Cara memilih 10 kuil dan wihara terbaik di Hiroshima
Pada perjalanan pertama ke Hiroshima, memilih kuil dan wihara bukan hanya berdasarkan ketenaran, tetapi juga berdasarkan perpaduan arsitektur, sejarah, alam, dan suasana kota akan membuat perjalanan terasa lebih berkesan.
Sambil beribadah dengan tenang di tempat yang sakral ini, arahkan juga perhatian pada budaya yang telah ditumbuhkan oleh masing-masing daerah.
Memilih berdasarkan perbedaan sejarah, arsitektur, dan lanskap
Di Kuil Itsukushima (Itsukushima-jinja) dan Wihara Jōdo-ji, kamu bisa mengagumi bangunan cagar budaya yang ditetapkan sebagai Harta Nasional, sedangkan di Wihara Mitaki-dera dan Wihara Senkō-ji, kamu bisa menikmati pemandangan tempat bentang alam dan wihara berpadu.
Ada pula tempat yang sekaligus memiliki sifat wihara dan museum, seperti Wihara Kōsan-ji, yang cocok untuk wisatawan yang tertarik pada arsitektur tradisional sekaligus seni.
Menggabungkan lokasi dengan mudah dari titik menginap
Menggabungkan kuil dan wihara di kawasan yang sama—seperti Kuil Itsukushima dan Wihara Daishō-in di Miyajima, atau Senkō-ji dan Jōdo-ji di Onomichi—memudahkanmu memahami keterkaitan tempat-tempat itu dengan tanahnya.
Tabel berikut merangkum ciri setiap lokasi dan jenis wisatawan yang cocok.
| Nama | Area | Ciri utama | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Kuil Itsukushima | Miyajima | Bangunan kuil di atas laut | Menjelajah Warisan Dunia |
| Daishō-in | Miyajima | Kompleks di kaki gunung | Tertarik budaya Buddha |
| Hiroshima Tōshō-gū | Kota Hiroshima | Kuil pelindung kota kastil | Belajar sejarah samurai |
| Kuil Hiroshima Gokoku | Kota Hiroshima | Bekas Kastil Hiroshima | Berjalan-jalan di kota |
| Fudō-in | Kota Hiroshima | Aula utama Harta Nasional | Mengagumi arsitektur kuno |
| Mitaki-dera | Kota Hiroshima | Air terjun dan wihara gunung | Ingin dekat dengan alam |
| Senkō-ji | Onomichi | Aula merah di lereng | Pemandangan kota pelabuhan |
| Jōdo-ji | Onomichi | Arsitektur Harta Nasional | Tertarik sejarah abad pertengahan |
| Kōsan-ji | Pulau Ikuchijima | Wihara dan museum seni | Pecinta arsitektur dan seni |
| Kuil Kusado Inari | Fukuyama | Bangunan kuil merah | Berkeliling kota kastil |
Kuil dan wihara yang ingin dikunjungi di Miyajima
Di Miyajima, sejarah Shinto dan Buddha hidup berdampingan dalam jarak yang sangat dekat.
Dengan berjalan dari bangunan kuil di tepi laut menuju wihara di kaki gunung, kamu bisa merasakan latar belakang seluruh pulau yang sejak lama dihormati sebagai tempat ibadah.
1. Kuil Itsukushima | Warisan Budaya Dunia tempat laut dan bangunan kuil menyatu
Kuil Itsukushima (Itsukushima-jinja) adalah kuil paling ikonik di Miyajima, terkenal dengan koridor dan bangunan kuil berwarna merah vermilion yang menjorok ke laut serta gerbang torii besarnya.
Kuil ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia pada 1996 (Heisei 8), dan kompleks bangunannya juga ditetapkan sebagai Harta Nasional.
Tampak permukaan air berubah mengikuti pasang surut, memperlihatkan wajah yang berbeda saat surut dan pasang, sehingga jika kamu memeriksa tabel pasang surut hari itu sebelum berkunjung, kamu bisa mengamati lebih dalam keindahan arsitektur yang menyatu dengan lingkungan alam.
Di dalam kompleks kadang ditetapkan arah berjalan atau area yang boleh dimasuki, jadi ikuti papan petunjuk dan usahakan tidak berhenti terlalu lama di koridor.
2. Daishō-in | Wihara di kaki gunung yang mewariskan budaya Buddha Miyajima
Daishō-in (Daishō-in) adalah kuil pusat aliran Omuro dari Buddhisme Shingon, dengan sejarah sebagai wihara bettō-ji yang dahulu menopang ritual Kuil Itsukushima.
Menurut tradisi wihara, tempat ini didirikan pada tahun pertama era Daidō (tahun 806) ketika Kōbō Daishi (Kūkai) bertapa di Gunung Misen, dan dianggap sebagai wihara tertua di Miyajima.
Berbagai aula tersebar di lereng gunung, dan semakin kamu menaiki tangga batu, suasananya berubah menjadi ketenangan khas wihara gunung Miyajima.
Di dalam aula atau di dekat patung Buddha kadang tidak boleh memotret, jadi periksa papan petunjuk pemotretan dan jaga jarak agar tidak mengganggu pembacaan sutra maupun doa.
Kuil dan wihara bersejarah untuk dijelajahi di Kota Hiroshima
Di dalam Kota Hiroshima, kamu bisa menelusuri sejarah kota secara berlapis melalui pembentukan kota kastil, budaya samurai, dan bangunan yang bertahan melewati perang.
Bukan hanya di sekitar Kastil Hiroshima, jika kamu memperluas pandangan ke Gunung Futaba, sepanjang Sungai Ōta, dan ke arah Gunung Mitaki, kamu akan menjumpai kuil dan wihara yang tenang, berbeda dari yang di pusat kota.
3. Hiroshima Tōshō-gū | Pelindung utama kota kastil Hiroshima
Hiroshima Tōshō-gū (Hiroshima Tōshō-gū) memuja Tokugawa Ieyasu dan dibangun di kaki Gunung Futaba, yang terletak di gerbang setan (timur laut) Kastil Hiroshima.
Didirikan pada tahun pertama era Keian (tahun 1648) oleh Asano Mitsuakira, tuan generasi keempat wilayah Hiroshima, kuil ini telah lama dipuja sebagai pelindung utama kota kastil Hiroshima.
Tangga batu, gerbang karamon, dan hijaunya pepohonan di sekitarnya menghadirkan suasana sebagai penjaga sisi timur laut kota kastil.
Hanya sekitar 8 menit berjalan kaki dari Stasiun Hiroshima sehingga mudah disinggahi di sela-sela wisata, tetapi kompleksnya juga tempat berlangsungnya doa dan upacara, jadi lewatilah dengan tenang saat ritual berlangsung.
4. Kuil Hiroshima Gokoku | Kuil yang dikelilingi hijaunya bekas Kastil Hiroshima
Kuil Hiroshima Gokoku (Hiroshima Gokoku-jinja) berdiri di bekas Kastil Hiroshima dan dihormati luas oleh warga setempat.
Didirikan pada tahun pertama era Meiji, setelah bangunan kuilnya musnah akibat bom atom, aula-aulanya dibangun kembali di bekas Kastil Hiroshima yang sekarang pada Shōwa 31.
Kuil ini juga dikenal sebagai tempat berkumpulnya banyak peziarah untuk kunjungan pertama Tahun Baru.
Dipadukan dengan jalan-jalan menikmati tembok batu dan parit bekas kastil, kamu bisa merasakan lanskap tempat kota kastil era modern awal berpadu dengan Hiroshima masa kini.
Bahkan saat berfoto kenang-kenangan, utamakan orang yang sedang menerima doa dan jalannya upacara, serta hindari terlalu lama menempati bagian depan aula pemujaan.
5. Fudō-in | Wihara kuno yang tenang dengan aula utama Harta Nasional
Fudō-in (Fudō-in) adalah wihara berperingkat pusat khusus dalam Buddhisme Shingon yang menyimpan cagar budaya yang menyampaikan sejarah Hiroshima, terutama aula utamanya (kondō) yang ditetapkan sebagai Harta Nasional.
Aula utama ini adalah satu-satunya bangunan Harta Nasional di Kota Hiroshima dan, konon dibangun pada tahun ke-9 era Tenbun (tahun 1540), merupakan aula Buddha Zen abad pertengahan berskala terbesar.
Kompleks yang ada sekarang berkaitan erat dengan pemugarannya oleh Ankokuji Ekei, yang dikenal sebagai biksu diplomat klan Mōri.
Saat mengamati arsitektur bergaya Zen, jika kamu memperhatikan pula detail seperti lengkung atap, tata letak tiang, dan susunan kurung penyangga, pemahamanmu tentang arsitektur wihara Jepang akan makin dalam.
6. Mitaki-dera | Menyusuri tiga air terjun dan ruang doa
Mitaki-dera (Mitaki-dera), yang juga disebut Mitaki Kannon, adalah wihara aliran Shingon Gunung Kōya, dan tiga air terjun yang mengalir di dalam kompleksnya dianggap sebagai asal nama wihara.
Ada tiga air terjun—Komagataki, Bon'on-no-taki, dan Yūmei-no-taki—dan airnya juga digunakan sebagai persembahan air pada Upacara Peringatan Perdamaian.
Di sepanjang jalur ibadah di celah lembah tersebar aula dan arca Buddha batu, dan kamu bisa beribadah sambil berjalan di antara pepohonan musiman dan suara air; sekitar pertengahan November, tempat ini juga digemari sebagai lokasi dedaunan musim gugur.
Karena jalur ibadah memiliki bagian yang sempit dan berundak, pilih sepatu yang nyaman dan saling memberi jalan dengan peziarah lain saat berjalan.
Wihara ternama untuk merasakan budaya kawasan wihara Onomichi
Onomichi adalah kota dengan lanskap khas, tempat kawasan kotanya membentang di antara gunung dan laut, dengan wihara dan gang-gang sempit yang bertumpuk di lereng.
Alih-alih menjadikan wihara sebagai satu-satunya tujuan, jika kamu berjalan menyambungkan tangga batu, laut yang tampak di balik atap-atap rumah, dan lanskap kota tua, pesona kawasan wihara akan terasa.
7. Senkō-ji | Wihara di lereng dengan pemandangan Selat Onomichi
Senkō-ji (Senkō-ji) berada di lereng tengah Gunung Senkō-ji setinggi sekitar 140 meter di atas permukaan laut, dan aula utamanya yang merah vermilion juga akrab dengan sebutan "Aula Merah".
Menurut tradisi wihara, ini adalah wihara kuno yang konon didirikan oleh Kōbō Daishi (Kūkai) pada tahun pertama era Daidō (tahun 806), dan aula utamanya diperkirakan dibangun pada tahun ke-3 era Jōkyō (tahun 1686).
Di dalam kompleks, bebatuan dan aula berdekatan, dan ada tempat yang pandangannya terbuka ke Selat Onomichi dan pulau-pulau.
Saat memotret pemandangan, jangan menghalangi jalan setapak atau tangga batu, dan hindari menyentuh lonceng maupun perlengkapan aula tanpa petunjuk.
8. Jōdo-ji | Wihara yang mewariskan arsitektur Harta Nasional dan sejarah abad pertengahan
Jōdo-ji (Jōdo-ji) adalah wihara kuno yang menurut tradisi didirikan oleh Pangeran Shōtoku, dan aula utama serta pagoda tahōtō-nya ditetapkan sebagai Harta Nasional.
Konon Ashikaga Takauji berdoa di sini agar dapat membalikkan keadaan perang saat melarikan diri ke Kyushu, dan tersisa jejak yang menjadi petunjuk hubungan antara samurai dan wihara pada abad pertengahan.
Pada bangunan cagar budaya, jika kamu melihat bukan hanya bagian depan, tetapi juga bentuk atap, bagian bawah teritis, dan tata letak antarbangunan, kamu akan lebih mudah memahami komposisi seluruh kompleks.
Menyambangi kuil dan wihara berkarakter di Setouchi dan Fukuyama
Di bagian timur Prefektur Hiroshima, budaya kepulauan, kegiatan seni modern, dan budaya kota kastil Fukuyama masing-masing melahirkan lanskap kuil dan wihara yang berbeda.
Jika kamu merencanakan kunjungan pada hari yang berbeda dari Kota Hiroshima atau Miyajima, kamu bisa menikmati perbedaan tiap daerah dengan tenang.
9. Kōsan-ji | Wihara-museum yang lahir dari rasa syukur kepada seorang ibu
Kōsan-ji (Kōsan-ji) di Pulau Ikuchijima adalah wihara aliran Hongan-ji dari Jōdo Shinshū yang dibangun oleh pengusaha Kōzō Kōsanji sebagai wujud syukur dan balas budi kepada mendiang ibunya.
Aula dan pagodanya dibangun sepanjang hidup mulai dari Shōwa 10, dan wihara ini terkenal dengan lanskapnya yang semarak.
Aula dan pagoda di dalam kompleks memuat desain yang mengingatkan pada arsitektur kuno dari berbagai penjuru Jepang, dan seluruh kawasan wihara dibuka untuk umum sebagai museum terdaftar "Museum Kōsan-ji".
Meski kamu bisa melihat seni Buddha dan arsitektur sekaligus, syarat pemotretan berbeda antara ruang pameran dan bagian dalam aula, jadi periksa petunjuk di lokasi.
10. Kuil Kusado Inari | Bangunan kuil merah dengan pemandangan kota Fukuyama
Kuil Kusado Inari (Kusado Inari-jinja) berdiri di Kota Fukuyama, dan menurut tradisi kuil, asal-usulnya berawal ketika kuil ini dipuja sebagai pelindung Wihara Myōō-in pada tahun ke-2 era Daidō (tahun 807) di zaman Heian.
Bangunan kuil merahnya menarik perhatian dari sekelilingnya, dan dari aula pemujaan di bagian atas, pandangan terbuka ke kawasan kota Fukuyama.
Kuil ini juga digemari sebagai tempat yang dikunjungi banyak peziarah untuk kunjungan pertama Tahun Baru.
Di tangga, hindari berhenti untuk memotret dan utamakan lalu lintas peziarah.
Etika berkunjung yang perlu dijaga di kuil dan wihara
Kuil dan wihara Jepang adalah objek wisata sekaligus fasilitas keagamaan tempat doa masih berlangsung hingga kini.
Alih-alih menghafal setiap detail tata krama dengan sempurna, yang penting adalah bersikap tenang dan menghormati papan petunjuk setempat serta arahan petugas.
Di kuil, melangkahlah dengan tenang dari torii hingga aula pemujaan
Ada kebiasaan membungkuk sedikit di depan gerbang torii, dan ada pula pandangan untuk berjalan menghindari bagian tengah jalur ibadah.
Jika temizuya (tempat penyucian) bisa digunakan, sucikan tangan dan mulutmu, tetapi bila cara penggunaannya telah diubah, ikuti pengumuman yang terpampang.
Di wihara, utamakan perhatian pada patung Buddha dan upacara keagamaan
Setelah melewati gerbang wihara, tahan suara, lepas topi di aula utama, dan katupkan tangan dengan tenang.
Tidak seperti di kuil, orang tidak bertepuk tangan, melainkan lazimnya mengatupkan telapak tangan dan berdoa dalam diam.
Periksa papan petunjuk setempat soal pemotretan, goshuin, dan area yang boleh dimasuki
Meski di luar ruangan boleh memotret, pemotretan bisa dibatasi di dalam aula, di dekat patung Buddha, saat doa berlangsung, dan di area yang dibuka khusus.
Karena cara menerima goshuin (stempel kuil dan wihara) serta jam pemberiannya juga bisa berubah, periksa panduan resmi sebelum berkunjung.
Tabel berikut merangkum pertimbangan dasar untuk tiap situasi.
| Situasi | Perilaku yang dianjurkan | Perilaku yang perlu dihindari |
|---|---|---|
| Jalur ibadah | Berjalan dengan tenang | Menghalangi jalan |
| Aula pemujaan / aula utama | Utamakan orang yang berdoa | Berbicara dengan suara keras |
| Pemotretan | Periksa papan petunjuk | Memotret di dalam aula tanpa izin |
| Goshuin | Pastikan cara menerimanya | Mendesak saat ramai |
| Cagar budaya | Jaga jarak | Menyentuh sambil memotret |
Kiat memasukkan wisata kuil dan wihara Hiroshima ke dalam itinerary
Alih-alih mencoba mengunjungi semua kuil dan wihara di prefektur sekaligus, memilih kawasan yang dekat dengan tempat menginap akan menghasilkan ibadah yang lebih tenang.
Perhatikan bahwa syarat berkunjung berubah bukan hanya karena cuaca dan musim, tetapi juga karena festival, pembukaan khusus, pekerjaan konstruksi, dan kondisi lalu lintas.
Susuri Miyajima dan Onomichi masing-masing sebagai satu wilayah budaya
Di Miyajima kamu bisa melihat kawasan tepi laut dan kaki gunung, dan di Onomichi kota pelabuhan serta wihara-wihara di lereng, masing-masing sebagai lanskap yang menyatu.
Ke Miyajima ditempuh sekitar 10 menit dengan feri dari Miyajimaguchi, dan kuil serta wihara di pusat Onomichi banyak jalan menanjaknya, jadi pada kedua tempat itu lebih tenang jika kamu berkeliling dengan pakaian yang nyaman dan waktu yang longgar.
Jika tidak menambah terlalu banyak tujuan dan menyisakan jeda untuk berhenti sejenak di gang dan jalur ibadah, kamu akan lebih mudah mengamati hubungan antara bangunan dan tanahnya.
Di Kota Hiroshima, pikirkan bekas kastil, Gunung Futaba, dan wihara gunung secara terpisah
Kuil Hiroshima Gokoku berada di sekitar Kastil Hiroshima, Hiroshima Tōshō-gū di kaki Gunung Futaba, sedangkan Fudō-in dan Mitaki-dera berada di lingkungan yang agak jauh dari pusat kota.
Karena karakternya berbeda meski di kota yang sama, jika kamu memilih satu poros—mengutamakan sejarah, arsitektur, atau jalan-jalan menikmati alam—perjalanan akan terasa lebih padu.
Pastikan syarat kunjungan hari itu dengan informasi resmi
Area yang boleh dikunjungi, pelayanan di loket pemberian, pembatasan masuk karena acara, dan aturan pemotretan bisa berubah.
Terutama jika tujuanmu adalah pembukaan khusus cagar budaya atau sebuah upacara, periksa informasi di situs resmi fasilitas atau asosiasi pariwisata sebelum berangkat.
Jika diatur berdasarkan minat perjalanan, cara menggabungkannya menjadi seperti berikut.
| Minat perjalanan | Contoh kombinasi | Poin yang diperhatikan |
|---|---|---|
| Warisan Dunia | Kuil Itsukushima & Daishō-in | Keimanan laut dan gunung |
| Sejarah kota kastil | Tōshō-gū & Kuil Gokoku | Hubungan dengan Kastil Hiroshima |
| Arsitektur kuno | Fudō-in & Jōdo-ji | Bangunan Harta Nasional |
| Jalan-jalan kawasan wihara | Senkō-ji & Jōdo-ji | Lereng dan kota pelabuhan |
| Alam dan doa | Mitaki-dera & Daishō-in | Jalur gunung dan suara air |
| Seni dan arsitektur | Kōsan-ji | Pameran di dalam kompleks |
Rangkuman | Rasakan sejarah dan budaya Hiroshima lewat kuil dan wiharanya
Kuil dan wihara Hiroshima masing-masing mewariskan sejarah yang berbeda, terhubung dengan laut Miyajima, kota kastil Kota Hiroshima, lereng Onomichi, pulau-pulau di Laut Pedalaman Seto, dan lanskap kota Fukuyama.
Bukan hanya melihat bangunan terkenal, jika kamu mengarahkan perhatian pada bentang alam jalur ibadah, lanskap sekitar, dan orang-orang yang terus berdoa, pemahamanmu tentang perjalanan akan makin dalam.
Sebelum beribadah, periksa informasi resmi, dan sambil menaati aturan pemotretan dan akses, hayatilah budaya Hiroshima dengan hati yang tenang.




Ulasan (0)