Hal yang pertama dilihat di bekas Arena Pacuan Kuda Negishi
Di kawasan bekas Arena Pacuan Kuda Negishi (Kyū Negishi Keibajō), langkah awalnya adalah mengamati keterkaitan antara hamparan rumput luas Taman Hutan Negishi (Negishi Shinrin Kōen) dan tribun kelas satu bekas arena pacuan kuda yang menjulang di tepinya.
Meskipun bentuk lintasan sulit dipahami hanya dengan melihat taman yang tenang saat ini, topografi dataran tinggi dan fasilitas penonton yang sangat besar dapat membantu Anda membayangkan luasnya tempat kuda-kuda dahulu berlari.
Siluet yang dibentuk oleh 3 menara
Ciri khas tribun kelas satu adalah tampak luarnya dengan 3 menara yang berjajar di bagian tengah, meninggalkan siluet kuat yang membuat posisi dan skala bangunan dapat dikenali bahkan dari kejauhan.
Jangan hanya melihatnya dari satu titik di depan. Dengan berjalan di jalur taman sambil mengamati bagaimana menara-menara itu saling bertumpuk dalam pandangan, Anda dapat memahami komposisi yang memberi ritme vertikal pada bangunan panjang tersebut.
Membayangkan lintasan dari kontur hamparan rumput
Kontur landai Taman Hutan Negishi membentuk pemandangan untuk bersantai saat ini, sekaligus membuat Anda dapat merasakan secara langsung topografi dataran tinggi yang dahulu menjadi lokasi arena pacuan kuda berskala besar.
Jangan menentukan posisi lintasan hanya dari kondisi di lokasi. Dengan membandingkan foto lama dan peta panduan dengan hamparan rumput saat ini, Anda dapat menafsirkan secara cermat hubungan antara fasilitas yang telah hilang dan bangunan yang masih tersisa.
Mengamati bangunan bersejarah dari luar
Tribun kelas satu bukan fasilitas yang bagian dalamnya dapat dimasuki dengan bebas. Karena itu, prinsip dasarnya adalah mengamati menara, pilar, dan bukaan dari luar pagar serta tanda larangan masuk, tanpa mendekati atau menyentuh bangunan.
| Objek yang dilihat | Hal yang diperhatikan | Hal yang dapat dipahami |
|---|---|---|
| 3 menara | Ketinggian dan pengulangan | Sifat simbolis fasilitas penonton |
| Dinding luar yang panjang | Rangkaian pilar dan jendela | Skala yang pernah menampung banyak penonton |
| Hamparan rumput dan lereng | Perbedaan ketinggian dan pandangan | Topografi tempat arena pacuan kuda berada |
| Foto lama | Tribun kelas satu dan kelas dua | Tata letak keseluruhan yang telah hilang |

Awal dari arena pacuan kuda bergaya Barat modern pertama di Jepang
Arena Pacuan Kuda Negishi dibangun pada 1866 berdasarkan rancangan dan pengawasan para perwira pasukan Inggris yang ditempatkan di sana, dan dianggap sebagai arena pacuan kuda bergaya Barat modern pertama di Jepang. Pacuan pertama diselenggarakan pada tahun berikutnya.
Yokohama sebagai kota pelabuhan terbuka dan pacuan kuda
Setelah Pelabuhan Yokohama dibuka, terbentuk permukiman warga asing. Pacuan kuda, yang sebelumnya menjadi hiburan bagi komunitas asing, kemudian berakar di Negishi sebagai fasilitas modern dengan organisasi pengelola dan lintasan khusus.
Pembangunan arena pacuan kuda besar di daerah perbukitan, bukan di permukiman dekat pelabuhan, juga memperlihatkan bagaimana lingkup kegiatan kota saat itu meluas menuju pinggiran.
Pengelolaan oleh Yokohama Race Club
Pacuan pertama dikelola oleh Yokohama Race Club yang sebagian besar beranggotakan warga Inggris. Budaya menonton pacuan dan sistem pengelolaan fasilitas kemudian menyebar dari Yokohama.
Arena pacuan kuda bukan hanya tempat mengadu kecepatan kuda. Dengan tribun, restoran, dan ruang sosial, tempat ini juga menjadi panggung pertukaran internasional dan pergaulan di kota pelabuhan yang terbuka.
Pacuan yang terhubung dengan budaya pacuan kuda Jepang
Di Negishi pernah diselenggarakan Emperor's Cup, yang berkaitan dengan pendahulu Tennō-shō saat ini, serta pacuan yang menjadi cikal bakal Satsuki-shō. Keduanya meninggalkan pengaruh panjang dalam sejarah pacuan kuda modern Jepang.
Nama pacuan saat ini dan sistem pada masa itu tidak semestinya dianggap persis sama. Lebih tepat memahaminya sebagai silsilah yang mewariskan gagasan pacuan dan hadiah sambil mengubah bentuknya.
Menata perjalanan sejarah dalam kronologi
| Periode | Peristiwa | Makna yang berlanjut hingga kini |
|---|---|---|
| 1866 | Arena pacuan kuda bergaya Barat modern dibangun | Awal Arena Pacuan Kuda Negishi |
| 1867 | Yokohama Race Club menyelenggarakan pacuan | Perkembangan pacuan kuda modern yang terorganisasi |
| 1929 | Tribun kelas satu yang ada sekarang selesai dibangun | Fasilitas penonton berskala besar masih bertahan |
| 1942 | Penyelenggaraan pacuan berakhir pada masa perang | Perannya sebagai arena pacuan kuda berhenti |
| 1977 | Bekas lokasi dibuka sebagai taman | Beralih menjadi ruang hijau bagi warga |

Membaca tribun kelas satu sebagai arsitektur
Rancangan J.H. Morgan
Tribun kelas satu yang masih ada selesai dibangun pada 1929 dan dirancang oleh arsitek Amerika J.H. Morgan, yang juga menangani rumah bergaya Barat dan bangunan gereja di Yamate.
Pembangunannya ditangani oleh Okura Doboku, kini Taisei Corporation. Struktur berskala besar dari baja dan beton bertulang berangka baja ini memiliki 7 lantai di atas tanah, 1 lantai bawah tanah, serta 2 lantai pada menara atap, dan merupakan fasilitas modern yang mampu menampung banyak penonton serta beragam fungsi.
Ketiga menara berfungsi sebagai penanda dekoratif sekaligus menegaskan bagian tengah tribun yang memanjang, sehingga menunjukkan wibawa bangunan kepada orang-orang yang datang ke arena pacuan.
Ruang sosial di belakang tempat duduk penonton
Foto lama memperlihatkan tribun kelas satu dan kelas dua berdiri berdampingan, dengan beberapa fasilitas bagi kategori penonton yang berbeda-beda dibangun menghadap lintasan.
Di dalam tribun kelas satu terdapat restoran dan lorong dengan ruang terbuka bertingkat. Selain tempat duduk untuk menonton pacuan, tersedia pula ruang untuk singgah dan berinteraksi.
Karena detail interior tidak dapat diperiksa dari luar, menggunakan foto, model tiga dimensi, dan tur virtual untuk mencocokkannya dengan eksterior merupakan cara yang aman.

Jejak arena pacuan kuda yang tersisa di Taman Hutan Negishi
Lintasan yang berubah menjadi lapangan rumput
Setelah tidak lagi digunakan sebagai arena pacuan kuda, sebagian lokasi ini diambil alih setelah perang. Penataan berlanjut dengan bertumpu pada kawasan yang dikembalikan, hingga akhirnya berubah menjadi Taman Hutan Negishi saat ini.
Hamparan rumput yang luas tidak mempertahankan lintasan dalam bentuk aslinya, tetapi ruang terbuka yang dapat dipandang dari bangunan menyampaikan skala tempat kuda dan penonton dahulu berkumpul.
Melengkapi gambaran kelas satu dan kelas dua dengan foto lama
Tribun kelas satu masih berada di lokasi, sedangkan tribun kelas dua telah dibongkar karena lapuk. Tanpa melihat foto lama, sulit membayangkan keseluruhan fasilitas penonton pada masa lalu.
Dengan membandingkan menara, tribun, dan panjang bangunan dalam foto dengan bagian yang masih ada, Anda dapat memahami mengapa satu-satunya bangunan yang tersisa memikul ingatan seluruh arena pacuan kuda.
Menjadikan pemandangan dari dataran tinggi sebagai petunjuk
Perbukitan Negishi berada di lokasi yang menghadap pelabuhan dan kawasan kota. Dari topografinya, dapat dibayangkan bahwa di arena pacuan ini para penonton menikmati bukan hanya lintasan dari tribun, tetapi juga pemandangan sekitarnya.
Saat ini pepohonan dan bangunan sekitar telah mengubah pandangan. Alih-alih mencari panorama yang sama seperti dahulu, gunakan ketinggian bukit dan bentangan langit sebagai petunjuk untuk memahami lanskap bersejarah.

Makna perubahan dari arena pacuan menjadi taman
Lahan yang mengalami perang dan pengambilalihan
Pacuan diselenggarakan hingga 1942 ketika Perang Dunia II semakin intensif. Setelah itu, kawasan ini mengalami penggunaan militer dan pengambilalihan pascaperang, sehingga kesinambungannya sebagai fasilitas rekreasi terputus.
Proses penataan menjadi taman setelah lahan dikembalikan menunjukkan bahwa berbagai zaman—pacuan kuda modern, perang, pendudukan, dan penggunaan oleh warga—bertumpuk di lahan yang sama.
Pemandangan orang menikmati hamparan rumput saat ini tidak menghapus masa lalu. Pemandangan itu dapat dilihat sebagai hasil pewarisan tempat ini sebagai ruang publik sambil mengubah fungsinya.
Melindunginya sebagai bangunan bersejarah
Tribun kelas satu telah ditetapkan sebagai Bangunan Bersejarah Kota Yokohama. Kini bangunan tersebut berada pada tahap kajian penguatan tahan gempa dan pemanfaatan masa depan guna menyeimbangkan keselamatan arsitektur dengan nilai sejarah.
Tidak dapat memasuki bagian dalam di lokasi bukan berarti nilainya rendah, melainkan merupakan persyaratan keselamatan untuk melestarikan bangunan bagi masa depan. Karena itu, menggabungkan pengamatan eksterior dengan materi digital menjadi penting.
Cara berjalan dengan aman dan melengkapi informasi melalui materi digital
Patuhi batas area yang boleh dimasuki
Di sekitar tribun kelas satu, utamakan pagar, tanda pekerjaan, dan petunjuk pengelola. Jangan masuk melalui celah atau menyentuh bangunan; lakukan pengamatan dari jalur di dalam taman.
Meskipun ingin melihat menara dari dekat, lebih tepat mengubah sudut pandang dari posisi aman dan menggunakan fungsi telefoto atau teropong untuk memeriksa detail daripada memperpendek jarak.
Lihat arsip digital terlebih dahulu
Arsip digital memuat video interior, model tiga dimensi, dan tur virtual 360 derajat, sehingga Anda dapat melihat restoran dan ruang terbuka bertingkat yang tidak terlihat di lokasi.
Arsip digital dipublikasikan melalui kerja sama antara Kota Yokohama dan organisasi nirlaba J-heritage.
Dengan mengetahui susunan interior sebelum berkunjung, Anda akan lebih mudah membayangkan ruang yang berkaitan dengan jendela pada dinding luar dan menara, sehingga pemahaman tetap mendalam meskipun hanya melihat eksterior.
Bolak-balik antara taman dan materi
Di lokasi, amati hubungan posisi antara hamparan rumput, bukit, dan bangunan. Setelah pulang, cocokkan dengan foto lama dan model; cara ini lebih andal untuk menata informasi daripada mencoba merekonstruksi seluruh arena pacuan sekaligus.
Kondisi penggunaan fasilitas terkait budaya kuda di dalam taman dapat berubah karena penataan atau penutupan. Karena itu, periksa panduan resmi tepat sebelum berkunjung dan susun rencana sesuai area yang tersedia.
| Urutan | Tindakan | Hal yang diperiksa |
|---|---|---|
| Sebelum berkunjung | Lihat informasi resmi dan foto lama | Area terbuka, tata letak bangunan, dan riwayat |
| Pintu masuk taman | Pahami perbedaan ketinggian bukit | Posisi hamparan rumput dan tribun kelas satu |
| Eksterior | Ubah sudut pandang dari jalur yang aman | Pengulangan 3 menara, pilar, dan jendela |
| Hamparan rumput | Berjalanlah untuk merasakan luasnya | Skala bekas lokasi arena pacuan kuda |
| Tinjauan kembali | Cocokkan dengan materi digital | Ruang interior dan fasilitas yang telah hilang |
Ringkasan bekas Arena Pacuan Kuda Negishi
Bekas Arena Pacuan Kuda Negishi bermula sebagai arena pacuan kuda bergaya Barat modern pertama di Jepang, lalu mengalami pembangunan tribun kelas satu rancangan J.H. Morgan, berakhirnya pacuan dan pengambilalihan pascaperang, serta perubahan menjadi Taman Hutan Negishi. Dengan menggabungkan pengamatan eksterior 3 menara, luas hamparan rumput, foto lama, dan materi digital, Anda dapat memahami sejarah pacuan kuda modern dan sejarah perkotaan Yokohama dengan aman.





Ulasan (0)