Nikmati Perjalanan ke Jepang!

8 Kota Tua Terbaik di Gifu | Takayama, Gujo Hachiman & Magome

8 Kota Tua Terbaik di Gifu | Takayama, Gujo Hachiman & Magome
Jelajahi 8 kota tua di Gifu, termasuk Takayama, Gujo Hachiman, dan Magome-juku. Bandingkan kota kastil, kota persinggahan, kawasan pedagang, dan tepi sungai.

Ringkasan Cepat

Daya tarik sekilas

Kawasan kota tua di Gifu tersebar di 8 area seperti Hida Takayama, Gujo Hachiman, dan Magome-juku, tempat Anda bisa membandingkan lanskap kota pedagang, kota kastil, dan kota pos sambil jajan dan menyusuri jalan kuno dalam satu prefektur.

8 kawasan kota tua dan gaya perjalanan yang cocok

Takayama (wisata kuliner sambil berjalan), Gujo Hachiman (kota kastil dengan kanal dan aliran air), Magome-juku (kota pos di lereng), Iwamura (sejarah), Mino (rumah pedagang dengan udatsu, yaitu dinding pencegah api), Hida Furukawa (tembok putih dan kanal), Kawaramachi (pelabuhan sungai), Ota-juku (Nakasendo).

Sorotan

Distrik Sanmachi di Hida Takayama, Sungai Seto dan deretan gudang berdinding putih di Hida Furukawa, mata air Sogisui di Gujo Hachiman, rumah-rumah ber-udatsu (dinding pencegah api) di Mino, jalan lereng berbatu di Magome-juku, dan gerbang honjin (penginapan resmi pada zaman Edo) di Ota-juku.

Akses

Hida Takayama sekitar 10–15 menit jalan kaki dari Stasiun JR Takayama; Hida Furukawa sekitar 5 menit jalan kaki dari Stasiun JR Hida-Furukawa (sekitar 15 menit dari Takayama); Ota-juku sekitar 15 menit jalan kaki dari Stasiun JR Mino-Ota.

Perkiraan waktu dan cara berjalan

Dari Magome-juku ke Tsumago-juku terbentang jalur Nakasendo sekitar 9 km melewati Magome Pass, sebuah jalur hiking sekitar 2,5–3 jam sekali jalan.

Musim, hari hujan atau salju

Sekitar 1.000 ekor koi biasanya berenang di Sungai Seto dari April hingga November; hari hujan menonjolkan kisi kayu dan jalan batu, sedangkan hari bersalju menonjolkan tembok putih. Pijakan licin, jadi berhati-hatilah pada anak tangga dan selokan.

Etika menyusuri kota

Hormati lingkungan tempat tinggal warga: jangan memasuki lahan pribadi atau menghalangi akses di depan toko, jangan berlama-lama memotret di tengah jalan sempit, dan jangan memotret orang dari jarak dekat.

Untuk informasi terbaru, silakan merujuk pada pengumuman resmi atau konfirmasi di lokasi.

Artikel rekomendasi tentang Gifu

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

8 Rekomendasi Kawasan Kota Tua di Gifu dan Cara Menikmatinya

Kawasan kota tua (machinami bersejarah) di Gifu memiliki karakter berbeda di setiap daerah, mulai dari kota pedagang di Hida dan kota bekas kastil di sepanjang Sungai Nagara hingga kota penginapan di jalur Nakasendō.

Dalam satu prefektur, Anda dapat membandingkan rumah kayu, gudang berdinding putih, saluran air, pintu berkisi, hingga kota penginapan di jalan menanjak. Karena itu, kawasan seperti Hida Takayama, Gujō-Hachiman, dan Magome-juku cocok dijadikan tema wisata kota, termasuk bagi wisatawan mancanegara yang baru pertama kali ke Gifu.

Dalam artikel ini, kami memperkenalkan suasana dan cara menjelajahi 8 kawasan rekomendasi, terutama kawasan yang ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting Nasional (Jūden-ken).

Pilih Berdasarkan Tujuan Wisata agar Lebih Mudah Dijelajahi

Kawasan kota tua bukan hanya tempat berfoto, tetapi juga lingkungan tempat warga masih tinggal dan berdagang hingga kini.

Jika ingin menikmati keramaian pilihlah Takayama atau Magome-juku, jika ingin menikmati pemandangan tenang pilihlah Hida-Furukawa atau Iwamura, dan jika ingin menikmati suasana tepi sungai pilihlah Gujō-Hachiman atau Kawaramachi.

Agar mudah dipilih sesuai suasana yang diinginkan, kami merangkum 8 kawasan berdasarkan karakter dan gaya perjalanan yang cocok.

Kawasan Suasana Wisata yang cocok
Takayama Kota pedagang Jajan kuliner
Gujō-Hachiman Kota kastil berair Jalan-jalan kota
Magome-juku Kota penginapan menanjak Menyusuri jalur kuno
Iwamura Kota kastil pegunungan Pencinta sejarah
Mino Kota pedagang udatsu Pencinta arsitektur
Hida-Furukawa Dinding putih dan saluran air Perjalanan tenang
Kawaramachi Jejak pelabuhan sungai Menginap di kota Gifu
Ōta-juku Kota penginapan jalur kuno Wisata Nakasendō

Perhatikan Bentuk Jalan, Bukan Hanya Bangunan

Dengan memperhatikan kisi-kisi rumah, tinggi atap, saluran air, jalan menanjak, dan lekuk jalur kuno, Anda dapat memahami asal-usul kota yang sulit terlihat hanya dari foto.

Saat menjelajahi kawasan kota tua, jangan hanya memotret panorama luas. Amati pula ornamen pintu masuk dan cara warga memanfaatkan area tepi air agar pengalaman perjalanan lebih berkesan.

Nikmati dengan Tenang dan Hormati Kehidupan Warga

Meski dikenal sebagai objek wisata, di sepanjang jalan terdapat rumah tinggal dan toko-toko kecil.

Dengan mematuhi etika dasar—tidak memasuki lahan pribadi, tidak menghalangi pintu toko, dan tidak memotret warga dari jarak dekat tanpa izin—Anda dapat menikmati suasana kota dengan nyaman.

Kawasan Kota Tua Hida di Takayama dan Hida-Furukawa

Kawasan bersejarah di Hida dikenal dengan rumah-rumah kayu dan pemandangan saluran air.

Dengan memadukan keramaian wisata Hida Takayama dan suasana tenang gudang berdinding putih di Hida-Furukawa, Anda dapat melihat perbedaan karakter kota-kota di Hida.

Kawasan Kota Tua Hida Takayama | Jejak Kota Pedagang

Kawasan kota tua Hida Takayama berpusat di area yang disebut "Sanmachi", yang berkembang sebagai kota bekas kastil dan kota pedagang pada zaman Edo.

Jalan yang membentang dari utara ke selatan di sisi timur Sungai Miya dibagi oleh Yasukawa-dōri menjadi Kamichō di selatan dan Shimochō di utara. Kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting Nasional pada 1979 (Shōwa 54), lalu diperluas pada 1997 (Heisei 9).

Rumah kota dengan deretan kisi menonjol (degōshi) dan bola cedar (sugidama) di pabrik sake menjadi penanda jalan-jalan kota, dengan Museum Kota Hida Takayama, pabrik sake, restoran, dan toko oleh-oleh berjejer.

Karena banyak restoran dan toko oleh-oleh di sepanjang jalan, kawasan ini cocok untuk berbelanja dan mencicipi kuliner. Suasana pada pagi dan sore hari, serta tampilan jalan saat hujan, juga menjadi daya tarik.

Dari Stasiun JR Takayama ke deretan bangunan tua sekitar 10–15 menit berjalan kaki, dan pagi buta adalah waktu dengan sedikit orang sehingga mudah mengabadikan deretan bangunan yang tenang dalam foto.


Hida-Furukawa | Menyusuri Sungai Seto dan Gudang Berdinding Putih

Kawasan gudang berdinding putih di Hida-Furukawa membentang di sepanjang Sungai Seto dan menawarkan suasana yang tenang.

Perpaduan suara air, dinding putih, dan elemen kayu menciptakan suasana sederhana dan menenangkan.

Di Sungai Seto, sekitar 1.000 ekor koi berenang tiap tahun mulai April hingga November, dan kontras koi berwarna cerah dengan dinding putih menambah warna pada pemandangan.

Koi dipindahkan ke kolam bekas Kastil Masushima untuk melewati musim dingin dari akhir November hingga sekitar awal April, namun kawasan gudang berdinding putih yang tertutup salju di musim dingin pun memiliki suasana tenang khas Hida.

Dari Stasiun JR Hida-Furukawa ke kawasan gudang berdinding putih sekitar 5 menit berjalan kaki, dan dari Takayama sekitar 15 menit dengan kereta lokal jalur Takayama, sehingga aksesnya mudah.


Kawasan Bersejarah Hida Berubah Sesuai Musim

Meski jalan yang sama, bayangan bangunan dan kesan tepi air berubah sesuai musim.

Musim Tampilan Cara menyusuri
Semi Cahaya lembut Perhatikan tepi air
Panas Teduh pepohonan pekat Cari tempat sejuk
Gugur Warna yang tenang Susuri gang
Dingin Salju dan dinding putih Hati-hati pijakan

Jelajahi Kota Bekas Kastil Gujō-Hachiman dan Iwamura

Kawasan kota bekas kastil memperlihatkan jejak sejarah bukan hanya melalui kastil dan kuil, tetapi juga rumah pedagang, kawasan pengrajin, saluran air, dan bentuk jalan.

Gujō-Hachiman dan Iwamura adalah tempat di mana hubungan antara topografi dan kehidupan semakin terlihat seiring Anda menyusuri kota.

Gujō-Hachiman | Kota Bekas Kastil dengan Saluran Air dan Rumah Tradisional

Deretan bangunan tua Gujō-Hachiman terpilih sebagai Kawasan Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting Nasional pada 2012 sebagai "Gujō-Hachiman Kitamachi" yang berpusat di Yanagimachi, Shokunin-machi, dan Kajiya-machi.

Kawasan pelestarian seluas sekitar 14,1 hektar ini dikenal karena sistem pemanfaatan air dari mata air alami menyatu dengan deretan rumah tradisional di kota bekas kastil yang dikelilingi gunung dan sungai.

Saat menyusuri jalan, air irigasi mengalir dekat deretan rumah, dan Anda bisa merasakan betapa dekatnya kehidupan kota dengan air melalui Sōgi-sui (mata air yang terpilih dalam 100 Mata Air Terbaik) dan "Yanaka Mizu no Komichi".

Saat memotret di tepi air, jangan berhenti terlalu lama di jalan sempit atau menghalangi jalan yang digunakan warga sehari-hari.


Iwamura | Kota Pedagang Bersejarah di Pegunungan

Karakter sejarah Iwamura lebih terasa jika kawasan kota bekas kastil ini dijelajahi bersama reruntuhan Kastil Iwamura, yang dikenal sebagai salah satu dari tiga kastil gunung terbesar di Jepang.

Iwamura Hondōri ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting Nasional pada 1998 (Heisei 10). Kawasan seluas sekitar 14,6 hektar ini mempertahankan deretan rumah kota pedagang dari kota bekas kastil.

Anda dapat menikmati wisata sejarah dalam suasana pegunungan yang tenang. Jalan ini juga dikenal sebagai lokasi syuting serial drama pagi NHK.

Dibanding berkeliling singkat di jalan yang ramai, tempat ini cocok untuk perjalanan menyusuri dengan tenang sambil melihat kisi bangunan dan ornamen tepi atap.


Menyusuri Kota Penginapan Jalur Nakasendō di Magome-juku dan Ōta-juku

Kota-kota penginapan di jalur Nakasendō mempertahankan suasana jalur kuno yang dahulu dilalui banyak pelancong.

Magome-juku menawarkan pemandangan jalan menanjak, sedangkan Ōta-juku memberi kesempatan mengenal budaya jalur kuno di sekitar Sungai Kiso.

Magome-juku | Kota Penginapan di Sepanjang Jalan Menanjak

Magome-juku adalah kota penginapan ke-43 di jalur Nakasendō, terletak paling selatan dari 11 kota penginapan Kiso, dengan ciri pemandangan toko dan bangunan berjejer di kedua sisi jalan menanjak.

Awalnya termasuk Prefektur Nagano, tetapi digabungkan ke kota Nakatsugawa, Prefektur Gifu pada 2005, dan jejak masa lampau tersisa di jalan menanjak berbatu.

Ini juga tempat kelahiran sastrawan Shimazaki Tōson yang dikenal lewat karya "Yoake Mae", dan tempat-tempat terkait sastra seperti Museum Tōson tersebar di sini.

Karena jalan berbatu dan kemiringan tanjakan menciptakan kedalaman pada foto, memotret dengan menyertakan perbedaan ketinggian jalan—bukan hanya bagian depan bangunan—akan menyampaikan suasana khas kota penginapan.

Menuju Tsumago-juku di sebelahnya, jalur Nakasendō sekitar 9 km yang melewati Magome-tōge (Celah Magome) terus membentang, dan populer sebagai jalur hiking sekitar 2,5–3 jam sekali jalan bagi wisatawan mancanegara.

Di jalan menanjak, berhentilah di tempat yang aman dan jangan menghalangi arus pejalan kaki.


Ōta-juku | Jejak Jalur Kuno di Tepi Sungai Kiso

Ōta-juku berkembang sebagai kota penginapan ke-51 di jalur Nakasendō, dan "Ōta no Watashi" (penyeberangan Ōta) yang menyeberangi Sungai Kiso termasuk salah satu dari tiga tempat tersulit di jalur Nakasendō.

Anda dapat membayangkan peran kota penginapan melalui peninggalan seperti gerbang honjin yang dibangun untuk prosesi pernikahan Kazunomiya pada 1861 dan kediaman keluarga Hayashi (wakihonjin), yang ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional.

Terletak sekitar 15 menit berjalan kaki dari Stasiun JR Mino-Ōta, dan meski deretan bangunan jalur kuno terlihat sederhana pada pandangan pertama, memperhatikan lebar jalan, cara berbelok, dan tata letak bangunan akan membuat Anda merasakan jejak zaman ketika ini menjadi pusat perjalanan.

Di Kota Penginapan, Perhatikan Pijakan dan Lebar Jalan

Karena kota penginapan memiliki jalan menanjak dan sempit, gunakan sepatu yang nyaman agar perjalanan lebih aman.

Saat memotret dengan latar bangunan tua pun, penting untuk mengutamakan lalu lintas kendaraan dan warga setempat, serta tidak memotret lama di tengah jalan.

Jelajahi Kota Pedagang Mino dan Pelabuhan Sungai Kawaramachi

Mino dan Kawaramachi di Kota Gifu merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan jejak perdagangan dan transportasi sungai.

Mino cocok bagi wisatawan yang ingin mengamati bentuk bangunan, sedangkan Kawaramachi praktis dipadukan dengan jalan-jalan di sekitar Sungai Nagara.

Kawasan Udatsu di Mino | Amati Detail Atap Rumah Pedagang

Kawasan udatsu di Mino berkembang dari kota kastil Ogurayama-jō yang dibangun oleh Kanamori Nagachika pada awal zaman Edo, lalu tumbuh sebagai kota pedagang Mino washi (kertas tradisional Jepang).

Rumah pedagang dengan dinding tahan api "udatsu" di kedua ujung atap berjejer, dan terpilih sebagai Kawasan Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting Nasional pada 1999.

Udatsu berfungsi mencegah rambatan api dan dahulu hanya dapat dibangun oleh keluarga kaya. Unsur ini menjadi asal-usul ungkapan "udatsu ga agaranai" (tidak maju/tidak sukses), dan kunjungan akan semakin menarik jika Anda membandingkan bentuk udatsu pada setiap rumah.

Karena terdapat Mino Washi Akari Art Kan (Museum Seni Cahaya Mino Washi) dan toko yang menawarkan pengalaman mengenal washi, kawasan ini cocok bagi wisatawan yang ingin memadukan wisata kota dengan kerajinan tradisional.

Kawaramachi | Menelusuri Jejak Pelabuhan Sungai Nagara

Kawaramachi di Kota Gifu adalah kawasan di sekitar Minatomachi, Tamaimachi, dan Motohamamachi yang membentang ke barat dari ujung selatan Jembatan Nagara. Di sini masih tersisa bangunan-bangunan tua dengan pintu berkisi.

Dahulu berkembang sebagai pelabuhan sungai Nagara yang menangani kayu Okumino dan washi Mino, dan pada 2015 diakui sebagai properti budaya penyusun Warisan Jepang "Kota Bekas Kastil Sengoku Gifu yang Menghidupkan Keramahan Tuan Nobunaga".

Hingga kini, toko kue tradisional Jepang dan toko kerajinan membentuk suasana kawasan. Karena mudah dipadukan dengan Kastil Gifu atau Nagaragawa Ukai (penangkapan ikan dengan burung kormoran), Kawaramachi cocok untuk wisata singkat selama menginap di Kota Gifu.

Saat Menjelajahi Kota Pedagang, Bandingkan Atap, Kisi, dan Fasad Toko

Saat menjelajahi kota pedagang, jangan hanya melihat bangunan dari depan. Perhatikan ujung atap, kerapatan kisi, serta pemasangan noren dan papan nama untuk menemukan keunikan setiap bangunan.

Karena kebijakan pemotretan di dalam toko dan pemotretan produk berbeda tiap toko, periksalah papan petunjuk dan jika perlu mintalah izin lebih dulu agar lebih aman.

Etika Menjelajahi Kota Tua bagi Wisatawan Mancanegara

Untuk menjelajahi kawasan kota tua dengan nyaman, seimbangkan kebebasan berwisata dengan penghormatan terhadap kehidupan warga.

Pengambilan foto, makan dan minum, serta cara berhenti di jalan merupakan hal penting yang perlu diperhatikan.

Saat Memotret, Hormati Warga dan Rumah Tinggal

Dalam foto deretan bangunan, meski berniat memotret seluruh bangunan, warga atau pengunjung toko bisa saja ikut terpotret.

Hindari memotret orang dari jarak dekat dan jangan terus-menerus mengarahkan kamera ke jendela atau pintu rumah agar privasi warga tetap terjaga.

Saat Menikmati Kuliner, Jangan Menghalangi Toko atau Lalu Lintas

Di kawasan belanja seperti Hida Takayama atau Magome-juku, ikuti aturan toko mengenai tempat makan dan minum serta pembuangan sampah.

Saat berhenti di jalan sempit, hindari pintu masuk toko dan tengah jalan, serta nikmatilah sambil melihat arus di sekitar.

Hal yang Boleh dan Tidak Boleh di Kawasan Kota Tua

Jika ragu, gunakan tiga patokan: lindungi bangunan, jangan mengganggu kehidupan warga, dan ikuti petunjuk toko.

Situasi Boleh Hindari
Foto Memotret eksterior Memotret orang tanpa izin
Jalan Berhenti di tepi Memotret di tengah
Toko Melihat papan petunjuk Menghalangi pintu masuk
Rumah tinggal Menjaga jarak Mengintip

Saat Hujan atau Salju, Seimbangkan Pemandangan dan Keselamatan

Saat hujan, kisi dan jalan berbatu berwarna tenang, dan saat salju, garis dinding putih serta bangunan kayu menjadi menonjol.

Di sisi lain, karena pijakan menjadi licin, jangan terlalu fokus pada foto dan berjalanlah sambil memperhatikan tangga serta selokan agar aman.

Kesimpulan

8 rekomendasi kawasan kota tua di Gifu masing-masing memiliki daya tarik berbeda, yaitu keramaian Hida Takayama, saluran air Gujō-Hachiman, jalan menanjak Magome-juku, kota bekas kastil Iwamura, udatsu Mino, dinding putih Hida-Furukawa, pelabuhan sungai Kawaramachi, dan budaya jalur kuno Ōta-juku.

Untuk kunjungan pertama, pilihlah Hida Takayama atau Gujō-Hachiman. Jika tertarik pada kota penginapan, pilihlah Magome-juku atau Ōta-juku. Untuk jelajah arsitektur yang tenang, pilihlah Iwamura, Mino, atau Hida-Furukawa.

Kawasan kota tua adalah objek wisata sekaligus ruang hidup warga setempat.

Dengan menjaga bangunan serta mematuhi etika fotografi, makan, dan minum saat menjelajah, Anda dapat menikmati pemandangan bersejarah Gifu dengan lebih mendalam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

A. Delapan kawasan tersebut adalah Hida Takayama, Hida Furukawa, Gujo Hachiman, Iwamura, Magome-juku, Ota-juku, Mino, dan Kawaramachi. Daftar ini mencakup kota pedagang di Hida, kota kastel di sekitar Sungai Nagara, dan kota pos di jalur Nakasendo. Dalam satu perjalanan, pengunjung dapat membandingkan rumah kayu machiya, gudang berdinding putih, saluran air, dan tanjakan berbatu.
A. Juden-ken adalah sebutan untuk kawasan bersejarah yang ditetapkan pemerintah sebagai Kawasan Pelestarian Penting untuk Kelompok Bangunan Tradisional. Di antara delapan pilihan di Gifu, Takayama, Gujo Hachiman, Iwamura, dan Mino termasuk kawasan yang telah ditetapkan. Tahun penetapannya berbeda-beda: tiga jalan di Takayama pada 1979, kawasan udatsu di Mino pada 1999, dan Gujo Hachiman Kitamachi pada 2012. Papan informasi setempat dapat membantu pengunjung memahami sejarah pelestarian tiap kawasan.
A. Untuk suasana ramai, pilih Hida Takayama, sedangkan untuk nuansa kota air pilih Gujo Hachiman; keduanya mudah dikunjungi oleh wisatawan yang baru pertama kali datang. Untuk wisata arsitektur yang lebih tenang, pilih Hida Furukawa, Iwamura, atau Mino. Untuk menyusuri jalur kuno, Magome-juku atau Ota-juku dapat dipilih sesuai suasana perjalanan. Takayama dan Hida Furukawa berjarak sekitar 15 menit dengan kereta, sehingga keduanya praktis dikunjungi dalam satu hari.
A. Dari Stasiun JR Takayama, Sanmachi dapat dicapai dalam sekitar 10-15 menit berjalan kaki. Rumah machiya berkisi berjajar di sepanjang jalan, dan di depan beberapa produsen sake tergantung sugidama, yaitu bola daun cedar yang menandai sake baru. Pengunjung juga dapat menikmati jajanan seperti sushi genggam daging sapi Hida dan mitarashi dango. Karena siang hari cenderung ramai, pagi hari lebih nyaman untuk berjalan dan memotret.
A. Koi biasanya dapat dilihat dari awal April hingga akhir November, dengan sekitar 1.000 ekor dilepas di Sungai Seto. Kontras antara ikan koi dan gudang berdinding putih menjadi salah satu daya tarik kawasan ini. Pada musim dingin, koi dipindahkan ke kolam di Reruntuhan Kastel Masushima, sementara dinding putih bersalju menghadirkan suasana yang lebih tenang. Kawasan kota tua ini mudah disinggahi karena hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun JR Hida Furukawa.
A. Gujo Hachiman dikenal sebagai "kota kastel air" karena saluran irigasi mengalir di sisi rumah-rumah machiya. Sogisui dikenal sebagai mata air pertama yang dipilih dalam daftar 100 Mata Air Terbaik Jepang. Yanaka Mizu no Komichi adalah lorong kecil yang dilapisi batu bulat dari Sungai Yoshida dan memiliki pencahayaan malam. Karena jalan di tepi air sempit, ambillah foto dari posisi yang tidak menghalangi lalu lintas.
A. Jalur Nakasendo yang melintasi Celah Magome memiliki panjang sekitar 9 km dan memerlukan waktu sekitar 2,5-3 jam sekali jalan. Dari sisi Magome, jalur menanjak hingga celah gunung lalu menurun menuju Tsumago. Di kedai teh dekat celah, Anda dapat beristirahat sambil menikmati goheimochi atau soba. Pusat informasi wisata di kedua kota biasanya menyediakan layanan pengiriman bagasi ke kota tujuan, sehingga perjalanan dapat dilakukan dengan barang bawaan yang lebih ringan.
A. Udatsu adalah dinding tahan api yang dipasang di kedua ujung atap. Karena pemasangannya dahulu memerlukan biaya besar, istilah ini menjadi asal-usul ungkapan "udatsu ga agaranai" yang berarti sulit maju atau tidak berkembang. Menarik untuk membandingkan bentuk udatsu pada rumah para pedagang yang makmur berkat Mino washi. Pameran Seni Lampu Mino Washi, saat kawasan kota dihiasi cahaya washi, biasanya diadakan sekitar bulan Oktober.

Bersponsor

Rencanakan perjalananmu

Menginap di dekatnya membuat wisata lebih mudah. Lihat juga pengalaman lokal.

Tempat Rekomendasi Terdekat

Lihat artikel rekomendasi di sekitar area ini

※ Konten artikel didasarkan pada informasi pada saat penulisan dan mungkin berbeda dari situasi saat ini. Selain itu, kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan konten yang dipublikasikan, harap dimaklumi.
BersponsorArtikel ini mungkin berisi iklan (tautan afiliasi); kami dapat memperoleh komisi dari pemesanan melalui tautan tersebut.