Nikmati Perjalanan ke Jepang!

Kuil Sakatsura Isosaki | Torii Laut & Jalur Hutan

Kuil Sakatsura Isosaki | Torii Laut & Jalur Hutan
Panduan Kuil Sakatsura Isosaki di Hitachinaka: jelajahi jalan berhutan, torii menghadap laut, aula dan ukiran, etika ziarah, tips foto, serta akses.

Ringkasan Cepat

Daya Tarik Singkat

Kuil Sakatsura Isosaki di Kota Hitachinaka, Prefektur Ibaraki, adalah kuil tua di tepi laut yang dikenal karena torii menghadap laut dan jalur menuju kuil yang rindang, yang ditetapkan sebagai monumen alam Prefektur Ibaraki. Kuil ini memuja Sukunahikona-no-Mikoto dan dikenal sebagai tempat berdoa untuk kesehatan, umur panjang, serta keberhasilan pembuatan sake. Anda juga dapat melihat lukisan langit-langit aula persembahyangan, ukiran “tupai dan anggur”, serta kura-kura keberuntungan.

Daya Tarik Utama

Jalur menuju kuil yang rindang, yang ditetapkan sebagai monumen alam Prefektur Ibaraki (kamelia liar, pohon tabunoki, dan sudajii), torii dengan pemandangan laut, lukisan langit-langit aula persembahyangan, serta ukiran “tupai dan anggur” yang diyakini sebagai karya Hidari Jingoro.

Jalur Menuju Kuil yang Rindang

Di kedua sisi jalur menuju aula utama Kuil Sakatsura Isosaki yang panjangnya sekitar 300 m, terbentang hutan alami beriklim hangat, termasuk pohon kamelia liar tua berusia lebih dari 300 tahun. Anda dapat menikmati suasana seperti terowongan pepohonan sambil melihat perubahan pemandangan.

Spot Keberuntungan Finansial

Patung kura-kura keberuntungan di area kuil dipersembahkan oleh seorang pemenang lotre berhadiah besar dan dipercaya membawa berkah jika disentuh. Sebaiknya kunjungi patung ini setelah bersembahyang di aula utama.

Akses dengan Transportasi Umum

Dari Stasiun JR Katsuta, pindah ke Minato Line milik Hitachinaka Seaside Railway, turun di Stasiun Isozaki, lalu berjalan sekitar 10 menit. Kereta di Minato Line hanya beroperasi 1–2 kali per jam, jadi periksa juga jadwal perjalanan pulang.

Akses dengan Mobil dan Parkir

Sekitar 10 menit dari Kita-Kanto Expressway Hitachinaka IC/Hitachi Kaihin Koen IC. Tersedia parkir gratis untuk sekitar 60 mobil biasa. Pada musim bunga atau hari acara, ikuti pengarahan petugas di lokasi.

Persembahyangan dan Doa Khusus

Tata caranya adalah dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan, lalu satu kali membungkuk. Layanan doa khusus tersedia pukul 09.00–15.00, dan loket jimat buka pukul 08.00–16.00; datanglah dengan pakaian sopan yang menutupi bahu dan kaki.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Ibaraki

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Sakatsura Isosaki Jinja: Kuil Tua di Tepi Hutan Pesisir

Sakatsura Isosaki Jinja adalah kuil Shinto yang terletak di Isozaki-chō, Kota Hitachinaka, Prefektur Ibaraki, dan memuja Sukunahikona-no-mikoto serta Ōnamochi-no-mikoto sebagai dewa utamanya.

Dengan lokasinya yang dekat dengan laut serta area kuil yang diselimuti pepohonan hijau abadi, tempat ini memungkinkan Anda merasakan alam kota pelabuhan dan budaya Shinto sekaligus.

Cara Membaca Nama "Sakatsura Isosaki Jinja"

"Sakatsura Isosaki" dibaca "sakatsura isosaki", sebuah nama yang cukup sulit dibaca pada pandangan pertama.

Saat memasukkannya ke itinerary atau aplikasi peta, simpan nama dalam aksara Jepang beserta romanisasi "Sakatsura Isosaki Jinja" agar tujuan lebih mudah ditunjukkan saat bertanya arah di sekitar stasiun atau kawasan kuil.

Dewa Utama: Sukunahikona-no-mikoto

Sukunahikona-no-mikoto dipuja sebagai dewa utama, sementara Ōnamochi-no-mikoto dipuja bersama sebagai dewa pendamping di bangunan utama (honden).

Sukunahikona-no-mikoto diyakini berkaitan dengan kesembuhan penyakit, umur panjang, dan kesehatan. Sejak dahulu, dewa ini juga dihormati sebagai pelindung pembuatan sake dan usaha fermentasi.

Kepercayaan Kuil Bersaudara dengan Ōarai Isosaki Jinja

Sakatsura Isosaki Jinja dan Ōarai Isosaki Jinja dianggap sebagai kuil bersaudara yang terhubung oleh asal-usul yang sama, dan keduanya membentuk satu kesatuan kepercayaan.

Jika mengunjungi kedua kuil ini, pahami keduanya sebagai sepasang tempat suci yang berbagi kisah asal-usul dan memuja dewa-dewa yang dipercaya muncul dari laut, bukan sekadar dua kuil terkenal dalam satu rute.

Mengenal Sejarah dan Kepercayaan Sakatsura Isosaki Jinja

Pemandangan di area kuil memang tenang, namun di baliknya tersimpan sejarah panjang yang konon berlanjut sejak zaman Heian.

Dengan memahami asal-usulnya sebelum berkunjung, Anda dapat memaknai bangunan kuil dan pemandangan laut dengan lebih mendalam.

Legenda Pendirian dalam Montoku Tennō Jitsuroku

Legenda yang tercatat dalam kitab sejarah zaman Heian, "Montoku Tennō Jitsuroku", diwariskan sebagai asal-usul kuil ini.

Pada 856 M (Saikō 3), Ōnamochi-no-mikoto dan Sukunahikona-no-mikoto konon muncul di pesisir Ōarai, Provinsi Hitachi, lalu menyampaikan wahyu bahwa mereka kembali untuk menyelamatkan rakyat. Kisah ini menjadi dasar pendirian Sakatsura Isosaki Jinja dan Ōarai Isosaki Jinja.

Pada 857 M (Tennan 1), kuil ini diangkat sebagai kuil resmi negara. Sakatsura Isosaki Jinja kemudian dipercaya dipindahkan ke lokasinya sekarang pada 1702 M (Genroku 15), pada zaman Edo, dalam pemindahan yang berkaitan dengan Tokugawa Mitsukuni, penguasa Domain Mito.

Berdoa untuk Kesehatan dan Fermentasi

Berkat kepercayaan terhadap Sukunahikona-no-mikoto, banyak orang berkunjung untuk berdoa demi kesembuhan penyakit serta umur panjang dan kesehatan, dan ada pula pelaku industri sake yang berdoa untuk perkembangan usaha fermentasi mereka.

Saat berdoa, tenangkan diri, sampaikan rasa syukur terlebih dahulu, lalu sebutkan nama dan permohonan Anda dalam hati.

Daya Tarik Utama: Jalan Setapak Berhutan dan Area Kuil

Di Sakatsura Isosaki Jinja, jangan hanya terburu-buru menuju bangunan kuil. Nikmati perlahan perubahan pemandangan di sepanjang jalan setapak (sandō) menuju area utama.

Tabel berikut merangkum tempat yang patut diperhatikan di area kuil beserta hal yang dapat diamati.

Tempat Sudut pandang Petunjuk budaya
Jalan setapak berhutan Cahaya dan pohon hijau abadi Hutan pelindung kuil
Torii tepi laut Posisi terhadap laut Kepercayaan pesisir
Bangunan sembahyang Lukisan langit-langit Ruang doa
Ukiran Motif flora dan fauna Hiasan bangunan kuil

Hutan yang Ditetapkan sebagai Monumen Alam Prefektur Ibaraki

Di kedua sisi jalan setapak sepanjang sekitar 300 m menuju bangunan utama dan di belakang bangunan utama, terbentang hutan yang didominasi pepohonan berdaun lebar hijau abadi seperti yabu-tsubaki (kamelia), tabunoki, dan sudajii.

Hutan ini ditetapkan sebagai Monumen Alam Prefektur Ibaraki pada 25 November tahun ke-17 era Heisei (2005), dan hutan alami beriklim hangat seluas 38.837 meter persegi dilindungi di sini.

Terdapat pula pohon yabu-tsubaki berusia lebih dari 300 tahun. Di terowongan pepohonan ini, jangan berhenti terlalu lama di tengah jalan setapak; nikmati pemandangan dari posisi yang tidak menghalangi pengunjung lain.

Torii dan Jalan Setapak dengan Pemandangan Laut

Dari jalan setapak di area kuil, Anda dapat memandang garis pantai yang melengkung, dan karena laut dapat dilihat menembus torii, Anda bisa merasakan secara visual betapa dekatnya kuil ini dengan laut.

Karena sebagian area di sekitar torii berdekatan dengan jalan raya, perhatikan kendaraan dan pejalan kaki sebelum mengambil foto.

Lukisan Langit-langit dan Ukiran Tupai serta Anggur

Di bangunan sembahyang, sambil menjaga ketenangan sebagai tempat ziarah, Anda juga dapat mengarahkan pandangan ke lukisan langit-langit yang berwarna-warni.

Di area kuil juga terdapat ukiran "Tupai dan Anggur" yang konon merupakan karya Hidari Jingorō, tokoh yang juga dikaitkan dengan "Kucing Tidur" (Nemuri-neko) di Nikkō Tōshōgū. Perhatikan detail flora dan fauna pada ornamen bangunan kuil.

Identitas pembuatnya sebaiknya dipahami sebagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun, bukan fakta yang telah dipastikan.

Patung Kura-kura Keberuntungan yang Dipercaya Membawa Rezeki

"Kura-kura Keberuntungan" di area kuil adalah patung batu yang dipersembahkan oleh pemenang hadiah utama lotre. Menurut kepercayaan setempat, menyentuhnya dapat membawa berkah.

Makna kepercayaan dapat berbeda bagi setiap orang. Namun, sebaiknya berziarah ke bangunan utama terlebih dahulu sebelum melihat patung batu dan menjelajahi area kuil.

Cara Berziarah dan Etika di Sakatsura Isosaki Jinja

Dalam berziarah ke kuil, yang penting bukanlah meniru gerakan secara sempurna, melainkan sikap menghormati kawasan suci dan orang-orang di sekitar.

Dengan mengetahui alur umumnya, Anda dapat bertindak dengan tenang meski tidak memahami bahasanya.

Urutan Tindakan Hal yang diperhatikan
Di depan torii Membungkuk sedikit Memasuki kawasan suci
Temizuya Membersihkan tangan dan mulut Jangan menyentuhkan mulut ke gayung
Di depan bangunan sembahyang Memasukkan uang persembahan Lakukan dengan tenang
Sembahyang 2 kali membungkuk, 2 kali bertepuk tangan, 1 kali membungkuk Menata hati
Saat keluar Membungkuk di torii Menunjukkan rasa syukur

Sikap di Torii dan Jalan Setapak

Membungkuklah sedikit sebelum melewati torii, dan di jalan setapak, hindari berbicara dengan suara keras atau berjajar melebar menghalangi jalan.

Ada tata krama yang menganggap bagian tengah jalan setapak sebagai jalan lewatnya dewa, namun saat ramai, utamakan keselamatan; tidak masalah jika Anda berjalan mengikuti pergerakan orang di sekitar.

Tata Cara Temizu serta 2 Kali Membungkuk, 2 Kali Bertepuk Tangan, 1 Kali Membungkuk

Jika temizuya tersedia, gunakan gayung sesuai petunjuk untuk membasuh tangan dan berkumur tanpa menyentuhkan mulut langsung ke gayung.

Di bangunan sembahyang, berdoalah dengan tenang mengikuti tata cara kuil Shinto pada umumnya, yaitu 2 kali membungkuk, 2 kali bertepuk tangan, dan 1 kali membungkuk.

Meski ragu dengan tata caranya, utamakan melakukan setiap gerakan satu per satu dengan tenang, ketimbang terburu-buru meniru orang di depan.

Jam Pendaftaran dan Pakaian untuk Menerima Doa Khusus (Gokitō)

Gokitō (doa khusus) berbeda dengan ziarah biasa; ini adalah doa resmi di mana pendeta melantunkan norito untuk menyampaikan permohonan ke hadapan dewa.

Pendaftaran gokitō dibuka pukul 9.00 hingga 15.00, dan tempat pemberian jimat buka pukul 8.00 hingga 16.00.

Untuk menerima gokitō, hindari pakaian yang terlalu terbuka, misalnya tank top, serta jangan bertelanjang kaki. Kenakan pakaian yang menutupi bahu dan kaki dengan rapi.

Tips Mengambil Foto dan Menikmati Waktu di Area Kuil

Sakatsura Isosaki Jinja memang tempat yang memikat dengan pemandangannya, namun area kuil pada dasarnya adalah tempat berdoa sebelum menjadi objek wisata.

Di tempat yang tidak jelas boleh atau tidaknya pengambilan foto, utamakan papan pemberitahuan setempat atau arahan pendeta.

Situasi Hal yang diperhatikan Hal yang dihindari
Jalan setapak Berhenti di tepi Menghalangi jalan
Sekitar torii Memeriksa jalan raya Masuk ke jalur kendaraan
Depan bangunan sembahyang Mendahulukan peziarah Memotret terlalu lama
Saat upacara Memastikan izin Memotret tanpa izin

Jangan Memotret Wajah Peziarah Lain

Di depan bangunan sembahyang, jangan memotret dari depan orang yang sedang berdoa, dan jika ada orang yang ikut terekam, ubahlah jarak atau sudut pengambilan gambar.

Saat berfoto bersama dalam rombongan pun, prinsip dasarnya adalah tidak menghalangi pintu masuk atau jalan setapak, serta bergantian dalam waktu singkat.

Konfirmasikan Izin Foto di Dalam Bangunan dan Saat Upacara

Untuk memotret di dalam bangunan kuil, saat gokitō, atau ketika upacara berlangsung, pastikan terlebih dahulu apakah pengambilan foto diizinkan.

Meski tidak ada tanda larangan memotret, hindari memasang peralatan yang menghalangi pendeta atau peziarah serta menggunakan lampu kilat atau pencahayaan kuat.

Jangan Merusak Lingkungan Hutan

Di hutan yang ditetapkan sebagai monumen alam, jangan keluar dari area yang diizinkan, menyentuh dahan atau daun, maupun memetik tumbuhan.

Nikmatilah daun gugur maupun bunga sebagai bagian dari pemandangan area kuil, dan jangan membawanya pulang.

Cara Menuju dan Menjelajahi Sakatsura Isosaki Jinja

Kuil ini dapat dikunjungi baik dengan transportasi umum maupun mobil, namun status operasional dan petunjuk jalan bisa berubah.

Sebelum berangkat, periksa informasi dari kuil dan operator transportasi, lalu susunlah rencana perjalanan yang longgar.

Transportasi Umum: Sekitar 10 Menit Jalan Kaki dari Stasiun Isozaki

Jika menggunakan kereta, dari Stasiun JR Katsuta berpindah ke Jalur Minato Hitachinaka Kaihin Tetsudō, turun di Stasiun Isozaki, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit.

Karena Jalur Minato hanya beroperasi sekitar 1–2 kali per jam dengan jeda yang cukup panjang, periksa jadwal keberangkatan untuk perjalanan pergi dan pulang agar perjalanan lebih nyaman.

Dengan Mobil: Melalui Kita-Kantō Expressway dan Tersedia Tempat Parkir

Jika berkunjung dengan mobil, jaraknya sekitar 10 menit dari Hitachinaka IC atau Hitachi-Kaihin-Kōen IC di Kita-Kantō Expressway.

Tersedia tempat parkir gratis untuk sekitar 60 mobil. Namun, kondisi lalu lintas dapat berubah saat musim mekarnya nemophila, perubahan warna kochia, atau penyelenggaraan acara. Ikuti pengaturan dan petunjuk sementara di lokasi.

Pemandangan Jalan Setapak Menurut Musim

Karena didominasi pepohonan hijau abadi, jalan setapak tetap tampak hijau pekat sepanjang tahun. Namun, suasananya berubah sesuai bunga yang bermekaran dan arah datangnya cahaya.

Untuk menikmati pemandangan musiman, periksa terlebih dahulu kondisi mekarnya bunga.

Musim Dingin: Perhatikan Bunga Kamelia

Hutan Sakatsura Isosaki Jinja banyak ditumbuhi yabu-tsubaki (kamelia), dan pada musim dingin bunganya menghiasi jalan setapak.

Saat melihat bunga dari dekat, nikmatilah tanpa menarik dahan, merusak tanaman, atau keluar dari jalur.

Saat Hujan: Waspadai Tangga Batu dan Sekitar Akar Pohon

Pada hari hujan, warna hutan tampak lebih pekat, namun daun gugur, batu, dan sekitar akar pohon bisa menjadi licin.

Pilih sepatu yang nyaman, jangan berjalan sambil melihat layar ponsel atau kamera, dan berhentilah sebelum mengambil foto.

Kesimpulan: Menikmati Ziarah yang Tenang di Sakatsura Isosaki Jinja

Di Sakatsura Isosaki Jinja, dengan menyusuri secara berurutan jalan setapak berhutan, torii dengan pemandangan laut, serta hiasan bangunan kuil, Anda dapat merasakan ciri khas area kuil yang memadukan alam dan kepercayaan.

Kenali asal-usul pemujaan Sukunahikona-no-mikoto serta hubungannya dengan Ōarai Isosaki Jinja. Saat berziarah, ikuti tata cara 2 kali membungkuk, 2 kali bertepuk tangan, dan 1 kali membungkuk sambil tetap memperhatikan sekitar.

Periksa informasi tentang goshuin (cap kaligrafi kuil), gokitō, aturan fotografi, dan transportasi, lalu rencanakan perjalanan agar dapat menikmati ketenangan area kuil tanpa terburu-buru.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Sakatsura Isosaki Shrine berdiri di dataran tinggi di Isozakicho, Kota Hitachinaka, Prefektur Ibaraki, dan merupakan kuil tua yang memuja Sukunahikona-no-mikoto serta Onamochi-no-mikoto. Ciri khasnya adalah lokasi yang dekat dengan laut dan area kuil yang dinaungi pepohonan hijau abadi. Di sini, Anda dapat mengenal kepercayaan kepada dewa yang dikaitkan dengan kesehatan, umur panjang, dan kemakmuran industri sake, sekaligus menikmati alam kota pelabuhan.
A. Nama resminya dibaca “Sakatsura Isosaki Jinja” dan ditulis demikian dalam huruf Latin. Simpan juga tulisan kanjinya di aplikasi peta atau catatan perjalanan agar lebih mudah menunjukkan tujuan saat bertanya di Stasiun Isozaki atau kawasan sekitarnya.
A. Sakatsura Isosaki Shrine konon didirikan pada tahun 856. Dalam "Montoku Tenno Jitsuroku" terdapat catatan tentang Onamochi-no-mikoto dan Sukunahikona-no-mikoto yang muncul di pantai Oarai, dan pada tahun berikutnya, 857, kuil ini dimasukkan ke dalam kuil resmi negara. Mengetahui bahwa kuil ini adalah kuil kembar yang lahir dari legenda kemunculan dewa yang sama dengan Oarai Isosaki Shrine akan memudahkan Anda memahami keterkaitan kedua kuil tersebut.
A. Sakatsura Isosaki Shrine dan Oarai Isosaki Shrine adalah kuil kembar yang terhubung oleh legenda kemunculan dewa yang sama. Sakatsura Isosaki Shrine memuja Sukunahikona-no-mikoto sebagai dewa utama, sedangkan Oarai Isosaki Shrine memuja Onamochi-no-mikoto, dan dengan mobil kedua kuil bisa dikelilingi dalam sekitar 20 menit. Berziarah sambil membandingkan dua lanskap berbeda, yaitu tepi laut dan rimbunan pohon, akan memudahkan Anda memahami keterkaitan kepercayaan yang menyatukan kedua kuil ini.
A. Menyusuri rimbunan pohon sepanjang sekitar 300 meter dari pintu masuk, lalu mengunjungi aula pemujaan, lukisan langit-langit, ukiran "Tupai dan Anggur", dan torii dengan pemandangan laut secara berurutan akan terasa nyaman untuk dilewati. Ukiran itu konon dibuat oleh Hidari Jingoro yang dikenal lewat "Kucing Tidur" di Nikko Toshogu. Karena di rimbunan pohon banyak orang berhenti, kosongkan bagian tengah jalan setapak, dan amati hiasan bangunan kuil dengan menghindari jalur lalu-lalang peziarah lain.
A. Alur yang wajar adalah berziarah dulu di aula pemujaan, lalu menuju "Kura-kura Keberuntungan" di area kuil. Patung batu kura-kura ini dipersembahkan oleh pemenang lotre berhadiah besar, dan menjadi terkenal karena dipercaya membawa berkah bila disentuh. Daripada terburu-buru menyentuhnya hanya demi keberuntungan finansial, menunggu giliran dan saling mengalah akan membuat Anda tidak menghalangi jalur lalu-lalang sesama peziarah.
A. Dari Stasiun JR Katsuta, berganti ke jalur Hitachinaka Kaihin Tetsudo Minato, turun di Stasiun Isozaki, lalu sekitar 10 menit berjalan kaki. Karena jalur Minato hanya melayani sekitar 1–2 keberangkatan per jam, mencatat jadwal keberangkatan pulang setelah tiba akan membuat Anda tidak perlu menunggu lama di stasiun seusai berziarah.
A. Jika naik mobil, dari Hitachinaka IC atau Hitachi Kaihin Koen IC di Kita-Kanto Expressway sekitar 10 menit, dan tersedia tempat parkir gratis untuk sekitar 60 mobil biasa. Saat Hitachi Seaside Park di dekatnya ramai oleh nemophila atau kochia, jalan di sekitar cenderung macet, jadi berangkat dengan waktu yang longgar akan lebih aman.

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.