Apa Itu Yamaga Tōrō Roman Hyakka Hyakusai
Yamaga Tōrō Roman Hyakka Hyakusai adalah acara yang mewarnai malam musim dingin Kota Yamaga, Prefektur Kumamoto, dengan cahaya dari payung kertas Jepang (wagasa) dan bambu.
Sebagai festival musim dingin yang berpasangan dengan Festival Lampion Yamaga (Yamaga Tōrō Matsuri) di musim panas, ribuan cahaya lilin menerangi dengan lembut deretan bangunan retro di Jalan Buzen (Buzen Kaidō).
Cirinya adalah Anda bisa menikmati sekaligus budaya cahaya khas Yamaga dan suasana kota pemandian air panas (onsen) sambil berjalan menyusuri Jalan Buzen yang masih menyimpan deretan bangunan tua.
Cahaya Khas Yamaga yang Dibentuk Payung Kertas dan Bambu
Di lokasi acara, objek cahaya yang menggunakan payung kertas Jepang dan bambu ditempatkan di sepanjang deretan bangunan.
Bambu yang digunakan untuk cahaya bambu disiapkan sejak bulan November setiap tahun dengan mengambil bambu dari gunung, lalu memotong sekitar 1.500 batang bambu sepanjang sekitar 3 meter.
Ini bukan acara yang menampilkan semuanya sekaligus dengan pencahayaan kuat, melainkan suasana yang dinikmati termasuk kerlip lilin dan keremangan gang.
Bagi wisatawan asing, ini menjadi waktu yang mudah untuk merasakan keheningan malam musim dingin Jepang serta kehangatan cahaya yang ditata dengan penuh perhatian oleh masyarakat setempat.
Acara Cahaya Musim Dingin sambil Menyusuri Jalan Buzen
Jalan Buzen (Buzen Kaidō) yang menjadi panggung utama adalah jalan tempat Anda bisa merasakan deretan bangunan bersejarah Yamaga.
Lokasi penyalaan cahaya berpusat di sepanjang Jalan Buzen dari Yachiyoza hingga Sakura-yu.
Pada siang hari, ini adalah area di mana Anda bisa berjalan sambil melihat ekspresi bangunan, tetapi saat malam tiba, cahaya payung kertas dan bambu bertambah, sehingga tampilannya pun berubah.
Daripada sekadar berhenti untuk memotret, memandang termasuk bayangan bangunan, suasana jalan batu, hingga cahaya di muka toko akan membuat malam Yamaga terlihat lebih hidup.
Merasakan Nuansa Buatan Tangan Warga Setempat
Acara ini juga bermakna karena dipersiapkan berkat kerja sama masyarakat setempat.
Ada tahun di mana, jika pengunjung membawa pemantik api, mereka bisa ikut serta dalam pengalaman menyalakan cahaya sebagai relawan penyalaan lilin.
Meski merupakan pemandangan yang ditata untuk wisatawan, kehangatan warga kota yang menyalakan cahaya tetap terasa.
Di lokasi, akan lebih nyaman menyusuri jalan dengan perasaan tidak terlalu mendekat ke karya, tidak menghalangi jalan, dan dengan rasa seolah diizinkan masuk ke dalam kehidupan masyarakat.

Daya Tarik Cahaya yang Dinikmati di Jalan Buzen
Cara menikmati Hyakka Hyakusai bukanlah berakhir di satu tempat saja, melainkan menikmati pemandangan sedikit demi sedikit sambil menyusuri kota.
Waktu penyalaan terkadang dipandu dengan patokan dari pukul 18.00 hingga 22.00.
Dengan mengetahui jenis cahaya dan suasana setiap lokasi, Anda tidak akan mudah melewatkannya meski singgah sebentar.
Melihat Warna Payung Kertas dari Dekat dan Jauh
Cahaya payung kertas, jika dilihat dari dekat, motif kertas dan rangkanya tertangkap mata, dan jika dilihat dari jauh, tampak mengapung sebagai gugusan warna di tengah deretan bangunan.
Jika ingin memotret, memisahkan komposisi yang memotret payung saja secara besar dengan komposisi yang memasukkan keseluruhan jalan akan mengubah kesannya.
Di tempat yang ramai dilalui orang, mempersingkat waktu berhenti dan memotret mengikuti arus sekitar akan lebih aman.
Memperhatikan Cahaya Rendah dari Bonbori Bambu
Cahaya yang menggunakan bambu (take-bonbori), jika menurunkan pandangan sedikit, ekspresinya akan terlihat.
Dengan cahaya yang dekat dengan pijakan kaki yang berderet, kedalaman pada jalan pun tercipta, dan ritme lembut tertambah pada jalan-jalan malam.
Karena di tempat gelap perlu juga memperhatikan pijakan kaki, jangan terlalu fokus memotret, dan jaga jarak antara orang yang berjalan dengan cahaya.
Memasukkan Bayangan Bangunan ke dalam Pemandangan
Di Jalan Buzen, bukan hanya cahayanya sendiri, tetapi bayangan yang terpantul di dinding dan tepi atap bangunan juga menjadi daya tarik.
Deretan bangunan tua memiliki kesan berbeda antara siang dan malam, dan di malam hari, karena detail menjadi sulit terlihat, garis tepi dan kedalaman justru semakin menonjol.
Daripada terburu-buru mencari tempat terang, memandang suasana keseluruhan dari sedikit jarak akan menyampaikan ketenangan khas Yamaga.
Mengubah Cara Memandang Cahaya Sesuai Lokasi
Di lokasi cahaya, cara menghabiskan waktu berubah tergantung tempat, seperti jalan di sepanjang deretan bangunan, kuil, dan sekitar kota pemandian.
Khususnya sekitar Kongōjō-ji dikenal sebagai spot cahaya yang paling mudah ramai, dan tergantung waktunya, orang-orang berkumpul.
Tabel berikut merangkum sudut pandang saat melihat cahaya.
| Tipe Lokasi | Poin yang Dilihat | Cara Menikmati yang Cocok |
|---|---|---|
| Sepanjang deretan bangunan | Kedalaman | Jalan-jalan |
| Sekitar payung kertas | Warna dan motif | Foto |
| Deretan cahaya bambu | Kerlip | Menikmati dengan tenang |
| Sekitar kuil | Bayangan dan keheningan | Menikmati sisa kesan |
| Sekitar kota pemandian | Nuansa kota onsen | Sebelum/sesudah istirahat |
Isi tabel ini bukan untuk menentukan urutan berjalan, melainkan sebagai patokan untuk mengganti apa yang akan dilihat di tempat itu.
Di tempat yang ramai, daripada terus mencari posisi yang baik, memandang dari tempat yang sedikit mundur justru bisa menikmati dengan lebih tenang.

Menyentuh Budaya di Yachiyoza dan Yamaga Fūjō Monogatari
Hyakka Hyakusai, selain cahaya di luar ruangan, juga memiliki ciri besar yaitu Anda bisa menyentuh seni tradisi Yamaga.
Yachiyoza, gedung pertunjukan teater (shibai-goya) yang merupakan Aset Budaya Penting tingkat nasional, sebagai tempat untuk merasakan sejarah dan seni Yamaga, menambah kedalaman pada jalan-jalan malam.
Yachiyoza Menjadi Poros Jalan-jalan Kota
Yachiyoza adalah gedung pertunjukan teater dua lantai dari kayu yang dibangun pada tahun 1910, dan masih mewariskan ciri khas gedung kabuki seperti panggung berputar (mawari-butai), jalan masuk pemain (hanamichi), dan tempat duduk kotak (masu-seki).
Ini adalah tempat yang perlu diperhatikan bersamaan dengan jalan-jalan di Jalan Buzen, dan hanya dengan memandang penampilan luarnya yang diterangi cahaya pun, Anda bisa merasakan waktu yang telah ditumpuk kota Yamaga.
Karena ada atau tidaknya acara dalam gedung dan kunjungan berubah tergantung tahun penyelenggaraan dan acara, jika mempertimbangkan untuk masuk, akan lebih tenang jika memeriksa panduan terlebih dahulu.
Menikmati Genderang Yamaga dan Tarian Lampion Yamaga
Selama periode Hyakka Hyakusai, di Yachiyoza dipentaskan "Yamaga Fūjō Monogatari" berupa kolaborasi genderang Yamaga (Yamaga Taiko) dan tarian lampion Yamaga (Yamaga Tōrō Odori).
Pertunjukan berdurasi sekitar 60 menit dengan pembukaan pintu pukul 20.00 dan mulai pukul 20.30, dengan patokan harga tiket masuk 1.000 yen (termasuk voucher belanja senilai 200 yen, gratis untuk anak SD ke bawah).
Seluruh kursi adalah kursi bebas, dan ada tahun di mana ada pengumuman bahwa tiket masuk dijual mulai pukul 18.00 pada hari itu di pintu masuk Yachiyoza, jadi jika ingin menonton, mengamankannya lebih awal akan lebih tenang.
Kekuatan genderang dan gerakan lentur tarian lampion menyampaikan budaya Yamaga dari sudut yang berbeda dari cahaya di luar ruangan.
Meski tidak memahami bahasanya, banyak yang tersampaikan dari suara, gerak, kostum, dan suasana panggung, sehingga ini pengalaman yang mudah diakses wisatawan asing.
Menghubungkan Cahaya dan Seni dalam Satu Malam yang Sama
Menyentuh seni tradisi setelah berjalan melihat cahaya luar ruangan akan membuat kesan malam Yamaga semakin mendalam.
Sebaliknya, jika keluar ke jalan setelah menonton panggung, payung kertas dan cahaya bambu akan terlihat bukan sekadar hiasan, melainkan pemandangan yang mewakili budaya daerah.
Jika tidak punya banyak waktu, menjadikan sekitar Yachiyoza sebagai titik awal jalan-jalan akan memudahkan merasakan cahaya dan budaya sekaligus.

Etika yang Perlu Dijaga saat Memotret di Hyakka Hyakusai
Hyakka Hyakusai adalah acara dengan banyak momen yang membuat ingin memotret, tetapi lokasinya berada di tengah kota yang dilalui banyak orang.
Kesadaran mengutamakan keamanan dan kelancaran jalan daripada kebebasan memotret menjadi kunci agar tidak menurunkan kepuasan perjalanan.
Memperhatikan Penanganan Tripod dan Drone
Dalam aturan pemotretan, ditunjukkan agar menghindari tindakan yang mengganggu pengunjung lain serta menempati tempat yang menghalangi jalan.
Di titik-titik cahaya seperti Yachiyoza, Sakura-yu, dan area dalam zona pembatasan lalu lintas, demi keamanan dipandu agar menghindari penggunaan tripod.
Monopod ukuran biasa boleh digunakan, tetapi tetap diperlukan kepedulian terhadap orang di sekitar.
Di jalan masuk dan area Kongōjō-ji yang paling ramai, penggunaan semua peralatan seperti tripod, monopod, dan tangga lipat dilarang, sehingga jika berkunjung untuk tujuan memotret, perlu perhatian khusus.
Drone dilarang dibawa masuk dan digunakan di setiap lokasi acara serta daerah sekitarnya.
Karena objek dan payung kertas dibuat dengan tangan dan rapuh, hindari memotret sambil menyentuhnya, dan ambil foto dari posisi yang sedikit berjarak.
Menikmati Foto dengan Saling Mengalah
Berdiri lama di tempat yang sama demi mengambil foto yang bagus mudah mengganggu orang di belakang atau yang sedang lewat.
Hanya dengan memotret singkat lalu sedikit berpindah, orang di sekitar pun lebih mudah menikmati pemandangan yang sama.
Jika merangkum etikanya, akan lebih mudah dipahami dengan cara berpikir seperti berikut.
| Situasi | Cara Berpikir OK | Perilaku yang Sebaiknya Dihindari |
|---|---|---|
| Memotret di jalan | Mengikuti arus | Menempati tempat lama |
| Dekat payung kertas | Memotret dari jarak | Memotret sambil menyentuh |
| Saat ramai | Memotret singkat | Terus berhenti diam |
| Sekitar kuil | Melihat dengan tenang | Membentangkan peralatan |
| Merekam video | Memeriksa sekitar | Menghentikan jalan |
Tujuan foto bukanlah memonopoli cahaya, melainkan membawa pulang suasana tempat itu.
Semakin ramai tempatnya, dengan memilih komposisi yang sedikit mundur atau dari sudut miring, Anda bisa mengabadikan pemandangan khas Yamaga sambil menghindari keramaian.

Persiapan Menyusuri Malam Yamaga dengan Nyaman
Dalam acara berjalan di luar ruangan pada malam musim dingin, persiapan pakaian dan cara berjalan sangat penting.
Karena waktu penyalaan dan pembatasan lalu lintas tiap tahun dipandu, memeriksa informasi sebelum berkunjung akan memudahkan menyusun rencana.
Memeriksa Tanggal Penyelenggaraan dan Waktu Penyalaan
Hyakka Hyakusai adalah acara musim dingin, dan ada tahun yang diselenggarakan dengan pusat pada hari Jumat dan Sabtu di bulan Februari.
Tanggal penyelenggaraan dan isi acara terkait diperbarui tiap tahun.
Jika memasukkannya ke dalam jadwal perjalanan, periksa tanggal penyelenggaraan dan waktu penyalaan terlebih dahulu.
Khususnya wisatawan yang memadukan dengan transportasi umum dan penginapan, akan lebih tenang jika menentukan moda transportasi pulang lebih dahulu.
Memperhatikan Area Pembatasan Lalu Lintas
Di sekitar lokasi, terkadang informasi pembatasan lalu lintas dan tempat parkir dimuat dalam panduan tahun penyelenggaraan.
Jika berkunjung dengan mobil, jalan yang bisa dilewati dan tempat parkir mungkin berbeda dari masa biasa.
Saat menggunakan transportasi umum pun, karena jumlah armada dan koneksi perjalanan pulang malam bisa terbatas, pastikan agar tidak tersesat di lokasi.
Menyesuaikan Pakaian dan Alas Kaki untuk Jalan Malam
Demi melihat cahaya dengan indah, di lokasi ada juga tempat yang masih menyisakan kegelapan.
Pilih sepatu yang nyaman untuk berjalan, dan gunakan tas yang memudahkan kedua tangan bergerak, sehingga lebih mudah memotret dan memeriksa peta.
Malam Yamaga di bulan Februari terasa dingin, dan waktu berhenti diam pun cenderung lebih lama, sehingga dengan pakaian yang mengasumsikan menghabiskan waktu di luar ruangan seperti baju penghangat dan sarung tangan, Anda bisa berjalan dengan tenang.
Arah persiapan sedikit berubah tergantung tipe perjalanan.
| Tipe Wisatawan | Poros Persiapan | Cara Menghabiskan Waktu |
|---|---|---|
| Pertama kali | Pengecekan awal | Berpusat di area utama |
| Pecinta foto | Memeriksa etika | Memotret singkat |
| Wisata keluarga | Mengutamakan alas kaki | Berpindah tanpa memaksa |
| Tujuan onsen | Mengutamakan istirahat | Sebelum/sesudah berendam |
| Pecinta budaya | Memeriksa Yachiyoza | Mempertimbangkan seni juga |
Tabel ini bukan untuk menjejalkan rencana, melainkan untuk menentukan prioritas yang sesuai dengan perjalanan Anda.
Acara malam justru lebih mudah meninggalkan kesan jika sedikit mempersempit apa yang ingin dilihat.
Suasana Kota Pemandian dan Kuliner Yamaga
Yamaga adalah kota yang juga dikenal sebagai tempat pemandian air panas sejak lama.
Bahkan jika berkunjung dengan tujuan Hyakka Hyakusai, mengarahkan pandangan ke suasana kota onsen dan waktu kuliner akan memperdalam kesan terhadap Yamaga.
Merasakan Suasana Kota Pemandian
Malam Yamaga, selain lokasi cahaya, juga meninggalkan kesan ketenangan khas kota onsen.
Sakura-yu yang berada di ujung selatan lokasi penyalaan dikenal sebagai pemandian air panas milik kota berbahan kayu yang menjadi simbol Onsen Yamaga, dan menjadi tempat yang mudah merasakan suasananya bersamaan dengan cahaya.
Jika mempertimbangkan berendam atau makan, periksa jam buka dan syarat penggunaan melalui panduan masing-masing fasilitas.
Dengan membuat alur beristirahat di tempat yang hangat setelah melihat cahaya, jalan-jalan malam musim dingin pun bisa dinikmati tanpa memaksakan diri.
Menggunakan Toko Lokal agar Ingatan Kota Tertinggal
Pada hari acara, terkadang Anda bisa menikmati kuliner dan belanja di sekitarnya.
Namun, karena isi operasional berubah tergantung tahun dan toko, lebih aman memilih dengan melihat panduan di lokasi, daripada memastikan toko atau harga tertentu.
Interaksi singkat dengan pemilik toko dan ingatan makanan hangat akan menjadi kenangan perjalanan yang berbeda dari foto cahaya.
Penutup: Perjalanan Cahaya Menikmati Musim Dingin Yamaga dengan Santai
Yamaga Tōrō Roman Hyakka Hyakusai adalah acara musim dingin di mana Anda bisa menikmati sekaligus tidak hanya memandang cahaya payung kertas dan bambu, tetapi juga deretan bangunan Jalan Buzen, Yachiyoza, seni tradisi Yamaga, dan suasana kota onsen.
Jika berkunjung untuk pertama kali, alur yang wajar adalah pertama-tama berjalan santai menyusuri Jalan Buzen, memotret dengan saling mengalah di dekat cahaya, dan jika waktunya cocok, juga mengarahkan langkah ke Yamaga Fūjō Monogatari di Yachiyoza.
Karena tanggal penyelenggaraan, waktu penyalaan, pembatasan lalu lintas, dan acara terkait berubah tiap tahun, periksa panduan sebelum berangkat.
Dengan berjalan tenang di tengah cahaya yang ditata warga kota, malam musim dingin Yamaga akan menjadi kenangan perjalanan yang membekas.




