Di kuil Shinto dan kuil Buddha di Saga, sejarah Domain Saga, festival Karatsu, budaya keramik Arita (Arita ware), serta kepercayaan terhadap gunung dan sungai berlapis-lapis menjadi satu.
Ketika kamu memandang tempat-tempat terkenal seperti Kuil Yutoku Inari (Yutoku Inari Jinja) dan Kuil Takeo (Takeo Jinja) dari kaitannya dengan industri dan kehidupan masyarakat kota, kunjungan pun berubah menjadi pengalaman budaya yang lebih mendalam.
Artikel ini memperkenalkan 10 kuil Shinto dan kuil Buddha rekomendasi tempat kamu bisa merasakan sejarah dan budaya, dipilih dari area Kashima, Takeo, Arita, Karatsu, dan Kota Saga.
Cara Memilih dari 10 Kuil Shinto dan Kuil Buddha Terbaik di Saga
Mulai dari kepercayaan di tepi laut, sejarah kota kastel, hingga doa dari kota keramik, daya tarik kuil Shinto dan kuil Buddha di Saga sangat berbeda-beda menurut wilayahnya.
Urutannya bukan peringkat, melainkan disusun berdasarkan ciri khas budaya, jadi kamu bisa memilih dari tema yang kamu minati.
Perhatikan Bukan Hanya Sejarah, tetapi Juga Kaitannya dengan Budaya Lokal
Ketika kamu memperhatikan hubungannya dengan penguasa domain, perajin keramik, perikanan, dan festival, ciri khas daerah yang tampak pada bangunan dan persembahan mulai terlihat.
Mengetahui siapa yang dipuja dan dengan industri atau alam mana suatu tempat terkait akan mengubah kesannya, meski sama-sama “berkeliling kuil Shinto dan kuil Buddha”.
Pilih Tempat yang Sesuai dengan Tujuan Perjalananmu
Di pusat Kota Saga dan kawasan kota Karatsu ada kuil-kuil yang mudah disinggahi saat berjalan-jalan, sementara di Kuil Takeo, Kuil Buddha Daikōzen-ji, dan Kuil Yodohime (Yodohime Jinja) kamu juga bisa menikmati pemandangan alam.
Agar mudah membandingkan ciri-cirinya, kami menyusun 10 tempat ini berdasarkan daya tarik budayanya.
| Nama | Tema Budaya | Cocok untuk |
|---|---|---|
| Kuil Yutoku Inari | Kepercayaan Inari | Bangunan kuil yang megah |
| Kuil Takeo | Kuil tua dan pohon suci | Menikmati alam juga |
| Kuil Sueyama | Keramik Arita | Penyuka budaya kriya |
| Kuil Karatsu | Karatsu Kunchi | Belajar tentang festival |
| Kuil Hōtō | Penjaga pulau | Menikmati perjalanan ke pulau |
| Kuil Saga | Modernisasi dan penguasa domain | Belajar sejarah Saga |
| Kuil Matsubara | Pendiri domain dan perajin keramik | Melihat persembahan |
| Kuil Yodohime | Kepercayaan terhadap air | Berjalan menyusuri sungai |
| Kuil Buddha Daikōzen-ji | Buddhisme dan empat musim | Penyuka bunga dan dedaunan musim gugur |
| Kuil Kōden-ji | Kuil keluarga klan Nabeshima | Belajar sejarah kota kastel |
Kuil Rekomendasi untuk Dikunjungi di Kashima, Takeo, dan Arita
Di bagian barat daya Prefektur Saga berkumpul sebuah kuil Inari yang semarak, kuil tua yang memuja pohon raksasa, dan kuil yang melambangkan budaya keramik.
Ini adalah area populer tempat kamu bisa menyentuh budaya kepercayaan khas Saga dari sudut pandang yang berbeda-beda: arsitektur, alam, dan kriya.
1. Kuil Yutoku Inari: Tempat Terkenal dengan Bangunan Merah Vermilion dan Kepercayaan Inari
Kuil Yutoku Inari (Yutoku Inari Jinja) di Kota Kashima didirikan pada tahun 1687 (Jōkyō 4) dan termasuk salah satu dari tiga kuil Inari besar di Jepang, bersama Kuil Fushimi Inari dan Kuil Kasama Inari.
Kuil ini memuja para dewa yang menjaga seluruh aspek kehidupan seperti pertanian, perikanan, dan perdagangan, serta dikunjungi sekitar 3 juta orang per tahun.
Bangunan utama bergaya menjorok kake-zukuri yang mengingatkan pada panggung Kiyomizu-dera, serta jalan masuk yang berjajar gerbang torii merah vermilion, menghamparkan pemandangan yang semarak di seluruh area kuil.
Di balik bangunan utama terdapat jalan menanjak dan tangga yang menuju ke kuil bagian dalam, jadi kenakan sepatu yang nyaman, berdoalah dalam batas yang wajar, dan nikmati juga wisata kuliner jalanan serta suasana toko oleh-oleh di kota depan kuil.
2. Kuil Takeo: Torii Hizen dan Pohon Kamper Besar Takeo Berusia 3.000 Tahun
Kuil Takeo berdiri di kaki timur Gunung Mifune dan merupakan kuil tua yang memuja Takenouchi no Sukune sebagai dewa utama.
Di dalam area kuil, coba perhatikan torii Hizen, gerbang torii batu yang khas dan bisa ditemukan di Prefektur Saga dan Nagasaki.
Di bagian dalam belakang bangunan kuil terdapat pohon suci, yaitu Pohon Kamper Besar Takeo, dan di pangkal batangnya yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun terdapat rongga seluas kira-kira 12 tikar tatami.
Seiring kamu berjalan menyusuri jalan masuk, pemandangan berubah dari kawasan kota menjadi udara hutan, dan kuil ini juga digemari sebagai tempat untuk memohon jodoh.
Di sekitar pohon suci, penting untuk mengikuti panduan demi pelestariannya dan tidak masuk ke pangkal pohon maupun ke dalam pagar.
3. Kuil Sueyama: Budaya Kota Keramik yang Disampaikan lewat Torii Keramik Arita
Kuil Sueyama (Sueyama Jinja) di kota Arita memuja Kaisar Ōjin sebagai dewa utama, dan karena di areanya terdapat tugu peringatan pendiri keramik Ri Sanpei, kuil ini telah lama menghimpun kepercayaan orang-orang yang berkaitan dengan keramik.
Diawali dengan torii besar dari porselen yang disumbangkan para perajin keramik pada tahun 1888 (Meiji 21), berjajar pula anjing-singa penjaga komainu dari keramik Arita, tempayan air besar, dan pagar batu tamagaki, sehingga terlihat pemandangan yang menyatukan bentuk kuil dengan industri lokal.
Di dekat pintu masuk jalan menuju kuil terdapat perlintasan kereta api, dan karena tidak ada palang, jika alarm mulai berbunyi, jangan masuk ke perlintasan dan menyeberanglah hanya setelah memastikan keadaan aman.
Kuil Rekomendasi untuk Dikunjungi di Karatsu dan Kepercayaan Pulau
Di Karatsu, kamu bisa mengunjungi kuil yang menopang festival besar kota kastel sekaligus kuil yang lahir dari kehidupan di pulau terpencil.
Dengan mengetahui sejarah festival dan laut, perbedaan budaya antara kota Karatsu dan pulau-pulaunya mulai terlihat.
4. Kuil Karatsu: Kuil Tua yang Menjadi Pusat Karatsu Kunchi
Kuil Karatsu adalah kuil tua yang konon didirikan pada tahun 755 (Tenpyō-shōhō 7) pada zaman Nara, dan torii putih di pintu masuknya begitu berkesan.
Karatsu Kunchi, festival besar musim gugur, adalah festival yang mewakili Karatsu dan diadakan setiap tahun dari tanggal 2 hingga 4 November; acara kereta hias hikiyama-nya terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2016.
Ini adalah festival penuh daya yang menampilkan 14 kereta hias hikiyama besar berarak keliling kota, dan bahkan di luar musim festival, berdoa di kuil terlebih dahulu lalu menyusuri kota memudahkanmu membayangkan hubungan antara kuil dan tiap distrik yang mewarisi kereta hias tersebut.
Pada masa festival, alur pergerakan berbeda dari hari wisata biasa, jadi periksa panduan resmi sebelum berkunjung.
5. Kuil Hōtō: Dewa Penjaga Pulau yang Dijaga Turun-temurun di Takashima
Kuil Hōtō (Hōtō Jinja) berada di Pulau Takashima di lepas pantai Kota Karatsu, dan konon bermula ketika Nozaki Oki-no-kami, panglima perang zaman Sengoku yang mengusir bajak laut pengganggu pulau, dipuja sebagai “dewa penjaga pulau”.
Sesuai dengan nama “Hōtō”, kuil ini juga dikenal oleh para peziarah yang memohon keberuntungan rezeki dan kemenangan lotre, tetapi berdoalah sambil tidak melupakan bahwa ini adalah tempat kepercayaan yang telah lama dijaga oleh warga pulau.
Menuju Takashima memakan waktu sekitar 10 menit dengan kapal reguler dari Dermaga Hōtō dekat Kastel Karatsu, jadi sebelum berangkat kamu perlu memeriksa status pelayaran dan jadwal pulang melalui informasi resmi.
Saat angin kencang atau cuaca buruk, ubahlah rencana, dan di dalam pulau penting untuk berjalan dengan tenang agar tidak mengganggu ruang hidup para warga.
Kuil Rekomendasi di Kota Saga untuk Merasakan Pemerintahan Domain dan Budaya Air
Di Kota Saga, kamu bisa berkeliling ke kuil yang menyampaikan modernisasi Domain Saga, kuil yang memuja pendiri domain, dan kuil yang terkait dengan kepercayaan air di Ngarai Kawakami.
Dari dua pemandangan berbeda, yaitu kota kastel dan tepi sungai, kamu bisa memahami sejarah Saga secara utuh dan berdimensi.
6. Kuil Saga: Gerbang menuju Sejarah Modern yang Memuja Nabeshima Naomasa
Kuil Saga (Saga Jinja) didirikan pada tahun 1933 (Shōwa 8) dan memuja Nabeshima Naomasa, penguasa ke-10 Domain Saga, serta Nabeshima Naohiro, penguasa ke-11.
Nabeshima Naomasa adalah tokoh yang mendorong modernisasi di Domain Saga pada akhir zaman Edo, dan di areanya terdapat replika meriam Armstrong dan satu jenis meriam lain yang diupayakan untuk diproduksi sendiri oleh domain.
Di sekitarnya terdapat Kastel Saga dan Museum Prefektur Saga, tempat kamu bisa belajar sejarah modern kawasan tersebut.
7. Kuil Matsubara: Kepercayaan terhadap Pendiri Domain dan Persembahan Porselen Putih
Kuil Matsubara berada di area yang sama dengan Kuil Saga, didirikan pada tahun 1772 (An'ei 1) sebagai kuil yang memuja Nabeshima Naoshige, dan memuja 4 arwah dewa dari klan Nabeshima serta 3 dari klan Ryūzōji.
Kuil Matsubara dipanggil akrab “Nippō-san” sesuai nama Buddhis “Nippō” dari Nabeshima Naoshige, dan telah diwariskan kepada masyarakat setempat melalui festival.
Torii dan lentera porselen putih di areanya dipersembahkan oleh para perajin keramik Hizen yang memuliakan Naoshige sebagai leluhur ilahi, sehingga menyampaikan kaitan antara pemerintahan Domain Saga dan budaya keramiknya.
8. Kuil Yodohime: Ichinomiya Provinsi Hizen yang Berdiri di Ngarai Kawakami
Kuil Yodohime (Yodohime Jinja) berdiri di Ngarai Kawakami di sepanjang Sungai Kase, dan sejak dahulu dimuliakan sebagai ichinomiya (kuil utama) Provinsi Hizen.
Kuil ini memuja Yodohime-no-mikoto, dewa yang berkaitan dengan laut, sungai, dan air, sementara pepohonan besar di areanya beserta pemandangan tepi sungai menciptakan suasana yang tenang.
Ketika melihat lukisan langit-langit balai pemujaan, kamu bisa memahami bagaimana kepercayaan kuno diwariskan menjadi ekspresi modern.
Pada musim semi, umbul-umbul ikan mas koinobori berkibar di atas Ngarai Kawakami, jadi nikmatilah jalan-jalanmu sambil memperhatikan pijakan di tepi air dan cuaca.
Kuil Buddha Bersejarah yang Direkomendasikan untuk Dikunjungi di Kiyama dan Selatan Kota Saga
Di kuil-kuil Buddha di Saga, kamu bisa merasakan budaya Buddhis bukan hanya melalui patung dan makam, tetapi juga melalui taman, pohon raksasa, dan bunga musiman.
Sambil menyadari tata cara kunjungan yang berbeda dari kuil Shinto, berjalanlah dan amati susunan area kuil yang tenang.
9. Kuil Buddha Daikōzen-ji: Tempat Indah Empat Musim yang Terkenal dengan Azalea dan Dedaunan Musim Gugur
Kuil Buddha Daikōzen-ji (Daikōzen-ji) di kota Kiyama adalah kuil aliran Tendai yang konon dibuka oleh Gyōki pada tahun 717 (Yōrō 1), dan juga akrab dikenal dengan nama “Kuil Azalea”.
Di taman Chigiri-en seluas sekitar 75.000 meter persegi yang terbentang di belakang bangunan utama, sekitar 50.000 batang azalea mewarnai area kuil dari pertengahan April hingga awal Mei, dan dedaunan musim gugur mewarnainya dari pertengahan November hingga awal Desember.
Di areanya diwariskan berbagai benda cagar budaya seperti patung berdiri kayu Kōmokuten dan patung berdiri kayu Tamonten yang ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Penting Nasional, serta pagoda batu.
Pada musim bunga dan dedaunan musim gugur, alur pergerakan dan cara berkunjung di area kuil dapat berubah, jadi periksa harga tiket masuk dan informasi masa terbaik di situs web resmi.
10. Kuil Kōden-ji: Kuil Keluarga yang Menyampaikan Sejarah Klan Nabeshima dan Ryūzōji
Kuil Kōden-ji (Kōden-ji) di Kota Saga adalah kuil aliran Sōtō yang dikenal sebagai kuil keluarga klan Nabeshima, penguasa Domain Saga.
Di areanya tertata bangunan utama, gerbang utama, balai Kannon, ruang papan peringatan leluhur, dan makam, yang bersama kolam, saluran air, dan pohon raksasa membentuk pemandangan tradisional.
Di makam, kamu bisa menelusuri sejarah lokal yang beririsan antara klan Nabeshima dan klan Ryūzōji, yang memerintah Hizen sebelum para penguasa domain.
Di areanya berdiri “Reitokuju-bai”, pohon plum berusia sekitar 400 tahun, sehingga kuil ini dikenal sebagai tempat terkenal untuk bunga plum.
Latar Belakang Budaya yang Perlu Diketahui untuk Berkeliling Kuil Shinto dan Kuil Buddha di Saga
Bukan sekadar memandang bangunan, memikirkan siapa yang dipuja dan dengan kegiatan lokal mana suatu tempat terkait akan memperjelas perbedaan tiap tempat.
Di Saga, pemerintahan domain, industri tembikar, festival, transportasi air, dan pertanian semuanya berkaitan erat dengan kepercayaan.
Sejarah Domain Saga Tersisa di Kuil Shinto maupun Kuil Buddha
Di Kuil Saga dan Kuil Matsubara kamu bisa menemukan penghormatan terhadap para penguasa dan pendiri domain, dan di Kuil Kōden-ji, budaya kuil keluarga beserta makamnya.
Bahkan di antara tempat-tempat yang terkait dengan klan Nabeshima yang sama, ruang yang memuja mereka sebagai dewa dan kuil yang mendoakan para leluhur memiliki peran yang berbeda.
Budaya Keramik Tampak pada Persembahan dan Bahan
Torii dan anjing-singa penjaga komainu dari keramik Arita di Kuil Sueyama, serta persembahan porselen putih di Kuil Matsubara, menyampaikan hubungan antara perajin keramik Hizen dan kepercayaan dalam bentuk yang kasatmata.
Mengetahui doa dan rasa syukur para perajin juga merupakan sudut pandang penting dalam perjalanan ke Arita dan Saga.
Alam Laut, Sungai, dan Gunung Membentuk Tempat-tempat Kepercayaan
Kuil Hōtō terkait dengan pulau, Kuil Yodohime dengan sungai, sedangkan Kuil Takeo dan Kuil Buddha Daikōzen-ji terkait dengan alam pegunungan.
Alam adalah bagian dari budaya yang memengaruhi jalan masuk, festival, pohon suci, dan doa.
Jika diringkas secara singkat, perbedaan latar belakang budayanya adalah sebagai berikut.
| Latar belakang | Tempat representatif | Poin yang diamati |
|---|---|---|
| Pemerintahan domain | Saga・Matsubara | Dewa yang dipuja dan persembahan |
| Kuil keluarga | Kōden-ji | Makam dan kompleks bangunan kuil |
| Industri tembikar | Sueyama・Matsubara | Bentuk keramik |
| Festival | Kuil Karatsu | Kaitan dengan kota |
| Kepercayaan terhadap air | Yodohime | Sungai dan pohon suci |
| Kepercayaan pulau | Kuil Hōtō | Perhatian terhadap warga |
Tata Cara Berkunjung di Kuil Shinto dan Kuil Buddha di Saga
Baik kuil Shinto maupun kuil Buddha adalah tempat yang menerima wisatawan, tetapi pada dasarnya merupakan ruang keagamaan untuk berdoa dan mendoakan arwah.
Menjaga ketenangan dan mengutamakan papan petunjuk setempat akan menuntun pada perjalanan yang menghormati budaya.
Di Kuil Shinto, Melangkahlah dengan Tenang dari Torii hingga Balai Pemujaan
Umumnya orang membungkuk sedikit di depan torii dan berjalan menghindari bagian tengah jalan masuk.
Jika tempat penyucian temizuya tersedia, bersihkan tangan dan mulut, dan di balai pemujaan berdoalah mengikuti panduan setempat, seperti “dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, satu kali membungkuk”.
Di tempat dengan area yang luas seperti Kuil Yutoku Inari dan Kuil Takeo, utamakan papan tanda area terlarang dan jalur satu arah.
Di Kuil Buddha, Jaga Ketenangan di Gerbang Utama dan Bangunan Utama
Umumnya orang membungkuk di depan gerbang utama, dan di bangunan utama tidak bertepuk tangan, melainkan mengatupkan kedua telapak tangan dengan tenang.
Patung Buddha, papan peringatan leluhur, dan makam adalah objek kepercayaan dan doa, jadi hindari mendekati atau menyentuhnya seperti terhadap benda pameran.
Untuk Goshuin dan Pemotretan, Periksa Loket Layanan dan Papan Petunjuk
Goshuin diterima sebagai bukti kunjungan dan berbeda dari stempel peringatan.
Cara dan jam pelayanan berbeda menurut kuilnya, dan mungkin hanya tersedia versi tulisan yang disiapkan sebelumnya atau dihentikan karena ada acara, jadi periksa panduan di loket layanan.
Bagian dalam bangunan kuil, saat doa berlangsung, patung Buddha, dan ritual keagamaan festival kadang tidak boleh dipotret, jadi jika tidak menemukan papan izin, bertanya kepada petugas adalah cara yang paling aman.
Rangkuman: Menelusuri Budaya Lokal di Kuil Shinto dan Kuil Buddha di Saga
Dalam perjalanan berkeliling kuil Shinto dan kuil Buddha di Saga, kamu bisa menemukan beragam kekhasan lokal, seperti pemandangan semarak Kuil Yutoku Inari, budaya festival Kuil Karatsu, keramik Kuil Sueyama, serta sejarah pemerintahan domain yang tersisa di Kuil Saga dan Kuil Kōden-ji.
Alih-alih menjejalkan banyak tempat kunjungan, mengamati satu per satu bangunan kuil, persembahan, alam, dan kaitannya dengan kota justru akan memperdalam kenangan perjalananmu.
Goshuin, pemotretan, jadwal pelayaran, dan cara berkunjung menurut musim dapat berubah, jadi periksa informasi resmi sebelum berangkat dan pada hari itu, lalu berkunjunglah dengan rasa hormat terhadap tempat-tempat kepercayaan ini.






Ulasan (0)