Panduan Memilih 10 Tempat Tersembunyi Terbaik di Hiroshima
Baik perjalanan yang hanya berada di pusat kota maupun perjalanan yang melangkah sedikit lebih jauh, memadukan kuil dan kuil Shinto, taman, gunung, serta kota pelabuhan akan mempertemukanmu dengan pemandangan Hiroshima yang beraneka sisi.
Kiat menikmati perjalanan yang tenang adalah tidak menambahkan terlalu banyak tujuan, melainkan mengamati satu tempat dengan saksama, hingga arsitektur, suara, dan perubahan cahayanya.
Memilih Tempat Tersembunyi untuk Merasakan Alam sekaligus Sejarah
Di kuil yang dikelilingi rerimbunan pohon atau di titik pandang yang menghadap laut, bukan hanya bangunannya, tetapi juga bentang alam sekitar dan tanaman musiman menjadi daya tariknya.
Saat menikmati cagar budaya, alih-alih menghafal nama dan tahun, pemahamanmu akan lebih dalam jika mengamati dengan cermat bagian yang menarik perhatianmu, seperti bentuk atap, tangga batu, atau ruang kosong pada taman.
Memikirkan Secara Terpisah Tempat Tersembunyi di Pusat Kota Hiroshima dan di Berbagai Daerah dalam Prefektur
Mitaki-dera dan Fudō-in di pusat Kota Hiroshima mudah ditambahkan ke wisata kota, sedangkan tempat-tempat di Mihara, Fukuyama, Takehara, dan Kure lebih mudah direncanakan tanpa memaksakan diri jika dikelompokkan per daerah.
Frekuensi transportasi umum dan kondisi jalan berbeda-beda menurut daerah dan hari, jadi periksalah informasi dari operator transportasi dan pemerintah daerah sebelum berangkat.
Membandingkan Keunggulan 10 Tempat dalam Satu Tabel
Agar kamu bisa memilih tempat yang sesuai dengan tujuan perjalananmu, kami merangkum perbedaan pemandangan dan cara menikmatinya.
| Tempat | Wilayah | Keunggulan | Cocok untuk |
|---|---|---|---|
| Mitaki-dera | Kota Hiroshima | Air terjun dan kuil tua | Jalan-jalan menikmati alam |
| Fudō-in | Kota Hiroshima | Aula utama Harta Nasional | Menikmati arsitektur |
| Sankei-en | Kota Mihara | Taman berjalan keliling | Pencinta taman |
| Mitsujō Kofun | Kota Higashihiroshima | Makam kuno yang dipugar | Penggemar sejarah kuno |
| Buttsū-ji | Kota Mihara | Rimbun cedar dan kuil zen | Berziarah dengan tenang |
| Gunung Fudekage | Kota Mihara | Panorama Laut Pedalaman Seto | Fotografi pemandangan |
| Abuto Kannon | Kota Fukuyama | Aula Kannon tepi laut | Arsitektur dan laut |
| Shinshō-ji | Kota Fukuyama | Zen dan seni kontemporer | Pengalaman budaya |
| Mitarai | Kota Kure | Gang-gang kota pelabuhan | Menyusuri kota |
| Kawasan lama Takehara | Kota Takehara | Pemandangan rumah saudagar | Menyusuri sejarah |
Kuil Tersembunyi yang Bisa Disusuri dengan Tenang di Pusat Kota Hiroshima
Tanpa perlu jauh dari pusat kota pun, ada tempat yang bisa kamu susuri dengan tenang, diselimuti pepohonan dan arsitektur bersejarah.
Karena kuil adalah tempat ibadah, habiskanlah waktumu di sana dengan tetap memedulikan para peziarah, bukan menganggapnya semata fasilitas wisata.
1. Mitaki-dera|Kuil Tua yang Diselimuti Suara Air Terjun dan Rimbun Pepohonan
Mitaki-dera adalah kuil aliran Shingon Gunung Kōya, yang juga disebut Mitaki Kannon, dan di dalam kompleksnya tersebar tiga air terjun yang menjadi asal nama kuil, yaitu Koma-ga-taki, Bonon-no-taki, dan Yūmei-no-taki, serta tahōtō (pagoda dua tingkat) berlaka merah dan aula Kannon.
Tahōtō ini dipindahkan pada tahun 1951 dari kuil Shinto Hirohachiman di Prefektur Wakayama, merupakan Cagar Budaya Penting yang ditetapkan Prefektur Hiroshima, dan di dalamnya bersemayam patung kayu Amida Nyorai dalam posisi duduk yang merupakan Cagar Budaya Penting tingkat nasional.
Semakin jauh menyusuri jalan menuju kuil, suara kota semakin menjauh, sedangkan suara air dan gemerisik dedaunan semakin dekat, sehingga ada kenikmatan berjalan tanpa terburu-buru.
Di tangga batu dan jalan sempit menuju kuil, pilihlah tempat untuk berhenti dan berilah jalan agar peziarah lain bisa lewat.
2. Fudō-in|Menikmati Aula Utama Harta Nasional dari Luar
Fudō-in memiliki aula utama (kondō) yang ditetapkan sebagai Harta Nasional pada tahun 1958 dan dikenal sebagai aula Buddha bergaya zen yang dibangun pada tahun Tenbun ke-9 (tahun 1540).
Gerbang rōmon dan menara loncengnya juga ditetapkan sebagai Cagar Budaya Penting tingkat nasional dan meneruskan sejarah kuil hingga kini.
Aula utama disebut terhindar dari keruntuhan berkat lokasinya yang sekitar 3,9 kilometer dari pusat ledakan dan berada di balik bayangan gunung, dan sebagai satu-satunya Harta Nasional yang masih ada di dalam Kota Hiroshima, tempat ini juga penting untuk merenungkan cagar budaya yang tersisa.
Pembukaan bagian dalam bangunan dan penyelenggaraan acara tidak selalu tetap, jadi ikutilah papan pemberitahuan di lokasi dan berkunjunglah terutama untuk menikmati bagian luar agar lebih tenang.
Tempat Tersembunyi untuk Mengenal Budaya Bentang Alam Hiroshima lewat Taman dan Makam Kuno
Taman yang ditata dan makam kuno yang dipugar, berbeda dengan alam murni, adalah tempat untuk mengamati bagaimana manusia memaknai tanah dan membentuknya.
3. Sankei-en|Taman Jepang yang Menggambarkan Gunung, Desa, dan Laut
Sankei-en adalah taman berjalan keliling dengan gundukan dan kolam seluas sekitar 6 hektare yang berdampingan dengan Bandara Hiroshima, dibuat untuk memperingati pembukaan bandara pada tahun 1993.
Taman ini disusun dengan motif pemandangan gunung, desa, dan laut wilayah Chūgoku, dan di zona gunung bahkan terdapat "air terjun tiga tingkat" dengan beda ketinggian sekitar 14 meter.
Saat berjalan mengelilingi kolam, susunan bebatuan dan penanaman tampak bertumpuk berbeda-beda tergantung arah pandang, yang menunjukkan bahwa taman ini dirancang bukan sebagai satu lukisan, melainkan sebagai pemandangan yang berkesinambungan.
Lokasinya mudah dimasukkan ke rencana, sekitar 5 menit berjalan kaki dari bandara, tetapi periksalah informasi pengelola mengenai biaya masuk dan hari tutup.
4. Mitsujō Kofun|Menyusuri Makam Berbentuk Lubang Kunci yang Dipugar
Mitsujō Kofun adalah Situs Bersejarah yang ditetapkan negara, terdiri atas 3 makam kuno, dan makam nomor 1 yang menjadi pusatnya adalah makam berbentuk lubang kunci sepanjang sekitar 92 meter.
Makam nomor 1 diyakini sebagai makam seorang tetua wilayah Aki yang dibangun sekitar paruh pertama abad ke-5, dan telah dilestarikan serta dipugar berdasarkan hasil penggalian.
Sekitarnya ditata sebagai "Taman Lingkungan Mitsujō", dan karena barisan lebih dari 1.800 haniwa yang mengelilingi gundukan makam bisa diamati dari permukaan tanah, tempat ini memudahkan bahkan wisatawan yang tidak paham sejarah kuno Jepang untuk membayangkan strukturnya.
Ketika ada pekerjaan pelindungan situs atau pembatasan masuk, jangan melewati pagar atau papan petunjuk, dan amatilah dari jalur yang telah ditentukan.
Tempat Tersembunyi untuk Memandang Laut Pedalaman Seto dari Kuil Zen dan Titik Pandang Mihara
Di sekitar Mihara, dengan memadukan kuil zen di antara pegunungan dan titik pandang yang menghadap Laut Pedalaman Seto, kamu bisa menikmati pemandangan kontras antara hutan dan laut.
5. Buttsū-ji|Merasakan Suasana Kuil Zen di Tengah Rimbun Cedar
Buttsū-ji adalah kuil pusat aliran Buttsū-ji dari Zen Rinzai, sebagai kuil tua yang dibuka pada tahun Ōei ke-4 (tahun 1397), dengan aula dan pagoda yang berdiri dikelilingi rimbun cedar tua.
Saat dengan tenang menyusuri jembatan batu, jalan menuju kuil, dan tata letak bangunan, kamu bisa merasakan bahwa kuil zen ini disusun tanpa memisahkan alam dari arsitektur.
Tempat ini juga salah satu lokasi daun musim gugur terkemuka di prefektur, biasanya mencapai puncaknya dari awal hingga pertengahan November, jadi jika mengutamakan ketenangan, sebaiknya periksa informasi kunjungan khusus dan acara pada periode ini, serta rencanakan agar menghindari hari-hari yang cenderung ramai.
6. Gunung Fudekage|Panorama Laut Pedalaman Seto dengan Gugusan Pulau Berlapis
Gunung Fudekage adalah gunung setinggi 311 meter di Kota Mihara, termasuk dalam Taman Nasional Setonaikai, dan dikenal sebagai titik pandang untuk memandang pulau-pulau Laut Pedalaman Seto dari atas gunung.
Kamu bisa berkendara hingga dekat puncak lalu berjalan dari tempat parkir menuju dek observasi, sehingga bahkan yang tidak percaya diri dengan staminanya pun bisa menikmati pemandangan.
Cahaya di permukaan laut dan tumpukan bayangan pulau berubah rupa mengikuti cuaca, jadi cobalah perhatikan bukan hanya pemandangan jauh, tetapi juga batas warna antara langit dan laut.
Di jalan pegunungan, cuaca dan kondisi permukaan jalan mudah berubah, dan setelah petang hari menjadi gelap, jadi pilihlah waktu yang terang dan ikuti panduan lalu lintas setempat.
Tempat Tersembunyi untuk Menjumpai Keyakinan Tepi Laut dan Ekspresi Zen di Fukuyama
Di bagian selatan Kota Fukuyama terdapat aula Kannon yang menghadap Laut Pedalaman Seto dan fasilitas untuk mengalami zen melalui taman, arsitektur, dan seni kontemporer.
7. Abuto Kannon|Aula Kannon Berlaka Merah yang Berdiri di Tebing
Abuto Kannon adalah aula Kannon milik Bandai-ji, dikenal dengan sosok berlaka merahnya yang seolah menjorok di tebing tepi laut Semenanjung Numakuma, dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya Penting tingkat nasional.
Konon didirikan oleh Mōri Terumoto pada masa Genki (tahun 1570 hingga tahun 1573), dan sejak lama dipuja sebagai Kannon untuk memohon keturunan dan persalinan yang selamat.
Dari koridor yang mengelilingi aula Kannon, Laut Pedalaman Seto bisa dipandang, tetapi karena ada lereng dan pagar yang cukup rendah, saat menikmati pemandangan pun perlu memperhatikan pijakan.
Hindari memotret sambil membawa barang besar atau dalam posisi tidak stabil, dan pada hari berangin kencang, berhati-hatilah agar topi atau barang bawaanmu tidak terjatuh.
8. Museum Zen dan Taman Shinshō-ji|Perpaduan Tradisi dan Seni Kontemporer
Museum Zen dan Taman Shinshō-ji adalah kuil aliran Kennin-ji dari Zen Rinzai, tempat kamu bisa menyentuh dunia zen melalui jalan-jalan di taman, teh, karya tinta, arsitektur, dan kuliner.
Selain aula yang dipindahkan, kamar teh, dan taman zen, ada pula paviliun seni berbentuk perahu "Kōtei" yang digarap oleh sosok seperti pematung Kōhei Nawa, dengan keistimewaan bahwa yang lama dan yang baru bisa dinikmati tanpa dipertentangkan.
Biaya masuk untuk dewasa adalah 1.800 yen, dengan pembagian tarif yang berbeda untuk mahasiswa · siswa SMA, siswa SMP · siswa SD, dan rombongan 20 orang ke atas, tetapi karena sebagian pengalaman dan pameran mungkin memiliki syarat penggunaan, jika ada hal yang ingin kamu ikuti, periksalah status penyelenggaraannya pada informasi resmi.
Tempat Tersembunyi untuk Menyusuri Gang dan Rumah Saudagar di Kota Pelabuhan Laut Pedalaman Seto
Di kawasan lama, alih-alih mengunjungi bangunan satu per satu, berjalan sambil memperhatikan lebar jalan, deretan tepi atap, dan jarak ke laut membuatmu bisa melihat asal-usul kota.
9. Kawasan Konservasi Mitarai|Menelusuri Kota Pelabuhan Penunggu Pasang Surut
Mitarai di Pulau Ōsakishimojima berkembang pada zaman Edo sebagai kota pelabuhan penunggu angin dan pasang surut, dan pada tahun 1994 ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Penting Kelompok Bangunan Tradisional tingkat nasional.
Rumah saudagar, penginapan kapal, serta kuil dan kuil Shinto berbaur, dan gang-gang sempit, pemecah ombak besar, serta jembatan batu menyampaikan sejarah kehidupan pelabuhan, jadi disarankan berjalan perlahan dari tepi laut menuju bagian dalam kota.
Karena hingga kini masih menjadi kawasan tempat orang menjalani kehidupan, mohon jangan masuk ke pekarangan rumah warga dan jangan menghalangi gang dalam waktu lama.
10. Kawasan Konservasi Takehara|Kota Rumah Saudagar yang Makmur berkat Produksi Garam
Kawasan konservasi Takehara ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Penting Kelompok Bangunan Tradisional tingkat nasional pada tahun 1982, dan masih menyisakan pemandangan rumah-rumah yang kukuh, kisi-kisi, serta dinding putih yang menyampaikan sejarah kota yang berkembang lewat produksi garam dengan tambak garam bergaya irihama.
Saat memandang kota dari tangga batu kuil atau tikungan jalan, terlihat deretan atap dan bentuk gang, yang memberi penemuan berbeda dari jalan-jalan yang hanya melihat bagian depan bangunan.
Bedakan antara fasilitas yang dibuka untuk umum dan rumah warga biasa, jangan menyentuh pintu atau kisi-kisi, dan untuk syarat penggunaan toko dan ruang arsip, periksalah panduan masing-masing tempat.
Menikmati Wisata Hiroshima yang Tenang dengan Mempertimbangkan Musim dan Etika
Bahkan di tempat yang sama, kesannya berubah menurut warna pepohonan, sinar matahari, dan cara laut terlihat.
Agar menjadi perjalanan yang tenang, penting untuk mempertimbangkan bukan hanya daya tarik musim, tetapi juga acara yang cenderung ramai serta sisi keselamatan.
Membandingkan Pemandangan Tiap Musim
Sebagai panduan memilih, kami merangkum pemandangan yang cocok dengan tiap musim.
| Musim | Tempat rekomendasi | Fokus pemandangan | Persiapan |
|---|---|---|---|
| Musim semi | Sankei-en · Gunung Fudekage | Tunas dan langit | Mengantisipasi selisih suhu |
| Musim panas | Mitaki-dera · Buttsū-ji | Naungan pohon dan suara air | Menjaga asupan cairan |
| Musim gugur | Buttsū-ji · Sankei-en | Tumpukan daun musim gugur | Memeriksa acara |
| Musim dingin | Mitarai · Takehara | Detail bangunan | Melindungi diri dari angin |
Bersikaplah Tenang di Kuil, Kuil Shinto, dan Situs Bersejarah
Di aula utama dan tempat berdoa, hindari percakapan dan bunyi rana kamera, dan di tempat yang ada papan larangan memotret, jangan arahkan kamera atau ponsel pintar.
Jangan menyentuh cagar budaya, haniwa, dinding batu, dan daun pintu jendela tua, dan pada dasarnya makan serta minumlah hanya di tempat yang ditentukan.
Memotretlah dalam Batas yang Tidak Mengganggu Lalu Lintas dan Kehidupan
Di jalan sempit menuju kuil dan gang, jangan membuka tripod, dan saat memotret orang, mintalah persetujuan yang bersangkutan.
Di tepi laut atau di puncak gunung, jangan hanya menatap layar, tetapi tentukan komposisi setelah memeriksa pijakan, angin, dan lalu lintas kendaraan agar lebih aman.
Kesimpulan|Menghabiskan Waktu yang Tenang di Tempat Wisata Tersembunyi Hiroshima
Tempat-tempat tersembunyi Hiroshima, seperti Mitaki-dera yang bergema suara air terjun, Fudō-in yang meneruskan arsitektur Harta Nasional, Sankei-en yang menggambarkan gunung, desa, dan laut, serta Mitarai yang menyisakan sejarah kota pelabuhan, memiliki daya tarik yang berbeda dari objek wisata yang ternama.
Dengan mempersempit daerah yang dikunjungi, mengamati arsitektur dan alam tanpa terburu-buru, serta menjaga etika terhadap tempat ibadah dan tempat kehidupan, kamu akan mendapatkan perjalanan Hiroshima yang tenang dan berkesan.
Karena acara musiman, syarat penggunaan fasilitas, dan kondisi lalu lintas berubah-ubah, selalu periksa informasi resmi sebelum berangkat.

Ulasan (0)