Kuil Shinto dan kuil Buddha di Saitama masih tersebar di berbagai daerah, mulai dari kuil tua yang mewariskan kepercayaan Provinsi Musashi, kuil yang berkembang bersama kota benteng Kawagoe, pusat kepercayaan pegunungan Chichibu, hingga kuil gunung yang meneruskan warisan budaya Hiki.
Artikel ini memilih 10 kuil Shinto dan Buddha bersejarah berdasarkan wilayah seperti Ōmiya, Kawagoe, Chichibu, Nagatoro, Kumagaya, Niiza, Higashimatsuyama, dan Tokigawa, lalu menjelaskan daya tarik serta cara mengunjunginya dengan mudah.
Selain kawasan perkotaan yang mudah dikunjungi dalam perjalanan sehari dari Tokyo, jika Anda melangkah lebih jauh ke pegunungan Chichibu dan Hiki, Anda akan melihat perbedaan besar pada arsitektur, ukiran, hutan, dan suasana jalan masuk kuil.
Saat berziarah, penting untuk tidak hanya berwisata, tetapi juga menghormati tempat berdoa dan menjaga ketenangan.
Cara Memilih 10 Kuil di Saitama Sesuai Tujuan Perjalanan
Untuk wisata kuil pertama di Saitama, tentukan apakah Anda tertarik pada sejarah, arsitektur, alam, atau budaya ziarah agar lebih mudah memilih tujuan.
Memilih Kuil Saitama Berdasarkan Sejarah dan Arsitektur
Bagi yang ingin mengenal sejarah kota benteng, pilih Kawagoe (Kita-in dan Kawagoe Hikawa-jinja); untuk memahami kepercayaan pegunungan, pilih Chichibu (Mitsumine-jinja dan Chichibu-jinja); sedangkan untuk mengamati arsitektur dekoratif, Menuma Shōdenzan di Kumagaya cocok dikunjungi.
Di tempat ibadah yang sama pun, dengan memperhatikan bukan hanya bangunan utama, tetapi juga gerbang, jalan masuk, hutan suci, dan ukiran persembahan, Anda dapat merasakan bagaimana kepercayaan Jepang terhubung dengan budaya daerah.
Melihat Ciri 10 Spot dalam Satu Daftar
Agar Anda dapat memilih tempat yang sesuai dengan tujuan perjalanan, berikut rangkuman ciri setiap kuil dan tipe wisatawan yang cocok.
| Nama | Wilayah | Ciri | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Musashi Ichinomiya Hikawa-jinja | Ōmiya | Jalan masuk panjang dan hutan suci | Ingin berjalan di kuil tua |
| Kawagoe Hikawa-jinja | Kawagoe | Pelindung seluruh kota benteng | Tertarik pada budaya perjodohan |
| Kita-in | Kawagoe | Terkait dengan keluarga Tokugawa | Ingin melihat arsitektur bersejarah |
| Mitsumine-jinja | Chichibu | Kepercayaan pegunungan dan utusan dewa | Ingin mengunjungi tempat suci di gunung |
| Chichibu-jinja | Chichibu | Pusat kepercayaan daerah | Ingin memadukannya dengan berjalan di kota |
| Hodosan-jinja | Nagatoro | Kepercayaan pada gunung dan api | Ingin menikmati alam dan bangunan kuil |
| Menuma Shōdenzan | Kumagaya | Arsitektur dekoratif Harta Nasional | Ingin menikmati ukiran |
| Heirin-ji | Niiza | Kuil Zen dan hutan kompleks | Ingin berjalan dengan tenang |
| Iwadono Kannon Shōbō-ji | Higashimatsuyama | Tempat ziarah Kannon dan pohon tua | Ingin mengenal budaya ziarah |
| Tokisan Jikō-ji | Tokigawa | Kuil gunung dan aset budaya | Menyukai kuil tua di pegunungan |
Kuil Bersejarah yang Wajib Dikunjungi di Ōmiya dan Kawagoe
Ōmiya dan Kawagoe mudah dinikmati untuk wisata kota sekaligus ziarah kuil, sehingga cocok dimasukkan ke perjalanan pertama ke Saitama.
Dengan berjalan perlahan di jalan masuk dan lanskap kota benteng, Anda juga dapat memahami latar bagaimana kuil menopang kehidupan masyarakat setempat.
1.Musashi Ichinomiya Hikawa-jinja|Ziarah Kuil Tua Ōmiya dari Jalan Masuk Sekitar 2 km
Musashi Ichinomiya Hikawa-jinja memuja Susanoo-no-Mikoto, Inadahime-no-Mikoto, dan Ōnamuchi-no-Mikoto. Kuil ini berada di Ōmiya dan sejak lama dihormati sebagai ichinomiya Provinsi Musashi.
Nama tempat “Ōmiya” konon berasal dari pujian kepada kuil ini sebagai “kediaman suci yang agung”.
Deretan pohon keyaki membentang di sepanjang jalan masuk sekitar 2 km dari gerbang torii pertama di Nakasendō. Waktu berjalan melalui terowongan hijau itu sendiri menjadi bagian dari ziarah dan membantu mengalihkan suasana hati dari kota ke ruang suci.
Di kompleks, amatilah tata letak kolam suci, jembatan suci, dan gerbang rōmon sambil merasakan ruang kuil Jepang tempat alam menyatu dengan bangunan.
2.Kawagoe Hikawa-jinja|Pelindung Kota Benteng yang Memuja Keluarga Dewa
Sejak Ōta Dōshin dan putranya Dōkan membangun Kastel Kawagoe pada tahun pertama Chōroku (1457) di zaman Muromachi, Kawagoe Hikawa-jinja dihormati sebagai dewa pelindung kota dan pelindung seluruh wilayah feodal.
Di antara 5 dewa yang dipuja terdapat 2 pasangan suami istri serta hubungan orang tua dan anak, sehingga kuil ini juga populer untuk kepercayaan akan jodoh dan ikatan keluarga.
Isi acara musiman dan penggunaan kompleks dapat berubah. Periksa pemberitahuan resmi sebelum berkunjung dan jangan menghalangi jalur saat ramai.
3.Kawagoe Daishi Kita-in|Kuil Tua dengan Peninggalan Kastel Edo yang Terkait Tokugawa
Kita-in adalah kuil aliran Tendai yang mewariskan hubungan erat dengan biksu Tenkai (Jigen Daishi) dan keluarga Tokugawa.
Setelah Kebakaran Besar Kawagoe pada tahun ke-15 Kan'ei (1638), Tokugawa Iemitsu memindahkan ruang tamu dan ruang belajar dari Momijiyama di Kastel Edo. “Kamar Kelahiran Iemitsu” dan “Kamar Rias Kasuga no Tsubone” masih bertahan, sehingga sejarah kuil dan budaya Edo dapat dipelajari bersamaan.
Tiket ruang tamu, ruang belajar, dan 500 arhat adalah 400 yen untuk dewasa, sedangkan jam kunjungan berbeda menurut musim. Saat melihat bagian dalam dan aset budaya, periksa tanda mengenai fotografi dan area masuk, serta jangan menyentuh benda pameran atau perlengkapan bangunan.
Merasakan Kepercayaan Pegunungan dan Doa Daerah di Chichibu, Nagatoro
Kuil Shinto dan Buddha di Chichibu sangat terkait dengan kepercayaan pegunungan yang menghormati gunung dan hutan sebagai tempat suci.
Lingkungan kuil di perkotaan dan kuil di gunung sangat berbeda, sehingga penting memeriksa informasi cuaca dan transportasi resmi sebelum berkunjung.
4.Mitsumine-jinja|Kuil Gunung Chichibu yang Memuja Serigala sebagai Utusan Dewa
Mitsumine-jinja memuja Izanagi-no-Mikoto dan Izanami-no-Mikoto, dan konon bermula ketika Yamato Takeru-no-Mikoto memuja 2 dewa tersebut.
Serigala yang disebut telah menuntun Yamato Takeru dipercaya sebagai utusan dewa. Di kompleks, Anda dapat memperhatikan sosok anjing gunung yang berbeda dari komainu biasa.
Kuil ini berada di pegunungan pada ketinggian sekitar 1.100 m, dan alam gunung juga merupakan bagian dari ruang kepercayaan. Jangan keluar dari jalan masuk, jangan membawa pulang tumbuhan atau batu, dan berjalanlah sambil menjaga ketenangan.
5.Chichibu-jinja|Pintu Masuk untuk Mengenal Sejarah dan Kepercayaan Kota Chichibu
Chichibu-jinja memuja Chichibuhiko-no-Mikoto, dewa leluhur pembuka wilayah Chichibu, serta Yagokoro Omoikane-no-Mikoto yang melambangkan kebijaksanaan dan ilmu, dan mewariskan kepercayaan inti daerah sebagai pelindung seluruh Provinsi Chichibu.
Karena berada di tengah kota, memperhatikan jalan-jalan bersejarah di sekitarnya membantu Anda membayangkan bagaimana festival, perdagangan, dan kehidupan berkembang dengan kuil sebagai pusatnya.
Di bangunan suci, lihatlah keseluruhan dari jauh sebelum mendekat untuk mengamati ukiran dan warna, termasuk “naga penghubung” yang dipercaya dibuat oleh maestro Hidari Jingorō, agar dapat menikmati detail dekorasi arsitekturnya.
6.Hodosan-jinja|Alam Nagatoro dan Kepercayaan Penolak Kebakaran
Hodosan-jinja memuja Kan'yamato Iwarehiko-no-Mikoto (Kaisar Jimmu), Ōyamatsumi-no-Kami, dan Homusubi-no-Kami, serta mewariskan kisah Yamato Takeru yang menghadapi kebakaran hutan dalam perjalanan ke puncak lalu diselamatkan anjing dewa.
Dengan mengetahui sebelum berziarah bahwa gunung ini dinamai Hodosan dari arti “gunung yang menghentikan api”, Anda lebih mudah memahami kepercayaan untuk mencegah kebakaran dan pencurian yang menghormati berkah sekaligus ancaman alam.
Panel di bangunan kuil dihiasi ukiran yang bercerita. Setelah berdoa, nikmati komposisi dan gerak tokohnya dengan tenang.
Menikmati Keindahan Arsitektur dan Kompleks Tenang di Kumagaya, Niiza
Orang yang ingin melihat ukiran rumit dan orang yang ingin berjalan di kuil Zen di tengah hutan akan memilih tempat berbeda meski sama-sama melakukan wisata kuil.
Menuma Shōdenzan di Kumagaya dan Heirin-ji di Niiza memungkinkan Anda membandingkan dua pesona berbeda, yaitu arsitektur kuil dan lingkungan alam.
7.Menuma Shōdenzan Kangi-in|Ukiran Warna-warni pada Shōdendō, Harta Nasional
Menuma Shōdenzan Kangi-in adalah kuil aliran Shingon Kōyasan. Konon kuil ini bermula pada tahun ke-3 Jishō (1179), ketika panglima Saitō Bettō Sanemori memuja Daishō Kangiten sebagai dewa pelindung, dan termasuk 1 dari 3 Shōten utama di Jepang.
Kangi-in Shōdendō yang berfungsi sebagai bangunan utama ditetapkan pada 2012 sebagai Harta Nasional pertama di Prefektur Saitama. Ukiran berwarna cerah dan desain rumit memperlihatkan keterampilan pengrajin serta budaya donasi.
Kompleks dapat dimasuki gratis, tetapi untuk melihat bagian belakang berwarna cerah dari dekat diperlukan tiket (dewasa 700 yen; jam buka hari kerja 10.00–15.00, akhir pekan dan hari libur 9.30–16.00). Ikuti tanda penerimaan pada hari itu dan jangan menghalangi pandangan peziarah lain saat mendengarkan penjelasan.
8.Heirin-ji|Berjalan dalam Keheningan Zen dan Jejak Musashino
Heirin-ji adalah kuil Zen cabang Myōshin-ji dari aliran Rinzai dan hingga kini tetap berfungsi sebagai tempat latihan keagamaan.
Hutan kompleks seluas sekitar 43 hektare yang ditetapkan sebagai Monumen Alam Nasional menciptakan ruang kuil tenang, bukan hanya melalui bangunannya, tetapi juga hutan pohon kunugi dan konara serta suara daun gugur.
Waktu terbaik daun musim gugur biasanya dari akhir November hingga pertengahan Desember. Karena memasuki area terlarang, mengambil flora atau fauna, dan menggambar di kompleks dilarang, periksalah aturan masuk resmi lebih teliti daripada di tempat wisata biasa.
Mengunjungi Kepercayaan Kannon dan Aset Budaya di Kuil Gunung Hiki
Wilayah Hiki memiliki kuil tua yang termasuk dalam 33 Tempat Suci Kannon Bandō dan meneruskan budaya ziarah dengan berjalan di jalan doa.
Rute dapat mencakup jalan gunung dan tanjakan, jadi pilih sepatu yang nyaman dan berziarahlah dalam batas kemampuan.
9.Iwadono Kannon Shōbō-ji|Lanskap Gerbang dan Sejarah Perhentian ke-10 Bandō
Iwadono Kannon Shōbō-ji adalah kuil di Higashimatsuyama yang menyambut peziarah sebagai perhentian ke-10 dalam 33 Tempat Suci Kannon Bandō, dan konon didirikan pada tahun ke-2 Yōrō (718).
Dengan memperhatikan urutan jalan masuk, gerbang Niō, lalu aula Kannon, Anda dapat merasakan alur ziarah kuil dari dunia sehari-hari menuju tempat berdoa.
Pohon ginkgo besar di kompleks diperkirakan berusia lebih dari 700 tahun dan membentuk lanskap kuil. Jangan masuk ke area akar; lihatlah dari jarak yang membantu melindungi pohon.
10.Tokisan Jikō-ji|Harta Nasional dan Budaya Ziarah di Pegunungan
Tokisan Jikō-ji adalah perhentian ke-9 dari 33 Tempat Suci Kannon Bandō, memiliki sejarah sekitar 1300 tahun sejak didirikan, dan bangunannya tersebar dalam lingkungan pegunungan yang tenang.
Kuil ini mewariskan aset budaya seperti Harta Nasional Hokekyō Ipponkyō (Jikō-ji-kyō), yang bersama Kunōji-kyō dan Heike Nōkyō disebut sebagai 3 sutra dekoratif utama dan menjadi petunjuk untuk memahami budaya Buddha Jepang timur.
Kondisi pameran harta dan cara kunjungan tidak selalu sama. Jika datang demi aset budaya, periksa lebih dahulu panduan dari kuil atau pemerintah setempat.
Panduan Etika agar Tidak Bingung di Kuil Shinto dan Buddha
Kuil Shinto dan Buddha sama-sama merupakan tempat berdoa, tetapi makna pintu masuk dan cara ibadahnya berbeda.
Walaupun tidak yakin dengan tata cara rinci, Anda lebih mudah menghindari ketidaksopanan dengan bertindak tenang serta mengutamakan tanda setempat dan arahan petugas keagamaan.
Membungkuk di Pintu Masuk sebelum Memasuki Kompleks
Di kuil Shinto, torii, dan di kuil Buddha, gerbang sanmon menjadi penanda yang memisahkan ruang sehari-hari dari kawasan suci; membungkuk ringan sebelum melewatinya merupakan sikap sopan.
Ada pula kebiasaan menghindari bagian tengah jalan masuk atau gerbang, tetapi saat ramai jangan berhenti dan utamakan keselamatan serta perhatian kepada sekitar.
Jangan Memaksakan Temizu dan Ikuti Petunjuk
Jika temizuya dapat digunakan, bersihkan tangan dan mulut sebelum menuju aula ibadah atau aula utama.
Jika terdapat pemberitahuan penghentian penggunaan atau perubahan cara, jangan menyentuh gayung maupun air dan Anda dapat langsung beribadah.
Bedakan Cara Ibadah di Kuil Shinto dan Buddha
Di banyak kuil Shinto, tata cara dasarnya adalah membungkuk 2 kali, bertepuk 2 kali, lalu membungkuk 1 kali. Jika kuil menetapkan tata cara khusus, ikuti petunjuk setempat.
Di kuil Buddha, jangan bertepuk tangan; setelah memberikan persembahan, satukan kedua tangan dan berdoalah dengan tenang.
Memahami perbedaan tata cara keduanya dapat mengurangi kebingungan sebelum berziarah.
| Situasi | Kuil Shinto | Kuil Buddha |
|---|---|---|
| Pintu masuk | Membungkuk di torii | Membungkuk di sanmon |
| Ibadah | Dapat disertai tepuk tangan | Menyatukan tangan dan berdoa |
| Bangunan utama | Aula ibadah dan bangunan utama | Aula utama dan aula Buddha |
| Petunjuk setempat | Utamakan tata cara setiap kuil | Utamakan aturan setiap kuil |
Fotografi dan Goshuin tanpa Mengganggu Doa
Di dalam aula ibadah atau aula utama, saat ritual, dan di area pameran aset budaya, fotografi dapat dilarang. Meskipun tidak ada tanda larangan, tanyakan kepada staf atau pengelola kuil jika ragu.
Goshuin diberikan sebagai bukti ziarah, sedangkan cara penerimaan, biaya persembahan, dan hari pelayanan berbeda di setiap kuil.
Di kantor pemberian, jangan mendesak dengan suara keras dan perhatikan penulis serta orang yang mengantre di belakang.
Rangkuman|Mengenal Sejarah Daerah melalui Kuil Saitama
Wisata kuil Saitama bukan sekadar melihat bangunan tua, melainkan perjalanan untuk mengenal beragam sisi budaya Jepang seperti kota benteng, kepercayaan pegunungan, ziarah Kannon, latihan Zen, dan festival daerah.
Mulailah dari Ōmiya dan Kawagoe. Ketika minat Anda semakin dalam, perluas perjalanan ke Chichibu, Kumagaya, dan Hiki untuk membandingkan bentuk doa yang diwariskan di setiap daerah.
Di lokasi, jangan lupa bahwa Anda adalah peziarah. Kunjungilah tempat bersejarah dengan saksama sambil berbicara pelan, mengambil foto secara wajar, dan mematuhi area yang boleh dimasuki.





Ulasan (0)