Nikmati Perjalanan ke Jepang!

10 Kota Tua & Lanskap Klasik Kyoto: Miyama & Ine

10 Kota Tua & Lanskap Klasik Kyoto: Miyama & Ine
Panduan wisata kota tua Kyoto: Ninenzaka, Desa Kayabuki Miyama, rumah perahu Ine, Pontocho, dan Kawadoko Kamo. Simak etika foto.

Ringkasan Cepat

Daya tarik dalam satu kalimat

Jalan-jalan di lanskap kota tua & kawasan pelestarian bangunan tradisional (Juden-ken) Kyoto adalah perjalanan untuk menikmati pemandangan yang masih menyimpan kehidupan setempat—dari jalan menanjak dan machiya Higashiyama, rumah beratap jerami Miyama, hingga rumah perahu Ine.

Kawasan pelestarian bangunan tradisional (Juden-ken) di Prefektur Kyoto

Tujuh kawasan dengan karakter berbeda tersebar: Sannenzaka, Gion Shimbashi, Kamigamo, Saga Toriimoto, Miyama, Ine, dan Kaya di Kota Yosano.

Spot representatif Higashiyama

Di Sannenzaka yang menuju Kiyomizu-dera, Ninenzaka berbatu, dan Gion Shimbashi di sepanjang Sungai Shirakawa, Anda bisa menikmati sekaligus pemandangan jalan menanjak, machiya, dan tepi air.

Jalan-jalan malam

Rasakan Kyoto yang elegan dari sore hari di gang-gang Pontocho yang diterangi lampu serta kawadoko Kamogawa (teras makan di tepi sungai; terutama 1 Mei–15 Oktober).

Akses dan skala ke Miyama & Ine

Desa beratap jerami Miyama sekitar 2 jam sekali jalan dengan kereta dan bus dari arah Stasiun Kyoto; di Ine, sekitar 230 rumah perahu berjajar di sepanjang Teluk Ine.

Tampilan tiap musim

Musim semi: bunga dan machiya Higashiyama; musim panas: kesejukan Kamogawa; musim gugur: warna gunung Miyama; musim dingin: jalan sepi Saga Toriimoto. Saat hujan, warna jalan berbatu dan kayu tampak lebih pekat.

Etika berjalan

Jangan masuk lahan pribadi—pandanglah dari jalan atau laut, jangan memotret sambil mengejar orang, dan di gang sempit atau kawasan permukiman berjalanlah dengan tenang dan perlahan.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel populer tentang Kyoto

Jalan-Jalan Menyusuri Kawasan Pelestarian Bangunan Bersejarah (Jūden-ken) di Kyoto: Bedakan Kawasan Pelestarian dan Pengalaman di Sekitarnya

Di wilayah Prefektur Kyoto, tersebar 7 kawasan Jūden-ken (kawasan pelestarian kelompok bangunan tradisional penting) dengan karakter yang berbeda-beda, mulai dari deretan rumah tradisional di kota Kyoto, Miyama, Ine, hingga Yosano.

Di sisi lain, ada pula tempat seperti Pontochō dan Kamogawa Nōryō-yuka yang meskipun bukan termasuk Jūden-ken, tetap bisa membuat kita merasakan suasana deretan rumah kuno Kyoto dan budaya tepi airnya.

Dengan memisahkan terlebih dahulu antara "tempat yang dijelajahi sebagai kawasan pelestarian" dan "pengalaman sekitar untuk menikmati deretan rumah tradisional", kamu bisa menyusun rencana perjalanan tanpa salah paham.

Jūden-ken Adalah Pintu Masuk untuk Memahami Karakter Sebuah Kota

Di Jūden-ken, latar belakang pembentukan tiap kawasan berbeda-beda: ada monzen-machi (kota di depan kuil), chaya-machi (kota kedai teh), shake-machi (kota kediaman pendeta Shinto), permukiman desa pegunungan, desa nelayan, hingga kota industri tenun.

Meskipun sama-sama di Kyoto, pemandangan yang terlihat dan cara menyusurinya sangat berbeda antara jalan berbatu dan machiya (rumah kota tradisional) di Higashiyama, rumah beratap jerami kayabuki di Miyama, dan funaya (rumah perahu) di Ine.

10 Rekomendasi Pilihan: Lebih Mudah Dijelajahi Jika Dipilih Berdasarkan Tujuan

Untuk kunjungan singkat, area Higashiyama dan Gion di dalam kota cocok; untuk jalan-jalan tenang, Kamigamo dan Saga Toriimoto sesuai; sedangkan untuk perjalanan jarak jauh yang luas, arah Miyama atau Tango lebih cocok.

Tempat Kategori Cocok untuk perjalanan
Sannenzaka Jūden-ken Pertama kali
Ninenzaka Jalan-jalan sekitar Menyusuri jalan menanjak
Gion Shinbashi Jūden-ken Kota tepi air
Pontochō Jalan-jalan sekitar Gang malam hari
Kamogawa Nōryō-yuka Pengalaman musiman Kuliner tepi sungai
Kamigamo Jūden-ken Kota yang tenang
Saga Toriimoto Jūden-ken Oku-Saga
Miyama Jūden-ken Pemandangan desa pegunungan
Ine Jūden-ken Kehidupan laut
Kaya Jūden-ken Budaya Tango

Menyusuri Sannenzaka, Ninenzaka di Higashiyama dan Deretan Rumah Kuno Gion Shinbashi

Jika ingin merasakan suasana khas Kyoto dengan perpindahan singkat, jalan-jalan dari Higashiyama hingga Gion adalah pilihan yang mudah dimulai.

Jalan berbatu, jalan menanjak, machiya, dan pemandangan sepanjang saluran air berderet, sehingga kamu bisa menelusuri citra kota tua secara alami.

Sannenzaka: Pemandangan Monzen-machi yang Terbentuk dari Tanjakan dan Machiya

Sannenzaka adalah kawasan di sepanjang jalan menuju Kiyomizu-dera yang ditetapkan sebagai Jūden-ken berkategori monzen-machi pada tahun 1976 (Shōwa 51).

Aliran jalan menuju kuil dan deretan machiya saling bertumpang, sehingga jalan menanjak itu sendiri menjadi bagian dari pemandangan.

Karena ada tempat yang lebarnya tidak begitu luas, saat berhenti untuk memotret, lebih aman memilih posisi yang tidak menghalangi arus lalu lintas pejalan kaki.


Ninenzaka: Menikmati Detail Halus Jalan Berbatu

Ninenzaka sendiri bukan termasuk Jūden-ken, tetapi merupakan jalan menanjak di Higashiyama yang mudah disusuri bersama Sannenzaka.

Daripada terlalu mendekat ke depan toko atau rumah warga, jika kamu mundur sedikit dan memandang rangkaian kisi-kisi, atap, anak tangga batu, dan pagar, keseluruhan keselarasan deretan rumah akan mulai terlihat.

Gion Shinbashi: Merasakan Atmosfer Tepi Air dan Chaya-machi

Gion Shinbashi adalah Jūden-ken yang ditetapkan sebagai chaya-machi pada tahun 1976 (Shōwa 51), dengan daya tarik pemandangan tenang yang terbentuk dari jalan sepanjang Sungai Shirakawa, jembatan, dan machiya.

Hindari mengejar dan memotret geiko, maiko, atau pejalan kaki tanpa izin; penting untuk menikmati pemandangan bangunan dan tepi air secara tenang.

Pontochō dan Kamogawa Nōryō-yuka: Menikmati Malam Kyoto dengan Elegan Sambil Berjalan-jalan

Pontochō bukan termasuk Jūden-ken, tetapi merupakan area di mana kamu bisa sekaligus merasakan gang sempit khas Kyoto, budaya kuliner, dan pemandangan sepanjang Sungai Kamo.

Berbeda dengan menjelajahi kuil pada siang hari, setelah sore hari cahaya lampu dan angin sungai mengubah kesan kota ini.

Pontochō: Menikmati Lebar Gang dan Cahaya Lampu

Di Pontochō, papan nama, kisi-kisi, noren (tirai kain), dan kedalaman gang menciptakan pemandangan malam.

Berhenti terlalu lama di depan pintu masuk toko atau lorong mudah menghalangi jalur lalu lalang pengunjung maupun warga, jadi lebih cocok menikmati suasananya sambil berjalan.


Kamogawa Nōryō-yuka: Menikmati sebagai Budaya Kuliner Musiman Tepi Sungai

Kamogawa Nōryō-yuka dikenal sebagai pengalaman bersantap musiman yang dipasang di sepanjang Sungai Kamo, terutama pada 1 Mei hingga 15 Oktober.

Karena isi layanan dan periodenya berbeda di tiap restoran, jika ada restoran yang ingin kamu kunjungi, lebih aman memeriksa terlebih dahulu detail layanannya sebelum datang.


Fotografi Malam: Jadikan Cahaya Kota sebagai Subjek Utama, Bukan Wajah Orang

Saat memotret, jika kamu menjadikan lampion, pantulan cahaya di gang, atau kilau permukaan sungai sebagai subjek utama, kamu bisa mempertahankan suasana khas Kyoto sambil tetap menghormati privasi.

Menikmati Jalan-Jalan Tenang di Jūden-ken Kamigamo dan Saga Toriimoto

Bahkan di dalam kota Kyoto, jika menjauh sedikit dari keramaian pusat kota, kamu bisa berjalan-jalan menyusuri Jūden-ken yang tenang.

Kamigamo dan Saga Toriimoto adalah kawasan yang cocok untuk menikmati ruang kosong jalan dan deretan rumah yang menyambung, daripada terburu-buru mengelilingi tempat wisata.

Kamigamo: Menyusuri Ketenangan Shake-machi

Kamigamo adalah Jūden-ken yang ditetapkan sebagai shake-machi pada tahun 1988 (Shōwa 63).

Deretan rumah shake (kediaman pendeta Shinto) yang berkaitan dengan Kuil Kamigamo, saluran air, pagar tanah liat, dan gerbang menciptakan pemandangan yang tenang.

Karena karakternya kuat sebagai kawasan permukiman, lebih cocok berjalan-jalan dengan tenang pada siang hari daripada berbicara keras pada pagi buta atau malam hari.


Saga Toriimoto: Merasakan Ruang Kosong Jalan di Oku-Saga

Saga Toriimoto adalah Jūden-ken yang ditetapkan sebagai monzen-machi pada tahun 1979 (Shōwa 54), kawasan yang masih menyisakan deretan rumah tenang di sepanjang Atago-kaidō.

Dengan sedikit menjauh dari pusat Arashiyama, arus orang berubah dan kamu lebih mudah merasakan kedalaman Kyoto.

Di Kawasan yang Tenang, Pelankan Langkahmu

Deretan rumah kuno menciptakan suasana bukan hanya dari bangunannya, tetapi juga dari lebar jalan, pagar, tanaman, hingga suara kehidupan sehari-hari.

Daripada terburu-buru hanya demi memotret, jika kamu sedikit memperlambat langkah, kamu akan lebih mudah memperhatikan pemandangan-pemandangan kecil.

Bertemu Lanskap Kehidupan di Miyama Kayabuki no Sato dan Funaya Ine

Jika kamu menjangkau ke bagian utara dan tengah Prefektur Kyoto, kamu bisa bertemu deretan rumah kuno yang berbeda dari dalam kota.

Miyama dengan desa pegunungan dan atap jerami, serta Ine dengan laut dan funaya, menampilkan kehidupan yang dekat dengan alam sebagai bagian dari lanskap.

Miyama Kayabuki no Sato: Memandang Keseluruhan Desa Pegunungan

Miyama Kayabuki no Sato (Kitamura, Miyama-chō, Nantan-shi) adalah Jūden-ken yang ditetapkan sebagai permukiman desa pegunungan pada tahun 1993 (Heisei 5); dari arah Stasiun Kyoto, lebih aman memperkirakan perjalanan sekitar 2 jam sekali jalan dengan berganti kereta dan bus.

Bukan hanya atap jerami kayabuki, disarankan untuk memandang gunung, sawah dan ladang, jalan, serta keselarasan permukiman sebagai satu kesatuan pemandangan.

Sebagian besar rumah merupakan tempat tinggal warga, jadi tidak memasuki pekarangan dan menyusuri dengan tenang akan membantu menjaga lanskapnya.


Funaya Ine: Menyusuri dengan Menghormati Kehidupan Laut

Funaya Ine (Ineura, Ine-chō) adalah Jūden-ken yang ditetapkan sebagai desa nelayan pada tahun 2005 (Heisei 17), dikenal dengan pemandangan sekitar 230 funaya yang berderet di sepanjang Teluk Ine.

Funaya bukan hanya fasilitas wisata, tetapi juga bangunan yang masih berkaitan dengan kehidupan dan pekerjaan hingga kini, jadi penting untuk tidak masuk ke lahan pribadi dan memandangnya dari jalan atau dari laut.


Menikmati Perubahan Tampilan Deretan Rumah Menurut Musim

Deretan rumah kuno tidak hanya menarik di hari cerah.

Di hari hujan, jalan berbatu dan warna kayu terlihat lebih pekat; di musim dingin (musim sejuk dengan suhu rendah), garis atap dan gunung terlihat jelas, sehingga suasana foto berubah di tiap musim.

Musim Tampilan Tempat yang cocok
Musim semi Bunga dan machiya Higashiyama
Musim panas Kesejukan tepi sungai Sungai Kamo
Musim gugur Warna gunung Miyama
Musim dingin Jalan yang tenang Saga Toriimoto

Mengunjungi Kaya, Yosano-chō dan Deretan Rumah Tango dengan Kyoto Tango Railway

Jika ingin menjelajahi deretan rumah kuno di arah Tango, perjalanan menggunakan Kyoto Tango Railway juga menjadi pilihan.

Jika dipikirkan bersama dengan Amanohashidate atau Ine, kamu lebih mudah menikmati pemandangan dan deretan rumah "Kyoto sisi laut" sekaligus.

Kaya, Yosano-chō: Memahami Latar Belakangnya sebagai Kota Industri Tenun

Kaya, Yosano-chō adalah Jūden-ken yang ditetapkan sebagai kota industri tenun pada tahun 2005 (Heisei 17), kawasan di mana kamu bisa merasakan sejarah kota yang berkaitan dengan Tango chirimen (kain sutra krep Tango).

Bukan hanya machiya dan rumah-rumah tua, dengan mengetahui latar belakang bagaimana industri tenun dan kehidupan masyarakat saling bertumpang, sudut pandang menjelajahmu akan semakin mendalam.

Kyoto Tango Railway: Sarana Transportasi yang Menghubungkan "Kyoto Sisi Laut"

Kyoto Tango Railway adalah kereta yang menghubungkan arah Fukuchiyama, Miyazu, Amanohashidate, Yosano, dan Kyotango.

Karena perpindahan dari stasiun ke tujuan terkadang perlu dikombinasikan dengan bus atau jalan kaki, lebih aman memeriksa jadwal dan informasi operasional terlebih dahulu.


Perjalanan Tango: Jangan Terlalu Padat dalam Satu Hari

Miyama, Ine, dan Kaya masing-masing berbeda arah dan waktu tempuhnya, jadi daripada terburu-buru mengelilingi semuanya dalam satu hari, lebih nyaman jika kamu mempersempit pilihan kota yang ingin dikunjungi.

Etika Menyusuri Deretan Rumah Kuno dan Cara Berpikir tentang Fotografi

Jūden-ken dan deretan rumah kuno bukanlah tempat yang dilestarikan hanya demi wisatawan.

Jika kamu berjalan dengan asumsi bahwa di sana ada orang yang tinggal, bekerja, dan beribadah, kamu bisa merasakan daya tarik kota sambil menghindari masalah.

Jangan Masuk ke Lahan Pribadi, Pandanglah dari Jalan

Meskipun bangunan kuno atau taman terlihat indah, prinsip dasarnya adalah tidak masuk sembarangan ke tempat yang bukan fasilitas terbuka untuk umum.

Mari kita hindari memasuki area seperti depan pintu, taman, tempat parkir, dan bagian dalam funaya tanpa izin.

Jangan Mengejar Orang untuk Difoto

Mengejar dan memotret maiko, geiko, warga, pegawai toko, atau pejalan kaki tanpa izin akan menjadi beban bagi mereka.

Jika kamu menjadikan deretan rumah, cahaya, bayangan, atau detail bangunan sebagai subjek utama alih-alih orang, foto perjalananmu pun akan terkesan lebih tenang.

Jangan Lupa Memperhatikan Suara, Api, dan Sampah

Di gang sempit dan kawasan permukiman, suara dan bunyi koper bisa bergema lebih keras dari yang dibayangkan.

Merokok, makan sambil berjalan, dan membuang sampah sembarangan juga merusak lanskap dan lingkungan hidup, jadi ikutilah petunjuk setempat dan biasakan membawa pulang sampahmu.

Situasi Tindakan yang baik Yang sebaiknya dihindari
Gang Berjalan di tepi Menghalangi jalan
Foto Memotret bangunan Mengejar orang
Funaya Memandang dari luar Mengintip ke dalam
Dalam permukiman Berjalan dengan tenang Bersuara keras
Istirahat Tempat yang ditentukan Memakai lahan pribadi

Cara Memilih Deretan Rumah Kuno Kyoto yang Cocok untuk Wisatawan Pertama Kali ke Jepang

Deretan rumah kuno Kyoto akan lebih memuaskan jika dipilih berdasarkan jumlah hari menginap dan tujuan perjalanan.

Tempat yang cocok berbeda bagi orang yang ingin melihat pemandangan terkenal, orang yang ingin jalan-jalan tenang, dan orang yang ingin menjangkau hingga bagian utara Prefektur Kyoto.

Jika Pertama Kali, Fokuslah di Higashiyama dan Gion

Jika baru pertama kali mengunjungi Kyoto, dengan mengombinasikan Sannenzaka, Ninenzaka, dan Gion Shinbashi, kamu bisa sekaligus merasakan pemandangan jalan menanjak, tepi air, dan machiya.

Karena di sekitarnya ada tempat yang ramai lalu lalang orang, mengatur waktu berjalan seperti pagi atau sore hari akan membuatmu lebih leluasa menikmatinya dengan tenang.

Jika Mencari Ketenangan, Pergilah ke Kamigamo atau Saga Toriimoto

Bagi orang yang ingin sedikit menjauh dari keramaian pusat kota, Kamigamo atau Saga Toriimoto cocok.

Daya tariknya akan lebih tersampaikan jika dianggap sebagai jalan-jalan untuk menikmati ekspresi jalan dan deretan rumah yang menyambung, alih-alih mengunjungi tempat wisata satu demi satu.

Jika Ingin Merasakan Luasnya Kyoto, Pergilah ke Miyama, Ine, dan Kaya

Bagi orang yang ingin merasakan keberagaman Prefektur Kyoto, Miyama Kayabuki no Sato, Funaya Ine, dan Kaya Yosano-chō akan berkesan.

Meskipun sama-sama "deretan rumah kuno", latar belakang permukiman desa pegunungan, laut, dan tenun berbeda, sehingga perjalananmu tidak akan berakhir hanya di dalam kota Kyoto saja.

Kesimpulan: Deretan Rumah Kuno Kyoto Bisa Dinikmati Lebih Dalam dengan Memperhatikan Kehidupan Warga

Jalan-jalan menyusuri deretan rumah kuno dan Jūden-ken Kyoto memiliki cara menikmati yang luas, mulai dari tempat yang mudah disusuri seperti Ninenzaka di Higashiyama dan Gion Shinbashi, hingga deretan rumah berskala luas seperti Miyama Kayabuki no Sato, Funaya Ine, dan Kaya Yosano-chō.

Jika dikombinasikan dengan Pontochō, Kamogawa Nōryō-yuka, dan perjalanan Kyoto Tango Railway, kamu bisa menikmati bukan hanya kawasan pelestarian, tetapi juga budaya tepi air Kyoto dan pemandangan Tango sekaligus.

Di mana pun, yang terpenting adalah membayangkan kehidupan warga sebelum memotret, tidak menghalangi jalan, tidak masuk ke lahan pribadi, dan berjalan dengan tenang.

Jika kamu memandang deretan rumah bukan sekadar sebagai latar foto, melainkan sebagai budaya kehidupan yang masih berlangsung hingga kini, perjalanan Kyoto-mu akan menjadi lebih tenang dan membekas dalam ingatan.

"

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Juden-ken adalah sistem nasional yang melindungi bukan hanya bangunan, tetapi juga lingkungan sekitar dan kekhasan daerah. Di Prefektur Kyoto terdapat 7 kawasan: Sannenzaka, Gion Shinbashi, Kamigamo, Saga Toriimoto, Miyama, Ineura, dan Kaya. Asal-usulnya berbeda, mulai dari kota depan gerbang, kota kedai teh, permukiman keluarga pendeta kuil, desa pegunungan, desa nelayan, hingga kota tenun, dan mengetahui latarnya memperdalam cara Anda memandang pemandangan.
A. Bila baru pertama kali, memadukan Sannenzaka, Ninenzaka, dan Gion Shinbashi di Higashiyama membuat Anda bisa menikmati pemandangan jalan menanjak, rumah machiya, dan tepi air sekaligus dengan perpindahan singkat. Ketiga kawasan ini dekat dan bisa dijelajahi dengan berjalan kaki, tetapi sifatnya berbeda: Sannenzaka adalah kota depan gerbang yang ditetapkan 1976, sedangkan Gion Shinbashi adalah kota kedai teh yang ditetapkan pada tahun yang sama, sehingga Anda bisa menikmati kontras peralihan dari jalan batu sisi Kiyomizu-dera ke tepi air yang tenang sepanjang Sungai Shirakawa.
A. Dari Stasiun Kyoto naik bus kota jalur 206, turun di "Kiyomizu-michi" atau "Gojozaka", lalu naik jalan menanjak sekitar 10 menit berjalan kaki. Karena bus cukup padat di siang hari, bila Anda tiba pada pukul 8 pagi tepat setelah gerbang dibuka, jalan batu masih sepi dan Anda bisa menikmati deretan machiya dengan tenang. Pada hari dengan banyak barang bawaan, taksi sekitar 10 menit bisa mengantar hingga bawah Kiyomizuzaka sehingga menghindari tanjakan saat berangkat.
A. Di Gion Shinbashi, dasarnya adalah memotret dengan bangunan atau pemandangan tepi air Sungai Shirakawa sebagai subjek utama, dan sebaiknya hindari mengejar maiko, geiko, atau pejalan kaki tanpa izin untuk dipotret. Karena syarat pemotretan dan publikasi mengutamakan papan pengumuman setempat, pastikan memeriksa arahan di dekat pintu masuk. Memasukkan jembatan, machiya, dan cahaya yang terpantul di permukaan sungai dengan sedikit menjauh akan menghasilkan satu foto khas Gion tanpa bergantung pada orang.
A. Kamogawa Noryo-yuka adalah pengalaman bersantap musiman di tepi Sungai Kamo, yang umumnya dibuka dari 1 Mei hingga 15 Oktober. Karena kedai yang menyediakan yuka siang dan masa operasinya berbeda tiap toko, memeriksanya pada tahap memilih tempat akan lebih aman. Lorong Pontocho mulai dihiasi cahaya lampion dan noren (tirai kain di depan toko) setelah sore, sehingga sekadar berjalan-jalan pun sudah terasa suasananya.
A. Bila ingin menjauh dari keramaian pusat kota, permukiman keluarga pendeta kuil Kamigamo (ditetapkan 1988) atau Saga Toriimoto di pelosok Saga (ditetapkan 1979) cocok untuk Anda. Keduanya kuat bernuansa kawasan permukiman; Kamigamo dengan saluran air dan dinding tanah, sedangkan Saga Toriimoto dengan deretan rumah sepanjang Atago Kaido. Daripada terburu-buru mengelilingi objek wisata, memperlambat langkah membuat Anda menyadari ruang kosong kota termasuk dinding, tanaman, hingga suara kehidupan.
A. Untuk menuju Miyama Kayabuki no Sato, perkiraannya sekitar 2 jam sekali jalan dari Stasiun Kyoto dengan berganti dari JR ke bus milik Kota Nantan. Rute naik bus jurusan "Kita (Kayabuki no Sato)" dari Stasiun Hiyoshi mudah dipahami, dan Anda bisa mengunjungi desa pegunungan yang ditetapkan 1993. Karena rumah-rumah merupakan tempat tinggal warga, nikmatilah dari jalan tanpa masuk ke pekarangan.
A. Funaya di Ine bisa dilihat dari sudut pandang laut melalui kapal wisata atau taksi laut berkapasitas kecil. Ineura di Kota Ine adalah desa nelayan yang ditetapkan 2005, dengan sekitar 230 funaya berbaris di sepanjang Teluk Ine. Karena ini juga tempat kehidupan dan kegiatan menangkap ikan, etiketnya adalah tidak mengintip ke dalam dan tidak memasuki lahan pribadi.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.