Sakatsura Isosaki Jinja: Kuil Tua di Tepi Hutan Pesisir
Sakatsura Isosaki Jinja adalah kuil Shinto yang terletak di Isozaki-chō, Kota Hitachinaka, Prefektur Ibaraki, dan memuja Sukunahikona-no-mikoto serta Ōnamochi-no-mikoto sebagai dewa utamanya.
Dengan lokasinya yang dekat dengan laut serta area kuil yang diselimuti pepohonan hijau abadi, tempat ini memungkinkan Anda merasakan alam kota pelabuhan dan budaya Shinto sekaligus.
Cara Membaca Nama "Sakatsura Isosaki Jinja"
"Sakatsura Isosaki" dibaca "sakatsura isosaki", sebuah nama yang cukup sulit dibaca pada pandangan pertama.
Saat memasukkannya ke itinerary atau aplikasi peta, simpan nama dalam aksara Jepang beserta romanisasi "Sakatsura Isosaki Jinja" agar tujuan lebih mudah ditunjukkan saat bertanya arah di sekitar stasiun atau kawasan kuil.
Dewa Utama: Sukunahikona-no-mikoto
Sukunahikona-no-mikoto dipuja sebagai dewa utama, sementara Ōnamochi-no-mikoto dipuja bersama sebagai dewa pendamping di bangunan utama (honden).
Sukunahikona-no-mikoto diyakini berkaitan dengan kesembuhan penyakit, umur panjang, dan kesehatan. Sejak dahulu, dewa ini juga dihormati sebagai pelindung pembuatan sake dan usaha fermentasi.
Kepercayaan Kuil Bersaudara dengan Ōarai Isosaki Jinja
Sakatsura Isosaki Jinja dan Ōarai Isosaki Jinja dianggap sebagai kuil bersaudara yang terhubung oleh asal-usul yang sama, dan keduanya membentuk satu kesatuan kepercayaan.
Jika mengunjungi kedua kuil ini, pahami keduanya sebagai sepasang tempat suci yang berbagi kisah asal-usul dan memuja dewa-dewa yang dipercaya muncul dari laut, bukan sekadar dua kuil terkenal dalam satu rute.

Mengenal Sejarah dan Kepercayaan Sakatsura Isosaki Jinja
Pemandangan di area kuil memang tenang, namun di baliknya tersimpan sejarah panjang yang konon berlanjut sejak zaman Heian.
Dengan memahami asal-usulnya sebelum berkunjung, Anda dapat memaknai bangunan kuil dan pemandangan laut dengan lebih mendalam.
Legenda Pendirian dalam Montoku Tennō Jitsuroku
Legenda yang tercatat dalam kitab sejarah zaman Heian, "Montoku Tennō Jitsuroku", diwariskan sebagai asal-usul kuil ini.
Pada 856 M (Saikō 3), Ōnamochi-no-mikoto dan Sukunahikona-no-mikoto konon muncul di pesisir Ōarai, Provinsi Hitachi, lalu menyampaikan wahyu bahwa mereka kembali untuk menyelamatkan rakyat. Kisah ini menjadi dasar pendirian Sakatsura Isosaki Jinja dan Ōarai Isosaki Jinja.
Pada 857 M (Tennan 1), kuil ini diangkat sebagai kuil resmi negara. Sakatsura Isosaki Jinja kemudian dipercaya dipindahkan ke lokasinya sekarang pada 1702 M (Genroku 15), pada zaman Edo, dalam pemindahan yang berkaitan dengan Tokugawa Mitsukuni, penguasa Domain Mito.
Berdoa untuk Kesehatan dan Fermentasi
Berkat kepercayaan terhadap Sukunahikona-no-mikoto, banyak orang berkunjung untuk berdoa demi kesembuhan penyakit serta umur panjang dan kesehatan, dan ada pula pelaku industri sake yang berdoa untuk perkembangan usaha fermentasi mereka.
Saat berdoa, tenangkan diri, sampaikan rasa syukur terlebih dahulu, lalu sebutkan nama dan permohonan Anda dalam hati.
Daya Tarik Utama: Jalan Setapak Berhutan dan Area Kuil
Di Sakatsura Isosaki Jinja, jangan hanya terburu-buru menuju bangunan kuil. Nikmati perlahan perubahan pemandangan di sepanjang jalan setapak (sandō) menuju area utama.
Tabel berikut merangkum tempat yang patut diperhatikan di area kuil beserta hal yang dapat diamati.
| Tempat | Sudut pandang | Petunjuk budaya |
|---|---|---|
| Jalan setapak berhutan | Cahaya dan pohon hijau abadi | Hutan pelindung kuil |
| Torii tepi laut | Posisi terhadap laut | Kepercayaan pesisir |
| Bangunan sembahyang | Lukisan langit-langit | Ruang doa |
| Ukiran | Motif flora dan fauna | Hiasan bangunan kuil |
Hutan yang Ditetapkan sebagai Monumen Alam Prefektur Ibaraki
Di kedua sisi jalan setapak sepanjang sekitar 300 m menuju bangunan utama dan di belakang bangunan utama, terbentang hutan yang didominasi pepohonan berdaun lebar hijau abadi seperti yabu-tsubaki (kamelia), tabunoki, dan sudajii.
Hutan ini ditetapkan sebagai Monumen Alam Prefektur Ibaraki pada 25 November tahun ke-17 era Heisei (2005), dan hutan alami beriklim hangat seluas 38.837 meter persegi dilindungi di sini.
Terdapat pula pohon yabu-tsubaki berusia lebih dari 300 tahun. Di terowongan pepohonan ini, jangan berhenti terlalu lama di tengah jalan setapak; nikmati pemandangan dari posisi yang tidak menghalangi pengunjung lain.
Torii dan Jalan Setapak dengan Pemandangan Laut
Dari jalan setapak di area kuil, Anda dapat memandang garis pantai yang melengkung, dan karena laut dapat dilihat menembus torii, Anda bisa merasakan secara visual betapa dekatnya kuil ini dengan laut.
Karena sebagian area di sekitar torii berdekatan dengan jalan raya, perhatikan kendaraan dan pejalan kaki sebelum mengambil foto.
Lukisan Langit-langit dan Ukiran Tupai serta Anggur
Di bangunan sembahyang, sambil menjaga ketenangan sebagai tempat ziarah, Anda juga dapat mengarahkan pandangan ke lukisan langit-langit yang berwarna-warni.
Di area kuil juga terdapat ukiran "Tupai dan Anggur" yang konon merupakan karya Hidari Jingorō, tokoh yang juga dikaitkan dengan "Kucing Tidur" (Nemuri-neko) di Nikkō Tōshōgū. Perhatikan detail flora dan fauna pada ornamen bangunan kuil.
Identitas pembuatnya sebaiknya dipahami sebagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun, bukan fakta yang telah dipastikan.
Patung Kura-kura Keberuntungan yang Dipercaya Membawa Rezeki
"Kura-kura Keberuntungan" di area kuil adalah patung batu yang dipersembahkan oleh pemenang hadiah utama lotre. Menurut kepercayaan setempat, menyentuhnya dapat membawa berkah.
Makna kepercayaan dapat berbeda bagi setiap orang. Namun, sebaiknya berziarah ke bangunan utama terlebih dahulu sebelum melihat patung batu dan menjelajahi area kuil.

Cara Berziarah dan Etika di Sakatsura Isosaki Jinja
Dalam berziarah ke kuil, yang penting bukanlah meniru gerakan secara sempurna, melainkan sikap menghormati kawasan suci dan orang-orang di sekitar.
Dengan mengetahui alur umumnya, Anda dapat bertindak dengan tenang meski tidak memahami bahasanya.
| Urutan | Tindakan | Hal yang diperhatikan |
|---|---|---|
| Di depan torii | Membungkuk sedikit | Memasuki kawasan suci |
| Temizuya | Membersihkan tangan dan mulut | Jangan menyentuhkan mulut ke gayung |
| Di depan bangunan sembahyang | Memasukkan uang persembahan | Lakukan dengan tenang |
| Sembahyang | 2 kali membungkuk, 2 kali bertepuk tangan, 1 kali membungkuk | Menata hati |
| Saat keluar | Membungkuk di torii | Menunjukkan rasa syukur |
Sikap di Torii dan Jalan Setapak
Membungkuklah sedikit sebelum melewati torii, dan di jalan setapak, hindari berbicara dengan suara keras atau berjajar melebar menghalangi jalan.
Ada tata krama yang menganggap bagian tengah jalan setapak sebagai jalan lewatnya dewa, namun saat ramai, utamakan keselamatan; tidak masalah jika Anda berjalan mengikuti pergerakan orang di sekitar.
Tata Cara Temizu serta 2 Kali Membungkuk, 2 Kali Bertepuk Tangan, 1 Kali Membungkuk
Jika temizuya tersedia, gunakan gayung sesuai petunjuk untuk membasuh tangan dan berkumur tanpa menyentuhkan mulut langsung ke gayung.
Di bangunan sembahyang, berdoalah dengan tenang mengikuti tata cara kuil Shinto pada umumnya, yaitu 2 kali membungkuk, 2 kali bertepuk tangan, dan 1 kali membungkuk.
Meski ragu dengan tata caranya, utamakan melakukan setiap gerakan satu per satu dengan tenang, ketimbang terburu-buru meniru orang di depan.
Jam Pendaftaran dan Pakaian untuk Menerima Doa Khusus (Gokitō)
Gokitō (doa khusus) berbeda dengan ziarah biasa; ini adalah doa resmi di mana pendeta melantunkan norito untuk menyampaikan permohonan ke hadapan dewa.
Pendaftaran gokitō dibuka pukul 9.00 hingga 15.00, dan tempat pemberian jimat buka pukul 8.00 hingga 16.00.
Untuk menerima gokitō, hindari pakaian yang terlalu terbuka, misalnya tank top, serta jangan bertelanjang kaki. Kenakan pakaian yang menutupi bahu dan kaki dengan rapi.

Tips Mengambil Foto dan Menikmati Waktu di Area Kuil
Sakatsura Isosaki Jinja memang tempat yang memikat dengan pemandangannya, namun area kuil pada dasarnya adalah tempat berdoa sebelum menjadi objek wisata.
Di tempat yang tidak jelas boleh atau tidaknya pengambilan foto, utamakan papan pemberitahuan setempat atau arahan pendeta.
| Situasi | Hal yang diperhatikan | Hal yang dihindari |
|---|---|---|
| Jalan setapak | Berhenti di tepi | Menghalangi jalan |
| Sekitar torii | Memeriksa jalan raya | Masuk ke jalur kendaraan |
| Depan bangunan sembahyang | Mendahulukan peziarah | Memotret terlalu lama |
| Saat upacara | Memastikan izin | Memotret tanpa izin |
Jangan Memotret Wajah Peziarah Lain
Di depan bangunan sembahyang, jangan memotret dari depan orang yang sedang berdoa, dan jika ada orang yang ikut terekam, ubahlah jarak atau sudut pengambilan gambar.
Saat berfoto bersama dalam rombongan pun, prinsip dasarnya adalah tidak menghalangi pintu masuk atau jalan setapak, serta bergantian dalam waktu singkat.
Konfirmasikan Izin Foto di Dalam Bangunan dan Saat Upacara
Untuk memotret di dalam bangunan kuil, saat gokitō, atau ketika upacara berlangsung, pastikan terlebih dahulu apakah pengambilan foto diizinkan.
Meski tidak ada tanda larangan memotret, hindari memasang peralatan yang menghalangi pendeta atau peziarah serta menggunakan lampu kilat atau pencahayaan kuat.
Jangan Merusak Lingkungan Hutan
Di hutan yang ditetapkan sebagai monumen alam, jangan keluar dari area yang diizinkan, menyentuh dahan atau daun, maupun memetik tumbuhan.
Nikmatilah daun gugur maupun bunga sebagai bagian dari pemandangan area kuil, dan jangan membawanya pulang.

Cara Menuju dan Menjelajahi Sakatsura Isosaki Jinja
Kuil ini dapat dikunjungi baik dengan transportasi umum maupun mobil, namun status operasional dan petunjuk jalan bisa berubah.
Sebelum berangkat, periksa informasi dari kuil dan operator transportasi, lalu susunlah rencana perjalanan yang longgar.
Transportasi Umum: Sekitar 10 Menit Jalan Kaki dari Stasiun Isozaki
Jika menggunakan kereta, dari Stasiun JR Katsuta berpindah ke Jalur Minato Hitachinaka Kaihin Tetsudō, turun di Stasiun Isozaki, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit.
Karena Jalur Minato hanya beroperasi sekitar 1–2 kali per jam dengan jeda yang cukup panjang, periksa jadwal keberangkatan untuk perjalanan pergi dan pulang agar perjalanan lebih nyaman.
Dengan Mobil: Melalui Kita-Kantō Expressway dan Tersedia Tempat Parkir
Jika berkunjung dengan mobil, jaraknya sekitar 10 menit dari Hitachinaka IC atau Hitachi-Kaihin-Kōen IC di Kita-Kantō Expressway.
Tersedia tempat parkir gratis untuk sekitar 60 mobil. Namun, kondisi lalu lintas dapat berubah saat musim mekarnya nemophila, perubahan warna kochia, atau penyelenggaraan acara. Ikuti pengaturan dan petunjuk sementara di lokasi.
Pemandangan Jalan Setapak Menurut Musim
Karena didominasi pepohonan hijau abadi, jalan setapak tetap tampak hijau pekat sepanjang tahun. Namun, suasananya berubah sesuai bunga yang bermekaran dan arah datangnya cahaya.
Untuk menikmati pemandangan musiman, periksa terlebih dahulu kondisi mekarnya bunga.
Musim Dingin: Perhatikan Bunga Kamelia
Hutan Sakatsura Isosaki Jinja banyak ditumbuhi yabu-tsubaki (kamelia), dan pada musim dingin bunganya menghiasi jalan setapak.
Saat melihat bunga dari dekat, nikmatilah tanpa menarik dahan, merusak tanaman, atau keluar dari jalur.
Saat Hujan: Waspadai Tangga Batu dan Sekitar Akar Pohon
Pada hari hujan, warna hutan tampak lebih pekat, namun daun gugur, batu, dan sekitar akar pohon bisa menjadi licin.
Pilih sepatu yang nyaman, jangan berjalan sambil melihat layar ponsel atau kamera, dan berhentilah sebelum mengambil foto.
Kesimpulan: Menikmati Ziarah yang Tenang di Sakatsura Isosaki Jinja
Di Sakatsura Isosaki Jinja, dengan menyusuri secara berurutan jalan setapak berhutan, torii dengan pemandangan laut, serta hiasan bangunan kuil, Anda dapat merasakan ciri khas area kuil yang memadukan alam dan kepercayaan.
Kenali asal-usul pemujaan Sukunahikona-no-mikoto serta hubungannya dengan Ōarai Isosaki Jinja. Saat berziarah, ikuti tata cara 2 kali membungkuk, 2 kali bertepuk tangan, dan 1 kali membungkuk sambil tetap memperhatikan sekitar.
Periksa informasi tentang goshuin (cap kaligrafi kuil), gokitō, aturan fotografi, dan transportasi, lalu rencanakan perjalanan agar dapat menikmati ketenangan area kuil tanpa terburu-buru.





Ulasan (0)