Informasi Terpadu Shijūhachi-taki (telepon 0577-72-3948).
Rangkuman: Kiat Menyusuri Utsue Shijūhachi-taki dengan Aman
Di Utsue Shijūhachi-taki, bukan hanya mengikuti air terjun bernama secara berurutan, tetapi dengan membandingkan cara air jatuh, bentuk batu, cahaya hutan, dan suara yang bergema, daya tarik seluruh ngarai pun mulai terlihat.
Berjalanlah dengan sepatu anti-selip dan barang bawaan yang membuat kedua tangan bebas, jangan keluar dari jalur atau pagar, dan berhentilah saat memotret.
Sebagai persiapan menghadapi penutupan musim dingin atau perubahan panduan di lokasi, periksa informasi buka, dan berkunjunglah dengan rencana longgar yang memperhitungkan perjalanan pulang dan waktu matahari terbenam.





Ulasan (0)