Itinerary Wisata Sehari di Gyoda: Kastil Oshi, Kofun Sakitama, dan Tabigura
Rute model wisata sehari di Gyoda, yang menyusuri Kota Gyoda (Gyoda-shi) di Prefektur Saitama dalam satu hari, adalah jalan-jalan sejarah yang menghubungkan tiga daya tarik—reruntuhan Kastil Oshi (Oshijōshi), kompleks makam kuno Sakitama (Sakitama Kofun-gun), dan deretan bangunan tabigura (Tabigura)—secara mengalir tanpa terasa berat.
Dalam jalan-jalan sejarah Gyoda, jika kamu memisahkan pemikiran antara pusat kota kastil dan kompleks makam kuno Sakitama, kamu akan lebih mudah bergerak tanpa tersesat.
Menggabungkan reruntuhan Kastil Oshi dan deretan tabigura di kawasan pusat kota, sedangkan untuk menuju kompleks makam kuno Sakitama menggunakan bus keliling dalam kota, sepeda sewaan, atau taksi, adalah susunan yang praktis.
Rute Dasar Disusuri Berurutan: Kastil Oshi, Makam Kuno, Tabigura
Pada pagi hari, resapi sejarah dari zaman Sengoku hingga kota kastil di reruntuhan Kastil Oshi dan Museum Lokal Kota Gyoda; setelah itu berjalanlah menyusuri lanskap kuno di kompleks makam kuno Sakitama; dan terakhir telusuri ingatan tentang industri modern di deretan tabigura.
Karena kamu bisa menata sejarah yang berbeda-beda—kuno, Sengoku, dan modern—dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, alurnya mudah dipahami bahkan bagi orang yang baru pertama kali berkunjung.
Urutan penyusuran dan tujuan di tiap lokasi dirangkum dalam tabel rencana perjalanan berikut.
| Urutan | Tempat singgah | Tema utama |
|---|---|---|
| 1 | Reruntuhan Kastil Oshi | Kastil dan pengepungan air |
| 2 | Museum lokal | Sejarah menyeluruh Gyoda |
| 3 | Kompleks makam kuno Sakitama | Kekuasaan kuno |
| 4 | Kawasan tabigura | Industri modern |
| 5 | Kawasan pusat kota | Makan dan belanja |
Tukar Urutan Penyusuran Sesuai Stasiun Keberangkatan
Jika menggunakan Stasiun Gyoda-shi (Gyoda-shi Station) di jalur Kereta Chichibu, memulai dari tabigura atau reruntuhan Kastil Oshi yang dekat dengan pusat kota akan lebih mudah untuk bergerak.
Jika menggunakan Stasiun Gyoda (Gyoda Station) di jalur JR Takasaki, karena rute keliling titik-titik wisata pada bus keliling dalam kota menghubungkan depan Stasiun JR Gyoda, Taman Makam Kuno Sakitama, dan Terminal Bus Kastil Oshi, kamu juga bisa memilih arah sebaliknya, yaitu mengunjungi kompleks makam kuno Sakitama lebih dulu lalu bergerak ke arah Kastil Oshi.
Karena transportasi umum memiliki jeda antar-keberangkatan, penting untuk memeriksa jadwal sebelum perjalanan, bukan setelah tiba.
Periksa Dahulu Status Buka dan Tiket Masuk Fasilitas Kunjungan
Bagian taman dari reruntuhan Kastil Oshi dan jalan-jalan luar ruangan di taman makam kuno memiliki syarat yang berbeda dengan kunjungan ke museum.
Museum Lokal Kota Gyoda dikenakan 200 yen untuk dewasa, 100 yen untuk mahasiswa dan siswa SMA, serta 50 yen untuk siswa SMP dan SD; sedangkan Museum Situs Bersejarah Sakitama Prefektur Saitama (Sakitama) dikenakan 200 yen untuk umum, 100 yen untuk siswa SMA dan mahasiswa, dan gratis untuk siswa SMP ke bawah.
Museum Lokal Kota Gyoda buka dari pukul 9:00 hingga 16:30 (masuk terakhir pukul 16:00), sedangkan Museum Situs Bersejarah Sakitama Prefektur Saitama biasanya buka dari pukul 9:00 hingga 16:30 (masuk terakhir pukul 16:00), dan hingga pukul 17:00 pada 1 Juli sampai 31 Agustus (masuk terakhir pukul 16:30).
Jika kamu menyusun jadwal dengan mengutamakan fasilitas dalam ruangan dan menempatkan jalan-jalan luar ruangan di sebelum dan sesudahnya, penyesuaian pada hari itu akan lebih mudah.
Mengenal Kota Kastil di Reruntuhan Kastil Oshi dan Museum Lokal Kota Gyoda
Di reruntuhan Kastil Oshi, mengamati tanpa mencampuradukkan bangunan yang masih ada dengan bangunan hasil pemugaran adalah poin untuk memahami sejarah dengan benar.
Menara Gosankai Yagura yang bisa dilihat sekarang adalah bangunan yang dibangun kembali pada tahun 1988 di lokasi yang dipindahkan, meniru bangunan yang dirobohkan saat pembongkaran Kastil Oshi pada era Meiji, dan Museum Lokal Kota Gyoda berdiri di bekas lahan honmaru (kompleks utama) Kastil Oshi.
Menara Gosankai Yagura, Simbol “Kastil Terapung”
Kastil Oshi dikisahkan sebagai kastil yang bertahan menghadapi pengepungan air pada zaman Sengoku, dan juga dikenal dengan julukan "kastil terapung".
Dikisahkan bahwa pada saat penyerbuan Odawara tahun Tenshō 18 (tahun 1590), kastil tidak tenggelam meski menghadapi pengepungan air yang dipimpin Ishida Mitsunari (Ishida Mitsunari) dan lainnya, sehingga nama "kastil terapung" pun menyebar.
Saat memandang bagian luar, alih-alih hanya memotret menara, masukkan pula elemen sekitar seperti tembok batu, tepi air, dan tanggul tanah ke dalam bingkai, agar tersampaikan suasana khas kastil di dataran rendah.
Bahkan orang yang mengenal Kastil Oshi lewat film atau cerita pun akan lebih dalam pemahamannya jika mengunjunginya langsung sambil memisahkan fakta sejarah dari penggambaran hasil rekonstruksi.
Menghubungkan Gyoda dari Zaman Kuno hingga Modern di Museum Lokal
Di Museum Lokal Kota Gyoda, kamu bisa mempelajari bukan hanya Kastil Oshi, tetapi juga sejarah dan budaya Gyoda dari zaman kuno hingga masa kini melalui benda-benda asli.
Karena ini juga menjadi persiapan untuk kompleks makam kuno dan tabigura yang akan dikunjungi setelahnya, disarankan membaca penjelasan pameran sambil memperhatikan kata-kata yang berkaitan dengan makam kuno, kota kastil, dan industri tabi.
Museum yang berdiri di bekas lahan honmaru dan menara Gosankai Yagura terhubung di bagian dalam, dan dari ruang pandang menara kamu bisa memandang seluruh kawasan kota Gyoda.
Karena ketersediaan materi berbahasa asing maupun boleh-tidaknya memotret di dalam ruang pameran dapat berubah, periksalah papan petunjuk di pintu masuk atau arahan staf.
Di Reruntuhan Kastil, Usahakan Berjalan-jalan dengan Tenang
Reruntuhan kastil merupakan tempat wisata sekaligus tempat bernilai budaya yang mewariskan sejarah daerah.
Jangan masuk ke area terlarang, jangan menyentuh tembok batu atau benda pameran, dan hindari pemotretan lama yang menghalangi jalur.
Jika kamu berencana memotret menggunakan tripod atau peralatan besar, atau memotret untuk tujuan komersial, memastikannya lebih dulu kepada pengelola akan membuat lebih tenang.
Berjalan Menyusuri Gyoda Kuno di Kompleks Makam Kuno Sakitama
Kompleks makam kuno Sakitama adalah Situs Bersejarah Khusus yang ditetapkan negara, tempat makam-makam kuno berukuran besar dari zaman Kofun tersisa berkumpul.
Di dalam kawasan yang luas, jika kamu terlebih dahulu melihat benda-benda temuan dan struktur makam kuno di museum sebelum keluar ke ruang terbuka, akan lebih mudah membaca gundukan-turunan tanah dan bentuk gundukan makam.
Lihat Dulu Pedang Besi Harta Nasional di Museum Situs Bersejarah Sakitama
Museum Situs Bersejarah Sakitama Prefektur Saitama memamerkan berbagai materi terkait kompleks makam kuno, termasuk pedang besi berukir emas (kinsakumei tekken) yang merupakan Harta Nasional, yang digali dari makam kuno Inariyama (Inariyama Kofun) pada tahun Shōwa 43 (tahun 1968).
Pada pedang besi ini terpahat prasasti sebanyak 115 karakter, dan dari nama "Raja Agung Wakatakeru (Wakatakeru)" serta catatan tahun Xinhai, pedang ini dianggap sebagai sumber kelas satu untuk mengetahui kekuasaan raja agung zaman kuno.
Karena isi pameran dapat berganti-ganti, jika kamu sudah menetapkan materi yang ingin dilihat, periksalah panduan pameran di situs web resmi.
Ketika kamu mengetahui bentuk makam kuno, fasilitas pemakaman, dan peran benda bekal kubur sebelum keluar ke kawasan, kamu bisa memandangnya bukan sekadar bukit, melainkan situs yang menunjukkan kekuasaan dan ritual pada masa itu.
Bandingkan Makam Kuno Inariyama, Maruhakayama, dan Shōgunyama
Karena tiap makam kuno berbeda dalam bentuk dan cara berkunjung, penting untuk tidak mencoba menaiki semuanya dengan cara yang sama, melainkan berjalan mengikuti papan petunjuk di lokasi.
Perbedaan makam-makam kuno yang mewakili dirangkum dari sudut pandang pengamatan.
| Makam kuno | Bentuk | Poin yang dilihat |
|---|---|---|
| Makam kuno Inariyama | Makam berbentuk lubang kunci | Tempat penggalian pedang besi |
| Makam kuno Maruhakayama | Makam bundar besar | Legenda penyerbuan kastil |
| Makam kuno Shōgunyama | Makam berbentuk lubang kunci | Fasilitas pameran di dalam |
| Makam kuno Futagoyama | Makam berbentuk lubang kunci | Mengamati dari sekitar |
Bayangkan Hubungan dengan Kastil Oshi dari Makam Kuno Maruhakayama
Makam kuno Maruhakayama adalah makam bundar berukuran salah satu terbesar di Jepang dengan diameter 105 meter, dan diperkirakan dibangun pada awal abad ke-6.
Makam kuno Maruhakayama ini memiliki legenda bahwa pada saat penyerbuan Kastil Oshi tahun Tenshō 18 (tahun 1590), Ishida Mitsunari mendirikan markasnya di puncak, dan tanggul Ishida dibangun untuk pengepungan air.
Pada hal bahwa makam dari zaman Kofun dikisahkan sebagai panggung penyerbuan kastil di zaman Sengoku, terdapat daya tarik tersendiri saat sejarah Gyoda tampak bertumpang tindih.
Meski kamu bisa naik ke gundukan makam, gunakan tangga atau jalur yang ditentukan, dan jangan menaiki lereng berumput sebagai jalan pintas.
Di Taman Makam Kuno, Jangan Merusak Situs
Makam kuno bukanlah bukit yang membentuk lanskap taman, melainkan cagar budaya yang dilindungi.
Hindari masuk ke gundukan makam yang terlarang, membawa pulang tanah atau batu, dan mengikatkan benda pada pepohonan atau fasilitas.
Jika kamu berencana memotret dalam skala yang melampaui foto kenang-kenangan pribadi, atau menggunakan peralatan yang memakai ruang taman, konsultasikanlah lebih dulu dengan pengelola.
Menelusuri Industri Modern Gyoda di Deretan Tabigura
Dalam jalan-jalan di kawasan tabigura, alih-alih melihat bangunan satu per satu, yang penting adalah membayangkan bagaimana produksi, penyimpanan, dan penjualan tabi saling terhubung di dalam kota.
Pembuatan tabi Gyoda dimulai sekitar 300 tahun lalu, dan pada masa kejayaannya menjadi sentra produksi nomor satu di Jepang yang membuat sekitar 80 persen tabi seluruh negeri; deretan tabigura itu diperkenalkan sebagai kisah Warisan Jepang.
Jadikan Museum Tabigura Machizukuri sebagai Titik Panduan
Deretan tabigura Gyoda adalah panggung dari "Gyoda, kota tabigura yang terus menopang kaki budaya busana tradisional", yang pada tahun Heisei 29 (tahun 2017) untuk pertama kalinya ditetapkan sebagai Warisan Jepang (Japan Heritage) di Prefektur Saitama.
Jika kamu terlebih dahulu mampir ke Museum Tabigura Machizukuri (Tabigura Machizukuri Museum), akan lebih mudah memahami letak dan latar belakang bangunan tabigura yang disebut masih tersisa sekitar 70 buah di dalam kota.
Jika ada materi untuk jalan-jalan di kawasan, ambillah, dan berangkatlah setelah membedakan fasilitas yang dibuka untuk umum dengan bangunan yang hanya bisa dilihat dari luar.
Karena pengalaman membuat tabi maupun pembukaan khusus belum tentu selalu diadakan, jika tujuanmu untuk ikut serta, periksalah syarat reservasi dan tanggal penyelenggaraan pada informasi resmi.
Perhatikan Perbedaan antara Gudang, Pabrik, dan Toko
Di deretan industri tabi, bukan hanya gudang yang menyimpan produk, tetapi juga bangunan pabrik dan toko yang terkait dengan pembuatan tetap tersisa.
Selain gaya gudang berdinding tanah, tabigura memiliki beragam cara pembangunan seperti batu, bata, plester mortar, dan kayu, dan salah satu cirinya adalah banyak yang berdiri di gang belakang, bukan di jalan utama.
Sudut pandang saat melihat bangunan dirangkum menurut perannya.
| Jenis bangunan | Bagian yang diperhatikan | Yang dapat dibaca |
|---|---|---|
| Tabigura | Dinding dan pintu | Penyimpanan produk |
| Pabrik | Atap dan jendela | Pencahayaan dan pekerjaan |
| Toko | Lebar muka dan papan nama | Sejarah penjualan |
| Fasilitas revitalisasi | Material lama dan baru | Pemanfaatan masa kini |
Jangan Masuk ke Lahan Pribadi, Amati dari Luar
Sebagian besar tabigura berada di lahan milik pribadi, dan pada dasarnya merupakan bangunan yang diamati dari luar.
Jangan masuk tanpa izin melewati gerbang atau ke dalam lahan, dan jangan mengarahkan kamera ke jendela atau ruang kehidupan rumah warga.
Di jalan sempit, mendahulukan kendaraan dan sepeda serta tidak melebar ke jalan demi memotret juga merupakan etika penting untuk menjaga keseharian warga setempat.
Sisipkan Kuliner Gyoda dan Waktu Istirahat dalam Wisata Sejarah
Jika kamu makan siang di kawasan pusat kota dan menyelipkan istirahat di antara jalan-jalan di reruntuhan Kastil Oshi dan tabigura, kamu bisa membagi beban perpindahan.
Karena hari buka dan kondisi kehabisan berbeda-beda tiap toko, lebih tenang jika tidak mematok jadwal hanya pada satu toko tertentu.
Ketahui Perbedaan antara Fry Khas Gyoda dan Zerī Fry
"Fry (Fry)" khas Gyoda adalah masakan lokal yang mirip okonomiyaki, yaitu adonan tepung terigu yang dilarutkan dengan air dipanggang tipis di atas wajan besi lalu dipadukan dengan isian seperti daun bawang, daging, telur, serta saus atau olesan berbahan kecap.
Sementara itu, "Zerī Fry" bukanlah kudapan jeli, melainkan masakan mirip kroket berbentuk lonjong yang dibuat dari okara (ampas kedelai) dan kentang, digoreng tanpa lapisan tepung, dan namanya konon merupakan perubahan bunyi dari "zeni (uang logam) fry".
Karena hanya dari namanya sulit membayangkan wujud masakannya, memeriksa foto atau label makanan saat memesan akan memudahkan pemilihan bahkan pada kali pertama.
Sampaikan Pantangan Makanan sebelum Memesan
Karena daging, telur, terigu, kedelai, dan sebagainya mungkin digunakan, orang yang memiliki alergi atau pantangan makanan karena alasan agama sebaiknya memeriksa bahan baku dan cara memasak sebelum memesan.
Jika sulit menyampaikan dalam bahasa Jepang, menyiapkan kartu yang menuliskan bahan yang ingin dihindari dalam bahasa Jepang akan membantu berkomunikasi.
Makanan yang dibawa pulang jangan disantap sambil berjalan; nikmatilah di tempat yang tidak menghalangi lalu lintas seperti taman atau tempat istirahat.
Cara Menyesuaikan Moda Transportasi, Pakaian, dan Hari Hujan
Rute model Gyoda akan lebih nyaman jika kamu bersiap dengan memisahkan perpindahan dengan berjalan kaki di kawasan pusat kota dari perpindahan jarak menengah menuju kompleks makam kuno.
Sesuaikan dengan cuaca dan stamina; jangan hanya bersikeras berjalan kaki, tetapi padukan transportasi umum dan sepeda sewaan.
Gunakan Bus, Sepeda, dan Taksi Sesuai Kebutuhan
Rute keliling titik-titik wisata pada bus keliling dalam kota menghubungkan depan Stasiun JR Gyoda, Taman Makam Kuno Sakitama, dan Terminal Bus Kastil Oshi, dan lainnya dalam satu arah, dengan satu putaran sekitar 44 menit.
Untuk sepeda sewaan wisata memang diinformasikan beberapa titik peminjaman, tetapi syarat penggunaan, tempat pengembalian, dan ketersediaannya harap diperiksa lebih dulu.
Bagi orang yang ingin menghindari waktu menunggu bus, atau yang membawa banyak barang, ada juga cara menggunakan taksi terbatas pada satu ruas tertentu.
Pilih Sepatu dan Barang Bawaan yang Cocok untuk Menyusuri Makam Kuno
Karena di taman makam kuno kamu berjalan di atas rumput, jalan tanah, dan tangga, sepatu yang tidak licin dan nyaman untuk berjalan sangat cocok.
Pada musim panas, waspadai sinar matahari dan udara panas, dan setelah hujan waspadai becek di bawah kaki, serta bawalah minuman atau perlengkapan hujan.
Karena koper besar cenderung mengganggu perpindahan dan kunjungan, disarankan memeriksa lebih dulu tempat penitipan barang di sekitar stasiun dan menyusuri kawasan dengan ringan.
Utamakan Fasilitas Dalam Ruangan Sesuai Cuaca
Pada hari hujan lebat, pusatkan kunjungan pada Museum lokal dan Museum Situs Bersejarah Sakitama, serta persingkat pendakian makam kuno dan jalan-jalan panjang di kawasan.
Cara menyesuaikan menurut cuaca dirangkum berikut ini.
| Kondisi | Yang diutamakan | Yang dikurangi |
|---|---|---|
| Cerah | Menyusuri makam kuno | Berlama-lama di dalam ruangan |
| Hujan rintik | Berpusat di museum | Lereng tanah |
| Angin kencang | Menyusuri kawasan kota | Payung besar |
| Panas terik | Memperbanyak istirahat | Berjalan terus-menerus |
Karena pada cuaca buruk juga mungkin terjadi keterlambatan transportasi dan penanganan sementara oleh fasilitas, sebelum berangkat periksalah situs web resmi dan pengumuman dari penyedia transportasi.
Kesimpulan | Jalan-jalan Gyoda yang Menghubungkan Zaman Kuno, Sengoku, dan Modern dalam Satu Hari
Jika kamu menyusun rute model wisata sehari di Gyoda dengan struktur menelusuri zaman Sengoku dan kota kastil di reruntuhan Kastil Oshi, zaman kuno di kompleks makam kuno Sakitama, dan industri modern di deretan tabigura, kamu bisa memahami sejarah daerah ini secara tiga dimensi.
Menggunakan bus keliling dalam kota atau sepeda sewaan untuk perpindahan antara kawasan pusat kota dan kompleks makam kuno, serta memeriksa lebih dulu status buka museum dan jadwal transportasi, adalah poin untuk menyusuri kawasan tanpa terasa berat.
Hormatilah papan petunjuk cagar budaya dan ruang kehidupan warga, jangan masuk ke area terlarang atau lahan pribadi, dan nikmatilah perlahan perbedaan zaman yang bertumpuk-tumpuk di Gyoda.



Ulasan (0)